Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Kenapa tidak pernah cerita?


__ADS_3

            Setelah selesai dengan urusannya,


Dokter Frans pun kembali ke rumah. Sesampai di rumah ia langsung di sambut


dengan tatapan penuh introgasi dari semua anggota keluarga. Terutama ayah Dul.


“Assalamualaikum ayah, ibu …, ada apa ya?” tanya dokter Frans sambil ragu untuk masuk ke dalam rumah melihat tatapan ayah Dul.


“Waalaikum salam, masuk!”


Dokter Frans pun segera masuk dan mendekati Felic, ia menatap felic penuh tanya, Felic


hanya mengangkat kedua bahunya.


“Duduk!”


perintah ayah Dul lagi saat melihat dokter Frans masih tetap berdiri. Dokter


Frans tampak begitu grogi menghadapi ayah Dul.


Dokter Frans pun menarik tangan Felic untuk menemaninya duduk, mereka akhirnya duduk


berdampingan tanpa sekat. Sedangkan ayah Dul duduk di hadapan mereka.


“jelaskan sama ayah, apa ini?” tanya ayah Dul sambil menunjuk sebuah map yang ada di meja depannya.


“Map, yah …!”


“Buka!”


perintah ayah Dul, dengan tangan gemetar dokter Frans mengambil map itu, ia


benar-benar takut membukanya.


Jangan-jangan ayah mertua pengen


aku sama felic pisah gara-gara ketahuan siapa aku …., bagaimana kalau ini surat


cerai …, belum juga …, sudah di suruh ….


Batin dokter Frans sudah melayang ke mana-mana. Ia benar-benar takut jika jati


dirinya di ketahui ayah mertuanya dan meminta untuk menceraikan putrinya.


“Ayo buka!” perintah ayah Dul lagi karena melihat dokter Frans begitu ragu untuk


membukanya.


Dokter Frans pun menghela nafas beratnya, ia harus siap dengan semua konsekwensinya.


Ia segera membukanya map itu, sesekali ia menatap Felic. Setelah melihat kop


surat itu ia baru tahu jika itu merupakan sertifikat rumah beserta tanahnya


yang sudah beralih atas nama ayah Dul.

__ADS_1


“sekarang jelaskan sama ayah!” ucap ayah dul lagi, dokter Frans bernafas lega setidaknya


itu bukan surat yang ada dalam pikirannya.


"Ini sertifikat rumah yah!"


"Ayah tahu itu sertifikat rumah, tapi jelaskan sama ayah bagaimana sertifikat itu bisa beralih menjadi atas nama ayah?"


Lagi-lagi dokter Frans hanya bisa menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Ia tersenyum menatap ayah mertuanya dengan senyum biasanya itu.


"Frans ...., jelasin sama kita, aku, ayah dan ibu!" ucap Felic mendesak membuat dokter Frans semakin bingung saja.


Mungkin ini waktu yang tepat baginya untuk menceritakan semuanya kepada orang tua Felic dan Felic.


"Iya Frans ...., ibu juga penasaran! Apa kamu baru jual warisan? Uangmu banyak sekali!" ibu Felic juga semakin penasaran dengan menantunya itu.


"Bukan seperti itu!" jawab dokter Frans singkat membuat semua mata tertuju dan fokus hanya padanya.


"Lalu?" tanya mereka bertiga serentak membuat dokter Frans kembali tersenyum.


"Jadi begini ....!" dokter Frans menghela nafas berat, ia bersiap untuk menceritakan semuanya.


“Maafkan Frans Karena sebelumnya Frans tidak pernah bercerita sama ayah dan semuanya!”


“Maksudnya? Ayo lanjutkan!”


tanya ayah Dul penasaran begitupun dengan Felic yang segera menatap dokter


Frans.


Mendengarkan penuturan dari dokter Frans semua pun tercengang.  Terutama ibu Felic, ia yang baru saja dari dalam terpaku menatap menantunya itu tidak percaya.


"Pemilik? maksudnya yang punya rumah sakit besar itu? Sendiri?" tanya ibu mertuanya begitu tertegun tak percaya.


"Iya ibu ...., itu Frans bangun atas bantuan ibu angkat Frans, nyonya Ratih. Felic sudah pernah melihatnya, iya kan Fe?" dokter Frans sedang mencari pendukung. Memang sebelum pulang dari rumah sakit mereka sempat bertemu dengan nyonya Ratih.


