Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (124. Rindu yang tak terbendung)


__ADS_3

Rangga kembali dengan membawa satu bungkus sosis bakar.


"Makanlah!" ucapnya sambil menyerahkan pada Zea.


"Terimakasih ya Ga!"


"Sama-sama, asal kamu dan dia sehat. Aku juga senang!"


Zea tersenyum, Kenapa aku merasa, saat Rangga bersamaku seolah-olah dia sudah mengingat semuanya ....


Zea pun tidak mau berharap terlalu banyak, ia pun segara menyantap sosisnya yang masih hangat.


"Oh iya, tadi baju papa sudah dapat?" tanya Zea saat ingat dengan tujuan mereka datang ke tempat itu.


"Sudah! Nihhh!" Rangga menunjukkan paperbag yang ada di tangannya.


"Maaf ya, aku jadi nggak ikut bantuin!"


"Nggak pa pa! Bagiamana, sekarang mau ke mana lagi?"


"Aku mau pulang aja, capek!"


"Baiklah, aku akan mengantarmu!"


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang, seperti saat mereka berangkat, merekapun memakai mobil sedangkan motor Rangga di bawa oleh bodyguard Zea. Tapi kali ini Rangga menyuruh bodyguard Zea untuk menunggu mereka di rumah Zea saja, ia memberi jaminan bahwa akan memulangkan Zea dengan selamat.


Rangga sengaja mengajak Zea ke suatu tempat dulu sebelum pulang. Rasanya menghabiskan banyak waktu dengan zea masih terasa kurang,


"Memang kita mau ke mana dulu Ga?"


"Aku sudah lama tidak ke pantai, tidak pa pa kan kalau kita ke sana sebentar, tidak usah turun. Kita lihat matahari terbenamnya dari mobil, pantainya juga yang sini aja!"


"Iya, aku mau!"


"Baiklah, kita berangkat!"


Mungkin karena pengaruh hormon, Zea jadi mudah sekali mengantuk. Belum sampai setengah jalan, matanya sudah terpejam. Rangga menarik kepala Zea agar menyandar ke bahunya.


Hingga sampai di pantai yang di tuju, Zea belum juga membuka matanya. Kelihatannya ia begitu nyaman tidur di bahu Rangga.


Karena merasa kasihan dengan posisi Zea, Rangga pun mengatur posisi kursi Zea hingga sandarannya sedikit ke belakang, dan meletakkan bantal kecil di sana, membiarkan Zea tidur dengan nyaman.


Hembusan angin yang kencang dari pantai, membuat udara terasa lebih dingin, Rangga pun melepas jasnya dan menutupkannya ke tubuh Zea.


Tapi saat menatap wajah tenang Zea yang tengah tertidur, Rangga begitu tertarik. Ia mendekatkan wajahnya, ingin sekali rasanya mencium bibir itu.


"Apa kamu akan marah jika aku menciummu?" tanyanya dengan suara lirih. Ia tidak mungkin mencium Zea dalam keadaan Zea yang bangun.

__ADS_1


Rangga pun benar-benar mendekatkan bibirnya, menempelkan bibirnya di atas bibir Zea. Tapi saat bibir itu menempel, rasanya begitu sayang untuk ia tarik kembali, ia ingin menikmati lebih dari itu. Bibirnya mulai me*um*t bibir Zea dengan begitu lembut hingga menimbulkan suara lenguhan dari bibir Zea dan hal itu berhasil membangunkan gairah Rangga yang berusaha keras ia tahan.


Hingga akhirnya Zea membuka matanya dan mendapati Rangga yang tengah menciumnya,


Rangga, kamu menciumku?


Seperti sebuah mimpi yang berlanjut, padahal ia baru saja bermimpi Rangga tengah menciumnya dan ia akan sangat menyesal saat bangun. Tapi kali ini ia benar-benar tidak menyesal karena Rangga benar-benar menciumnya.


Saat Rangga hendak menarik bibirnya menjauh, tangan Zea pun ia kalungkan di leher Rangga agar pria itu tidak menghentikan ciumannya.


Dengan begitu berani, Zea mendekatkan bibirnya dan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Rangga tadi, ia dengan berani mel*mat bibir Rangga, mengulumnya hingga membuat Rangga benar-benar tidak bisa menghindar lagi karena ia juga begitu menginginkannya. Akhirnya ciuman itu menjadi ciuman yang begitu panas di antara meraka berdua. Bahkan kini tangan Rangga tidak hanya diam, ia mulai menyusupkan tangannya di balik dress selutut yang di kenakan oleh Zea, mencari daerah sensitif yang di miliki Zea hingga membuat Zea menggeliat di buatnya.


Mendengar des*han yang keluar dari bibir Zea, membuat Rangga semakin bersemangat, gairah Rangga seperti terpancing.


Ia hampir saja melepas semua pakaian yang menutupi tubuh Zea, tapi segera akal sehatnya berfungsi, ia masih punya misi besar untuk mengungkap siapa di balik dalang kecelakaan yang menimpanya.


