
Banyak kerabat dan tetangga yang masih di rumah Felic, mereka saling berfoto dan
mengabadikan moments. Ada yang Cuma ngobrol-ngobrol karena sudah lama tidak
bersua. Mereka menceritakan kehidupan masing-masing dengan segala masalah dan
kesibukan yang ada.
Felic dan dokter Frans berada di antara mereka. Mereka bersiap untuk mendengarkan
segala pujian dan nasehat rumah tangga dari para tetangga.
Rendi yang sudah tidak sabar ingin menanyakan sesuatu pada dokter Frans segera berjalan mendekatinya. Rendi memberi isyarat pada dokter Frans untuk mendekat padanya, tapi sepertinya dokter Frans tidak faham dengan isyaratnya, terpaksa Rendi kembali mendekat dan Ia berbisik pada dokter Frans.
“Frans …, gue mau ngomong sama lo, pribadi! Penting ....!!!!”
“Ada apa?” tanya dokter Frans lagi tapi segera mendapat tatapan dingin dari sahabatnya itu.
Tanpa menjawab Rendi pun menarik tangan dr. Frans menjauh, mereka menuju ke teras
rumah sederhana itu.
“Ada apa sih?” protes dokter Frans setelah sampai di luar rumah Felic, di tempat yang sedikit sepi.
“Lihat ini!” Rendi mengeluarkan tes peck dari saku kemeja batiknya.
“Tes peck?”
“Iya …, gue nggak tahu apa artinya ini!”
“Astaga …, kebangetan banget sih lo …, kalau garis dua gini berarti hamil, emang ini
milik siapa?”
“Nadin!”
“Jadi Nadin hamil lagi?” Rendi mengangguk begitu senang.
“Gila top cer juga lo …, baru aja kumpul satu bulan langsung bisa buntingin istri …!”
Mendengarkan keterangan Dari dokter Frans sepertinya Rendi benar-benar tidak sabar, ia
segera mengajak agra berpamitan. Agra pun sempat protes tapi rendi tetap dengan
pendiriannya.
“kenapa buru-buru sekali sih nak? Saya masih pengen ngobrol banyak dengan kalian!” ucap
ayah Felic berusaha menahan mereka agar tidak segera pergi.
“maaf pak, tapi teman saya ini ada pekerjaan. Jadi kami harus segera pamit!” Agra berusaha mencari alasan agar bisa segera meninggalkan tempat itu karena Rendi tetap memilih untuk diam. Saat Agra menunjuk ke arah Rendi, ayah Dul jadi memperhatikan wajah Rendi.
"Ah nggak mungkin!" gumam ayah Dul tapi bisa di dengar oleh Agra dan Rendi.
"Ada apa pak? Apa ada masalah?" tanya Agra lagi.
“Sepertinya saya hanya salah lihat saja! Tapi wajah nak Rendi ini sepertinya tidak asing …, saya seperti sudah familiar sekali dengan nak Rendi ini!” ayah Dul berusaha menerka-nerka sendiri. Rendi yang juga merasa mengenal pria paruh baya itu pun segera membuka suara.
“Mungkin bapak salah lihat saja …, tapi mungkin juga ada yang mirip seperti saya pak. Ya sudah kalau begitu ijinkan kami undur diri!”
“Iya silahkan …., tapi jika ada waktu kalian bisa main ke sini, kita ngobrol lebih
banyak lagi!”
“Tentu …, kalau begitu kami permisi!”
Agra dan Rendi pun segera meninggalkan rumah keluarga Felic. Agra yang penasarang
seggera bertanya pada Rendi.
“memang sebelumnya kalian pernah bertemu?”
“Tidak yakin sih, tapi sepertinya ayah mertua Frans adalah security di komplek rumah
kami!”
“benarkah….!”
__ADS_1
“Sudah ku bilang, tidak yakin ….!”
“Memang aku memaksamu …, kau ini sensi sekali ,…!” keluh Agra pada sahabat dinginnya
itu sambil memasuki angkot yang telah menjadi tumpangannya tadi.
Setelah mengantar kepergian sahabat-sahabatnya hingga ke depan pagar, dokter Frans dan ayah Felic pun kembali
masuk.
“Ayah mertua …, boleh aku tanya sesuatu?”
“tanyakan. Apapun!”
“Memang ayah mertua pernah melihat sahabatku di mana?”
“Ohhh …, itu! Sebenarnya wajahnya mirip sekali dengan salah satu penghuni perumahan
elit di tempakku menjadi security. Tapi mana mungkin, dia selalu membawa mobil
mewah dengan bodyguard-bodyguardnya. Mana mungkin itu orangnya!”
“Memang ayah mertua bekerja di mana?”
“Ayah jadi security di perumahan Cernis Moon!”
