
Ceklek
Pintu kamar mandi itu terbuka dan wanita yang sudah lima belas menit di dalamnya itu pun keluar dari sana dengan baju mandinya dan handuk yang bersarang di kepalanya, melilit rambutnya yang basah.
"Aku selesai!" ucapnya sambil meregangkan tangannya.
Kenapa tikus ini semakin cantik saja ya ....
Wilson sampai harus menjatuhkan ponselnya, matanya tidak bisa beralih dari wanita yang sedang berada di depannya itu.
Kemana aja selama ini Wil, kenapa baru sadar sekarang kalau dia cantik!!!
"Wil, ponsel kamu jatuh tuh!"
"Ah iya!" Wilson dengan cepat mengambilnya, ia pun segera berdiri dari duduknya dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Baiklah, aku gantian yang mandi ya!"
Wilson dengan cepat berlari ke kamar mandi, ia harus bersiap-siap. Rasanya aneh saja, ia begitu menginginkan wanita itu.
Ternyata Tisya tidak kalah anehnya, ia menjadi sangat gugup. Mereka tidak membawa baju ganti, jika menunggu hingga baju mereka kering kembali pasti butuh waktu semalaman.
Tisya juga tidak tahu cara mencucinya. Untuk meminta bantuan Wilson, pasti akan sangat canggung.
Tidak berapa lama Wilson pun keluar dengan handuk yang melingkar di pinggang nya.
"Kita tidak punya baju untuk malam ini, meminta petugas resort untuk mencari kan baju ganti!" ucap Wilson.
"Tidak papa kita bisa memintanya besok pagi!"
Wilson pun mendekat pada Tisya yang sudah berada di atas tempat tidur, ia merangkak naik dan mengambil selimutnya.
"Kita akan berbagi selimut semalaman kan!"
Kini mereka berada di dalam selimut yang sama dengan hanya mengenakan handuk. Malam semakin larut dan udara semakin dingin, Wilson pun menggeser duduknya begitupun dengan Tisya.
Tangan Wilson tiba-tiba saja sudah berada di pinggang Tisya, "Apa kita bisa melanjutkan yang tadi?" bisik Wilson.
Tisya dengan ragu mengangguk kan kepalanya.
Wilson pun dengan cepat menyambar bibirnya, mel*matnya dengan begitu ganas. Mulai mengabsen setiap inci wajah Tisya kemudian turun ke leher dan meninggalkan jejak kepemilikan di leher dan dada Tisya.
Tangan Wilson mulai membuka tali pengikat baju mandi yang di kenakan oleh Tisya hingga kini tubuh Tisya tidak tertutup oleh apapun.
Tangan Wilson meraba perut Tisya, kemudian perlahan-lahan turun dan berhenti di daerah intim Tisya, tangannya mulai bermain-main di sana sedangkan lidahnya mulai bermain di squisy milik Tisya.
Tisya hanya bisa memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh laki-laki yang telah menikahinya itu. Tangannya terus meremas kepala Wilson, bibirnya tidak mampu untuk menyembunyikan suara *******.
Hawa dingin yang menyusup ke kulit kini tidak terasa lagi berganti dengan panasnya suara decitan dipan dan ******* daru keduanya.
Malam itu terasa begitu panjang untuk mereka berdua, ******* mereka saling bersahutan, keringat mengucur di seluruh tubuh mereka, malam yang dingin itu menjadi saksi dari awal terciptanya hubungan mereka yang semakin berkembang.
...**""**...
Suara deburan ombak dan anging yang menyelisik masuk melakui celah-celah jendela kamar itu membuat wanita yang masih berada di balik selimut itu beberapa kali harus mengeratkan selimutnya.
Tapi rasa ngantuk itu menghilang saat hidungnya menangkap aroma kopi yang cukup menenangkan.
__ADS_1
Matanya yang perlahan terbuka langsung di suguhi oleh wajah pria yang semalam telah mengoyak tubuh dan hatinya.
"Sudah bangun ya?"
Wilson sudah duduk di tepi tempat tidur, ia tersenyum menatap Tisya.
"Hemmm!"
Tisya hanya bergumam, ingatannya kembali ke pergulatan mereka tadi malam, Tisya menutup tubuhnya dengan selimut hingga sebatas hidung, yang terlihat hanya mata dan rambutnya saja.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Wilson lagi dan Tisya menganggukkan kepalanya.
"Aku sudah menyiapkan kopi untukmu, segeralah mandi, aku sudah mencarikan baju untukmu! Setelah itu kita sarapan bersama, aku tunggu di luar ya!"
Lagi-lagi Tisya hanya mengangguk.