Rangga dengan cepat menarik tangannya, merapikan baju Zea kembali,


Kenapa ga? Seketika. perasaan kecewa menyelimuti Zea. Ia benar-benar merindukan sentuhan dari sang suami.


"Maafkan aku Zee! Aku kelepasan!" ucapnya sambil memalingkan wajahnya ke tempat lain, sebenarnya ia sendiri sedang tidak ingin menghentikan apa yang baru saja ia lakukan tapi demi sesuatu yang lebih besar ia harus bisa menahannya hingga waktunya tiba.


Zea bingung harus menjawab apa, jelas ia mau jika Rangga melakukan lebih dari yang tadi. Tapi mengingat bagaimana hubungan mereka saat ini, ia takut Rangga akan mengira ia gampang untuk di sentuh pria manapun.


Zea memilih diam dan menatap ke arah lain. Ia tidak punya jawaban yang tepat atau sanggahan yang tepat, saat ini ia hanya ingin menormalkan detak jantungnya, biarkan detak jantungnya tersamarkan dengan suara deburan ombak yang mereka karang.


Pagi ini Zea sudah berada di dalam ruangan papanya, ia tengah mencari berkas-berkas lama yang pernah papanya tunjukan pada dirinya.


"Sebenarnya kamu lagi nyari apa sih, nak?" tanya tuan Seno yang terus mengikuti putrinya itu.


"Papa masih ingat nggak sih pa, berkas yang waktu itu papa tunjukin ke Zea pas papa minta Zea buat tes DNA!"


"Berkas itu ya, bentar papa ingat-ingat dulu. Kalau tidak salah terakhir kali papa bawa ke tempat pengacara kemudian papa simpan lagi di_, ahhh iya, di lemari itu sama barang-barang mama kamu yang lain!" tuan Seno pun segera berjalan ke arah lemari besar yang berada di salah satu sisi dinding ruang kerja itu, sebuah kotak besar yang terbuat dari plastik segera ia keluarkan dari lemari.


"Ini semua barang-barang mama, pa?"


"Iya, sengaja papa simpen buat obat kalau papa kangen sama mama kamu!"


"Boleh nggak pa, kalah ini semua buat Zea?"


"Simpen saja, nanti biar pelayan yang bawa ke kamar kamu. Dan ini berkas yang kamu cari!"


"Makasih ya pa!"


"Sebenarnya buat apa sih, kamu dari tadi belum jawab pertanyaan papa!"


"Papa kenal sama yang namanya Rusdi nggak pa?"

__ADS_1


"Rusdi?"


"Iya, Rusdi. Seorang perawat di rumah sakit deh kayaknya pa!"


"Kamu lihatnya di mana?"


"Kemarin tanpa sengaja Zea melihat nyonya Widya lagi ngobrol sama pria itu, aku pikir papa tahu sesuatu. Atau kalau enggak mama pernah cerita sesuatu."


"Enggak tuh, kalau kamu mau papa menyelidikinya, papa akan lakukan!"


"Nanti dulu pa, biar Zea cari dulu petunjuknya. Nanti janji ya pa, papa mau bantu Zea nyariin!"


"Iya pasti!"


Zea pun segera kembali ke kamarnya dengan berkas-berkas milik mamanya, ia ingin tahu di mana ia di lahirkan, di rumah sakit mana dan siapa yang membantu proses kelahirannya, setelah mendengar percakapan nyonya Widya kemarin ia jadi yakin ada sesuatu di balik semua itu.


Ia pun mulai membuka-buka berkas lama yang sudah tampak usam itu. Hingga akhirnya pencariannya tidak sia-sia, ia menemukan sebuah catatan rumah sakit, tempat ia di lahirkan.


Zea pun segera memperlihatkan hal itu pada papanya,


"Sekarang apa yang bisa papa bantu?"


"Zea mau ke rumah sakit itu pa dan mencari yang mananya Rusdi!"


"Baiklah, papa akan temenin. Kapan maunya?"


"Bagaimana kalau sekarang aja pa, aku ingin semuanya segera terungkap!"


"Baiklah, kalau kamu mau, kita tidak perlu turun tangan sendiri. Ajudan papa bisa melakukan semuanya!"


"Zea juga penasaran tempatnya seperti apa pa!"


"Baiklah, kalau mau kamu seperti itu, kita pergi ke sana sekarang. Tapi ingat, kamu nggak boleh gegabah. Ku tahu kan siapa yang sedang kamu hadapi sekarang?"


"Iya pa, Zea mengerti. Zea cuma mau lihat aja, selebihnya pasti Zea akan serahkan sama ajudan papa!"


Zea pun akhirnya di temani sang papa dan beberapa anak buahnya mencari tempat di mana ia di lahirkan sesuai dengan catatan media yang di tinggalkan oleh sang mama.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2