
POV Zea
Hari ini untuk pertama kalinya aku tertarik untuk mengunjungi wanita itu, wanita yang telah membuat hidup mamaku menderita. Wanita yang membuat mamaku meninggalkanku untuk selamanya, wanita yang membuat hidupku terpisah dari keluargaku. Kalau boleh aku meminta, aku ingin meminta polisi untuk memberi hukuman seberat-beratnya untuk wanita itu hingga ia tidak bisa lagi tersenyum atas segala kejahatan yang telah ia lakukan.
Dendam ....
Mungkinkah aku mendendam, aku hanya wanita biasa yang punya perasaan sakit. Mengingat dan membayangkan bagaimana dan apa yang telah dilakukan wanita itu pada mama Chintya, membuatku penasaran. Apa mungkin ini hanya karena cinta segitiga? Atau ada hal lain yang aku dan papa Seno tidak tahu.
Aku takut aku hanya dirasuki rasa benci, keinginan untuk membalaskan rasa sakit yang di derita oleh mama.
Mobil kami akhirnya sampai di depan sebuah gedung dengan tulisan khas kantor polisi, sebelumnya aku tidak pernah bermimpi untuk datang ke sini, tapi demi mengetahui semuanya aku rela.
"Bagaimana? Apa kamu siap?"
Pertanyaan dari papa Seno membangunkan aku dari lamunan atas apa yang akan terjadi di dalam nanti, membayangkan bagaimana sikap wanita angkuh itu padaku, kadang membuatku takut.
"Iya pa, Zea siap!"
Papa Seno menggenggam tanganku dengan erat, aku tahu apa arti genggaman itu. Sebuah rasa ingin melindungi dan mengatakan semua akan baik-baik saja, walaupun aku tidak pernah bicara sepertinya papa Seno tahu kalau hari ini aku diliputi rasa cemas karena hal yang tidak pasti.
Langkah papa Seno pelan mengikuti langkahku yang sudah sedikit kesusahan untuk berjalan cepat dengan perut buncitku.
"Siapa yang ingin kamu temui?"
"Nyonya Widya!" ucapku dengan pasti, membuat papa Seno melihat ke arahku sejenak. Mungkin papa pikir aku akan menemui orang lain di sana, karena urusanku jelas bukan dengan nyonya Widya.
"Baiklah, tunggu sebentar. Biar papa yang memberi laporan!"
Papa menyuruhku duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu yang sepertinya menjadi tempat tunggu bagi pengunjung.
Selagi papa berbicara dengan petugas, aku memilih mengedarkan pandanganku pada tempat yang begitu asing ini. Di depan sana aku bisa melihat sebuah tulisan yang mengatakan ruang berkunjung, aku sudah bisa membayangkan bagaimana ruangan di dalamnya, mungkin seperti yang biasa aku lihat di sinetron-sinetron.
Ahhhh, aku terlalu banyak menonton sinetron ....
Baru saja berbalik, ternyata papa Seno sudah berdiri di sampingku lagi,
"Gimana pa?" tanyaku dengan jantung yang dag Dig dug. Rasa beraniku yang tadi sepertinya mulai menciut. Untung aku datang bersama papa, aku tidak bisa membayangkan jika sampai aku datang sendiri.
"Ayo, petugas akan memanggilkannya, sebaiknya kita masuk sekarang!" papa kembali menggema tanganku, hendak membawaku masuk ke ruangan yang tadi aku lihat.
"Iya!" aku berdiri dan mengambil tasku yang sengaja aku lepas dan letakkan di sampingku duduk. Papa kembali membimbingku masuk, ia tahu aku sedang takut saat ini.
"Duduklah!"
Persis seperti yang aku bayangkan, tempat itu tidak beda jauh dari yang aku lihat di sinetron hanya saja ada kawat pembatas antara pengunjung dan narapidana.
Aku dan papa duduk berdampingan, tanganku sudah mulai berair, sesekali aku mengusapkannya ke bajuku.
Hingga aku melihat petugas yang tengah membawa seorang wanita. Wanita dengan penampilan yang berbeda, sudah tidak ada lagi penampilan berkelas dengan rambut yang terawat, kulit yang bersih dengan make up tebal.
Wanita itu sekarang terlihat lusuh dengan rambut yang di kuncir asal, ubannya juga sudah terlihat, sepertinya dia sudah tidak bisa lagi mengecat rambutnya.
"Seno, masih berani kamu datang ke sini!" ucapnya dengan penuh kemarahan yang di tujukan pada papa Seno. Lalu tatapannya beralih pada ku, tatapan itu sama sekali tidak mereda, rasanya semakin berapi-api,
__ADS_1
"Dia," wanita itu menunjuk ke arahku dengan tatapan yang berapi-api, aku tidak heran karena mungkin dia mengira aku yang sudah membuat putrinya masuk ke penjara juga, "rasanya aku menyesal tidak membunuhnya juga!"
Papa tidak mau kalah, ia mengacungkan jari telunjuknya dengan penuh kemarahan dan suara yang tertahan di tenggorokan. Tapi aku tahu saat ini papa Seno sedang begitu marah,
"Sehelai rambut saja kamu berani menyentuh putriku, aku tidak akan pernah melepaskanmu!"
"Pa, sabar pa!" aku segera menenangkan papa, aku tidak mau kunjungan kali ini tidak membuahkan hasil.
"Aku tidak takut, lakukan saja. Kamu kan sudah melakukan semua yang kamu mau."
