
Akhir-akhir ini sepertinya Tuan Bactiar mulai menaruh curiga pada istrinya, pasalnya beberapa beberapa kali istrinya pergi tanpa memberitahu tujuannya dan mengambil uang dengan nilai banyak dari perusahaan.
"Saya harus mengetahui sesuatu!" gumamnya.
ia menempatkannya untuk memata-matai istrinya, mengikuti kemanapun istrinya itu pergi.
Dan ternyata apa yang ia curigai benar adanya, istrinya itu diam-diam bertemu dengan lawannya.
“Bagaimana?” tanya tuan Bactiar saat anak buahnya sudah kembali.
“Ini tuan!" ucap salah satu anak buahnya itu sambil menyerahkan beberapa lembar foto.
"Fotonya?” tanya tuan Bactiar, tuan Bactiar pun segera mengambil foto itu dan memperhatikannya.
“Kenapa istriku menemuinya?” tanyanya pada kedua orang itu.
“Kami tidak begitu jelas mendengar pembicaraan mereka tuan, tapi sepertinya nyonya menangis!”
“kenapa istriku menangis dan memegang tangannya?” tanya tuan Bactiar yang semakin curiga.
“Sepertinya mereka membicarakan hal yang sifatnya pribadi tuan!”
"Pribadi ....?" tanya tuan Bactiar dan mereka pun mengangguk,
“Baiklah …, aku punya pekerjaan lagi untuk kalian!"
"Siap tuan!"
"Selidiki latar belakang dokter itu!”
"Kami permisi tuan!"
Setelah dua anak buahnya itu pergi, tuan Bactiar kembali memperhatikan wajah dokter Frans.
"Aku seperti melihat seseorang di wajah dokter ini, tapi siapa?"
***
Setelah beberapa hari melakukan penyelidikan, akhirnya anak buahnya kembali dengan data yang lebih lengkap.
Tuan Bactiar benar-benar sudah tidak sabar untuk mendengarkannya.
“bagaimana?” tanya tuan Bactiar.
“Ini tuan, yang saya dapatkan!” ucap pria itu sambil menyerahkan sebuah dokumen.
Tuan Bactiar pun segera mengambilnya dan memeriksa dokumen itu.
“Jadi dia berasal dari panti asuhan?” tanya tuan Bactiar setelah membaca sekilas berkas itu.
“Iya tuan!”
“Lalu bagaimana bisa ia punya rumah sakit sebesar itu?” tanya tuan Bactiar itu seolah-olah tidak percaya.
"Dokter Frans adalah anak angkat dari nyonya Ratih, istri tuan Wijaya!"
"Maksudnya?"
“Iya tuan ...., sepertinya ada campur tangan Finity Group di dalamnya!”
__ADS_1
"Jadi seperti itu, lalu siapa orang tua aslinya?"
“Ayahnya sopir tuan Wijaya yang ikut tewas saat peledakan mobil tuan Wijaya waktu itu, sedangkan ibunya meninggalkannya di panti asuhan!”
"Berarti ibunya masih hidup?"
"Iya tuan!"
“Siapa ibu kandungnya?”
“Sepertinya nyonya Ratih sengaja menghilangkan jejak ibu kandung dokter Frans, tuan!”
"Kenapa bisa berpikir seperti itu?"
"Karena datanya menghilang begitu saja!"
“Tidak penting, yang terpenting sekarang saya sudah tahu kelemahan dokter itu!” ucapnya dengan senyum smirtt.
***
Pagi ini dokter Frans begitu kesal karena tiba-tiba hidungnya tidak bisa mencium bau-bau yang menyengat, bahkan untuk sarapan pun ia harus menutup hidungnya.
"Nah kalau begini bisa makan dengan nyaman kan?" tanya Felic sambil menutup hidup dokter Frans dengan kain.
"Tapi aku tidak bisa bernafas kalau begini!" keluhnya.
"Kayaknya ada masalah deh sama lambung kamu, lebih baik nanti periksa deh sama dokter!"
"Iya kali ya ...., ih rasanya kayak masuk angin terus ....!"
"Sini aku suami biar makannya banyak, kamu tubuh hidungmu pakek tangan!"
