Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Aku masih mencintainya


__ADS_3

Taksi pun berhenti didepan gerbang, ia tidak mau memasukkan kendaraan yang


jelas-jelas bukan kendaraan pribadi mereka, felic masih begitu takut membuat


kesalahan.


“Wow …, gila Fe …, ini rumah atau istana!” Ersya begitu terkesima melihat rumah yang


lebih mirip seperti istana, begitu besar dengan arsitektur ala eropa itu.


“Ayo …!” Felic segera menarik tangan sahabatnya itu, penjaga membukakan gerbang


besar itu dan mempersilahkan masuk setelah mengetahui yang datang adalah Felic,


istri majikannya.


“Gila …, lo di hormati kayak permaisuri, Fe!” Ersya lagi-lagi di buat heran dengan


bagaimana orang-orang itu menyambut kedatangan Felic.


Akhirnya mereka sampai juga di depan rumah utama, tiba-tiba pintu terbuka membuat Ersya


terkejut, ia sampai melompat kebelakang.


“Astaga ….!” Ucap Ersya sambil memegangi dadanya.


“Selamat datang nyonya!” seperti biasanya beberapa orang sudah berjejer menyambut


kedatangan mereka, Ersya segera menarik bahu Felic dan mendekatkan bibirnya


pada telinga Felic.


“Emang setiap hari seperti ini ya penyambutannya, Fe?”


“Mana gue tahu, gue juga masih baru di sini!”


“Biar saya bawakan nyonya!” bi Molly segera mengambil paper bag yang ada di tangan


Felic.


“Tidak perlu bi, biar Fe sendiri aja yang bawa!”


Nyonya kok tampilannya berubah ya,


tidak seperti yang tadi waktu berangkat. Sekarang lebih cantik ….., pasti nih …,


nyonya Cuma main peran aja ….


“Biar kami bawa ke kamar nyonya saja!” bi Molly terlihat memaksa.


“Ya sudah lah kalau bi Molly memaksa!” akhirnya Felic menyerahkan paper bag nya pada bi Molly, tapi seperti biasa bi Molly akan memberikan pada juniornya dan membawanya ke kamar Felic.


Felic segera mengajak Ersya ke ruang keluarga, ia tidak yakin bisa membawa siapa saja


sembarang masuk ke dalam kamar mereka, karena pelayan rumah itu saja hanya


beberapa pelayan yang khusus di perbolehkan masuk ke dalam kamar mereka.


“Duduklah Sya!”


“Makasih!”


Ersya heran karena bi Molly tetap mengikuti mereka, ia berdiri di belakang mereka


membuat Ersya merasa tidak nyaman.


“Bi…, bisa nggak ambilkan minum untuk temen Fe!” felic mengerti ketidak nyamanan


Ersya.


“Baik nyonya!”

__ADS_1


Akhirnya bi Molly pun meninggalkan mereka, Ersya bisa bernafas lega.


“Lo beneran sudah seperti tuan putri, Fe. Apa-apa di awasi!”


“Ya gitu deh, di sini semua menjadi mata dan telinga bagi Frans. Apa yang terjadi


seharian di sini wajib lapor sama tuannya!”


“Wiiihhhhhh …., gila, lo kayak tinggal di dalam sangkar emas, nikmati aja Fe!”


“Hehhhhh …., rasanya masih seperti mimpi Sya!”


“Ya udah nggak usah bangun!”


Tak berapa lama bi Molly pun kembali dengan membawa dua gelas jus dan dua piring


buah yang sudah di potong.


“Silahkan nyonya!”


“tapi bi, aku nggak minta buah tadi!”


“Ini jadwal nyonya makan buah, seharusnya sudah sejak makan siang tadi!”


‘Memang harus ya?”


“Iya nyonya!”


Ersya kembali menarik tubuh Felic dan mendekatkan bibirnya ke telinga Felic,


“Sepertinya suami lo pengen lo cepet-cepet hamil deh …!” bisik Ersya lagi.


Felic begitu terkejut hingga membuatnya segera menjauhkan tubuhnya dari Ersya,


“Benarkah?”tanya Felic begitu keras hingga membuat bi Molly mendekat.


