
Hari ini Rangga akhirnya di perbolehkan pulang, Zea sudah duduk menunggunya di tepi tempat tidur dan sesekali memberitahu bibi barang-barang pribadi Rangga, bibi tidak mengijinkan Zea menyentuh apapun saat ini selain duduk dan memberi komando hingga bibi selesai mengemasi barang-barang nya,
"Nyonya, hari ini kita pulang ke rumah besar kan?" tanya pada Zea membuat Zea menoleh pada Rangga yang tengah serius berbicara dengan Divta.
Tampak mereka berdua tengah membicarakan kasus yang menimpa Miska dan Rizal, karena berkas itu di laporkan atas nama Divta dan dirinya, beberapa kali mereka akan di panggil polisi untuk di jadikan saksi.
Sepertinya Rangga juga mendengar pembicaraan mereka, hingga membuatnya sejenak menoleh pada Zea dan bibi, tersenyum sebentar lalu kembali fokus pada berkas yang ada di depannya.
"Baiklah, saya rasa sudah cukup. Saya pergi dulu, semoga di persidangan pertama nanti kamu bisa datang!" Divta pun berdiri di ikuti oleh Rangga, mereka berjalan menuju ke arah pintu.
"Pasti pak, maaf sudah banyak merepotkan pak Divta." ucapnya sebelum pria itu benar-benar pergi meninggalkan ruangan.
Seperti biasa pria itu hanya tersenyum tipis kemudian berlalu begitu saja tanpa berniat untuk berpamitan pada Zea.
Perban di kepala Rangga juga baru saja di lepas, kini tinggal sebuah kapas kecil yang menutupi lukanya.
Rangga kembali menghampiri Zea yang tengah duduk di tepi tempat tidur. Ia memilih duduk di kursi kecil yang ada di samping tempat tidur itu, sedangkan bibi memilih pindah ke sisi yang lain, ia masih tanpa sibuk merapikan ruangan itu.
Tangannya langsung menggenggam tangan Zea, mengusap lembut punggung tangan istrinya, tampak ragu,
"Zee." panggilnya dengan suara lembut yang selalu Zea rindukan.
"Hmmm?" Zea memberi kesempatan untuk rangga bicara, ia menatap suaminya itu dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Maaf ya," permintaan maaf Rangga membuat Zea mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" ia merasa Rangga tidak melakukan kesalahan apapun,
"Aku ingin kita pulang ke apartemen, tidak pa pa kan?" ucapannya tampak begitu ragu, saat ini rangga memilih menunduk, tapi hanya beberapa detik lalu kembali dengan yakin untuk menatap Zea,
"Jangan khawatir tentang kenangan bersama Miska atau barang-barang yang pernah di pakai oleh Miska termasuk tempat tidur."
Mendengar hal itu membuat hati Zea terasa sakit, membayangkan Miska tidur di tempat tidurnya kembali membuka rasa sakit di hatinya,
Melihat wajah Zea yang seperti itu, sekarang Rangga mengerti, ia mengeratkan tangannya, "Tapi sungguh, aku dan Miska tidak pernah melakukan apapun. Kami memang sempat tidur dalam satu tempat tidur, tapi aku selalu menolaknya. Sungguh!"
Rangga tampak begitu takut jika Zea sampai tidak mempercayainya.
Zea tersenyum tipis, walaupun matanya kini mulai berair dengan cepat Rangga mengusap air mata itu agar tidak sampai menetes,
"Tapi kamu menangis!"
"Hanya sedikit luka, tapi akan segera sembuh dengan berjalannya waktu, jangan khawatir. Yang terpenting sekarang, kamu sudah kembali lagi padaku, itu sudah sangat cukup!"
"Terimakasih ya, sungguh aku beruntung memiliki kamu. Aku tidak tahu jika wanita itu bukan kamu, mungkin saat ini siapapun itu akan lebih memilih untuk pergi. Tapi kamu tidak, kamu memilih bertahan untukku, terimakasih!" Rangga sampai menciumi punggung tangan Zea beberapa kali.
"Jangan begitu Ga, siapapun yang melihat ketulusan cinta kamu pasti juga akan melakukan hal yang sama! Sudah ahhh, jangan bicara yang berat-berat lagi. Kasihan sama baby kita."
__ADS_1
"Ahhh iya, maafkan papa ya sayang!" Rangga mengusap lembut perut Zea dan mendaratkan ciuman di sana membuat Zea tersenyum senang. Kehangatan seperti ini yang selalu di rindukan semala jauh dari Rangga.
"Oh iya, aku sudah meminta seseorang untuk mengganti semua barang-barang pribadi kita." ucap Rangga bersemangat.
Zea tersenyum dan mengusap tangannya, "Enggak Ga, bukan seperti itu. Kamu tidak perlu mengganti semuanya, tidak pa pa, lagi pula aku yang lebih lama tinggal di sana kan! Bukan Miska atau wanita lain." Zea tidak mungkin membiarkan Rangga melakukan hal itu, ia tahu saat ini Rangga tengah mengumpulkan banyak uang untuk mengambil kembali rumah dan toko orang tuanya. Rasanya membeli barang-barang baru akan sangat membuang-buang uang.
"Jadi_?"
"Jadi aku setuju untuk pulang ke apartemen, tanpa barang-barang baru!" ucap Zea dengan tegas, ia tidak mau Rangga mendebatnya lagi.
Rangga tersenyum dan memeluk Zea, ia selalu bersyukur karena Zea begitu pengertian terhadapnya.
Jika Zea setuju, berbeda dengan bibi. Ia tampak tidak setuju dengan pembicaraan mereka. Pergi ke apartemen tanpa persetujuan tuan Seno pasti akan membuat tuan Seno kecewa.
"Kalau begitu saya bawa barang-barang nya ke mobil dulu ya nyonya!" ucap bibi sebelum kemudian meninggalkan ruangan itu.
"Iya bi."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...