Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Kesepian dr. Frans


__ADS_3

Pria berjas hitam dengan perawakan tidak kalah tampan dengan dokter Frans itu menghampiri dokter Frans yang sedang duduk termenung di tempatnya


biasa nongkrong bersama sahabat-sahabatnya.


Pria itu adalah pemilik kafe tempat biasa


dokter Frans nongkrong bersama dua sahabatnya.


“Sendiri aja Frans?” tanyanya saat sudah berada di dekat dokter Frans Menyadari ada orang lain di sampingnya ia pun segera mendongakkan kepalanya.


“Eh lo Za …, duduk Za!” Dokter Frans menggeser duduknya dan memberi tempat pada temannya itu.


Pria yang di panggil oleh dokter Frans , Za itu adalah Eza. Eza juga salah satu teman dokter Frans saat dokter Frans menempuh pendidikan di SMA. Dan kini kafenya sering menjadi tempat berkunjung para teman SMA nya. Jadi lebih mirip seperti reoni setiap datang ke kafe.


“Kenapa sendiri aja, sudah lama Agra dan Rendi nggak ke sini?” Tanya Eza penasaran, karena beberapa tahun terakhir mereka jarang bersama-sama.


 “Mereka sudah sibuk sama keluarganya!” Jawab dokter Frans dengan sedikit helaan nafas, ada kesunyian di dalam kata-kata nya.


“Lo pasti kesepian banget ya. Makanya cepetan nikah, masak kalah sama Agra dan Rendi.


Padahal kalau di liat malah lo loh yang dari dulu banyak temen ceweknya! Apa lagi tuh si Rendi, nggak pernah deket sama cewek. Eh …, sekali deket langsung nikah aja! Kurang gercep lo ....!” ucap Eza panjang lebar.


“Emang nasib gue kali ya yang nggak baik!” ucap dokter Frans dengan gaya santainya.


“Lo kali yang memang nggak mau buka hati buat orang lain!” ucap Eza dengan sok tahunya.


“Maksud lo?” dokter Frans gagal mencerna ucapan temannya itu.


“Lo masih ngarepin Zea kan? Memang sudah ketemu anaknya?”


"Kenapa lo mikir gitu?" dokter Frans malah balik bertanya.


"Sudah jadi rahasia umum kali Frans kalau lo masih cinta sama Zea, siapa juga yang nggak suka sama Zea, lo beruntung karena telah di pilih sama Zea."


"Sudah cantik, baik lembut lagi ......!"


Dokter Frans bingung harus menjawab bagaimana. Memang benar, gadis yang bernama Zea itu begitu spesial di hatinya. Bahkan mungkin tidak akan pernah terganti. Tapi beberapa tahun yang lalu saat ia kembali dari pendidikannya, ia sempat mencari


Zea ke panti asuhan tapi di sana ia tidak dapat menemukannya. Orang-orang di


sana pun tidak mengetahui keberadaannya.


Dokter Frans meneguk minumannya yang sedari tadi hanya ia lihat. Ia masih begitu sulit


untuk membuka hatinya untuk orang lain. Ia masih berharap, suatu saat nanti


akan di pertemukan kembali dengan gadis itu.


"Tapi jika lo emang tidak di takdir kan buat dia, ya lo harusnya pindah haluan aja!" ucap Eza terus saja bicara panjang lebar, mencoba membuat pengertian untuk teman lajangnya itu.


“Lo nggak usah lah Frans terus-terusan nutup hati lo buat orang lain, siapa tahu


ada hati lain yang bakalan membuat lo merasa nyaman!” lanjut Eza.


“Ih…, tumben lo pinter, habis di kasih makan apa sama istri lo?!” dokter Frans malah menanggapinya dengan begitu enteng.


“Lo ini ya kalau di bilangin …., yah lo ngerti lah apa yang gue maksud. Lo cukup


bijak buat menyikapi semuanya!”


Malam akhir pekan ini dokter Frans menghabiskan waktunya mengobrol dengan Eza sepanjang malam, walaupun Eza ingin segera pulang, tapi melihat dokter Frans yang kesepian membuatnya tidak tega, untung saja istrinya pengertian dan mengijinkannya pulang terlambat.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


Akhir pekan yang biasanya ia habiskan bersama sahabat-sahabatnya. Kini ia hanya


sendiri. Hari minggu ini dokter Frans hanya rebahan di rumah saja, ia benar-benar kesepian.


