Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Sederhana


__ADS_3

Tisya terus saja merancau di jalan membuat Wilson tidak tega, akhirnya Wilson pun memutuskan untuk membawa Tisya.


Karena tidak tahu di mana tempat tinggal Tisya, Wilson pun mengajak Tisya ke apartemennya.


"Gadis ini benar-benar menyusahkan ku!" ucap Wilson sambil menidurkan di tempat tidurnya.


"Tuan dokter pasti marah kalau melihat ini ....!"


"Hahhh capeknya ....!" keluh Wilson sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena telah menggendongnya hingga ke apartemen nya.


"Aku lapar ....!"


Wilson pun segera menuju ke dapur dan membuka lemari pendinginnya.


"Aku lupa belanja bulanan ....!"


Akhirnya Wilson pun memutuskan untuk memasak mie instan saja untuk dirinya, tenaganya benar-benar terkuras olehnya.


"Aahhhhhh ....., mie instan tiada duanya ...!" gumam Wilson saat kuah panas itu mengepul dan aromanya menusuk hidungnya.


Wilson pun segera membawa mie kuahnya itu ke meja makan dan bersiap-siap untuk menyantapnya.


"Aku lapar ....!" suara seseorang menghentikan suapan pertama Wilson yang hampir mencapai bibirnya, ia segera menoleh ke sumber suara dan ternyata Tisya sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


Ahhhj kenapa dia bangun lagi ......, batin Wilson. Wilson pun kembali meletakkan sendok garpunya.


Tisya berjalan mendekati Wilson, ia tiba-tiba duduk di samping Wilson dan menatap Wilson dengan nata sipitnya.


"Boleh itu untukku?" tanya Tisya.


"Hahhh ...., ini ....?" tanya Wilson bingung, ia juga lapar tapi itu mie instan satu-satunya yang ia punya saat ini.


Belum sampai Wilson menjawabnya, tiba-tiba saja mangkuk itu sudah berada di depan Tisya. Dan tanpa rasa berdosanya Tisya segera menyantap mie instan yang tinggal satu-satunya itu.


Wilson hanya bisa beberapa kali menelan salivanya saat melihat Tisya menghabiskan mie instannya beserta kuah-kuahnya yang terakhir.


"Hahhhh ...., aku kenyang!" gumam Tisya dan segera menjatuhkan kepalanya di atas meja setelah menggeser mangkuk kosong itu.


"Dia benar-benar menghabiskannya!?" gumam Wilson sambil menatap mangkuk kosong itu.


Akhirnya sepanjang malam Wilson harus tidur dengan perut laparnya. Setelah mengembalikan Tisya di tempat tidurnya, Wilson pun memilih tidur di sofa di depan tv.


...***...


Pagi ini Wilson sudah siap untuk berangkat kerja, ia melihat Tisya masih tidur pulas di kamarnya.


"Dia benar-benar menyusahkan ku ....!" gumam Wilson, dia pun segera mendekati Tisya dan mencarikan air untuk Tisya.


Byuuuurrrrr


Tisya segera terbangun dari tidurnya saat merasakan wajah dan rambutnya basah.


"Ahggggg ....., kurang ajar sekali kau, berani-beraninya menyiram ku dengan air!" teriak Tisya, ia begitu marah dan mengusap wajahnya yang basah.

__ADS_1


"Maaf nona Tisya yang terhormat, tapi ini rumah saya, ini tempat tidur saya! Jadi tumpangannya sudah selesai silahkan tinggalkan rumah saya!" ucap Wilson yang tidak kalah galaknya.


Tisya baru sadar ternyata dia tinggal di rumah orang, ia memperhatikan sekitar memang tempat asing.


"Saya tunggu lima belas menit lagi, segera lah keluar untuk sarapan, kalau tidak! Saya tinggal!" ucap Wilson dan segera keluar dari kamar itu.


Wilson sudah membeli sarapan tadi pagi-pagi sekali karena ia terlalu lapar.


Setelah lima belas menit akhirnya Tisya keluar dengan tubuh yang lebih segar.


"Maaf aku memakai sabun mu!" ucap Tisya saat ia sudah keluar.


"Lupakan, cepat sarapan dan aku akan mengantar mu pulang!" ucap Wilson sambil menyantap sarapannya.


