Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Meminta restu


__ADS_3

Hari ini Wilson sudah siap-siap membawa Tisya ke rumah kakaknya, hanya kakaknya saat ini wali nikah Tisya.


"Kenapa aku deg degan ya!" ucap Tisya sebelum turun dari mobil.


"Nggak usah lebay!"


"Gimana nggak lebay, ini masalahnya serius, kita tiba-tiba aja nikah nggak ada apa-apa, bukankah bakal bikin semua orang curiga? Ntar kita di kira ngapa-ngapain lagi!"


"Pikirkan nanti aja, yang penting lima M!"


Wilson pun segera mengajak Tisya untuk turun dari mobil, kedatangan mereka sudah di sambut oleh bi Molly.


"Pagi bi!"


"Pagi Wilson, nona Tisya!"


"Apa kak Frans dan kak Fe nya ada?"


"Ada silahkan masuk, mereka sudah menunggu!" Bi Molly tersenyum sambil membuka lebar pintunya.


Bukannya senang, Tisya pun segera menoleh pada pria di sampingnya.


"Wil, kenapa mereka menunggu?" ucapnya sambil berbisik dengan menutup sebelah bibirnya dengan tangan,


"Jangan banyak bertanya, kita langsung masuk saja, pikirkan tentang uang lima M!"


Wilson pun segera berjalan meninggalkan Tisya, Tisya dengan cepat menyusulnya. Langkah mereka terhenti saat sampai di ruang keluarga.


Ada nyonya Tania juga di sana.


Mama kenapa juga ada di sini? batin Tisya.


"Silahkan nona!" ucap bi Molly yang sedari tadi mengantar mereka.


Wilson pun segera menarik tangan Tisya, membuat Tisya terkejut dan hanya bisa mengikutinya.


"Selamat pagi tuan, nyonya Fe, nyonya Tania!" sapanya.


Dokter Frans pun tersenyum melihat wajah tegang Wilson dan Tisya, "Kalian sudah datang, duduklah!"


Felic tidak kalah senangnya, "Iya duduklah, kata Frans kalian mau membicarakan sesuatu, aku udah nggak sabar apa!"


"Iya mama juga penasaran, ayo cepetan duduklah!"


Wilson pun segera mengajak Tisya untuk duduk, mereka duduk di sofa yang sama, di ruangan itu terdapat empat sofa, dua sofa panjang dan dua sofa pendek, dokter Frans dan Fe duduk di sofa panjang bersebalahan dengan sofa pendek yang di duduki nyonya Tania. Sedangkan Wilson dan Tisya duduk di sofa panjang yang jaraknya sedikit lebih jauh.


Wilson terus menggenggam tangan Tisya dengan begitu erat, dan yang berhasil membuat Tisya tersenyum adalah tangan Wilson berkeringat.


"Wil ...., kenapa tangan kamu basah?" bisik Tisya.


"Ha ..., enggak! Sudah fokus sama tujuan kita, ingat lima M!"


Tiga orang di depan mereka hanya saling pandang melihat dua orang di depannya malah saling berbisik.


"Kalian kok malah bisik-bisik, ada apa?" tanya nyonya Tania yang terlihat begitu penasaran.


"Nggak pa pa ma, nih Wilson yang mau cerita!" ucapan Tisya terjeda, kemudian ia menoleh pada Wilson, "Iya kan Wil?"


"Kan kita berdua tadi janjinya!" gumam Wilson dengan suara lirih yang hanya bisa di dengar oleh Tisya sendiri sambil menajamkan matanya.

__ADS_1


"Kamu kan yang lebih tahu!" bisik Tisya.


Hehhhhhhh


Wilson pun menghela nafas dalam, ia kembali menatap pada tiga orang yang sedang begitu penasaran menunggunya bicara, lebih tepat nya dua orang karena satunya sudah tahu dan merupakan rencananya.


Saat Wilson hendak membuka mulutnya, bi Molly kembali datang dengan membawa sebuah nampan yang berisi minuman untuk mereka.


"Silahkan di minum, minumannya!"


Bi Molly pun segera kembali meninggalkan mereka bersama pelayan yang lainnya.


Tenggorokan Wilson tiba-tiba manjadi begitu kering, dengan cepat ia mengambil gelasnya dan menghabiskan minumnya. Semua orang jadi menatapnya.


"Maaf, saya haus!" Wilson hanya bisa tersenyum dengan rasa bersalahnya itu.


Tisya yang kesal segera mencubit pinggang Wilson, membuat Wilson terpekik.


"Aughhhh!"


Wilson mengusap pinggangnya yang nyeri.


"Ada apa Wil?" tanya dokter Frans.


