
Slide foto itu terus berlanjut hingga menunjukkan sebuah foto bayi perempuan yang begitu cantik.
Nyonya Widya langsung menatap ke arah putrinya, jelas itu bukan foto putrinya tapi putri dari wanita yang begitu ia benci.
Nyonya Widya pun segera berjalan naik ke atas panggung,
"Cukup pa!" ucapnya sambil menarik tangan suaminya, "Aku mohon!" dengan nada memohonnya, ia terus berusaha menarik tangan suaminya, tapi tetap saja tenaga suaminya lebih besar dari nyonya Widya, "Jangan sampai hal ini membuat Miska hancur."
"Saya bukan ingin menghancurkan Miska tapi membuatnya kembali kehidupan yang seharusnya ia miliki bukan milik orang lain, jangan biarkan Miska semakin menjadi sepertimu!"
"Memang aku kenapa pa? Ayolah, ini semua bisa kita bicarakan baik-baik di rumah, bukan di sini!"
"Sudah terlambat, jadi turunlah biarkan aku melanjutkan apa yang sudah saya mulai."
Tuan Seno pun memberi kode pada ajudannya agar membawa sang istri turun dari panggung.
"Maaf nyonya, mari ikut dengan saya!" ajudan pribadi tuan Seno segera menarik tangan nyonya Widya.
"Pa, aku mohon jangan lakukan ini!" tampak nyonya Widya terus meronta. Miska yang melihat dari kejauhan hendak menghampiri sang mama tapi segera di cegah oleh Rangga.
"Biarkan mereka selesaikan masalah mereka sendiri, lebih baik kita tunggu apa yang akan di katakan oleh tuan Seno selanjutnya."
Meskipun Zea tidak suka melihat perlakuan Rangga pada Miska tapi ia lega setidaknya Miska tidak akan mengacaukan semuanya dengan pergi dari pesta sebelum pestanya selesai.
Aku sudah tahu apa yang akan di sampaikan papa, bagaimana kalau papa sudah menemukan putri kandungnya? Miska semakin khawatir saja tapi ia juga tidak bisa melepaskan diri dari genggaman tangan Rangga.
Ersya yang sudah gemas ingin melepaskan genggaman Rangga segera di cegah oleh Zea, "Biarkan saja nona, bukankah itu lebih baik!" ucapnya bahkan tanpa menggerakkan bibirnya.
"Baiklah, aku mengerti sekarang!"
Akhirnya ajudan tuan Seno berhasil membawa nyonya Widya ke ruang khusus.
"Maaf nyonya, sebaiknya anda di sini!"
"Kamu jangan macam-macam ya!"
"Tapi ini perintah dari tuan!"
Ajudan tuan Seno segera meninggalkan nyonya Widya dan menguncinya dari luar, melihat hal itu ia tidak tinggal dia, ia berusaha mengetuk pintu itu berkali-kali,
"Buka pintunya, buka. Kalau tidak aku akan berteriak sepanjang acara!"
__ADS_1
Nyonya Widya terus saja berteriak histeris tapi percuma karena ruangan itu kedap suara. Walaupun ia berteriak-teriak tetap tidak akan ada yang bisa mendengarnya dari luar.
"Maaf, itu tadi ada gangguan sedikit! Bisa kita lanjutkan sekarang?" panitia pun mengangukkan kepalanya bersiap menerima instruksi.
"Bisa di putar yang selanjutnya!"
Layar besar itu kembali menampilkan foto-foto lama Zea waktu masih baru lahir,
"Kalian pasti bertanya-tanya, foto siapkah yang tengah saya putar saat ini, ini adalah foto putri saya. Putri kandung saya satu-satunya!"
Mendengar hal itu berhasil membuat mama Rangga menatap tidak percaya pada Miska,
"Ini maksudnya apa?"
"Sudah deh Tante, jangan membuatku semakin pusing!" gerutu Miska, Rangga kini sudah melepaskan tangannya hingga ia bisa berharap lagi dengan bebas tapi sekarang ia tidak punya alasan untuk pergi, ia harus tahu apa tujuan papanya mengumumkan semua itu.
Apa ini ada hubungannya dengan kedatangan Zea?
"Putri yang sudah saya cari selama bertahun-tahun yang lalu, akhirnya ia berada di sisiku!" akhirnya yang di tunggu benar-benar terjadi, tuan Seno mengumumkan jika putri yang telah ia cari selama tiga puluh tahu itu kini sudah kembali.