Tisya pun segera menyusul Wilson, ia ikut duduk di depan Wilson dan mengambil makanannya.


"Terimakasih ya!" ucap Tisya membuat Wilson tercengang, ia tidak menyangka wanita angkuh di depannya itu bisa mengucapkan kata terimakasih.


"Apa saya tidak salah dengar?" tanya Wilson.


"Aku mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, jadi jangan membuatku marah!" ucap Tisya kesal.


Setelah selesai sarapannya, Wilson pun mengantar Tisya pulang ke rumah kontrakannya sambil berangkat ke rumah dokter Frans.


"Di mana alamatnya?" tanya Wilson karena sedari tadi Tisya terus membingungkan nya. Saat ia akan mengantar ke rumah tuan Bactiar, Tisya segera mencegahnya.


"Aku tinggal di jalan kenari blok E!" ucap Tisya.


"Baiklah ....!"


"Selamat pagi nyonya!" sapa Wilson.


"Tisya ...., kamu dari mana?" tanya nyonya Tania begitu dengan Tisya.


"Tisya capek, Tisya mau tidur!" ucap Tisya segera berlalu meninggalkan Wilson dan nyonya Tania begitu saja.


"Apa yang terjadi dengan Tisya?" tanya nyonya Tania.


"Maaf nyonya, tapi saya semalam menemukan nona Tisya sedang mabuk di jalan, saya bingung harus memulangkannya ke mana makanya saya membawanya pulang ke apartemen saya! Sepertinya urusan saya sudah selesai, saya permisi!" ucap Wilson dan meninggalkan nyonya Tania begitu saja.


...***...


Di tempat lain, dokter Frans terlihat sedang menutup hidungnya dengan masker berlapis-lapis karena pagi ini tiba-tiba saja Felic ingin memakan nasi goreng buatan suaminya, sedangkan dokter Frans sangat anti dengan bau bawang goreng.


Felic sudah bersiap menunggu di meja dapur, ia ingin melihat suaminya memasak. Jika tidak sedang dalam keadaan upnormal seperti ini dia pasti sangat jago memasak. Tapi saat ini bahkan lidahnya tidak begitu menyukai makanan itu membuatnya begitu kesusahan.


"Semangat Frans ...., kami mencintaimu!" ucap Felic menyemangati suaminya itu.


"Semua ini demi kalian!"


Setelah memasak nasi goreng yang penuh perjuangan itu, akhirnya nasi goreng buatan dokter Frans jadi juga.


"Makanlah ....!" ucap dokter Frans.

__ADS_1


"Suapi aku!" ucap Felic sambil membuka mulutnya,


"Baiklah ....!"


Dokter Frans dengan telaten menyuapi Felic hingga makanannya habis.


Setelah acara sarapan yang penuh dengan perjuangan itu, dokter Frans kini sudah bersiap untuk berangkat tapi Wilson tidak juga datang.


"Wilson belum datang juga?" tanya Felic saat melihat suaminya masih duduk di ruang tamu.


"Belum, tidak biasanya dia terlambat!"


Tapi saat dokter Frans hendak menelponnya, suara mobil Wilson terdengar.


"Itu dia orangnya!"


"Baiklah aku berangkat dulu ya, jangan kemanapun sebelum aku kembali!" ucap dokter Frans sambil mengusap perut Felic yang sudah mulai buncit.


"Iya ....!"


"Maaf tuan dokter, saya terlambat!" ucap wilson sambil membukakan pintu mobil untuk dokter Frans.


Mereka pun segera berangkat meninggalkan rumah besar. Mereka menuju ke rumah sakit.


"Oh iya Wil, aku belum bertanya tadi kenapa kamu terlambat?" tanya dokter Frans.


"Maaf tuan, tapi saya semalam baru saja mengantar nona Tisya!"


"Tisya?"


Wilson pun menceritakan semuanya pada dokter Frans, termasuk keadaan mereka sekarang.


"Antar saya ke sana, saya ingin melihatnya!" ucap dokter Frans.


"Baik tuan!"


Wilson pun mengajak dokter Frans ke rumah kontrakan nyonya Tania. Dokter Frans pun tertarik untuk melihat mereka dari kejauhan.


"Anda tidak ingin turun?" tanya Wilson.


"Tidak, ayo kita pergi dari sini!"


"Baik tuan!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2