Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
kekecewaan Tisya


__ADS_3

      “Ma …, sudahlah …, biarkan saja kalau


dia tidak peduli sama kita!” ucap Tisya mencegah mamanya yang terus memanggil


dokter Frans.


“Ma


…, kenapa kita tidak ke rumah kakek saja sih ma?”


“Itu


tidak mungkin sayang, kakek juga marah sama mama!”


“begitu


banyak kesalahan mama, seharusnya Tisya juga marah sama mama!”


“Jangan


sayang …, saat ini Cuma kamu yang mama punya!”


“Lalu


bagaimana dengan kita sekarang ma?”


“Semua


akan baik-baik saja sayang, percaya sama mama!”


Akhirnya


mereka pun terus berjalan, hingga ia melihat sebuah bor kecil bertulis rumah di


sewakan. Ada nomor yang bisa di hubungi, ia pun menghubungi pemilik rumah itu. Dan


untungnya si pemilik kontrakan rumahnya tidak jauh dari situ sehingga mereka


bisa langsung menempati rumah itu dengan membayar setengah di muka.


“Semoga


ibu sama anaknya betah ya di sini!” ucap pemilik kontrakan itu sambil menyerahkan


kunci rumah itu.


“Makasih


bu!”


“Sama-sama,


maris saya tinggal ya bu!”


“Iya


bu!”


Setelah


pemilik kontrakan itu meninggalkan mereka, nyonya Tania segera membuka pintu


rumah itu, sekali melihatnya saja Tisya sudah terlihat jika ia tidak suka


dengan tempat itu.


“Mama


yakin mau tinggal di sini?”


“Nggak


ada pilihan lain sayang, uang mama cuma cukup buat ini!”


“Tapi


ini terlalu kecil ma …!”


“ayolah


sayang ….!”


Nyonya


Tania segera memasukkan barang-barang miliknya dan Tisya. Tisya semakin


terkejut saat melihat kamarnya, bahkan kamar kandi di rumahnya lebih besar dari


kamar tidur itu.


“Ma


…, ini nggak mungkin ma …!” teriak Tisya sambil memeluk nyonya Tania.


“Kita


harus tingga di sini untuk sementara waktu sayang sampai kemarahan papa kamu


reda!”


“Ini


kecil sekali ma!”


‘Nggak


pa pa sayang!”


“Mama


benar-benar jahat sama tisya!” keluh Tisya, ia benar-benar tidak bisatidur


semalaman karena rumah itu juga tidak ada Ac nya. Nyamuknya juga begitu banyak.


Ini


semua gara-gara dokter itu, aku harus bikin perhitungan sama dia …., batin


Tisya. Ia semakin membenci dokter Farns. Meurutnya semua akan masalah dalam


kehidupannya adalah dokter Frans dan istrinya.


***


“Selamat


pagi sayang …, kenapa pagi-pagi sudah rapi sekali?” tanya nyonya Tania saat

__ADS_1


menyiapkan saran untuk putrinya itu.


“Tisya


ada urusan ma!” ucap Tisya dengan wajah kesalnya.


“Tapi


sarapan dulu sayang!”


“Mama


masak apa?”


“Telur


sayang!”


“Ma


…, Tisya nggak suka telur, buang aja ma …!”


“sayang


ini enak loh …! Di coba dulu sayang…!” ucap nyonya Tania sambil menyodorkan


makanan itu.


“Nggak


mau!”


Prangggg


Tisya


dengan sengaja melempar piring itu hingga semua nasi dan lauknya tumpah di


lantai.


“TISYA


….!” Bentak nyonya Tania. Untuk pertama kalinya nyonya Tania membentak putrinya


itu.


“Mama


jahat …!”


Tisya


pun segera berlalu meninggalkan rumah, meninggalkan nyonya Tania yang masih


menangis. Tisya segera memesan taksi, ia harus menemui seseorang yang harus ia


mintai pertanggung jawabannya.


Akhirnya


taksi yang di tumpangi oleh Tisya berhenti di depan gedung FrAd Medika. Tisya segera


turun dan mencari dokter Frans.


“Maaf,


“Dokter


Frans belum datang, apa ada yang bisa kami bantu?”


“Tidak


aku menunggunya!”