"Apa ada yang bisa bibi bantu, nyonya?”


“Iya bi …, maaf!”


“Masak sih kayak gitu Sya?” tanya Felic sedikit berbisik saat bi Molly kembali


menjauh.


“Iya deh, ya udah entar malem lo servis tuh suami lo sebaik-baiknya biar tumbuh


Frans ganteng junior!”


Mendengarkan hal itu membuat Felic tersipu malu, membayangkan ia menggoda suaminya sungguh membuatnya malu. Apalagi saat ini ia sedang berdandan seperti ini.


***


Sudah malam, Ersya pun berpamitan setelah makan malam. Suaminya juga sudah menjemput di gang depan.


“Makasih ya Sya untuk hari ini!” ucap Felic, ia mengantar Ersya sampai ke depan.


‘Gue yang terimakasih karena lo udah mau ngajak gue ke rumah baru lo, jangan lupa


besok cerita ma gue!’


“Siap!”


Setelah mengantar Ersya ke depan, Felic segera kembali ke kamarnya. Ia ingin segera


membersihkan diri. Kali ini ia ingin berdandan yang cantik untuk suaminya.


Ia memakai baju yang sudah ia beli dengan Ersya tadi di pusat perbelanjaan.


Berkali-kali Felic memutar tubuhnya, memandangi pantulan dirinya sendiri di


cermin besar itu.

__ADS_1


“Siap nggak siap harus siap Fe …., semangat ….!”


Felic segera keluar dari ruang ganti, ia menunggu hingga dokter Frans kembali. Begitu


lama ia memainkan ponselnya, tapi pria itu tidak juga memberinya kabar, padahal


hanya sebuah pesan.


Akhirnya Felic memutuskan untuk menghubungi suaminya itu, ia melakukan panggilan hingga beberapa kali tapi tetap saja tidak ada jawaban membuat Felic semakin cemas saja.


***


Sepulang dari panti asuhan dokter Frans memilih memisahkan diri dari Agra dan Ara.


Mobilnya masih di kantor Agra. Ia berencana mengambilnya besok.


“Lo beneran nggak pa pa turun di sini?” tanya Agra saat dokter Frans memintanya di


turunkan di pinggir jalan dekat rumahnya saja.


‘Nggak pa pa, gue lagi pengen jalan kaki aja. Udah lama nggak jalan!”


“Ya udah hati-hati ya, sampai ketemu di acara peresmian!” ucap Agra, karena besok


pagi-pagi sekali ia harus pergi ke Surabaya bersama Rendi dan belum tahu kapan


akan pulang.


“Bye ….!” Dokter Frans melambaikan tangannya saat ia sudah turun dari mobil, mobil pun melaju meninggalkan dokter Frans seorang diri di sama.


Dokter Frans belum siap bertemu dengan felic, ia tidak tahu sekarang ini perasaannya


bagaimana. Sambil berjalan ia terus berfikir, hatinya sangat tidak menentu. Ia


ingin sekali berlari dan meninggalkan semua kebingungan ini, tapi masalah bukan


untuk di hindari, ia harus bisa melewatinya.


Memang benar kata orang sepuluh tahun pertama pernikahan adalah masa terberat,


masa-masa transisi dimana mereka harus melepaskan segala masa lalu dan juga


menyatukan dua keluarga.


Sesekali tampak kaki dokter Frans menendang udara, bajunya sudah tidak rapi lagi,


berkali-kali ia duduk di tepi jalan, menatap lalu lalang jalanan.


Hingga butuh waktu hampir satu jam untuk sampai di rumahnya, penjaga sudah bersiap


membukakan gerbang melihat kedatangan tuannya yang begitu berantakan.


Salah satu dari mereka segera menghampiri, dia adalah ketua keamanan rumah itu, “Tuan


…, apa tuan baik-baik saja?”


“Iya!”


jawab dokter Frans singkat dan berlalu begitu saja. Dokter Frans begitu tidak


bersemangat.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘❤️

__ADS_1


__ADS_2