Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
season 2 (109. Bertemu koh Chang)


__ADS_3

Saat ia keluar dari kamar mandi, ternyata Miska sudah menungguinya di kamar dengan membawa baju ganti untuknya.


"Ga, aku sudah siapkan baju tidur untukmu!" Miska tersenyum dengan senyum ramah membuat Rangga tidak enak hati mengabaikannya lagi.


"Terimakasih ya!" Rangga mengambil baju yang berada di tangan Miska, "Aku akan ganti baju dulu, aku akan menemanimu makan malam!"


"Baiklah, aku akan menunggumu di ruang makan!" tampak Miska begitu bahagia, ia dengan cepat meninggalkan Rangga.


Tetap saja rasanya berbeda, tapi Rangga tidak ingin terlarut dalam perasaanya yang salah pada Zea.


Rangga segera memakai bajunya dan menyusul Miska di ruang makan.


"Aku ambilkan ya!" Miska dengan cepat mengambil piring kosong Rangga dan mengisinya dengan makanan.


"Aku senang kamu mau makan denganku!"


"Hmmm! Lain kali aku akan menemanimu lagi."


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Pasti sangat melelahkan ya?" tanya Miska lagi membuat Rangga tercengang di buatnya.


Kenapa Miska jadi begitu manis begini sikapnya, atau aku yang selama ini terlalu cuek padanya ...., sikap Miska kali ini benar-benar berbeda dengan sikap Miska yang biasanya.


"Lancar!" Rangga segara melahap makanannya, tidak mau terlalu memikirkan sikap Miska yang berubah.


...***...


Ini akhir pekan, sudah tiga hari ini waktu Rangga terkuras untuk pekerjaan.


Pagi ini Rangga sudah siap dengan kostum lari paginya, Miska yang baru keluar dari kamar segera menghadangnya.


"Sayang, mau lari pagi ya? Aku ikut ya?"


Jika Miska ikut, aku tidak mungkin bisa ke minimarket itu ..., Rangga harus mencari cara agar Miska tidak ikut dengannya. Ia masih begitu penasaran dengan sosok yang selalu membayangi pikirannya.


"Jangan hari ini ya, hari ini aku akan ke tempat gym. Lebih baik kamu lari pagi deket-deket sini aja!"


"Begitu ya!" Miska tentu tidak langsung percaya. Ia pun membiarkan Rangga pergi tapi setelah memastikan Rangga pergi, Miska segera menghubungi Rizal.


"Hallo!"


"Hallo ada apa pagi-pagi sudah menghubungiku, apa kamu sudah merindukanmu honey?" tampak suara di seberang sana masih serak, sepertinya baru bangun tidur.


"Aku ada tugas untukmu!"


"Sepagi ini?"


"Iya, Rangga hari ini joging. Bisa jadi diaa joging sama Zea, kamu tahu kan alamatnya Zea, samperin dia kalau dia keluar rumah!"


"Baiklah!"


"Jangan buang waktu!"


"Mengerti tuan putri!"


Miska pun segera mematikan sambungan telponnya berharap dengan begitu ia bisa membuat Rangga cemburu pada Rizal.

__ADS_1


Tapi nyatanya salah, saat ini Rangga bukan ke rumah Zea tapi ia sedang berada di depan minimarket. Menunggu hingga minimarket itu buka.


Sesekali Rangga melihat jam tangannya, masih satu jam lagi hingga minimarket itu buka. Ia sepertinya datang terlalu pagi, ia benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan pemilik minimarket.


Di tempat lain, benar Zea keluar rumah untuk joging tapi ia tidak joging dengan Rangga.


"Hai Zee!" Zea benar-benar terkejut seseorang menyapanya. Hampir saja pengawalnya yang berjalan di kejauhan menghampiri Zea tapi Zea dengan cepat memberi kode agar merek tetap berjalan di tempatnya.


"Kamu!?"


"Iya, tadi kebetulan lewat joging di sekitar sini, eh tidak tahunya ketemu kamu!"


"Tapi jarak tempat ini ke rumah ma Rizal jauh loh!"


"Iya sih, sebenarnya tadi janjian sama temen yang tinggal di dekat sini, tapi orangnya nggak muncul-muncul. Nggak pa pa kan aku temenin kamu sambil nunggu temen aku?"


"Nggak pa pa sih mas!"


Mereka pun akhirnya joging bersama, sesekali Rizal melontrkan cndaannya tapi Zea tetap menanggapinya dengan dingin. Para pengawal Zea terus saja memantau dari kejauhan, selagi tidak berbahaya Zea tetap melarang mereka untuk mendekat.


Sesekali Rizal mengirimkan pesan pada Miska, ia mengatakan tidak bertemu dengan Rangga.


