
“Sekarang sudah bisa di mulai ijab qabulnya?’ Tanya pak penghulu lagi.
Dokter Frans pun menoleh kepada wanita yang duduk di sampingan, dia Felic, memastikan jika wanita di sampingnya itu sudah benar-benar siap menikah dengannya. Felic yang sadar dengan pertanyaan dokter
Frans pun dengan mantap menganggukkan kepalanya.
“Sudah pak penghulu!” ucap dokter Frans dengan sangat yakin.
“baiklah…, kita mulai sekarang ya! Jabat tangan wali mempelai wanita!” ucap pak penghulu lagi, suasana di dalam masjid menjadi sangat hening, hingga yang terdengar hanya suara yang keluar dari mikrofon masjid.
Dokter Frans pun menatap ayah Felic yang berada di depannya, ayah felic segera mengulurkan tangannya, dengan penuh keyakinan dokter Frans pun menjabat tangan ayah Felic.
"Silahkan!" ucap pak penghulu pelan meminta ayah Felic untuk segera memulai ijab Qabul-nya. dengan mengucap basmallah menggenggam tangan calon menantunya, ayah Felic memulai ijab qobul-nya.
“Ananda Frans Aditya bin Haris Muhtar saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya
Felicia Daryl binti Mufid Abdullah dengan mas kawinnya berupa uang 100 juta,
tunai.”
Dengan cepat dokter Frans menyahut ucapan ayah Abdul. “Saya terima nikah dan kawinnya Felicia Daryl binti Mufid Abdullah dengan maskawin tersebut dibayar tunai.” Dokter Frans mengucapkan kalimat ijab nya dengan
sekali tarikan nafas.
“Bagaimana saksi? Sah …?” Tanya pak penghulu dengan tag nama di dadanya Ahmad Marjuki.
“Sah….!” Semua yang hadir mengucapkan sah secara bersamaan, dokter Frans segera
tersenyum lega, ia menghembuskan nafas kelegaannya, mengusap dadanya yang sedari tadi bergemuruh entah kenapa,
rasa deg-degan ini melebihi rasa deg-degan gue waktu pertama kali melakukan bedah pada pasien ..... batin dokter Frans sambil terus memegangi dadanya yang masih belum berhenti berdenyut, terlihat sekali kelegaan di wajahnya.
Dengan menakupkan kedua tangannya di wajahnya. Walau bagaimana
pun, pernikahan tetaplah pernikahan bagaimanapun awalnya. Sebuah pernikahan
adalah ikatan yang suci antara dua insan, dan di saksikan langsung oleh Allah SWT.
Pak ustad pun memulai doanya untuk dua mempelai dengan di amini oleh semua yang
hadir di sana.
“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”
Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min
syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
Akhirnya ijab qabul pun terlaksana dengan sangat lancar. Wajah sumringah terpancar di
setiap sudut bibir setiap yang datang dan menyaksikan pernikahan itu.
"Silahkan pasangkan cincinnya!" perintah pak penghulu, ternyata cincin itu sudah sedari tadi di bawa oleh Agra, Agra pun segera maju dan membukakan tempat cincin itu. Dokter Frans pun mengambil sebuah cincin yang akan ia kenakan di jari manis Felic.
Dokter Frans menatap Felic, memintanya agar segera mengantungkan tangannya. Felic pun mengerti isyarat dokter Frans, ia segera mengangkat tangannya persisi di depan dada dokter Frans, dengan sekali percobaan saja, cincin itu sudah melekat sempurna di jari manis Felic, begitu pas di sana. Sekarang giliran Felic yang melakukan hal yang sama.
“Sekarang silahkan mempelai wanita, mencium punggung tangan suami!” ucap pak ustad
membuat Felic tersadar dari kekosongan pikirannya, ia benar-benar masih belum
percaya telah menjadi istri dari seorang pria yang bahkan selama ini tidak
pernah terpikirkan olehnya, pria itu akan ada dalam hidupnya.
__ADS_1
Felic tercengang dan menatap dokter Frans, dan dokter Frans dengan santainya
mengulurkan kembali tangannya dengan senyum jahilnya.
Astaga ……, berilah kesabaran pada
hatiku tuhan …..!
Felic menatap dokter Frans dengan malas, walaupun begitu ia tetap meraih tangan itu
dan menciumnya, dan tanpa aba-aba dokter Frans segera menarik kepala Felic dan mendaratkan ciuman di kening Felic.
Felic kembali terkejut, ia menatap tajam pada dokter Frans, bukannya takut dokter
Frans malah hendak mencium pipi Felic, membuat Felic reflek mencubit pinggang
dokter Frans.
“Augh…, augh …, augh ….!” Keluh dokter Frans dan segera di sambut tawa oleh para tamu. Tak terkecuali dua
sahabatnya. si Rendi nan dingin, bisa tertawa lebar di acara nikahan sahabat kocaknya itu.
“Sudah ngebet banget lo Frans? Santai aja kali, masih banyak waktu, ntar kalau lo butuh referensi hubungi gue!” bisik Agra.
"Gue lebih berpengalaman dari pada lo, sultan!" balas dokter Frans, Felic yang berdiri di sampingnya masih bisa mendengarkan obrolan dua sahabat itu walaupun sedikit berbisik, entah kenapa obrolan itu membuat jantungnya berdetak lebih keras, wajahnya merona merah.
“Sudah-sudah…., mari kita lanjutkan di rumah kami!” ajak ayah Dul.
“Maafkan sahabat kami ini pak, dia memang sedikit kurang sabaran …, tapi dia cukup
tangkas untuk menjadi menantu!” ledek Agra.
