
Pagi di tempat lain, terlihat Tisya sedang sibuk mengemas beberapa barangnya ke dalam tas sedang. Ia tidak mau membawa banyak barang karena ia tidak yakin bisa betah tinggal di sana melihat bagaimana sikap Wilson terhadapnya.
"Sudah mau berangkat ya sayang?" tanya nyonya Tania saat mengunjungi Tisya di kamarnya.
"Iya ma ...., doakan Tisya betah ya ma!"
"Iya pasti sayang! Oh iya sayang, kamu sudah memikirkan tentang penawaran papa kamu kan?" tanya nyonya Tania.
"Iya ma ...., Tisya yakin untuk menolaknya apapun yang terjadi, kalaupun nanti Tisya harus bekerja seumur hidup untuk membayar hutang Tisya, Tisya rela! Tisya nggak mau hubungan yang sudah terjalin baik kembali memburuk gara-gara Tisya yang kekanak-kanakan!"
"Apa kita bicara sama Frans saja ya sayang, kakak kamu pasti mau bantu!"
"Jangan ma ....! Sudah banyak kesalahan Tisya sama kak Frans dan istrinya, Tisya nggak mau jadi beban mereka! Selagi Tisya bisa bekerja, Tisya akan mengusahakannya sendiri!"
"Kamu yakin?"
"Semua kehidupan ini sudah banyak mengajarkan Tisya ma, kemewahan tidak menjamin seseorang hidup bahagia! Papa juga bilang semuanya tidak ada yang gratis, dulu Tisya sudah banyak bergantung sama papa dan akhirnya Tisya yang menderita, sekarang Tisya tidak mau mengulang hal yang sama!"
Mendengar penuturan putrinya, nyonya Tania tidak bisa menutupi rasa harunya. Ia tidak tahu sejak kapan putrinya itu menjadi begitu dewasa, rasanya baru kemarin putrinya itu merengek minta kembali ke rumah papanya gara-gara rumah ini terlalu sempit dan panas.
"Mama bangga sama kamu sayang ...., mama tidak tahu jika kamu akan secepat ini dewasa!"
"Jangan membuatku malu karena mama terus memujiku ma!"
"Mama serius sayang!"
Setelah cukup lama berpelukan, akhirnya Tisya kembali berpamitan untuk berangkat.
"Oh iya sayang, mama titip ini buat Wilson ya!" ucap nyonya Tania sambil memberikan serenteng rantang.
"Ini apa ma?"
"Sarapan buat Wilson, dan titip salam buat dia ya!"
"Mama kayaknya kenal banget sama Wilson! Sampek ngasih sarapan segala!"
"Oh iya mama belum cerita sama kamu ya!?"
"Apa ma?"
"Kemarin malam sebenarnya Wilson menemui mama, dia di minta Frans untuk membawa mama ke rumah Frans!"
"Lalu?"
"Mama menolaknya!"
"Kenapa ma?" tanya Tisya penasaran. Padahal ia bisa sedikit tenang jika mamanya tinggal di rumah dokter Frans, setidaknya di sana akan lebih aman dari pada di rumah sendiri.
"Mama mau menikmati hidup mama yang ink, mama serasa kembali bersama ayah kamu, mengenang masa-masa seperti ini begitu indah sayang!"
"Tapi ma ...., kalau Tisya di rumah Wilson, mama sendiri di sini, bagaimana kalau ada yang nyakiti mama!"
"Kami belum mengenal kakak kamu sayang!"
"Maksud mama?"
"Walaupun kakak kamu tidak bilang, tapi mama tahu jika kakak kamu menjaga kita. Mama tahu bagaimana cara kerja mereka!"
"Mereka siapa ma? Mama benar-benar membuatku bingung!"
__ADS_1
"Orang-orang suruhan kakak kamu!"
"Mama halu kali ....!"
"Terserah kamu, pokoknya jangan khawatirkan mama, mama akan baik-baik saja di sini, kamu fokus saja bekerja!"
"Baiklah ma, kalau gitu Tisya berangkat dulu ya ma, jaga diri mama baik-baik, hari sabtu aku pulang!"
"Iya ...., sudah sana berangkat! Dari pada nanti terlambat lagi!"
Tisya pun meninggalkan rumah sederhana itu, masih ada waktu setengah jam. Jadi ia tidak perlu buru-buru untuk datang. Ia bisa sedikit santai.
Saat ia sampai di depan rumah Wilson ternyata Wilson sudah siap di depan rumah.
"Kenapa sepagi ini datangnya?" tanya Wilson.
Apa maksudnya ini? Aku datang tepat waktu dia protes, aku datang terlambat dia juga protes..., batin Tisya kesal.