Sepanjang hari ia menghabiskan waktunya di depan tv. Bi Molly yang melihat majikannya


hanya rebahan saja merasa keheranan.


“Tuan….!” sapa bi Molly.


“Iya bi?” dokter Frans pun menoleh sebentar dan kembali fokus pada acara televisi.


“Nggak jalan-jalan atau kemana gitu, tuan?” tanya bi Molly, dokter Frans memang sangat akrab dengan bi Molly, tidak ada kekakuan atau keformalan seperti di tempat Agra maupun Rendi.


“Nggak ah bik, males …, nggak ada temennya! Apa bibi aja ya yang temenin!” ucap dokter Frans sambil menggoda bi Molly.


“Ahhh…, tuan ini …, ada ada aja. Emang nggak malu apa ngajak bibi …!”


“Ya nggak lah bi ….!”


“mending tuan segera cari istri saja lah …, biar nggak kesepian lagi. Bibi juga senang


nanti kalau ada nyonya di rumah ini pasti nggak akan sepi!”


“Bibi ini ada-ada aja …, calon aja nggak ada gimana mau nikah! Ya udah lah bi, aku ke


kamar dulu …, jangan lupa nanti masakin yang enak buat aku!”


“Siap tuan!”


Matanya enggan terpejam, pikirannya melayang kemana-mana, ia jadi kepikiran


sama apa yang di katakan oleh Eza dan juga bibi Molly.


“Apa gue nikah aja ya? Tapi sama siapa?”


“Cinta gue kayaknya nggak bakalan kesampean, lalu mau sampek kapan dong gue hidup sendiri. Menikah kan nggak perlu cinta yang penting komitmen! Gue punya banyak


temen cewek, tapi siapa? Semua temen cewek gue nggak ada yang sesuai dengan


kriteria ideal sebagai istri menurut gue!”


“Ya Tuhan …., tolong dong kirimin cewek buat gue …., masak Cuma mereka berdua sih


yang di kasih pasangan, gue enggak! Apa coba kurangnya gue, gue cakep, smart,


soleh, baik hati dan tidak sombong, menantu idaman lagi!”


Dokter Frans gemas dengan dirinya sendiri hingga ia memukul-mukul bantal yang berada


di sampingnya, ia menutup kepala dan telinganya dengan bantal itu. Berusaha


menghilangkan segala pikiran-pikiran yang membuatnya semakin gundah.


❤️❤️❤️❤️


Pagi ini begitu cerah tapi tidak secerah pikiran dokter Frans, ia masih terus


kepikiran dengan masalah menikah. Ia hanya berfikir jika menikah hanya perlu

__ADS_1


komitmen bukan cinta.


“selamat pagi dok!” sapa beberapa perawat dan dokter yang berpapasan dengan dokter


Frans.


“Selamat pagi!” jawab dokter Frans singkat. Tak biasanya, biasanya jika di sapa ia


selalu menambahkan embel-embel pada jawabnya. Misalnya saja jika perempuan,


dokter Frans biasa mengatakan tambah cantik, jadi gemukan, tambah seger, dan


lain sebagainya. Kalau untuk pria biasanya dokter Frans akan memberi tambahan


tambah capek, tambah smart, dan masih banyak lagi. Tapi kali ini begitu


singkat.


Dokter Frans memasuki ruangannya, ia sedang tidak mood untuk melakukan kunjungan


pasien. Ia memilih duduk diam di kursinya sambil memikirkan langkah


selanjutnya. Ia ingin segera menikah biar tidak kesepian lagi, tapi ia belum


punya orang yang tepat untuk jadi istrinya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan dokter Frans, ia segera menurunkan kakinya


yang semula ia naikan ke atas meja.


“Masuk!”


Seorang dokter wanita, dia adalah asisten dokternya namanya dokter Sifa.


“Maaf dok menggangu!”


“Ada apa dokter Sifa?”


“Ada satu pasien yang perlu di operasi hari ini dok! Apa dokter Frans bisa melakukan


operasi hari ini juga?”


“Baiklah…, kamu siapkan ruang operasinya!”


“Baik dok!”


“Dan ya …, minta dokter Edwin untuk membantu saya!”


“Baik dok!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2