
"Memang selama ini kamu hidup di dunia apa sampai tidak tahu nafkah batin?"
"Ya mana aku tahu kalau ada yang kayak gitu, dulu menurutku itu nggak penting, otakku terlalu kecil untuk memikirkan hal-hal besar!"
Wilson begitu gemas dan mengusap kepala Tisya gemas, tikus kecilku ....
Wilson pun kembali menjalankan mobilnya, saat tahu jika wanita di sampingnya masih bersikap sama perasaannya sedikit lega.
"Kalau udah tahu, memang beneran mau minta?"
Pertanyaan dari Wilson itu kembali membuat Tisya tercengang.
"Beneran nanya apa mau ngledek nih?"
"Ya nanya lah, sekalian ngledek!"
Bukkkk
Tisya dengan kesal memukul punggung Wilson.
"Augh sakit tahu!" keluh Wilson walau sebenarnya tidak benar-benar sakit.
Sepanjang jalan mereka terus berdebat, mencoba menghilangkan perasaan canggung di antara mereka.
Hingga akhirnya mobil itu sampai juga di depan rumah,
"Mama!" pekik Tisya saat melihat nyonya Tania ternyata sudah duduk di depan rumah mereka.
Tisya terlihat panik, ia menurunkan cermin kecil yang ada di kaca depan. Memperhatikan lehernya yang masih tertutup rambut panjangnya.
"Ahhh masih kelihatan!" gumamnya.
"Kelihatan ya? Bagaimana?" ternyata Wilson tidak kalah paniknya.
"Coba pakek ini!"
Wilson menyodorkan jasnya dan Tisya pun segera mengambil jas itu dan memakainya.
"Gimana sekarang?" tanya Tisya memastikan tanda merah di lehernya tidak terlihat kerena tertutup jas.
"Sudah lebih baik!"
Nyonya Tania yang melihat mobil mereka pun segera berdiri, sebelum nyonya Tania menghampirinya, Wilson dan Tisya segera turun dari mobil.
"Mama ...., mama ngapain di sini?"
Tisya segera memeluk mamanya itu.
"Mama nungguin kalian sejak pagi, dari mana aja, mama khawatir tahu?"
Tisya pun menatap Wilson, Wilson pun juga sama.
"Di tanya kok malah saling tatap-tatapan, kalian nggak kenapa-kenapa kan?"
"Nggak pa pa ma, kami habis dari pantai ma, menginap di sana!"
"Sebaiknya masuk dulu nyonya!" ucap wilson yang sudah membuka pintu rumah itu.
Mereka pun akhirnya masuk dan duduk di sofa ruang tamu, nyonya Tania sebenarnya datang untuk membawakan sarapan untuk mereka.
"Ini biar Tisya taruh di dapur dulu ma!"
"Iya!"
Kini Wilson dan nyonya Tania hanya berdua, wanita paruh baya itu memperhatikan menantunya yang terlihat begitu tegang.
"Kalian bulan madu di pantai?"
Tanya nyonya Tania menyelidik membuat Wilson semakin merasa bersalah saja. Seandainya mertuanya itu tahu apa alasan mereka menikah pasti wanita paruh baya itu tidak akan pernah mengijinkan putrinya di tiduri olehnya.
Tapi seiring berjalan nya waktu, ia tidak merasa jika cinta itu tumbuh bahkan sebelum mereka menikah, lalu apa dayanya. Ia juga tidak mampu menolaknya.
"Maafkan saya nyonya!"
__ADS_1
Nyonya Tania tersenyum, ia sudah menduganya dari wajah Wilson.
"Kenapa minta maaf, mama senang tahu! Cepet buat cucu yang banyak buat mama biar mama tidak kesepian!"
Tisya yang barus saja selesai dari dapur pun segera menyusul dan duduk di samping mamanya.
"Ngomongin apa sih ma, seru banget?"
"Nggak pa pa, mama boleh meluk kamu?" tanya nyonya Tania sambil meregangkan tangannya.
"Kenapa tanya sih ma!" Tisya pun segera berhambur memeluk mamanya, "Kenapa melow banget sih ma?"
"Nggak pa pa, mama cuma nggak nyangka saja kamu sudah jadi istri orang!"
"Ihhhh mama, Tisya kan jadi malu!
Setelah cukup lama mereka bercengkerama, nyonya Tania pun berpamitan untuk pulang. Ia harus segera bekerja, walaupun dokter Frans sudah memintanya untuk berhenti bekerja tapi nyonya Tania tetap bersikeras masih ingin bekerja.
"Aku ke kamar dulu ya!" ucap Tisya setelah mengantar mamanya di depan.
"Kamar yang mana?"
Pertanyaan Wilson berhasil membuat Tisya berhenti, mereka memang berada di antara dua kamar. Tisya pun lalu menunjuk ke kamar sebelah, kamar yang selama ini Tisya tempati.
"Kenapa ke situ?"
"Memang kamarku di situ!"
Tisya pun segera berjalan hendak membuka pintu kamarnya, tapi dengan cepat tangan Wilson menahan pintu itu agar tidak terbuka, Ia menghadang Tisya dengan lengan kekarnya.
