
Walaupun mengeluh Felic pun tetap kembali ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Ia memakai celana panjang berbahan kaos dan juga baju yang longgar.
"Begini bagaimana?" tanya Felic.
"Begitu lebih baik! Ayo berangkat!" ucap dokter Frans sambil menggandeng tangan istrinya.
Mereka pun melewati pintu depan, ada Richard yang sedang mengelap mobilnya di sana.
"Tuan ...., nyonya ...., apa kalian mau pergi? Biar saya antar!" ucap Richard sambil memegang lap di tangannya.
"Tidak usah, nanti saja saya telpon kalau sudah lelah, susul kami!" ucap dokter Frans.
"Baik tuan dokter!"
Dokter Frans dan Felic pun segera meninggalkan rumah mereka, mereka berjalan kaki menyusuri jalanan desa.
Panas tapi tidak sepanas di kota, walaupun panas tapi udaranya tetap sejuk.
Jalanan setapak itu sudah mulus dengan polesan aspal tipis, setidaknya kaki mereka tidak akan berdebu saat musim panas dan tidak akan becek saat musim hujan.
Mereka sudah lima belas menit menyusuri jalan itu, mereka sampai di ujung kampung yang berbatasan langsung dengan sawah dan ladang.
Memang rumah mereka dekat dengan gerbang keluar kampung, jadi berjalan sebentar saja mereka sudah bisa melihat sawah dan ladang.
"Kampungnya cuma segini Frans?" tanya Felic.
"Nggak lah Fe, kalau kita ke arah berlawanan, kampungnya masih panjang di sama ada banyak fasilitas umum!"
"Benarkah? Di Desa seperti ini? Ada fasilitas umum?"
"Iya ...., memang tidak besar sepeti di kota tapi cukup membantu aktifitas warga desa.
Semua rumah sudah terlihat sepi, Felic terus mengamati rumah-rumah kecil yang pintu ya tertutup, hampir semua rumah sudah permanen, hanya ada beberapa rumah saja yang ia lihat masih terbuat dari bambu atau kayu.
"Frans ...., kemana semua orang? Kok sepi sekali!"
"Kalau jam-jam segini semua orang pergi ke ladang atau berjualan di pasar, ada juga yang berprofesi sebagai guru, mereka akan mengajar, anak-anak semuanya juga sekolah!" ucap dokter Frans menjelaskan.
"Ohhhh ...., hampir sama ya sama kayak di kota, orangnya sibuk-sibuk!"
"Nggak juga Fe!" ucap dokter Frans sambil tangannya terus sibuk menyanggah tubuh Felic, takut kalau-kalau sampai Felic terjatuh.
Ia bahkan menyingkirkan apapun yang menghalanginya jalan Felic seperti kerikil, batu dan bahkan daun.
"Kenapa?" tanya Felic penasaran sambil menoleh pada suaminya itu.
"Perhatikan saja jalannya Fe, nggak usah lihat ke aku!" protes dokter Frans.
"Iya ...., ini aku jalannya juga perhatikan jalan!" Felic tidak mau kalah.
"Hati-hati ....?!"
__ADS_1
"Iya ...., ini aku udah hati-hati sekali Frans ...! Sekarang apanya yang beda?" tanya Felic lagi.
"Kalau di desa biasanya mereka pulang pas waktu makan siang buat makan siang, sholat, istirahat sebentar lalu melanjutkan pekerjaannya. Memang ada yang istirahat atau ada juga yang ganti pekerjaan misalnya mencarikan rumput untuk hewan peliharaan mereka!"
Felic pun mengerutkan keningnya tidka percaya suaminya itu sehafal itu tempat ini.
"Kamu hafal banget daerah ini, sering ke sini ya?"
"Iya ....!" jawab dokter Frans singkat membuat Felic menghentikan langkahnya dan menatap suaminya itu.
"Maksudnya? Kamu sering ke sini ngapain? Kan juga nggak ada yang di tuju!"
Dokter Frans pun ikut menghentikan langkahnya dan menghadap Felic.
"Ada ...., ada makan kakek dan nenek aku di sini!" ucap dokter Frans.
"Heeeee?" tanya Felic masih tidak percaya jika suaminya itu punya sejarah di desa ini.
"Iya Fe ...., jadi alasan utama aku pilih desa ini sebagai tempat tinggal kita karena desa ini adalah tempat kelahiran ayah Bima!"
Jadi apa berarti foto itu foto kakek dan neneknya Frans? batin Felic mengingat foto yang baru saja ia temukan.