"Terimakasih ya sudah mau menemuiku joging!" Rizal mengantar Zea hingga di depan rumahnya, sekilas Rizal sudah bisa melihat bagaimana besarnya rumah itu, "Rumah kamu besar sekali."


"Terimakasih, tapi ini bukan rumah aku. Ini rumah papa aku."


"Tetap saja, milik papa kamu sudah pasti akan jadi milik kamu suatu saat nanti!" menanggapi ucapan Rizal, Zea hanya tersenyum.


"Maaf, aku masuk dulu!" Zea pun segera masuk ke dalam rumah tanpa berniat untuk menawari Rizal masuk.


Di tempat lain, akhirnya yang di tunggu-tunggu Rangga datang juga. Rangga segera turun dari mobilnya dan menghampiri pemuda seumuran dengannya,


"Selamat pagi!" sapaan Rangga berhasil membuat pemuda itu menghentikan kegiatannya membuka rolling door dan menoleh padanya.


"Selamat pagi, tunggu sebentar ya. Toko baru mau buka!"


"Iya." Rangga pun akhirnya membantu pemuda dengan wajah Chinese itu untuk membuka rolling door, "Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan!" ucapnya lagi setalaah rolling door berhasil terbuka sempurna.


"Rangga!?" panggilan seseorang berhasil membuat Rangga menoleh ke sumber suara.


Rangga segera tersenyum begitu mengenali sosok yang baru saja memanggilnya.


"Koh Chang!?"


Pria dengan peci putih itu berjalan cepat menghampirinya. Pria yang usianya sekitar sepuluh tahun lebih muda dari papa Beni.


"Ya ampun Rangga, lama tidak melihatmu. Ayo masuk-masuk!" koh Chang menepuk punggung Rangga dan menggiringnya masuk ke dalam minimarket. Mengajaknya duduk di rest area minimarket, tempat yang beberapa hari lalu ia duduki.


Rangga malah terlihat bingung, ia kembali melihat ke arah pemuda yang berdiri di balik meja kasir, Koh Chang yang menyadari arah tatapan Rangga segara menjelaskan.


"Oh dia, dia putraku! Namanya Kevin!"


Rangga kembali menatap koh Chang. Mereka memang bukan dua orang yang kenal begitu akrab. Mereka kenal karena Rangga sempat mengerjakan proyek pembangunan di salah satu minimarket koh Chang, tapi bukan yang ini.


"Jadi ini minimarket koh Chang juga?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaaan rangga, koh Chang malah tercengang,


"Kamu bercanda ya, janganlah bercanda ...!?"


Rangga baru ingat kalau ia belum bercerita pada pria di depannya kalau ia mengalami kehilangan ingatan sebagian,


"Sungguh saya tidak bercanda." tapi Rangga juga tidak berniat untuk memberitahu koh Chang tentang kondisinya. "Mungkin memang hanya sedikit lupa."


"Bagaimana kabar istri kamu? Semenjak tidak bekerja di sini, dia tidak pernah datang lagi!"


Istri?


Rangga sampai tercengang di buatnya, Apa yang ia maksud Miska? Tapi tidak mungkin Miska pernah bekerja di sini ....


"Istri?"


"Iya, istri kamu Zea!"


Ucapan koh Chang benar-benar seperti sambaran petir di siang hari bolong. Bagaimana mungkin ....


"Koh tidak sedang bercanda kan?"


"Kamu kali yang becanda, kenapa kamu malah seperti orang bingung seperti itu?"


Rangga tidak berniat menjawab pertanyaan koh Chang. Ia terlalu syuk, kepalanya saat ini bahkan begitu sakit. Ia berusaha keras untuk mengingat semua, kilatan kenangan masa lalu berseliweran di sana seakan tengah menyatu. Rangga hampir saja terjatuh dari duduknya beruntung dengan cepat koh Chang menahan tubuhnya.


"Ga, kamu kenapa?"


Koh Chang begitu panik, ia kembali mendudukkan Rangga di kursi, meminta putranya untuk mengambilkan minuman,


"Minum dulu ga!"


Rangga pun segera meneguk air mineral yang di berikan oleh koh Chang, keringat dingin mengucur dari tubuh Rangga, seolah-olah ia baru saja bekerja dengan begitu keras.


"Ga, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya koh Chang lagi saat melihat Rangga sudah sedikit tenang meskipun nafasnya masih bersahutan. "Zea baik-baik saja kan?"


"Iya, dia baik-baik saja!"


"Syukurlah!"


"Kalau begitu saya permisi!" Rangga pun segera beranjak dari tempatnya. Walaupun ia berusaha untuk mengingatnya tapi tidak bisa.


"Kamu yakin?"


"Iya!"


Walaupun sedikit sempoyongan, Rangga pun tetap memilih pergi dari tempat itu. Koh Chang dan putranya masih terus mengawasi Rangga hingga Rangga masuk ke dalam mobil.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2