
Setelah sekian lama tak sadarkan diri, akhirnya wanita itu tersadar.
Felic mulai membuka matanya, ia melihat sekelilingnya begitu sepi, ia hanya melihat Ersya yang sedang tertidur di sampingnya.
Ia merasakan perutnya masih sedikit nyeri, tangannya terhubung dengan slang infus, tubuhnya terasa begitu lemah bahkan ia kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya.
Ia menggerakkan tangannya yang tanpa slang infus, ia mengusap perutnya, tapi ada yang aneh di sana, ia merasakan hal yang berbeda di perutnya, perutnya datar kembali.
"Perutku ....!" ucap Felic lirih, dengan mengumpulkan kekuatan ia segera bangun dari tidurnya dan kembali meraba perutnya.
"Anakku ....!"
Ucapan Felic berhasil membuat Ersya terbangun dari tidurnya. Ia begitu terkejut saat melihat Felic sudah bangun.
"Fe .....!"
Ersya segera memegangi Felic agar tidak bangun.
“sya …! Perutku …?” tanya Felic dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi.
“Fe …, sabar ya …!” ucap Ersya sambil memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Nggak Sya ...., kandunganku nggak kenapa-kenapa kan? Iya kan?"
Air mata Felic sudah tidak terbendung lagi, ia melepaskan pelukan Ersya dan memastikan jawaban dari sahabatnya itu.
"Fe ...., dia sudah nggak ada ....!" ucap Ersya sambil menggoyangkan tubuh Felic.
"Nggak ...., nggak mungkin .....!"
"Iya Fe ....!"
"Nggak ...., aku nggak percaya, kamu pasti bohong kan ...., kamu bohong ....!"
"Fe ...., kendalikan dirimu!"
"Kamu pasti bohong kan, kamu bohong ...., iya ...., kamu bohong .....!"
Felic begitu histeris, Ia menarik slang infusnya.
"Suster ...., dokter ...., tolong ....!"
Ersya berteriak sambil memencet tombol itu. Hingga dokter pun menghampiri Felic.
"Dok ...., bagaimana ini!"
"Mbak tolong minggir dulu ya ...!"
setelah Ersya sedikit menjauh, Dokter segera menyuntikkan obat penenang pada Felic, hingga Felic kembali tidak sadarkan diri.
“perutku …, anakku …!” ucap Felic lirih sebelum kembali tidak sadarkan diri.
"Terimakasih dok ....!"
"Sama-sama ...., dua jam lagi nyonya Felicia akan bangun, nanti kalau terjadi hal yang sama, tolong beritahu kami ya!"
"Iya dok tentu! Oh ya dok, apa dokter Frans belum kembali?"
"Sepertinya belum mbak, ya sudah saya permisi ya!"
"Iya dok ....!"
Kini Ersya kembali menghampiri Felic yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Ia lihat jam ternyata sudah jam tujuh pagi. Ia ternyata sudah tertidur cukup lama.
"Masak se-lama ini sih ke pemakaman aja!"
Dua jam kemudian
Tetap tidak ada yang datang. Ersya sudah menunggu tapi suami sahabatnya itu tidak juga menemui Felic. Suster datang memeriksa keadaan Felic dan mengganti kantong infusnya.
"Sus ....!"
__ADS_1
"Iya mbak?"
"Apa dokter Frans belum kembali?"
"Sudah mbak, sudah sejak dua jam yang lalu!"
"Apa dia sibuk?"
"Tidak mbak, dokter Frans sedari pagi di ruangannya dan tidak keluar!"
"Dia keterlaluan sekali!"
"Ya sudah ...., saya permisi mbak!"
"Iya sus, terimakasih!"
Setelah suster itu keluar, Ersya kembali duduk dan memastikan jika sahabatnya itu tidak akan histeris lagi setelah sadar.
"Fe ...., Fe ...., kamu sadar?" ucap Ersya saat melihat Felic mulai menggerak-gerakkan tubuhnya.
"Apa yang kamu rasakan? Apa yang sakit?"
"Sya ....!"
"Iya Fe ...., katakan mana yang sakit?"
"Sya ....., bayiku!"
"Tenang ya Fe ...., nggak pa pa, semua pasti akan baik-baik saja!"
"Dia sudah pergi?"
‘Iya Fe …, Allah lebih sayang sama dia …!”
“Nggak …, nggak mungkin …, nggak mungkin sya!” kali ini Felic lebih tenang, ia hanya menangis tanpa menyakiti dirinya sendiri.
Ersya pun memeluk sahabatnya itu.
"Semua akan baik-baik saja!"
"Frans ...., apa Frans .... marah padaku? Dia pasti marah padaku, iya kan?"
"Nggak Fe ....!"
"Tapi dia tidak di sini kan Sya ....? Dia marah padaku ....!"
