
Setalah mendapatkan apa yang ia cari dengan cepat ia memasukkannya ke dalam tas, entah kenapa ia merasa ini sangat tabu untuk di perlihatkan pada orang lain.
Walaupun masih siang, ia tetap berniat untuk pulang, ada hal yang ingin segera ia nyatakan sebelum Rangga pulang.
Dengan langkah cepat ia menyusuri jalan yang biasa ia lewati. Hingga langkahnya melambat saat melihat sebuah mobil yang terparkir tepat di depan gang rumahnya.
"Bukan mobil Rangga kan? Atau mungkin tamu tetangga!?"
Zea terus menduga-duga langkahnya semakin ragu. Ia sudah membayangkan yang datang itu adalah Miska atau ibu mertuanya. Rasanya belum siap untuk menyambut kedatangan mereka, tenaganya sudah cukup habis untuk bekerja hari ini dan tidak ingin berdebat lagi.
Tapi langkahnya semakin melambat dan terhenti di ujung jalan menuju ke halamannya saat ia melihat dua perempuan yang tengah duduk di depan teras rumahnya.
"Fe!"
Suaranya terdengar gemetar, bahkan ia tidak mampu menahan tangannya untuk meremas tali tasnya.
"Ze!"
Ersya memanggilnya membuatnya tersadar dan mulai memantapkan diri untuk kembali berjalan.
Apapun yang terjadi nanti, aku harus siap untuk menghadapinya. Jika pun Felic ingin marah padaku, aku harus siap karena memang aku yang salah ...
Zea terus meyakinkan dirinya untuk bisa menerima semuanya.
Hingga kini langkahnya tepat berhenti di depan Ersya dan Felic.
"Maaf jika kedatangan kami mengejutkanmu!" ucap Ersya lagi, wanita itu sepertinya sudah lebih santai dari pada awal pertemuan mereka.
Sedangkan Felic, sudah pasti ia terkejut, walaupun sebelumnya pasti Ersya sudah memberitahukannya.
Kini mereka sudah duduk di ruang tamu, Zea juga sudah menyuguhkan dua gelas teh untuk kedua tamunya.
"Minumlah!"
Suasana tampak begitu dingin, Felic segera meneguk minumannya karena memang tenggorokannya sudah cukup kering.
"Kenapa kamu membohongi kami?" pertanyaan pertama yang keluar dari bibir Felic.
Ia selalu datang ke panti dan menanyakan perihal keberadaan Zea dan semua orang yang ada di panti kompak menjawab kalau Zea sedang berada di luar negri.
"Maaf! Tapi percayalah aku melakukan semua ini agar aku tidak lagi menjadi pengganggu hubungan kalian, aku mau kalian hidup tenang tanpa aku!"
"Lalu bagaimana bisa di sini?" Felic tampak masih begitu penasaran.
"Aku sengaja mengatakan pada pihak panti kalau aku ke luar negri agar tidak ada yang mencariku, hanya satu orang yang tahu mengenai keberadaan ku. Aku kira aku akan tetap bisa bersembunyi dari kalian, tapi ternyata aku salah. Lari bukanlah solusinya!"
"Lalu dengan Rangga?"
__ADS_1
"Kami bertemu tanpa di sengaja, sungguh aku tidak merencanakan semuanya!"
Felic tersenyum dan terlihat lebih santai,
"Aku tidak mempermasalahkan dengan siapa kamu akan menjalin hubungan, terkait itu Rangga atau bukan, itu hak kamu. Tapi aku hanya ingin mengatakan kalau aku sudah memaafkan mu, jadi jangan lari lagi!"
Nafas yang sedari tadi tertahan oleh Zea seketika keluar dengan begitu bebas, bahkan bibirnya bisa tersenyum lebar sekarang.
"Benarkah seperti itu? Aku tidak sedang bermimpi kan?"
Felic menggelengkan kepalanya,
"Waktu itu, setelah aku melahirkan, aku dan Frans sempat datang ke panti untuk mencarimu, tapi ternyata kamu tidak ada. Kami pikir kamu benar berada di luar negri makannya kami tidak pernah berusaha untuk mencarimu!"
