
Pagi sekali Rangga terbangun karena merasakan
perutnya begitu lapar. Ia membiarkan sang istri terlelap di balik selimut,
meninggalkan kecupan di kening sang istri sebelum beranjak dari tempat tidur.
Dengan hanya menggunakan celana boxer dan
bertelanjang dada. Rangga berniat untuk membuat mie instan atau apa untuk
mengganjal perutnya. Tapi ia di buat terkejut saat lemihat meja makan yang
masih penuh dengan makanan, bahkan makanan itu tidak tersentuh sama sekali.
“Aku bersalah sekali sudah membiarkan Zea lapar
semalaman, apalagi dengan apa yang kita lakukan semalam, itu menguras tenaga!”
gumamnya. Ia pun mengambil baskom sayur dan mulai memanasinya juga beberapa
lauknya.
Setelah semuanya di panasi, Rangga pun mengambil
satu porsi besar makanan dan membawanya ke dalam kamar lengkap dengan jus dan
air putih.
Rangga segera meletakkan piring itu di atas nakas. Ia
mendekatkan bibirnya pada telinga sang istri,
“Sayang bangunlah, kita makan yukk!”
Zea pun mulai terbangun, dengan begitu susah ia
membuka matanya, “Ga, ini jam berapa?”
“Masih jam empat pagi!”
“Kamu yakin kita harus makan sekarang?”
“Iya, begitulah. Kamu semalam belum sempat makan,
pasti sangat lapar!”
“Tapi aku malas Ga makan jam segini!” Zea bahkan
masih malas membuka matanya, bagaimana ia bisa makan jam seperti ini.
“Begini saja, kamu cukup duduk dan biarkan aku yang
menyuapimu!” Rangga membantu Zean untuk duduk dengan meletakkan bantal di
punggungnya.
Setelah memastikan Zea duduk dengan nyaman, Rangga
pun segera mengambil piringnya. Dengan telaten ia bergantian menyuapkan makanan
ke dalam mulutnya dan juga ke dalam mulut Zea. Zea bahkan mengunyah makanannya
sambil menutup matanya.
“Kapan habisnya?” keluh Zea yang sudah ingin segera
tidur lagi.
“Bentar lagi sayang, tinggal beberapa suapan lagi!”
“Tapi aku mau tidur lagi!”
“Baiklah, kalau begitu minum dulu jusnya, habis itu
air putihnya baru boleh tidur lagi!”
Rangga pun meletakkan piringnya dan mengambil
segelas jus, ia meminumkannya pada Zea.
“Sudah ya, aku mau tidur!” jus itu masih tersisa
setengah lebih tapi Zea sudah kembali merebahkan tubuhnya.
“Jangan langsung tidur sayang, nanti muntah!” Rangga
kembali menarik tangan Zea agar kembali dalam posisi tidur.
‘tapi Ga, aku benar-benar ngantuk, please …, aku
boleh tidur lagi ya!” Kali ini zea bicara sambil memohon karena memang dia
begitu mengantuk.
“Baiklah!” walaupun tampak tidak ikhlas tapi Rangga
mengijinkannya.
__ADS_1
Rangga pun akhirnya membawa piring kotor kembali ke
dapur dan mencucinya. Setelah melihat bagaimana Zea mempeersiapkan makan malam
mereka berdua, Rangga jadi merasa bersalah. Ia pun akhirnya memutuskan untuk
memasak makanan untuk sarapan pagi mereka. walaupun ia terbilang hanya tidur
sekitar satu jam, tapi tidak menyurutkan niatnya untuk memberi surprise pada
sang istri.
Matahari sudah tampak tinggi, zea yang baru bangun
dengan cepat berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia masuk pagi hari
ini.
“Ga, kenapa nggak bangunin aku sih?” keluh Zea yang
berjalan menghampiri Rangga yang sudah rapid an duduk di ruang makan sambil
memegangi layar datarnya.
“Kamu tampak lelap banget tidurnya, mana tega aku
banguninnya!”
“Tapi kan aku juga harus kerja pagi!”
“Belum terlambat sayang, masih setengah tujuh!”
“tapi tetap saja, ini namanya kesiangan!”
“Sudah jangan ngeluh terus, cepetan sarapan!” Rangga
membantu membukakan piring untuk Zea yang masih tertutup.
Zea menatap satu per satu makanan yang ada di atas
meja dan ia memastikan semua makanan itu bukan makanan yang semalam ia
hidangkan.