"Mau dong cerita!" ucap Felic kemudian sambil menggoyang-goyangkan tangan suaminya itu.
"Baiklah ...., kalau gitu kita duduk ya ...!"
"Iya ....!"
"Kita duduk di sana sambil bercerita ya!"
"Iya ...!"
Mereka pun akhirnya memilih bangku itu, bangku yang terbuat dari bambu itu kalau orang desa menyebutnya 'lincak'.
"Duduklah ...!" dokter Frans pun membantu Felic untuk duduk dengan mengangkat tubuh Felic, yang sebelumnya dokter Frans melepas jaketnya dan meletakkannya sebagai alas duduk Felic agar lebih nyaman.
Dokter Frans masih tetap berdiri di depan Felic dengan menyangga pinggang Felic karena kaki Felic menggantung di udara.
"Terimakasih!" ucap Felic sambil tersenyum dan menakup kedua pipi dokter Frans.
"Bukan begitu caranya berterimakasih sama suami, nanti saja aku akan menagihnya setelah sampai di rumah!" ucap dokter Frans sambil menunjuk bibir Felic.
"Tumben tau tempat, biasanya enggak!" ucap Felic sambil mengusap pipi suaminya itu dengan kedua tangannya.
"Ini kan desa, nggak enak kalau kita tidak mengikuti peraturan desa!"
"Emang apa peraturannya?"
"Nggak boleh bermesraan di depan umum takut para jomblo kena serangan jantung semua!"
"Ada-ada aja kamu, ya udah cepetan cerita, aku udah siap dengarnya!"
__ADS_1
"Baiklah ...!" dokter Frans pun segera naik dan ikut duduk, ia duduk di samping Felic.
"Jadi gini, rumah yang akan kita tinggali itu sebenarnya adalah rumah peninggalan nenek sama kakek aku, awalnya aku nggak tahu kenapa mereka bisa tinggal di desa seperti ini, tapi setelah mendengarkan cerita dari ibu Ratih, aku sekarang tahu!
Mungkin alasan mereka tinggal di sini adalah untuk menikmati hidup dalam pengasingan. kakek dan nenek hanya menikah siri, mereka berselingkuh dari neneknya Agra dan memilih tinggal menjauh dari kehidupan tuan Wijaya dan ibunya.
Mungkin itulah kenapa nenek begitu merasa bersalah dengan tuan Wijaya karena telah memisahkannya dengan ayah nya yaitu kakek ku!"
"Rumit juga ya cerita mereka, jadi miris!" Felic jadi bergidik ngeri sendiri, pengalamannya dengan orang ke tiga dalam rumah tangganya membuatnya seperti trauma.
"Miris kenapa?" tanya dokter Frans.
"Takut aja kalau itu kejadian sama aku, kamu nikah lagi dan memilih tinggal dengan istri muda mu, meninggalkan semua kemewahan!"
"Nggak akan Fe, aku nggak akan dua in kamu!" ucap dokter Frans meyakinkan istrinya itu.
"Yakin banget?!"
"Karena cintaku cuma buat kamu!"
"Kalau Zea?"
Ucapan Felic sedikit membuat dokter Frans tersentak, nama yang sudah lama ia lupakan tiba-tiba di sebut lagi oleh istrinya.
"Kenapa bahas dia lagi sih, dia itu hanya bagian dari masa lalu aku! Sama seperti Rangga yang juga hanya bagian dari masa lalu kamu!"
"Tapi dia bisa datang di masa depan kamu kan Frans? Rangga mungkin iya!"
"Aku akan menutup semua pintu hatiku yang seluruhnya sudah terisi sama kamu seorang, tidak akan aku ijinkan siapapun masuk lagi!"
"Aku pegang ya omongan kamu!" ucap Felic sambil mengacungkan jari kelingkingnya dan dokter Frans pun segera menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Felic.
"Janji!"
"Gimana mau lanjut jalan atau lanjut cerita?" tanya dokter Frans.
"Lebih baik lanjut jalan aja Frans, biar penasarannya semkin greget!"
"Baiklah ....!" dokter Frans pun segera turun, "Sini aku bantu!"
Felic pun mengalungkan lengannya di leher suaminya dan suaminya segera menopang tubuh Felic dan menurunkannya.
Bersambung
...Masa lalu biarkan menjadi sejarah yang sebagian dari part-nya yang kelam patut untuk kita jadikan pelajaran bukan untuk di ulang...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