"Terimakasih banyak, aku tidak menyangka hal ini yang akan berhasil!"
Zea benar-benar tidak habis pikir. Ternyata selama ini ia hanya merasa takut dengan dirinya sendiri tapi lupa jika semua masalah itu harus di selesaikan bukan di hindari.
Kini Zea berdiri di luar rumah sambil menatap mobil yang mulai meninggalkan rumahnya. Bibirnya benar-benar tak pernah berhenti tersenyum. Ia baru saja melepaskan beban berat yang ada di pundaknya dengan cukup lama.
Flashback on
Ersya yang selalu menghindar setiap kali ditanya Felic mengenai istri Rangga membuat Felic begitu penasaran.
"Frans, aku hari ini ke rumah Ersya ya, tanpa baby Zhoe!?" ucap Felic dalam sambungan telpon dengan suaminya.
"Lama?"
"Baiklah, tapi tetap aktifkan ponselnya. Kabari aku jika lama, mengerti!?"
"Siap!!!"
Felic pun segera mematikan sambungan telponnya. Saat ia telpon sebenarnya sudah berada di dalam mobil menuju kediaman Ersya.
Kedatangan Felic yang mendadak tanpa memberitahu cukup membuat ibu hamil itu terkejut.
"Ada apa Fe, gue salah apa sama Lo?"
"Emang kalau gue ke sini, Lo harus salah dulu sama gue?"
"Ya nggak gitu, maksudnya kenapa tiba-tiba tanpa kasih kabar dulu?"
"Sengaja!"
"Gue serius!"
"Baiklah, gue juga sebenarnya mau tanya serius sama Lo. Soal Rangga, gue tahu Lo nutupin sesuatu sama gue!"
__ADS_1
"Ohh itu, enggak serius, gue nggak nutupi apa-apa dari Lo, cuma timingnya aja yang belum pas!"
"Sekarang udah pas, ada apa? Apa gue kenal sama istri Rangga?"
"Maaf ya Fe, sebenernya istri Rangga itu Zea!"
Felic tampak terkejut sejenak tapi kemudian tersenyum,
"Memang kenapa kalau zea, Sya?"
"Jadi Lo nggak marah atau bakal ngebenci Rangga?"
"Punya hak apa gue buat benci Rangga. Gue malah seneng akhirnya Rangga bisa menata hidupnya kembali. Tapi tunggu...., Zea bukankan dia di luar negri?"
"Kalau masalah itu bisa lo tanyakan langsung sama yang bersangkutan!"
"Gue mau ketemu sama dia, Lo tahu rumahnya kan?"
"Lo serius?"
"Iya, emang wajah gue terlihat becanda?"
"Ya enggak sih! Kapan?"
"Sekarang juga!"
"Serius!?"
"Lo lama-lama nyebelin ya!"
"Ya abis Lo kayak orang nggak ada hari esok aja sih!?"
"Masalah kan nggak boleh di Pendem kata Lo, jadi harus segera di selesaikan. Ayo gue tunggu cepetan siap-siap!"
Ersya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakukan sahabatnya. Tapi ia juga sekaligus merasa lega, setidaknya sahabatnya itu tidak menyimpan dendam pada wanita yang punya andil besar dalam tragedi keguguran anak pertamanya.
Flashback off
Siapapun orangnya berhak untuk menjadi protagaonis, menjadi pemeran utama dalam kisahnya sendiri. Tergantung bagaimana kita menilainya, dari sisi yang mana kita melihatnya. Dalam sekali waktu mungkin kita bisa menjadi antagonis karena tanpa sengaja masuk dalam kisah orang lain atau kita memilih menjadi protagonis dalam kisah kita sendiri, kisah yang kita ciptakan sendiri.
Begitupun dengan Zea yang mulai menata kisahnya sendiri tanpa berkeinginan untuk menjadi bagian dari kisah orang lain, dia hanya sedang menyusun kisahnya sendiri walaupun sedikit terlambat tapi kisahnya baru di mulai.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @ tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