"Aku kan harus bekerja!" ucap Tisya, "Jadi boleh kan saya masuk?" tanya Tisya lagi tapi dia tidak menunggu jawaban dari Wilson, ia segera menerobos tubuh kekar Wilson membuat tubuh Wilson sedikit bergeser.
"Tubuhnya kecil tapi tenaganya kayak badak ....!" gumam Wilson sambil menggelengkan kepalanya. Ia memang berada di luar rumah bukan karena ia akan keluar tapi memang ia baru saja dari luar.
Ia punya tugas dari dokter Frans untuk mengawal Tisya semalam perjalanan ke rumahnya dan memastikan Tisya baik-baik saja selamat sampai tujuan.
Wilson pun ikut masuk menyusul Tisya. Ia melihat Tisya yang sibuk di meja makan menyiapkan makanan.
"Ini apa ini ...., kamu mau menyuap ku dengan makanan ini?" tanya Wilson.
"Saya tidak seburuk itu ya, ini sarapan dari mama, mama juga titip salam sama kamu!"
"Maksudnya nyonya Tania?" tanya Wilson dan Tisya pun menganggukkan kepalanya.
Kenapa dia baik sekali sekarang, berbeda sekali dengan saat itu .....
Wilson pun segera duduk dan menyuapkan makanan itu ke dala mulutnya, mengunyah perlahan, Enak .....
"Kata mama tidak baik setiap hari makan mie instan!" ucap Tisya sambil ikut duduk bersama di depan Wilson dan mengamati bagaimana lahapnya Wilson saat makan.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Wilson saat menyadari jika Tisya menatapnya dari tadi.
"Kamu makannya kayak nggak makan sebulan!" ucap Tisya sambil menggelengkan kepalanya.
brrrrtttttt brrrrtttttt brrrrtttttt
Belum sempat menyahut ucapan Tisya, tiba-tiba ponsel Wilson yang berada di atas meja bergetar.
Wilson pun menghentikan makannya dan mendongakkan kepalanya melihat siapa yang sedang menelponnya.
Maira .....?
Ternyata Tisya juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Wilson.
Maira Cantik ....., siapa Maira? Apa pacar Wilson ....? Jadi ingat sama kak Maira ....
Wilson pun segera meletakkan sendoknya dan menyambar ponselnya.
Menggeser tombol hijau dan meletakkannya di daun telinganya.
"Hallo ....!"
__ADS_1
".......!"
"Ada apa ya?"
"......!"
"Maaf ...., kayaknya kalau hari ini nggak bisa!"
"....!"
"Baiklah ...., sampai jumpa lusa!"
"....!"
"Bye ...!"
Tisya terlihat begitu penasaran dengan yang di bicarakan oleh Wilson di dalam telpon, ia sampai mendekatkan telinganya ke Wilson agar bisa mendengar apa yang di bicarakan tapi tetap saja tidak bisa mendengarkannya.
"Nggak usah nguping!"
"Siapa juga yang nguping, ya sudah saya akan mulai kerja, kalau pak mandor datang bilang aku sudah ada di dalam!" ucap Tisya sambil beranjak meninggalkan Wilson.
"Apa-apaan dia nyuruh-nyuruh ...., emang dia siapa!?" gumam Wilson tidak percaya.
...**""**...
Di tempat lain dokter Frans dan Felic sudah menyelesaikan sarapannya.
"Ayo Frans berceritalah ...., kita kan sudah selesai sarapannya!"
"Kita ceritanya sambil jalan aja Fe, katanya mau jalan-jalan!"
"Ahhhh suka banget nunda-nunda ....!"
"Kalau aku ceritanya sekarang kita nggak akan jalan-jalan Fe, besok kan kita sudah harus kembali!"
"Baiklah kita jalan-jalan dulu aja deh ....!"
"Pakek baju panjang ya Fe ....!"
Kenapa? Ini kan sudah cukup panjang!" ucap Felic sambil menarik ujung dress yang di kenakan oleh Felic.
"Panas Fe ...., pakek celana panjang yang longgar ya!"
"Ihhhh ribet banget!"
Walaupun mengeluh Felic pun tetap kembali ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Ia memakai celana panjang berbahan kaos dan juga baju yang longgar.
"Begini bagaimana?" tanya Felic.
"Begitu lebih baik! Ayo berangkat!" ucap dokter Frans sambil menggandeng tangan istrinya.
Bersambung
...Jadilah seperti angin yang ketika kamu hadir, mungkin orang lain tidak akan melihatnya tapi bisa merasakan kehadiranmu....
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