“Itu


dokter Frans!” ucap resepsionis itu sambil menunjuk dokter Frans yang berjalan


begitu coolnya memasuki rumah sakit.


Tisya


pun segera berjalan menghampirinya, ia berhenti tepat di depan dokter Frans,


“Ada


apa?” tanya dokter Frans.


Plakkk


Sebuah


tamparan mendarat di pipikanan dokter Frans, Wilson yang melihatnya segera


menghampiri mereka dan menahan tangan Tisya.


“apa


yang anda lakukan?” teriak Wilson, seluruh pengunjung rumah sakit pun


melihatnya.


“Wilson


…., lepaskan dia!”


“Tapi


tuan dokter!”


“Lepaskan!”


“Baik


tuan!”


Wilson


pun kembali mundur, kini giliran dokter Frans yang menatap tidak kalah tajamnya


dnegan tatapan Tisya.


“Kita


bisa di sana!” ucap dokter Frans sambil menarik tangan Tisya menjauh dari


kerumunan, mereka menuju ke tempat yang sepi yang tidak aka nada yang

__ADS_1


mendengarkan pembicaraan mereka.


“Ada


apa? Apa yang sudah membuatmu berani menamparku?”


“Berhenti


bersikap seolah-olah tidak tahu, tamparan itu belum terlalu setimpal dengan


hancurnya keluarga saya gara-gara anda, gara-gara kesombongan anda!”


“Seharusnya


saya yang marah pada anda, sudah beruntung saya tidak melaporkan tindakan


anarkis anda ke jalur hukum!”


“Kau


ini benart-benar semakin membuatku membentimu, rasa hormatku semakin hilang terhadapmu!”


ucap Tisya dan hendak meninggalkan dokter Frans tapi ia kembali berbalik, “Dan


ingat sampai kapanpun saya tidak akan menganggap anda sebagai bagian dari hidup


saya …., camkan itu baik-baik dalam benak anda dokter Frans yang terhormat …!”


ucap Tisya lalu berlalu meninggalkan dokter Frans, hal itu membuat  dokter Frans semakin di  heran, ada apa hingga tisya begitu marah


padanya.


Setelah


Tisya meninggalkannya, Wilson pun menghampiri dokter Frans.


“Anda


tidak pa pa tuan?”


“Tidak


…, kamu cepatlah pulang, jangan biarkan Felic pergi kemanapun, aku akan


segera


pulang nanti!”


“Baik


tuan!”


Setelah


menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit, dokter Frans pun memang segera


pulang. ia juga sudah memberitahukan pada nyonya Ratih jika akan membatalkan


acara resepsinya karena saat ini felic sedang hamil. Ia tidak mau mengambil


resiko dnegan tetap mengadakan resepsi pernikahan.


Awalnya


nyonya ratih keberatan tapi setelah mendapatkan penjelasan dari dokter Frans


akhirnya nyonya Ratih memakluminya. Resepsi bisa di lakukan setelah Felic


melahirkan saja.


Akhir-akhir


ini memang dokter Frans pulang lebih cepat, selain karena tubuhnya juga kurang


fit ia juga tidak mau meninggalkan Felic terlalu lama, apa lagi saat ini nafsu


makan felic sangat banyak, ia jadi mudah lapar.


Tidak


hiasanya felic sudah menyambutnya di depan pintu saat dokter Frans pulang,


ternyata ia begtu khawatir saat emndapat laporan dari Wilson jika tadi Tisya


menampar suami tampannya itu.


“Fe


…, kenapa di depan?” tanya dokter Frans yang barus saja turun dari mobil.


“Frans


…,, pipi kamu merah, sakit banget ya di tampar wanita rubah itu?”


“Ini


pasti perkerjaan Wilsn kan?”


“Jangan


marah sama dia, aku tadi yang bertanya!”


“Tapi


dia yang cerita!”


“Frans


…, sini aku cium biar sembuh!”


“Kalau


itu aku mau ….!” Ucap dokter Frans sambil menyodorkan pipinya yang di tampar


oleh Tisya.


Cup


“mana


lagi?” tanya Felic.


“Ini!”


dokter Frans menunjuk bibirnya.


“Issstttt

__ADS_1


…, kalau yang itu aku nggak percaya!”


__ADS_2