
“Ma …, sudahlah …, biarkan saja kalau
dia tidak peduli sama kita!” ucap Tisya mencegah mamanya yang terus memanggil
dokter Frans.
“Ma
…, kenapa kita tidak ke rumah kakek saja sih ma?”
“Itu
tidak mungkin sayang, kakek juga marah sama mama!”
“begitu
banyak kesalahan mama, seharusnya Tisya juga marah sama mama!”
“Jangan
sayang …, saat ini Cuma kamu yang mama punya!”
“Lalu
bagaimana dengan kita sekarang ma?”
“Semua
akan baik-baik saja sayang, percaya sama mama!”
Akhirnya
mereka pun terus berjalan, hingga ia melihat sebuah bor kecil bertulis rumah di
sewakan. Ada nomor yang bisa di hubungi, ia pun menghubungi pemilik rumah itu. Dan
untungnya si pemilik kontrakan rumahnya tidak jauh dari situ sehingga mereka
bisa langsung menempati rumah itu dengan membayar setengah di muka.
“Semoga
ibu sama anaknya betah ya di sini!” ucap pemilik kontrakan itu sambil menyerahkan
kunci rumah itu.
“Makasih
bu!”
“Sama-sama,
maris saya tinggal ya bu!”
“Iya
bu!”
Setelah
pemilik kontrakan itu meninggalkan mereka, nyonya Tania segera membuka pintu
rumah itu, sekali melihatnya saja Tisya sudah terlihat jika ia tidak suka
dengan tempat itu.
“Mama
yakin mau tinggal di sini?”
“Nggak
ada pilihan lain sayang, uang mama cuma cukup buat ini!”
“Tapi
ini terlalu kecil ma …!”
“ayolah
sayang ….!”
Nyonya
Tania segera memasukkan barang-barang miliknya dan Tisya. Tisya semakin
terkejut saat melihat kamarnya, bahkan kamar kandi di rumahnya lebih besar dari
kamar tidur itu.
“Ma
…, ini nggak mungkin ma …!” teriak Tisya sambil memeluk nyonya Tania.
“Kita
harus tingga di sini untuk sementara waktu sayang sampai kemarahan papa kamu
reda!”
“Ini
kecil sekali ma!”
‘Nggak
pa pa sayang!”
“Mama
benar-benar jahat sama tisya!” keluh Tisya, ia benar-benar tidak bisatidur
semalaman karena rumah itu juga tidak ada Ac nya. Nyamuknya juga begitu banyak.
Ini
semua gara-gara dokter itu, aku harus bikin perhitungan sama dia …., batin
Tisya. Ia semakin membenci dokter Farns. Meurutnya semua akan masalah dalam
kehidupannya adalah dokter Frans dan istrinya.
***
“Selamat
pagi sayang …, kenapa pagi-pagi sudah rapi sekali?” tanya nyonya Tania saat
__ADS_1
menyiapkan saran untuk putrinya itu.
“Tisya
ada urusan ma!” ucap Tisya dengan wajah kesalnya.
“Tapi
sarapan dulu sayang!”
“Mama
masak apa?”
“Telur
sayang!”
“Ma
…, Tisya nggak suka telur, buang aja ma …!”
“sayang
ini enak loh …! Di coba dulu sayang…!” ucap nyonya Tania sambil menyodorkan
makanan itu.
“Nggak
mau!”
Prangggg
Tisya
dengan sengaja melempar piring itu hingga semua nasi dan lauknya tumpah di
lantai.
“TISYA
….!” Bentak nyonya Tania. Untuk pertama kalinya nyonya Tania membentak putrinya
itu.
“Mama
jahat …!”
Tisya
pun segera berlalu meninggalkan rumah, meninggalkan nyonya Tania yang masih
menangis. Tisya segera memesan taksi, ia harus menemui seseorang yang harus ia
mintai pertanggung jawabannya.
Akhirnya
taksi yang di tumpangi oleh Tisya berhenti di depan gedung FrAd Medika. Tisya segera
turun dan mencari dokter Frans.
“Maaf,
“Dokter
Frans belum datang, apa ada yang bisa kami bantu?”
“Tidak
aku menunggunya!”