Lampu langsung menyorot ke arah Zea, semua mata dan kamera langsung menuju ke arah Zea.
Miska yang berdiri di sampingnya terpaksa memundurkan langkahnya memberi jarak, tapi tetap saja ia juga menjadi pusat perhatian.
"Iya, cantik, bahkan lebih cantik dari_!"
"Dia juga tampak lebih baik!"
Beberapa pembicaraan itu membuat Miska semakin panas, Miska yang hampir tidak bisa mengendalikan diri begitu geram ingin menarik Zea agar pergi dari tempat itu tapi lagi-lagi Rangga mencegahnya.
"Miska, apa yang mau kamu lakukan?" ucapnya dengan nada daratnya saat tangan Miska sudah berhasil menarik tangan Zea dan hendak membawanya pergi.
"Wanita murahan ini, tidak pantas berada di sini!"
"Kamu yang tidak pantas, tetap diam atau aku akan menyeretmu keluar dari sini!"
Di dalam ruangan itu, nyonya Widya hanya bisa menangisi nasibnya, ia juga mengkhawatirkan putrinya. Ia tidak mau putrinya berbuat gegabah.
"Bagaimana kalau Miska melakukan sesuatu yang salah!" gumamnya pelan sambil duduk di atas lantai dengan penampilan yang sudah berantakan.
"Zea, Namanya Zea Lavanya. Putri kandung saya. Naiklah!" tuan Seno meminta Zea untuk naik ke atas panggung dan di sambut tepuk tangan oleh pada tamu.
__ADS_1
"Ayo naiklah!" pinta Ersya yang sudah memberi semangat.
Zea menatap pada ayah mertuanya dan pak Beni pun mengangukkan kepalanya sambil tersenyum. Zea tahu sejak awal yang memberinya dukungan adalah ayah mertuanya. Ia tidak bisa mengabaikan hal itu begitu saja.
Akhirnya Zea pun naik ke atas panggung di temani oleh Ersya, Ersya hanya menemaninya sampai di bibir panggung saja,
"Semangat!"
Miska benar-benar tidak habis pikir, ia ingin sekali berteriak dan menyeret Zea keluar, menyingkirkannya dengan tangannya sendiri tapi ia masih berusaha untuk berpikir waras.
Ia tidak mau semakin terlihat buruk di depan publik.
"Miska, bisa ikut naik bersama kami!" ucapan papanya membuatnya tersadar dimana posisinya saat ini, meskipun bukan putri kandung tapi papanya masih menyayanginya.
Baiklah, tidak pa pa aku kalah hari ini ...., Miska pun pura-pura tersenyum dan menghampiri mereka ke atas panggung.
Tuan Seno pun memperkenalkan Zea sebagai putri kandungnya dan Miska sebagai putri sambungnya membuat Miska semakin malu, meskipun ia naik ke atas panggung. Penghormatan yang ia harapkan ternyata tidak ia dapat membuatnya menyesal saat ini berada di atas panggung.
Ini baru permulaan Miska, dan kamu akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya ....
Tuan Seno sengaja mengajak Miska ke atas panggung juga supaya media bisa membedakan mana putri kandung dan putri yang di bawa oleh istrinya.
Ersya yang tepuk tangan paling bersemangat di sana bersama dengan kedua orang tua Rangga dan Rangga juga,
"Memang ya Tante, orang itu nggak bisa di lihat dari bungkusnya. Bisa jadi nih yang bungkusnya kelihatan lusuh tapi nyatanya isinya emas!"
Mama Rangga hanya bisa diam tanpa berniat membalas sindiran dari Ersya, ia tahu jika Ersya tengah menyindirnya.
"Memang sebelumnya Zea seperti apa?" tanya Rangga yang penasaran dengan masa lalu Zea sebelum saat ini.
"Dia itu_!" belum sampai Ersya selesai bicara, mama Rangga segera menyambar dan memotongnya.
"Sudahlah ga, nggapain juga peduli sama dia. Yang harus kamu pedulikan sekarang itu Miska, dia pasti sangat terluka karena sudah di permalukan oleh papanya sendiri di depan umum, hibur dia!"
Masih aja nih nenek sihir, pengen deh gue sihir balik ...., Ersya benar-benar kesal dengan mama Rangga yang masih dibutakan oleh Miska.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
Ig @tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