“Jangan bengong seperti itu, aku tadi sengaja
memasak buat kita sarapan. Kalau semalam kita gagal makan malam romantic,
sekarang kita bisa sarapan romantic. Biar aku ambilkan sup iga nya, kamu pasti
suka.”
memakan sup iga yang sudah di ambilkan oleh Rangga.
“Ini pasti enak!”
Tapi salah, saat makanan favoritnya itu sampai di
kerongkongan, rasanya ingin kembali ia muntahkan.
Zea pun segera bangun dari duduknya dan berlari ke
kamar mandi dan memuntahkan semua yang baru ia makan bahkan makanan yang sudah
ia makan pagi tadi.
“Sayang, kamu kenapa? Kamu tidak pa pa kan?” Rangga
etrus mengetuk pintu kamar mandi.
“Tidak pa pa, jangan khawatir!” teriak Zea dari
dalam kamar mandi.
Tidak berapa Zea keluar dan ternyata Rangga masih
menunggu di luar kemar mandi,
“Apanya yang sakit? Kamu kenapa? Kamu pasti masuk angina
ya gara-gara semalam tidak makan, atau gara-gara kamu kembali tidur setelah
makan? Ini semua salahku, andai saja aku tidak pulang terlambatr, atau aku
tidak memaksamu buat makan tadi pagi!”
“Ga, sungguh aku tidak pa pa, jangan khawatir. Ini
hanya masuk angina biasa, nanti siangan dikit juga sudah sembuh!”
“Baiklah, kita makan lagi ya!” Rangga menarik tangan
Zea tapi Zea menahan tangannya.
“Ada apa?”
“Aku nggak lanjut makan ya, maaf banget. Sungguh
__ADS_1
perutku sedang tidak ingin memakan sesuatu!”
Rangga terdiam sejenak, ia tidak mungkin membiarkan
istrinya dalam keadaan perut kosong saat bekerja. Lalu sebuah ide muncul,
“Bagaimana kalau aku buatkan kamu jus saja?”
“Baiklah, itu jauh lebih bagus!”
Zea memutuskan untuk tidak kembali ke meja makan.
Melihat makanan-makanan itu sudah cukup membuatnya mual. Ia memilih untuk duduk
di sofa ruang tamu.
Tidak berapa lama Rangga kembali dengan membawa
segelas jus,
“Minumlah, setidaknya biar perutmu terisi sesuatu!”
Zea pun segera menerimanya, ia meneguk perlahan jus
itu dan memastikan perutnya tidak menolak lagi. Tapi ia segera menghentikan
tegukannya saat melihat sesuatu di kening sang suami.
“Ga, kening kamu kenapa?” Zea bertanya sambil
meletakkan gelasnya ke meja.
“Oh ini?!” Rangga memegangi keningnya yang terbalut
plester luka dengan gambar kupu-kupu. “Sebenarnya semalam tidak sengaja
mobilnya menabrak pohon!”
“Astaga!!!” Zea begitu terkejut sambil memegangi
wajah Rangga dan memastikan tidak ada luka yang serius, “Ini sakit ya? Yang sakit
mana lagi?”
“Langsung sembuh tuh kamu pegang!”
“Ga aku serius!”
“Aku juga serius sayang, ini hanya luka kecil. Tidak
pa pa, luka ini tidak akan bikin aku mati dan menjadikan kamu janda!”
“Itu pasti tidak higienis, biar aku ganti ya
plesternya?”
“Boleh!”
Zea pun segera ke dapur dan mengambil kotak P3K
miliknya. Ia mengambil obat luka lalu mengobatkannya ke luka Rangga.
Ia membuka plester lamanya dan mengganti dengan yang
baru, tapi ia cukup tertarik dengan plester bermotif kupu-kupu itu terlihat
sangat langka.
“Siapa yang kasih plester ini, Ga?”
“Oh itu_, ada teman yang kebetulan melihat mobilku
nabrak, makanya dia membantu membersihkan luka ku.”
“Ohhh, aku kira kamu nabraknya sama siapa gitu!”
“Emang sama siapa?”
“Siapa tahu cewek!”
“Apaan sih sayang, kamu cemburu ya?” ucap Rangga
sambil mencubit pipi sang istri.
‘Maaf ya sayang, aku terpaksa bohong! Aku nggak
mungkin bilang kalau aku sama Miska, aku nggak mau hubungan kita yang sudah
baik ini kembali memburuk gara-gara ini’ batin Rangga.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...