"Apa yang aku lakukan, memang sudah seharusnya aku lakukan!"
"Lalu bagaimana dengan Miska? Apa secuilpun tidak ada rasa cinta dan sayang di hati kamu untuk putriku? Tega sekali kamu dengan putriku!"
"Aku melakukan hal yang seharusnya sudah aku lakukan sejak dulu, apa itu salah? Miska sudah melakukan kesalahan di luar batas! Jangan harap aku akan mencabut semua laporanku, atau membantu kalian untuk keluar dari sini!"
"Pergi kalian dari sini, kalau kedatangan kalian hanya ingin menertawakan aku dan putriku! Jangan pernah tampakkan diri kalian lagi di depanku, aku tidak Sudi." nyonya Widya sudah hampir beranjak. Tapi aku segera menghentikannya, aku belum mendapatkan apapun.
"Nyonya!"
Wanita itu kembali berhenti dan menatapku,
"Wajahmu itu benar-benar membuatku muak!"
"Aku tahu, wajah ini sama dengan wajah mama chintya, kedatanganku ke sini ingin menanyakan kentang mama Chintya!"
"Apa lagi yang ingin kamu tanyakan?" tanyanya sambil kembali duduk, sepertinya dia cukup tertarik dengan topik yang ingin aku bahas.
"Kenapa anda begitu membenci mama saya? Apa salah mama saya pada anda?"
"Pasti bukan hanya karena itu!"
"Chhhttt, ternyata kamu lebih peka dari pada papa kamu!"
"Maksud kamu?"
"Chintya sudah merebut semuanya dariku, dia itu cuma anak pembantu tidak pantas dia bersaing denganku. Dia sudah merebut teman-teman ku, mamaku dan Seno. Aku membenci wanita yang sok suci seperti itu."
Flashback on
Semua kebencian Widya berawal ketika seorang wanita janda datang ke rumah besarnya untuk menjadi asisten rumah tangga.
Seorang anak perempuan sebayanya dibawanya juga ke sana, awalnya hubungan mereka baik-baik saja hingga semakin hari Chintya si anak pelayan itu semakin menjadi idola di antara teman-temannya, teman-teman Widya lebih suka berteman dengan Chintya karena sikapnya yang baik dan tidak arogan, sungguh berbeda dengan Widya yang egois dan arogan.
Prestasi Chintya juga di atas jauh Widya, hingga mamanya kerap memuji Chintya. Membanding-bandingkan dirinya dengan Chintya.
Perang dingin pun mulai terjadi, Widya kerap menjahili Chintya tapi Chintya tidak pernah membalasnya, ia tahu posisi dirinya di rumah itu. Mencari masalah dengan anak majikan sama saja dengan menambah masalah dalam hidupnya.
Hingga akhirnya mereka tumbuh bersama, menjadi remaja yang cantik dan tentunya di sukai oleh banyak pria, salah satunya Seno.
Seno adalah idola sekolah tempat mereka menempuh pendidikan di SMA yang sama, tapi Seno nyatanya lebih memilih Chintya. Hal itu membuat Widya semakin membenci sosok Chintya.
Flashback off
__ADS_1
Sekarang aku tahu, semua di sebabkan oleh dendam masa lalu.
"Kamu jahat nyonya!"
"Wanita itu yang lebih jahat. Dia mengambil semua yang menjadi hak ku, bahkan papa dan mamaku lebih memihak padanya, apa itu namanya kalau tidak jahat?"
"Mama tidak pernah sengaja melakukannya, seharusnya anda bisa mengambil pelajaran dari semua itu!"
"Anak kecil jangan coba menasehati ku, kamu baru anak kemarin sore yang juga mencoba mengambil kebahagian putriku, kamu tidak ada bedanya dengan ibu kamu itu, sama-sama parasit!"
Baru saja aku ingin membalas makiannya, tapi sudah terlambat.
"Maaf, jam besok sudah habis. Silahkan datang lagi besok!" seorang petugas menghampiri kami, terpaksa pembicaraan kami harus terhenti.
Papa Seno pun mengajakku pergi, kami keluar dari gedung itu dengan hanya saling diam. Aku tahu papa tengah terluka hatinya saat ini karena ucapan nyonya Widya.
"Apa kamu mau istirahat dulu sebelum pulang?"
"Iya pa, biarkan aku duduk di sana!" Aku menunjuk sebuah bangku yang ada di bawah pohon yang rindang tidak jauh dari mobil kami.
"Baiklah, ayo!"
Kami duduk, papa sepertinya juga enggan bertanya padaku. Aku tahu dia tengah memberi kesempatan padaku untuk berpikir.
"Pa."
"Hmmm?"
"Mama pasti sangat mencintai papa kan?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Mama sangat menderita waktu itu, tapi ia tetap bertahan dengan papa. Nyonya Widya pasti telah banyak memberi tekanan padanya."
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan apa yang sudah terjadi. Percayalah sekarang mama kamu sudah sangat bahagia."
"Maafkan Zea ya pa."
"Untuk apa?"
"Zea telah lancang membuka luka lama papa."
"Tidak masalah, ada kamu sebagai penawar rasa sakit papa dan sebentar lagi juga ada cucu papa. Mungkin saat kamu kecil papa tidak bisa menjagamu, tapi nanti saat cucu papa lahir, papa yang akan banyak menjaganya!"
Aku tersenyum, merasakan kasih sayang dan kehangatan yang di berikan oleh papa. Rasanya seperti aku tidak kekurangan apapun lagi saat ini.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...