Wilson pun kembali berdiri, ia berjalan keluar kamar meninggalkan Tisya yang masih berada di balik selimut.
"Ahhhhhhhh ....., kenapa jadi canggung begini?! "
"Aduh ...., aduh jantungku gimana nih, ihhhhhhh!"
Beberapa kali Tisya kembali menenggelamkan wajahnya di balik selimut, tapi kemudian ia membukanya lagi saat melihat hal yang aneh di sekujur tubuhnya, banyak tanda merah tersemat di sana.
"Begini banget tubuhku! Dia benar-benar ganas!" gumam Tisya sambil tersenyum geli.
"Ahhhhhh, gimana nih?"
Tisya pun segera membalut tubuhnya dengan selimut dan berlari menuju ke kamar mandi, ia harus segera mandi.
"Banyak sekali tandanya! Gimana kalau kelihatan?"
Tisya pun berbalik, ia melihat baju yang di maksud oleh Wilson, sebuah celana panjang dan kemeja senada dengan celananya, motif khas baju pantai.
"Hahhhh!" Tisya menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya.
Tangan Tisya menenteng benda yang biasa di gunakan oleh wanita, cela*a dalam dan juga bra.
"Dia akhirnya tahu juga benda ini!"
Tisya pun segera memakai baju lengkapnya. Ia mengurai rambutnya agar tanda kepemilikan itu tidak sampai terlihat. Setelah memastikan penampilannya tidak ada yang aneh Tisya pun segera keluar, Wilson sudah menunggunya di depan kamar begitu lama.
"Kamu dari tadi di sini?"
"Hemmm!" Wilson menganggukkan kepalanya. "Aku sudah sangat lapar, ayo cepetan makan!"
Mereka pun menuju ke kedai makanan yang di sediakan oleh resort, mereka makan dengan di sajikan pemandangan yang begitu indah, deburan ombak pantai dan semilir angin pantai.
"Setelah ini kita ke mana?" tanya Tisya setelah menyelesaikan makannya.
"Terserah kamu, mau pulang ayok, mau tetap di sini juga ayok!"
"Kita pulang aja ya, kita kan belum mengabari mama kalau di sini, mama pasti cemas!"
Wilson menatap Tisya dengan tatapan mendamba, "Yakin masih nggak mau di sini?"
"Apaan sih?!" Tisya begitu malu saat Wilson menatapnya seperti itu.
__ADS_1
"Baiklah kita pulang!"
Setelah menyelesaikan semua urusan bayar membayar, Wilson dan Felic pun segera kembali ke jakarta.
Di sepanjang jalan mereka masih sama-sama diam, ada rasa canggung yang tiba-tiba menyelimuti hubungan mereka.
Kira-kira Tisya menyesal nggak ya dengan apa yang tadi malam kita lakukan? batin Wilson.
Gimana kalau Wilson melakukan hal semalam cuma karena terbawa suasana ...., bagaimana kalau ternyata Wilson menyukai kak Maira? batin Tisya.
"Wil!"
"Tis!"
Mereka menoleh bersama. Wilson pun memilih meminggirkan mobilnya dan berhenti di bahu jalan.
"Kamu dulu aja yang bicara!" ucap wilson.
"Nggak, kamu dulu!"
Setelah berdebat meributkan siapa yang dulu akhirnya Wilson yang mengalah dan memilin bicara lebih dulu.
"Apa kamu menyesal aku memberikan nafkah batin untuk mu?"
"Nafkah batin?"
"Apa yang kita lakukan semalam itu adalah nafkah batin untukmu!"
Ha ha ha ha .....
Tisya malah tertawa mendengarkan ucapan Wilson.
"Kenapa tertawa, memang ada yang lucu?"
"Nggak, yang lucu aku sih!"
"Kenapa?"
"Coba dari kemarin bilang kalau nafkah batin itu ya itu, aku kan nggak perlu nyari tahu!"
"Memang selama ini kamu hidup di dunia apa sampai tidak tahu nafkah batin?"
"Ya mana aku tahu kalau ada yang kayak gitu, dulu menurutku itu nggak penting, otakku terlalu kecil untuk memikirkan hal-hal besar!"
Wilson begitu gemas dan mengusap kepala Tisya gemas, tikus kecilku ....
Bersambung
...Ada kalanya kita berada di tempat yang sama tapi dengan posisi yang berbeda, kamu masih kamu yang dulu hanya saja perasaan ini telah berubah menjadi rindu, aku yang memupuk rindu dari lagu yang kita nyanyikan bersama saat ini dan akan kita kenang suatu saat nanti...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1