Tisya pun mendongakkan kepalanya menatap Wilson,
"Kenapa?"
"Bukankah kita harus tinggal dalam satu kamar?!"
Tisya mengerutkan keningnya, "Maksudnya?"
Hal itu membuat Wilson semakin greget, ia pun mendekatnya wajahnya pada istrinya hingga nafasnya menyapu bulu-bulu halus wajah Tisya.
"Hehhh?"
Srekkkkk
Dengan cepat Wilson mengangkat tubuh Tisya seperti membawa karung beras di atas pundaknya.
"Wil lepasin Wil ...., Wil ...., lepas ...., turunin ...!"
Tisya terus meronta dan memukul punggung Wilson hingga akhirnya sampai di dalam kamar Wilson, pria itu segera menurunkan istrinya di atas tempat tidur hingga Tisya tidur telentang di atas tempat tidur.
"Wil mau ngapain?"
Wilson pun naik ke atas tempat tidur dan mengungkung tubuh. Tisya dengan kedua tangannya.
"Kalau kita tinggal dalam satu kamar, kita bisa melanjutkannya lagi!"
Mata Tisya membulat sempurna, "Sekarang?"
"Bukan, nanti setelah aku kembali! Sekarang aku harus pergi dulu, jadi jangan ke mana-mana!"
Wilson kembali bangun dari atas tubuh Tisya, ia mengambil kemeja, jas dan celana panjangnya.
Tisya pun segera duduk dan mengamati setiap yang di lakukan Wilson, pria itu sudah masuk ke dalam kamar mandi dan tidak berapa lama sudah keluar dengan pakaian yang sangat rapi.
"Mau ke mana?"
"Ada pekerjaan sedikit, tetaplah di rumah dan aku yang akan meminta ijin pada bos mu!"
"Lagian kalau jam segini ke kantor juga udah nanggung, siang banget!"
"Aku berangkat ya!"
Wilson menyambar ponsel dan kunci mobilnya, tapi saat sudah mencapai pintu ia kembali berbalik menatap Tisya yang masih duduk di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Ada apa lagi?" tanya Tisya.
Wilson pun kembali menghampiri Tisya dan mendekati wajahnya.
"Ada apa?"
Cup
Sebuah kecupan mendarat di keningnya, "Aku pergi!"
Wilson kali ini benar-benar pergi meninggalkan Tisya yang masih tercengang dengan kelakuan manis Wilson.
"Kenapa kucing itu jadi manis sekali?" gumamnya.
Wilson pun mengemudikan mobilnya kembali. Ia mengambil ponselnya, memakai earphone nya dan melakukan panggilan pada seseorang.
"Hallo!"
"Hallo Wil!"
"Kita bisa bertemu kan sekarang, satu jam lagi aku tunggu di kafe xxx!"
Wilson pun kembali mematikan sambungan telponnya. Ia melepas kembali aerophonenya dan meletakkannya di dasboard mobilnya.
Akhirnya ia sampai juga di tempat tujuannya, ia memarkirkan mobilnya lalu mencari tempat duduk yang masih kosong.
Masih ada waktu beberapa menit lagi hingga orang yang di tunggunya datang, sambil menunggu ia masih menyempatkan diri untuk bekerja.
Setelah satu jam akhirnya yang di tunggu datang juga.
"Wil!"
Seorang wanita menyapanya membuatnya mendongakkan kepalanya, perhatiannya pada pekerjaan beralih pada wanita yang berdiri di depannya.
Wilson pun segera berdiri dan menyambutnya.
"Selamat datang Maira!"
"Sudah lama ya nunggunya?"
"Bukan masalah! Duduklah!" perintah Wilson dan Maira pun duduk di bangku kosong itu.
Wilson segera memanggil pelayan dan memesankan minuman untuk Maira.
"Ada apa Wil?"
Wilson pun menatap Maira, "Mengenai pembicaraan antara kamu dan Tisya kemarin!"
"Baiklah, berarti kamu sudah tahu kan perasaanku, aku juga tahu alasan kenapa kamu menikah dengan Tisya, jadi bisakah kita berhubungan, maksudku kita berpacaran hingga kalian cerai dan kita nikah?"
Hehhhhh
Wilson menghela nafas, ia mengambil gelasnya dan mulai meminum minumannya.
"Bagaimana kalau kita tidak pernah bercerai?"
"Maksudnya?"
"Kamu yakin kita tidak akan jatuh cinta selama satu tahun itu, kita tinggal di rumah yang sama tidak jarang kita juga beradegan mesra, bagaimana kalau kita jatuh cinta dan memutuskan untuk tidak bercerai?"
Maira terlihat begitu kecewa dengan pertanyaan Wilson, senyumnya tiba-tiba hilang berubah menjadi wajah kecewa.
"Kenapa ngomong gitu sih Wil?"
Bersambung
...Jatuh cinta itu bukan karena pandangan pertama kali, bukankah cinta itu tumbuh seiring dengan berjalannya waktu saat kita semakin mengenalnya saat itu kita semakin ingin memilikinya, Definisi cinta menurutku, kalau menurut kalian bagaimana?...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