‘Iya benar …,, ayah sudah bisa melihatnya dari pertama bertemu, kayaknya bakal ada kesebelasan yang menetas di rumah ayah!" ucap ayah Dul dengan lantangnya dan langsung di sambut tawa oleh semua yang ada di sana membuat Felic semakin malu saja, ia seperti di tenggelamkan di dasar bumi terdalam, malu menatap orang-orang di sana.
Rendi harus menyesuaikan beberapa hal dulu baru ia bisa membaur, walaupun sering melakukan penyamaran, tapi itu butuh observasi lebih dulu,
Saat Agra sudah membaur dengan sangat mudahnya, Rendi tetap dengan sikap dinginnya dan berjalan di belakang Agra tanpa berkomentar sedikit pun.
Tapi Agra yang sadar jika sahabat es nya itu
sedang berjalan di belakangnya dengan wajah dinginnya layaknya pengawal yang mengawal dirinya, ia segera berbalik, menarik tangan Rendi agar berdiri di sampingnya dan berbisik.
“Tersenyum sedikit. jangan bersikap kaku kayak gitu di sini, ntar lo di kira robot kayak Gara, bersikap sewajarnya …, ingat kan ucapan Frans …?" tanya agra mengingatkan Rendi, Rendi pun hanya mengangguk sewajarnya dan menata bibirnya agar bisa tersenyum, akhirnya lahirlah senyum tipis nan menawan itu.
"Ok, kayak gitu baru bagus ...., jadi bersikap sewajarnya!”
Akhirnya Rendi pun terus berusaha menarik sudut bibirnya sepanjang perjalanan menuju rumah istri dokter Frans dan sesekali menyambut sapaan orang-orang.
. Rendi bukannya tidak bisa tersenyum, ia begitu kepikiran dengan sesuatu sehingga membuatnya tidak
fokus. Ia ingin segera mengetahui jawabannya.
Dokter Frans masih tertinggal bersama felic di belakang, sebenarnya ingin sekali berjalan bersama dua sahabatnya tapi Felic sengaja menahan tangan dokter Frans agar
tidak berjalan dulu. Ia ingin mengatakan sesuatu pada pria yang sudah resmi menyandang predikat suaminya itu.
“Ada apa sih?’ Tanya dokter Frans. Felic mengira mereka sudah tinggal berdua tapi ternyata di belakangnya muncul seseorang.
“Kakak…., jangan sekarang …, lebih baik bicara sama kakak iparnya nanti saja, iya kan
kak Ersya?” ternyata Ersya dan Lisa masih tertinggal di belakang, mereka sibuk menggosipkan tiga pria tampan itu sampai lupa keluar dari masjid, mereka banyak menyimpan foto-foto pria tampan nan mapan itu, Felic terkejut ,belum sampai mengatakan sesuatu, tiba-tiba Lisa sudah menarik
lengannya. Ersya yang di tanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya setuju.
__ADS_1
“Iya benar adik …., sepertinya kakakmu ini sudah tidak sabar …!” ucap dokter Frans
dengan entengnya membuat Felic membulatkan matanya tidak percaya. Karena kesal
Felic pun segera menarik tangan adiknya berlalu dari hadapan dokter Frans.
“Hai…, aku benar-benar tidak percaya, temanku itu akan mendapat suami setampan
dokter! Kamu benar-benar dokter kan? Kata Lisa kamu dokter?” ucap Ersya yang
masih enggan meninggalkan dokter Frans, ia terus tersenyum menatap suami
sahabatnya itu.
“Terimakasih atas pujiannya, sebenarnya sudah banyak yang mengatakan itu, saya memang
tampan!” ucap dokter Frans dengan senyum
tanpa dosanya.
“Kak Ersya …, ayo ….!” Teriakan lisa membuat Ersya tersadar, ia pun segera
berpamitan pada dokter Frans dan mengejar sahabatnya.
Kini dokter Frans pun berjalan di belakang tiga wanita itu, di tengah candaan Lisa dan Ersya tiba-tiba ekor mata Felic seperti menangkap bayangan seseorang yang sedang mengawasinya dari jauh.
"Rangga!" gumam Felic pelan tapi masih bisa di dengar oleh Ersya dan Lisa, mereka menghentikan percakapannya. Ersya dan Lisa pun terpancing ke arah tatapan Felic tapi tidak menemukan siapapun di sana.
"Mana kak, nggak ada siapa-siapa disana?" tanya Lisa.
"Bener Fe ..., nggak ada siapa-siapa. Mungkin lo cuma kepikiran saja sama Rangga!" Ersya pun ikut menimpali.
"Iya mungkin kalian benar, ayo ...!"
mereka pun kembali berjalan. Ternyata bukan cuma Felic yang bisa melihatnya, dokter frans pun melihat hal yang sama.
"Siapa pria itu?" gumam dokter Frans yang juga berhenti sejenak. Setelah menyadari jika pria itu sudah menghilang di balik pohon besar itu, dokter Frans pun kembali melanjutkan langkahnya mengikuti ketiga wanita di depannya itu.
Semua sudah berkumpul di rumah Felic dan menikmati jamuan yang telah di siapkan oleh
ibu Felic, sesi foto pun sudah di lakukan. Felic tetap tersenyum walaupun
sebenarnya sudah enggan untuk tersenyum, berbeda sekali dengan dokter Frans.
Dokter Frans tetap dengan senyumnya, ia seperti tanpa beban, baginya hidup ini
adalah untuk di nikmati bukan untuk di sesali atau dikeluhkan.
Maaf ya undangannya telat
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘❤️
__ADS_1