“jadi yang kamu katakana waktu itu_?” Felic teringat dengan ucapan dokter Frans


beberapa waktu lalu yang ia anggap hanya candaan dari dokter Frans.


“Iya…, itu bukan candaan. Aku mengatakan yang sebenarnya! Tapi kamu nya nggak percaya!”


"Wajah kamu nggak ada serius-serius nya soalnya ....!" keluh Felic juga.


Ayah Dul masih terdiam, mendengar perdebatan antara Felic dan dokter Frans. ia mencoba mengumpulkan semua kepingan-kepingan ucapan menantunya itu semenjak mereka tinggal bersama. Banyak banget kata-kata menantunya itu yang selalu ia anggap sebagai candaan belaka.


“Jadi maksudnya, tentang rumah sakit, mobil, rumah besar itu ada?” tanya ayah Dul


sambil mengingat semua ucapan dokter Frans saat itu.


“Iya ayah …, tapi berjanjilah setelah ini sikap kalian akan tetap sama seperti sebelumnya!”


Astaga ....., sebenarnya orang yang seperti apa yang gue nikahi ini ....?


Felic benar-benar tidak menyangka dengan apa yang di dengar saat ini.

__ADS_1


Apa Frans ini seorang sultan? Lalu ngapain mau nikah sama gue? Apa ini hanya mimpi? Gue cuma office girl dan dia ....., astaga ....


Semua terdiam, dokter Frans pun hanya bisa menghela nafas kasar. Ia akan menerima


segala konsekwensinya nanti, apapun yang akan terjadi setelah ini.


“Ayah …, Fe mau cari angina dulu …!” ucap felic kemudian, ia masih harus menenangkan


pikirannya, mencoba mencerna semuanya.


Felic memilih meninggalkan rumahnya dan mengayuh sepedanya. Dokter Frans tahu di mana ia akan mencari Felic setelah ini.


dokter Frans masih tetap diam di tempatnya, sebelum mengejar Felic ia harus menjelaskan


dengan mertuanya dulu.


“Ayah mertua …, ibu mertua …, Frans benar-benar tak ada maksud membohongi ayah sama ibu, sungguh!”


“Apa ayah dan ibu benar-benar marah sama Frans?” tanya dokter Frans lagi karena tak


mendapat sahutan dari kedua mertuanya.


"Ya Allah ...., ibu ini sebenarnya masih bingung harus bahagia atau bagaimana! Ibu rasanya mau pingsan saja!" ucap ibu mertuanya sambil memegangi dadanya yang seperti mau meledak.


"Jangan dong bu ....!"


"Dasar kau ini ya ...., memang anak nakal ya ....! Begini ya rasanya punya anak laki, suka banget ngisengin orang tua!" ucap ibu mertuanya lagi sambil memukul kepala dokter Frans.


Lagi-lagi dokter Frans hanya bisa tersenyum sambil mengusap kepalanya yang di pukul ibu mertuanya itu.


"Bener kata ibumu, ayah juga bingung harus bagaimana. Di depan ayah ternyata ada orang seperti pak Rendi. Ayah dulu selalu berharap punya anak laki-laki yang bisa sehebat pak Rendi, dan sekarang ayah melihatnya sendiri di rumah ayah!"


"Jadi maksudnya ini ..., ayah sama ibu nggak marah kan sama Frans karena Frans bohong sama kalian?"


"Kalau dulu sebelum menikah dengan putri ayah kamu sudah datang dengan mobil mewah dan lengkap dengan pengawalnya mungkin ayah akan berpikir ratusan kali untuk menerimamu sebagai menantuku, tapi sekarang aku tahu ternyata sultan pun juga manusia biasa!"


"Jadi ....?" dokter Frans begitu penasaran dengan keputusan ayah mertuanya.


"Kalau sekarang ...., ya ayah anggap ini sebagai bonus, atau dor prize untuk ayah karena dapat menantu kaya dan juga tampan seperti mu!"


"Yes yes yes ......!" dokter Frans melompat kegirangan, setidaknya sekarang ia sudah bisa meyakinkan kedua mertuanya sekarang tinggal Felic.


"Kalau begitu ijinkan Frans menyusul Felic!"


"Ya sudah pergi sana .....!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘😘

__ADS_1


__ADS_2