“Itu
dokter Frans!” ucap resepsionis itu sambil menunjuk dokter Frans yang berjalan
begitu coolnya memasuki rumah sakit.
Tisya
pun segera berjalan menghampirinya, ia berhenti tepat di depan dokter Frans,
“Ada
apa?” tanya dokter Frans.
Plakkk
Sebuah
tamparan mendarat di pipikanan dokter Frans, Wilson yang melihatnya segera
menghampiri mereka dan menahan tangan Tisya.
“apa
yang anda lakukan?” teriak Wilson, seluruh pengunjung rumah sakit pun
melihatnya.
“Wilson
…., lepaskan dia!”
“Tapi
tuan dokter!”
“Lepaskan!”
“Baik
tuan!”
Wilson
pun kembali mundur, kini giliran dokter Frans yang menatap tidak kalah tajamnya
dnegan tatapan Tisya.
“Kita
bisa di sana!” ucap dokter Frans sambil menarik tangan Tisya menjauh dari
kerumunan, mereka menuju ke tempat yang sepi yang tidak aka nada yang
__ADS_1
mendengarkan pembicaraan mereka.
“Ada
apa? Apa yang sudah membuatmu berani menamparku?”
“Berhenti
bersikap seolah-olah tidak tahu, tamparan itu belum terlalu setimpal dengan
hancurnya keluarga saya gara-gara anda, gara-gara kesombongan anda!”
“Seharusnya
saya yang marah pada anda, sudah beruntung saya tidak melaporkan tindakan
anarkis anda ke jalur hukum!”
“Kau
ini benart-benar semakin membuatku membentimu, rasa hormatku semakin hilang terhadapmu!”
ucap Tisya dan hendak meninggalkan dokter Frans tapi ia kembali berbalik, “Dan
ingat sampai kapanpun saya tidak akan menganggap anda sebagai bagian dari hidup
saya …., camkan itu baik-baik dalam benak anda dokter Frans yang terhormat …!”
ucap Tisya lalu berlalu meninggalkan dokter Frans, hal itu membuat dokter Frans semakin di heran, ada apa hingga tisya begitu marah
padanya.
Setelah
Tisya meninggalkannya, Wilson pun menghampiri dokter Frans.
“Anda
tidak pa pa tuan?”
“Tidak
…, kamu cepatlah pulang, jangan biarkan Felic pergi kemanapun, aku akan
segera
pulang nanti!”
“Baik
tuan!”
Setelah
menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit, dokter Frans pun memang segera
pulang. ia juga sudah memberitahukan pada nyonya Ratih jika akan membatalkan
acara resepsinya karena saat ini felic sedang hamil. Ia tidak mau mengambil
resiko dnegan tetap mengadakan resepsi pernikahan.
Awalnya
nyonya ratih keberatan tapi setelah mendapatkan penjelasan dari dokter Frans
akhirnya nyonya Ratih memakluminya. Resepsi bisa di lakukan setelah Felic
melahirkan saja.
Akhir-akhir
ini memang dokter Frans pulang lebih cepat, selain karena tubuhnya juga kurang
fit ia juga tidak mau meninggalkan Felic terlalu lama, apa lagi saat ini nafsu
makan felic sangat banyak, ia jadi mudah lapar.
Tidak
hiasanya felic sudah menyambutnya di depan pintu saat dokter Frans pulang,
ternyata ia begtu khawatir saat emndapat laporan dari Wilson jika tadi Tisya
menampar suami tampannya itu.
“Fe
…, kenapa di depan?” tanya dokter Frans yang barus saja turun dari mobil.
“Frans
…,, pipi kamu merah, sakit banget ya di tampar wanita rubah itu?”
“Ini
pasti perkerjaan Wilsn kan?”
“Jangan
marah sama dia, aku tadi yang bertanya!”
“Tapi
dia yang cerita!”
“Frans
…, sini aku cium biar sembuh!”
“Kalau
itu aku mau ….!” Ucap dokter Frans sambil menyodorkan pipinya yang di tampar
oleh Tisya.
Cup
“mana
lagi?” tanya Felic.
“Ini!”
dokter Frans menunjuk bibirnya.
“Issstttt
__ADS_1
…, kalau yang itu aku nggak percaya!”