"Tidak apa-apa tuan, hanya terjepit tadi!"


"Ya sudah sekarang katakan apa tujuan kalian mengumpulkan kami di sini!"


Ihhhh tuan dokter ini, aktingnya jago banget, dia yang berencana aku yang bingung memulainya, ini lebih serem dari pada sidang skripsi ....


Wilson pun kembali fokus, ia menoleh sebentar pada Tisya dan Tisya pun menganggukkan kepalanya.


"Iya tapi sesuatunya apa?" nyonya Tania tampak tidak sabar ingin segera mendengar ucapan Wilson.


"Sesuatunya, jadi kami mau_!" lagi-lagi Wilson menjeda ucapannya, ia beberapa kali menghela nafas.


Panik banget wajahnya, jadi teringat saat melamar Felic dulu ...., batin dokter Frans sambil tersenyum tipis.


"Wilson cepetan!" bentak Felic yang sudah sangat tidak sabar, ia sampai harus berdiri karena kesal Wilson terus mengulur pembicaraan intinya.


Dokter Frans pun segera meminta istrinya untuk duduk kembali, "Sabar Fe ...! Tenang, tarik nafas, jangan sampai baby kita dengan kamu teriak-teriak!"


Felic pun segera melakukan hal yang di perintahkan suaminya, ia menarik nafas dan mengeluarkan hingga beberapa kali.


"Ayo Wil, cepetan!" ucap Fe dengan sedikit lebih tenang.


"Kami mau menikah!" ucap Wilson dengan wajah gugupnya membuat dua wanita di depannya itu tidak mampu mengendalikan keterkejutannya dengan dua ekspresi yang berbeda.


"Wil ..., kamu serius?" tanya Fe yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dengan, "Kamu serius nikah sama Tisya?"


Ia begitu tidak percaya karena mengingat baru beberapa hari lalu, pengawalnya itu mengeluhkan tetang Tisya.


Dan bagaimana pria itu begitu membencinya dulu. Dan tiba-tiba mengatakan jika mereka mau menikah.


"Iya nyonya, saya serius!"


Sedangkan nyonya Tania berbeda, ia terus saja tersenyum.


"Pokoknya mama setuju jika kalian menikah, apapun alasannya mama setuju!"

__ADS_1


Ucapan nyonya Tania berhasil membuat Felic menoleh padanya,


"Ma ...!" ucapnya dengan penuh protes.


"Fe ..., Wilson itu pria yang baik untuk Tisya, mama setuju!"


Tapi aku nggak yakin jika Tisya gadis yang baik untuk Wilson, maafkan aku jika aku masih ragu ...., batin Felic.


"Iya Fe, lagian kalau mereka menikah, Wilson bisa menjaga Tisya dengan baik!"


Dokter Frans terus meyakinkan istrinya agar menyetujui pernikahan mereka, ia bisa yakin jika Tisya akan baik-baik saja bersama Wilson.


"Tisya bagaimana?" tanya Felic kemudian.


Tisya yang sedari tadi tetap diam menyaksikan perdebatan mereka pun segera tersadar.


"Aku?" tanyanya, "Aku mau!" dan ia menjawab sendiri.


"Wil, kami yakin mau menikah dengan putri mama?" tanya nyonya Tania untuk kembali meyakinkan Wilson.


"Iya nyonya, saya yakin!"


Nyonya Tania pun kembali menoleh pada putranya, "Frans bagaimana kalau kita segerakan saja, mereka kan sudah tinggal satu rumah, takutnya mereka melakukan hal-hal yang tidak baik sebelum menikah!"


"Baiklah ma, bagaimana kalau minggu depan? Gimana Wil?"


"Saya terserah tuan saja!"


"Baiklah, kalau begitu kita siapkan semuanya, kalian mau pernikahan yang bagaimana?"


"Yang sederhana saja!"


"Yang sederhana saja!"


Ucap Wilson dan Tisya bersamaan.


"Kalau gitu kita nggak perlu nunggu sampai satu minggu, dua hari lagi saja!" ucap dokter Frans.


"Hahhhh?" Wilson dan Tisya pun kembali terkejut.


"Wilson kan paling jago ngurus surat-surat seperti itu, jadi nggak perlu banyak waktu untuk mengurus surat menyurat, Iya kan Wil?" tanya dokter Frans.


"Iya tuan!"


Spesial visual Wilson



Bersambung


...Cinta terkadang meresahkan, terkadang datang dan tiba-tiba pergi, terkadang tidak dikenali, tetapi pada akhirnya, selalu ditemukan tanpa penyesalan, dan selamanya tersimpan di dalam hati...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2