
"Tidak pa pa deh, kayaknya sudah nggak masalah perutnya. Aku kerja aja!" Zea memastikan tidak terjadi sesuatu dengan dirinya. Walaupun ink sudah cukup siang, tapi tetap saja ia merasa tidak enak jika harus ijin lagi.
"Tapi tadi aku sudah kasih tahu koh Chang kalau kamu sakit, nggak masuk!"
"Yah kok gitu, aku kan nggak enak kalau kelamaan di rumah!" keluh Zea. Suaminya sudah akan pergi itu tandanya dia akan sendiri.
Rangga sebenarnya sudah sangat terlambat, tapi dia juga tidak enak membiarkan istrinya kesepian di rumah. Tidak ada teman atau saudara yang ia bisa mintai bantuan untuk menemani istrinya.
"Bagaimana kalau ikut aku meeting?"
"Di mana?"
"Di pusat perbelanjaan, sekalian mau lihat produk yang baru di luncurkan! Pak Div sedang di luar kota untuk beberapa hari, jadi beberapa pekerjaan di limpahkan padaku dan sekretaris Revan!"
"Hehhhh, aku pasti sangat mengganggumu nanti!" Zea memikirkan banyak hal, terutama bagaimana tanggapan orang lain terhadapnya nanti.
Rangga tersenyum dan menggengam tangannya,
"Tidak akan sayang, aku justru malah senang kalau ada kamu! Kalau kamu bosan, kamu bisa nunggu sambil belanja!"
"Baiklah!"
"Bersiiaplah!"
Zea pun segera melakukan apa yang di minta suaminya, ia mengganti bajunya dengan baju yang lebih santai.
Mereka langsung menuju ke pusat perbelanjaan yang sudah di tunjuk sebagai tempat untuk lounching produk terbaru dari Divtagroup yang berkembang di bidang makanan sehat.
Rangga segera memarkirkan motornya dan meminta Zea untuk menunggu di depan.
Tepat saat ia hendak keluar dari tempat parkir, sekretaris Revan keluar dari mobilnya.
"Ga!"
Sapaan dari sekretaris Revan berhasil mengurungkan langkah Rangga.
"Kamu!? Baru datang?" tanya Rangga. Ia tahu ini sudah sangat siang tidak mungkin sampai sekretaris Revan datang terlambat.
"Ya, baru ambil berkas dari kantor dulu tadi sekalian mau kasih tahu kamu kalau nona Miska tidak bisa datang ke kantor soalnya kakinya sakit!"
Ohhhh ....., Rangga cukup tahu apa alasan kakinya sakit. Ia belum menanyakan lagi bagaimana keadaannya saat ini. Ia merasa bersalah dengan apa yang terjadi semalam, seandainya saja ia lebih hati-hati pasti tidak akan terjadi kecelakaan itu.
"Siapa yang kasih tahu kamu?"
"Pihak Mtex group tadi ada yang datang!" sekretaris Revan kembali mengamati Rangga, ia tanpa sengaja melihat luka di keningnya, "Tumben telat, ada masalah apa? Abis jatuh juga? Mobilmu kemana?"
"Sedikit ada urusan tadi! Kamu lama-lama kayak emak-emak tanyanya. Ayo!" Rangga yang tak mau berlama-lama segera menarik tangan sekretaris Revan agar pria itu tidak banyak bertanya lagi.
Mereka pun berjalan bersamaan menuju ke tempat di dalamnya acara. Rangga yang tidak mau membuat Zea merasa canggung pun memilih untuk mengirimkan pesan pada istrinya itu.
//Sayang, aku ketemu sekretaris Revan di basemen, kamu nggak pa pa kan jalan-jalan dulu ntar aku nyusul setelah selesai acara//
Zea yang masih menunggu di pintu masuk segera mengecek gawaynya saat merasakan benda pipih itu bergetar di dalam tas sampingnya yang begitu tipis.
Zea segera melihat siapa yang mengiriminya pesan. Melihat ada 'my husband ' di layar ponselnya, ia pun segera membukanya.
__ADS_1
Hehhhhhh .....
Sebenarnya ingin melihat dari dekat, tapi ia takut akan menggangu konsentrasi suaminya.
//Baiklah, tidak pa pa. Semangat 💪💪💪💪//
Zea segera mengirimkan balasannya. walaupun singkat tetap saja balasan itu begitu berarti untuk Rangga. Ia terus tersenyum sepanjang jalan dan sesekali kembali mengetikkan sesuatu ke layar ponselnya.
Me,
//Kasih cium romantis boleh dong, biar tambah semangat♥️♥️♥️//
My sweety,
//Nggak ah nanti aja kalau udah pulang, selamat kerja suamiku, cari uang yang banyak ya ....//
Me,
//Pelit sekali😕😕😕//
My sweety,
❤️❤️❤️❤️😘😘😘😘
"Ga, kamu denger kan aku tadi ngomong apa?"
Pertanyaan dari sekretaris Revan berhasil mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya. Rangga dengan cepat menyakukan kembali ponselnya ke dalam saku jas.
"Hhh? I_iya, dengar!"
Setelah berfikir sejenak, Rangga pun segera berbicara dengan minimnya informasi yang ia dengar tadi dari mulut sekretaris Revan,
"Mengenai presentasi kita nanti kan? Tenang saja, aku sudah siapkan semuanya!"
"Hehhh, susah nih ngomong sama orang yang lagi kasmaran!" sekretaris Revan pun memilih berjalan mendahuluinya dengan kesal.
"Van, tunggu!" Rangga ikut berjalan cepat menyusul langkah cepat rekan kerjanya itu.
Zea pun kembali memasukkan benda pipinya ke dalam tas setelah memastikan tidak ada balasan lagi dari sang suami.
Ia sebenarnya nyaris tidak pernah belanja, ia bahkan bingung harus berbelanja apa di sana. Ia hanya mengikuti arah kakinya melangkah.
Hingga akhirnya sebuah toko baju perempuan menjadi tujuan pertamanya. Entah sudah berapa tahun ia tidak membeli baju, ia terbiasa menyisihkan sebagian uang sisa untuk hidupnya sehari-hari dan di berikan pada panti asuhan sedangkan untuk dirinya sendiri, menurutnya bukan hal yang begitu penting.
Banyak baju model kekinian, ia mulai memilah-milah baju yang menurutnya cocok di pakai untuknya dengan harga yang terjangkau.
Tapi tanpa di sadari Zea, seseorang yang berada di sisi lain tengah memperhatikannya.
"Ini gimana jeng, bagus kan?" tanya seseorang yang seumurannya sedang memilih baju.
"Iya bagus!" tapi tatapan wanita itu tidak pada baju yang di pegang temannya melainkan pada Zea.
"Serius jeng, soalnya aku beli buat menantu ku Lo jeng, kira-kira suka nggak ya?"
"Bentar ya jeng, aku ada urusan sebentar, kamu pilih -pilih aja dulu."
__ADS_1
Wanita itu tampak tidak sabar untuk menghampiri Zea hingga meninggalkan temannya sendiri.
"Ehhh jeng, mau ke mana?"
Wanita yang tengah di panggil itu hanya melambaikan tangannya tanpa berniat untuk menoleh, ia sedang fokus pada keberadaan Zea. saat ini.
Hingga akhirnya sampai juga di depan Zea, Zea yang tengah fokus segera mengalihkan tatapannya pada wanita yang tengah berdiri di depannya.
"Tante!?" wajah Zea berubah menjadi pucat pasi, ia sampai menggengam erat tali tasnya, ia khawatir wanita di depannya akan melakukan hal yang kasar.
"Masih punya nyali juga berdiri di hadapanku. Jangan mentang-mentang kamu di bela oleh putraku jadi kamu bisa seenaknya. Seharusnya kamu lebih punya harga diri, jangan tahan Rangga di rumah kamu, dia itu punya keluarga, punya mama punya papa!"
"Maaf tapi tan_!"
Belum sampai Zea menyelesaikan ucapannya mama rangga sudah kembali menyambar ucapannya,
"Apa jangan-jangan kamu berani belanja di sini pakek uang anak saya? Iya kan ngaku!"
Mama Rangga mencengkeram kasar lengan Zea sampai Zea meringis kesakitan,
"Tante sakit...!"
"Pantas saja kamu nahan anak saya agar nggak pulang, kamu tuh pantasnya bukan belanja di sini tapi di pasar sana, di sini semuanya mahal jadi nggak usah deh pakek mau belanja di sini. Atau mungkin memang benar, kamu pakek uang anak saya!"
Ucapan mama Rangga memang tidak tinggi tapi begitu menyakitkan bagi Zea hingga tanpa sadar air mata Zea menetes begitu saja membasahi pipinya.
"Siapa jeng? Kenapa nggak bilang-bilang kalau bawa anak muda?" suara seseorang berhasil membuat mama rangga melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Zea.
Beruntung mereka memunggungi wanita itu hingga wanita itu tidak tahu jika saat ini Zea sedang menangis.
Zea pun dengan cepat menghapus air matanya saat mama Rangga berbalik,
"Bukan jeng, ini anak pembantu tetangga kebetulan ketemu tadi di sini, karena kenal ya saya nyapa!"
"Ihhh jeng ini baik banget, sama anak pembantu tetangga aja nyapa loh!"
"Ahhhh, biasa aja. Memang sudah kebiasaan mau bagaimana lagi!" mama Rangga benar-benar pandai untuk cari muka.
"Kebetulan kalau begitu jeng, kenapa nggak minta bantuan dia saja buat pilihin baju untuk menantuku. Lagian kayaknya badannya juga sama, segini!" wanita itu menarik Zea dan mengamati tubuh Zea.
"Ahhhh jangan deh jeng, dia nggak akan ngerti fashion, anak pembantu tahu apa!?"
"Anak muda itu paling tahu jeng, mana yang di suka sama tidak!"
Zea tidak bisa menjawab apa-apa apalagi saat ini tatapan mama Rangga sedang mengintimidasi, seolah-olah memintanya untuk segera pergi.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1