"Iya ...!" ucap Felic sambil menyuapkan ke mulut suaminya tanpa nasi, "Bawel banget!" keluh Felic sambil tersenyum.
"Seneng banget liat aku menderita!"
"Ya bukan gitu, kamu sih aneh banget ...., bau apa-apa muntah, kayak orang hamil aja!"
"Iya kali ....., masak cowok hamil!"
Ha ha ha ....., Felic hanya menertawakan wajah menderita suaminya.
"Ya udah deh aku berangkat aja!" ucap dokter Frans sambil berdiri dan mengambil tasnya. Felic pun mengikutinya hingga di depan rumah.
Cup
Dokter Frans berbalik dan mencium kening Felic.
"Hati-hati di rumah, nggak usah pergi-pergi tanpa aku atau Wilson!"
"Iya ...., kamu juga, jangan lupa cek kesehatan siapa tahu ada masalah sama lambung kamu!"
"Iya ...!"
Dokter Frans segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Felic.
Hari ini Felic memeng tidak ada kegiatan di luar, akhir-akhir Felic lebih suka menghabiskan waktunya di rumah saja bermalas-malasan.
Siang ini setelah mendapatkan beberapa informasi tentang dokter Frans, tuan Bactiar pun dengan sengaja mendatangi dokter Frans.
__ADS_1
Ia memasuki ruangan dokter Frans tanpa permisi membuat pemilik ruangan itu sedikit terkejut.
"Anda!" ucap dokter Frans terkejut.
"Boleh kan saya duduk?!" tuan Bactiar tanpa menunggu persetujuan dari dokter Frans pun segera duduk di sofa yang ada di ruangannya.
Dokter Frans pun segera menghampirinya dan duduk di sofa lain yang lebih kecil.
“Ada perlu apa lagi anda ke sini, bukankah keputusan untuk sidang sudah di putuskan?”
"Ada baiknya kita bicarakan ini dengan kekeluargaan!" ucap tuan Bactiar.
"Baiklah ...., katakan!" ucap dokter Frans tidak kalah tenangnya.
“saya cuma mau menawarkan kerja sama sama kamu! Saya rasa ini akan sangat menguntungkan bagi saya dan juga anda tentunya dokter Frans Aditya!”
“Saya tidak butuh kerja sama dari anda!”
“Jangan sombong dokter saya tahu siapa anda!"
"Apa yang anda tahu tentang saya?"
"Anda ini hanya seorang anak pungut yang karena belas kasih orang lain hingga anda bisa punya semua ini! Jika media tahu soal ini, entah apa yang akan terjadi dengan rumah sakit anda ini dokter!”
"Benarkah cuma itu, mungkin seandainya anda tahu siapa ibu kandung saya, pasti anda akan lebih terkejut karena ini menyangkut perusahaan anda juga!"
"Dasar keras kepala!" gerutu tuan Bactiar.
“Kalau sudah selesai silahkan anda pergi dari sini!!” ucap dokter Frans tanpa berpindah dari duduknya.
“Belum selesai!"
"Katakan ..., saya siap untuk mendengarkannya!"
"Apa anda tahu siapa yang menyembabkan ayah anda meninggal?” tanya tuan Bactiar, dokter Frans terdiam.
"Dokter ingat, mungkin saat itu dokter tidak mengingatnya karena masih sangat kecil jadi biarkan saya menceritakannya pada anda! Ayah kandung dokter ikut tewas dalam peledakan bersama pak Wijaya!"
"Apa maksud anda menceritakan itu pada saya?" tanya dokter Frans.
"Karena saya ingin dokter tahu siapa yang telah tega mengorbankan ayah dokter!"
"Siapa?"
“Nyonya Ratih, ibu angkat dokter!” ucap tuan Bactiar dengan sangat pasti.
“Anda jangan bicara sembarangan…, jaga ucapan anda, sebelum saya seret anda keluar!”
"Saya berani berbicara demikian karena nyonya Ratih lah yang mengorbankan ayah dokter, memintanya menggantikan dirinya yang berada dalam mobil itu, jika bukan ayah anda maka nyonya Ratih lah saat itu yang akan mati!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰
__ADS_1