Tiba-tiba pintu terbuka, dokter Frans menghampiri mereka, setelah mendapatkan laporan dari perawat yang merawat Felic, barulah dokter Frans menemui Felic, sebenarnya hatinya masih sangat terluka saat melihat istrinya.
Ersya segera melepaskan pelukannya pada Felic, ia segera mundur dan memberi ruang untuk mereka saling bicara.
“Frans …!” ucap Felic dengan suara lemahnya. Tapi dokter Frans masih tetap diam.
“Anak kita Frans …! Maafkan aku ....!”
Tanpa mengucapkan apapun, dokter Frans pun memeluk Felic. Pria yang biasanya selalu tersenyum itu tiba-tiba menjadi begitu dingin.
Maafkan aku tapi aku masih terlalu sakit untuk menerima semua ini ....
Cukup lama Felic memeluk suaminya itu, tapi dokter Frans tidak membalas pelukannya, ia juga tidak mengatakan sepatah kata pun.
Dokter Frans merenggangkan tangan Felic dan memundurkan tubuhnya.
"Frans ....!" ucap Felic, ia semakin terluka dengan perlakuan suaminya yang semakin dingin saja.
“Jaga dia, aku harus pergi!” ucap dokter Frans lalu meninggalkan Felic bersama Ersya.
Ia berjalan begitu cepat menuju ke ruangannya kembali. Ingin raanya tidak menyalahkan Felic tapi ternyata tidak bisa, hatinya masih terlalu rapuh saat ini.
"Aaaaaa …” teriak dokter Frans begitu marah, menyapu semua yang ada di atas mejanya. Ia kembali menangis dan menjatuhkan tubuhnya kelantai.
Menutup wajahnya dengan kedua tangannya. menekuk kakinya dan menopang lengannya dengan lututnya.
__ADS_1
“Aaaaaaa …!” Dokter Frans pun mengusap rambutnya dengan begitu kasar.
Ia begitu marah, rasanya sangat marah ketika melihat istrinya. Ia marah karena tidak bisa menyelamatkan buah hatinya, andai saja ia ikut waktu itu, ia tidak mungkin membiarkan istrinya sampai celaka.
Andai saja istrinya tidak ngotot untuk datang ke acara itu, pasti semuanya tidak akan terjadi.
***
Divta bangun sedikit kesiangan, hingga membuat Divia lebih dulu menyusul ke kamarnya.
"Dad ....., dad ....!" Divia mencium pipi daddy nya.
"Sayang ...., princess nya aku, selamat pagi!"
"Pagi dad ...., Iyya mau ketemu cama calon mammy Iyya ...!"
"Calon mami ....?"
"Dad ...., Iyya lihat tadi malam, Iyya pokoknya pengen ketemu cama calon mammy nya Iyya!"
"Ahhh iya ...., maaf ya! Baiklah .... daddy akan temui dia dulu ya, nggak pa pa ya aku tinggal dulu ya!"
"Iyya pengen ikut ....!"
"Jangan sayang ...., soalnya Daddy mau ke rumah sakit, Iyya ingat uncle dokter yang keren itu? Istrinya sedang sakit, trus calon mammy Via lagi nungguin di rumah sakit, jadi Via ketemunya lain waktu saja ya!"
"Dad janji?"
"Iya ...., daddy janji ...!"
"Ya udah ...., daddy siap-siap dulu ya ...!"
Divta pun segera bangun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
Setelah siap, Divta pun segera mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit.
Ia langsung menuju ke ruangan Felic tapi ia hanya mendapati Ersya dan Felic di sana.
"Selamat siang!"
"Pak Divta!"
"Divta!"
Dua wanita itu menoleh padanya. Divta membawakan satu keranjang buah yang ia beli di toko buah tadi.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Divta setelah meletakkan keranjang buah itu di atas nakas. Ersya sudah berdiri dan membiarkan Divta gantian duduk.
"Sudah lebih baik!"
"Tapi wajahmu tidak menunjukkan hal itu ....!" ucap Divta karena terlihat sekali saat ini Felic sedang tertekan. Ia bahkan tidak mengeluarkan suara sedikitpun, wajahnya datar dan pucat. Menangis pun sudah tidak sepetinya sehari semalam ia tidak berhenti menangis.
Divta mengedarkan pandangannya, tapi tidak ada siapapun kecuali mereka bertiga.
"Di mana Frans?” tanya Divta pada Felic, tapi Felic tidak juga menjawabnya. Air matanya malah terlihat mengembeng di pelupuk mata.
“Dia tidak lagi kemari setelah Felic sadarkan diri!” ucap Ersya. Ia begitu kesal dengan suami sahabatnya itu.
“Emang tuh anak ya, harus di kasih pelajaran!” ucap Divta kesal. Divta pun segera keluar dari ruangan Felic.
...Andai aku bisa menghentikan waktu maka aku akan mengedit dan memotong part yang membuat kita menangis agar tidak akan ada air mata~DTIS...
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1