Itu mah beneran perumahan elit
milik Rendi …., sempitnya dunia ini ….
“kenapa nak? Apa kau kenal dengan salah satu orang di sana?”
“Iya …, ayah mertua. Ya sudah sepertinya tamu-tamu sudah akan pulang sebaiknya kita
menyalami mereka!”
“Iya kau benar sekali nak!”
Mereka pun melanjutkan langkahnya, menyalami tamu-tamu yang berpamitan pulang. felic
pun ikut bergabung dengan mereka. Ersya juga ikut berpamitan untuk pulang.
yang sakinah, mawadah wa rohmah. Ok!”
“terimakasih ya atas doanya!” mereka pun saling berpelukan.
“aku pamit dulu ya!”
Ersya pun beralih pada suami sahabatnya itu. “Siapapun kamu, aku tahu kamu orang
baik. Tolong jaga sahabatku ya, jangan sampai membuatnya kekurangan cinta
darimu!”
“Tentu sahabat Felic!”
“Ersya …, namaku Ersya!”
“Baiklah …, aku akan mengingatnya karena setelah ini kita pasti akan sering bertemu!”
Setelah tamu sudah meninggalkan rumah keluarga Felic. Kini tinggal keluarga inti saja.
Lisa yang awalnya akan menginap lebih lama, tiba-tiba harus segera pulang
karena ibu mertuanya mendaqdadk sakit. Di rumah itu kini tinggal mereka
berempat.
Felic segera mengajak dokter Frans untuk mesuk ke dalam kamarnya. Ia sudah tidak sabar untuk segera bicara pada pria yang baru beberapa jam lalu resmi menyandang
sebagai suaminya.
“kenapa sih buru-buru sekali?” tanya dokter Frans, bukannya memperhatikan Felic ia
memilih memperhatikan kamar yang akan menjadi kamarnya itu.
“Kita harus bicara Frans!”
__ADS_1
“Iya gue tahu, tapi biarkan gue kenal tempat baru gue ini!” dokter Frans
menjadttuhkan tubuhnya di tempat tidur dengan sedikit lompatan.
“Turun dari situ …., itu tempat tidur gue!” teriak Felic dengan masih mengenakan gaun
pengantinnya.
“Iya gue tahu …, tapi sebelum ijab qabul tadi …., dan sekarang tempat ini menjadi
milik gue juga kan!” ucap dokter Frans sambil mengelus tempat tidur itu sambil
memiringkan tubuhnya menghadap Felic dengan senyum menggoda.
“lo ini ya …., kenapa menyebalkan sekali …, turun dari sana dan kita bicara!”
“Lo ini ya …, tidak bisa santai sedikit saja …, gue sangat capek ! biarkan gue
tiduran sebentar, setelah itu nantin kitab bicara!”
“TERSERAH!”
ucap Felic kesal, ia benar-benar capek jika harus berdebat dengan pria yang
telah menjadi suaminya itu. Ia memilih mengembil baju ganti dan masuk ke dalam
kamar mandi. Melihat tingkah Felic membuat dokter Frans meras agemas.
“Mudah sekali dia di goda …, memang aku mau apakan dia ….!” Ucapnya dengan senyum puas
dan segera memejamkan matanya, ia benar-benar tertidur di tempat tidur barunya
itu.
Felic merasa kesal, ia segera mncuci wajahnya, menatap cermin besar yang ada di kamar
mandi. Sebenarnya jantungnya tersa aneh setiap kali memngingat jika pria yang
berada di dalam kamarnya sekarang adalah suaminya. Ada rasa yang berbeda, bukan
rasa yang sama seperti sebelumnya.
“Jangan berharap banyak pada pria itu Felic, dia menikah denganmu buykan kareena cinta,
begitu juga denganmu. Jadi tetap kendalikan hatimu!” Felic mencoba menasehati
dirinya sendiri, mau bagaimanapun ia tidak mau kalah dengan hatinya, ia tidak
mau kecewa setelah ini. Sudah cukup rasa kecewanya pada seorang pria dan tidak
untuk kedua kalinya.
Felic mematap wajahnya, wajah cantiknya dengan gaun pengantin yang masih melekat di
tubuhnya.
“Tapi dia suamiku, aku bukan anak kecil lagi yang meminta seorang suami untuk tidak
menuntut haknya, lalu aku harus bagaimana sekarang? Aku memilih hatiku ataukah
kewajibanku?”
Sungguh pilihan yang sulit baginya, ia pun memilih melepaskan baju pengantinnya, ia
membiarkan tubuhnya terguyur air dingin, ia berdiri di bawah shower. Memejamkan
matanyta mencoba melepaskan semua pemikiran-pemikiran yang akan membuatnya
lelah.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘❤️