
Zea saat ini sudah duduk atas toilet menunggu hasil testpack yang tengah ia pegang di tangannya. Perasaannya benar-benar sedang tidak karuhan sekarang menanti kepastian. Antara cemas dan juga ragu, ia terus memandangi benda kecil itu.
"Zee, aku pulang!" suara itu segera menyadarkannya. Ia pun bergegas berdiri dari duduknya dan menyakukan benda kecil itu ke dalam saku celananya.
Ia dengan cepat keluar dari kamar mandi dan menyambut kedatangan Rangga.
"Ga, masih jam segini, kenapa sudah pulang?"
Rangga segera memeluk Zea, ia masih tidak ingin menjawab pertanyaan Zea. Seharian bekerja cukup membuatnya lelah, hanya berada dalam nyamannya pelukan Zea yang ingin ia rasakan saat ini.
"Jangan tanya dulu ya, aku hanya ingin seperti ini sebeeeennntar saja!"
Zea pun akhirnya memilih diam dan membiarkan Rangga berada dalam posisi itu.
Hingga cukup lama barulah Rangga melepaskan pelukannya.
"Kamu ada masalah?"
"Tidak, hanya saja hari ini begitu capek!"
"Duduklah, aku akan membuatkan teh hangat untukmu!"
Rangga pun akhirnya memilih untuk duduk di sofa yang ada di depan ruang tv, melepas jas dan sepatunya. Melonggarkan dasinya, karena Div belum juga kembali hal ini cukup menyita banyak waktu untuknya dan sekretaris Revan. Mereka berdua yang harus menghandle semuanya sampai Div kembali. Walaupun juga ada tim yang membantu mereka, tapi tetap saja semuanya tidak mudah.
Seharusnya Div kembali dalam tiga hari tapi karena ada masalah internal di cabang yang ada di Surabaya terpaksa Div harus menyelesaikannya hingga benar-benar selesai.
Selain mengurus perusahaan, Rangga juga masih harus memastikan Divia berangkat dan pulang dengan aman.
"Minumlah!" Zea kembali dengan membawa segelas teh hangat seperti biasanya, kesukaan Rangga.
Zea ikut duduk di samping Rangga dan mengusap lengan suaminya,
"Pak Divta belum kembali ya?"
"Hmmm!" Rangga hanya menganggukkan kepalanya.
"Pasti berat ya buat kamu, apalagi pak Divta sudah pasti menyerahkan tanggung jawab itu kepadamu dan sekretaris Revan!"
"Ya begitulah!"
Zea kembali teringat dengan testpack yang masih berada dalam sakunya, ia bahkan belum sempat melihat bagaimana hasilnya.
Melihat Zea termenung, Rangga pun menyadarinya.
"Apa terjadi sesuatu?"
Zea dengan cepat menoleh dan menggelengkan kepalanya,
"Tidak, hanya saja tadi ada tamu!"
"Siapa?"
"Nona Ersya dan Felic!"
__ADS_1
Rangga kembali menatap Zea dan memastikan tidak terjadi sesuatu,
"Apa_?"
Sebelum Rangga menyelesaikan ucapannya, Zea segera menggelengkan kepalanya.
"Hari ini justru aku senang karena mereka datang, aku yang salah selama ini. Aku yang terlalu takut untuk menghadapi masalah dan lebih memilih lari dari pada menyelesaikannya!"
"Baguslah kalau kamu sadar, aku tahu kamu Zea ku yang hebat yang tidak akan mudah menyerah dengan keadaan!"
Zea tersenyum dengan apa yang di katakan oleh Rangga, tapi terlihat sekali senyumnya tidak selepas biasanya.
"Masih ada hal lain yang aku tidak tahu?" tanya Rangga penuh selidik.
Zea memilih menatap ke depan dari pada menatap suaminya. Ia seperti sedang merancang bagaimana caranya untuk bicara.
Akhirnya Rangga memilih untuk diam dan menunggu sampai Zea siap untuk bicara.
"Ga!"
"Hmm?"
Rangga dengan cepat menoleh, "Katakan jika kamu ingin mengatakannya!"
"Apa arti seorang bayi bagimu?"
"Bayi?" Rangga memastikan apa yang harus aja ia dengar itu benar.
"Hmmm!" Zea mengangukkan kepalanya dengan pasti, ia sedang ingin melihat bagaimana tanggapan Rangga tentang seorang bayi.
"Jadi kamu menginginkan bayi?"
"Jika kamu keberatan, aku tidak akan memaksa! Bagiku adanya kamu di sisiku sudah cukup membuatku bahagia, aku dan kamu, aku rasa tidak perlu orang lain untuk melengkapi kebahagiaan yang kita miliki!"
"Kalau aku punya bayi?"
Rangga kembali memastikan dengan menatap manik mata wanita yang sudah resmi menyandang status istrinya itu,
"Apa kamu hamil?"
"Bukan!" Zea segera melambaikan tangannya melihat antusiasme suaminya, "Bukan seperti itu, aku hanya tanya seandainya, itu belum tentu kan?"
"Aku pasti akan sangat senang, kebahagiaan kita pasti akan semakin lengkap. Aku yakin jika kita punya bayi, mama pasti juga senang!"
"Tapi hubungan kita! Bahkan belum terdaftar di kantor catatan sipil, hubungan kita tidak seperti hubungan pernikahan lainnya. Aku tidak punya wali untuk pernikahanku!"
"Tidak ada yang aneh dengan hubungan kita Zee, hubungan kita sama. Kalau kamu mau aku bisa mendaftarkan besok!"
"Jangan dulu, aku takut hubungan kamu dengan mama kamu semakin memburuk dengan kita mendaftarkan ke catatan sipil."
"Baiklah, sekarang katakan padaku. Kenapa kamu tiba-tiba membahas soal bayi?"
"Aku tadi hanya sedang coba-coba saja, aku pikir aku terlalu bersemangat!"
__ADS_1
"Maksudnya, kamu coba-coba apa?"
"Bukan apa-apa, tadi ada pelanggan yang menanyakan tentang testpack jadi aku kepikiran untuk ikut membelinya, siapa tahu aku butuh!"
Zea yang tidak ingin membahas secara lanjut pembicaraan mereka pun memilih untuk berdiri,
"Sudah, aku akan siapkan malam malam, kamu mandilah!"
Kletek ....
Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari saku celananya membuat mata Rangga fokus pada benda jatuh itu,
"Itu apa?"
Zea bergegas henda mengambilnya tapi ternyata Rangga jauh lebih cepat.
"Itu bukan apa-apa, berikan padaku!"
Tapi Rangga sepertinya tidak mempedulikan ucapan Zea, ia memilih mengamati benda itu. Mengamati dua garis biru yang tertera di dalamnya.
Matanya benar-benar tidak bisa beralih dari benda itu, ia tahu itu benda apa dan itu apa artinya. Tapi ia sedang dalam fase terkejut, bahagia, haru dan perasaan-perasaan lainnya dalam satu tempat.
"Ga!"
Zea kembali duduk saat melihat suaminya hanya diam sambil memandangi benda itu hingga akhirnya ia bisa melihat setetes air keluar dari sudut mata Rangga.
"Ga, kamu tidak pa pa?"
Zea yang belum tahu bagaimana hasilnya hanya bisa bingung melihat reaksi Rangga.
Rangga segera menatap Zea dengan mata uang berkaca-kaca, bibirnya bergetar bahkan untuk mengucapkan satu kata saja ia seakan tidak bisa.
"Ga, kenapa?" Zea semakin di buat khawatir.
"Zee, sayang ...!" Rangga hanya bisa menunjukkan benda kecil di tangannya itu tanpa bisa melanjutkan ucapannya.
Zea segera mengambil benda kecil yang jatuh dari saku celananya itu. Ia melihat apa yang di lihat oleh Rangga. Tapi Zea malah terlihat bingung,
Bagaimana aku selanjutnya dengan anak ini? Apa semua akan berjalan baik?
Zea mengusap perut ratanya, perasaan ragu itu masih selalu menyelimutinya.
Srekkkk
Berbeda dengan Zea, Rangga begitu antusias menyambut anak pertamanya. Ia segera memeluk sang istri.
"Terimakasih ya sayang, ini benar-benar kado terindah buat aku. Jaga dia untukku ya!" bisik Rangga sambil terus mengusap punggung Zea, air matanya bahkan tidak mampu ia bendung. Ia memang begitu cengeng, tapi dalam hal-hal tertentu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @ tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...