
Setelah memastikan jika barang-barang belanjaan itu semuanya masuk, Wilson pun kembali menghadap dokter Frans. Ia harus pamit karena ia harus melakukan tugas selanjutnya dari dokter Frans.
Tugas kedua :
...membawa pengacara kepada Tisya dan menyerahkan selembar cek berjumlah satu milyar....
"Tuan dokter, nyonya Felic!" sapa Wilson saat menghampiri dokter Frans dan Felic yang sedang duduk berselonjor di ruang keluarga. Dokter Frans terlihat memijit kaki istrinya itu.
Felic pun segera menoleh ke sumber suara, dokter Frans juga tapi tangannya tidak menghentikan kegiatannya untuk memijat kaki istrinya.
"Wil, ada apa?" tanya Felic, ia juga menoleh pada suaminya. Ia berharap suaminya ada pekerjaan penting hari ini dan meninggalkannya setengah hari saja dan dia bisa melakukan apapun yang ia mau.
"Saya permisi keluar dulu, tuan, saya harus menemui seseorang!"
Dokter Frans sudah faham kerena dia yang mengatur skenario itu. Tapi sepertinya ia lupa jika skenario hati mereka tidak bisa di atur kapan akan datang.
"Pergilah dan bawa berita bagus untuk saya!"
"Siap tuan, kalau begitu saya permisi!"
Dokter Frans hanya mengibaskan tangannya, ia hari ini hanya ingin bermesraan dengan istrinya saja dan tidak ingin di ganggu dengan apapun.
Wilson pun seperti biasa, menunduk memberi hormat lalu mundur dua langkah dan segera meninggalkan tempat.
"Memang Wilson mau menemui siapa?" tanya Felic saat Wilson sudah menghilang di balik dinding.
"Ada urusan penting, ini masalah hidup dan matinya!"
Felic mengerutkan keningnya, "Benarkah? Apa?"
"Nggak usah penasaran, dan jangan banyak mikir, ntar baby kita ikut mikir!"
"Issstttttt!"
Meninggalkan percakapan suami istri itu, di luar Wilson segera menuju ke mobilnya yang juga ikut terparkir dengan mobil-mobil lainnya.
Walaupun tidak sebagus milik dokter Frans, tapi mobil itu masih di atas standard mobil orang biasa.
"Mau pergi lagi?"
Pertanyaan seseorang itu berhasil membuatnya menghentikan langkahnya, ia menoleh ke sumber suara. Suara yang sangat ia kenal.
"Paman Richard!"
"Mau ke mana? Akhir-akhir ini aku lihat kamu sibuk sekali? Apalagi setelah menikah!"
"Iya paman, tuan dokter memberiku tugas yang sedikit berbeda!"
"Mungkin tuan dokter sedang ingin menyiapkan sesuatu untukmu!"
"Maksud paman?"
"Nanti kamu juga tahu sendiri, cepetan berangkat sana!"
"Memang apa yang sedang di siapkan? Menyiapkan keruwetan dalam hidupku!" gumam Wilson sambil masuk ke dalam mobil, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Wilson pun mulai mengemudikan mobilnya, ia harus menuju ke tempat kerja istrinya.
Sudah hampir lewat jam makan siang, pasti Tisya sudah menunggunya sedari tadi.
Di tepat Tisya, wanita itu terlihat masih mondar mandir di depan meja kerjanya.
"Lo ngapain sih Tis, dari tadi gue lihat mondar mandir kayak kurang kerjaan aja!"
Sari sampai pusing melihat kelakuan rekan kerjanya itu. Tisya sampai tidak makan siang gara-gara terus mondar-mandir mandir tidak jelas.
"Bisa diam nggak!?" bentak Tisya kesal.
"Judes amet!"
__ADS_1
Untung Sari bukan tipe orang yang mudah marah ataupun tersinggung. Walau pun mereka baru berteman beberapa bulan saja, Sari sudah cukup faham dengan sifat Tisya yang kadang meledak-ledak. Suka judes dengan orang-orang yang tidak terlalu di kenal, arrogant juga.
"Sudah tahu lagi pusing, masih juga di tanya!"
Tisya pun akhirnya memutuskan untuk kembali duduk di bilik nya, bersebalahan dengan bilik milik Sari.
Tisya kembali fokus dengan pekerjaan nya. Sari pun memilih untuk diam, tapi kemudian matanya berbinar saat melihat seseorang masuk ke dalam ruangan mereka.
"huuttts ...., huutttts ...., huuttts ...!" Sari berusaha memanggil Tisya, tapi Tisya memilih untuk tidak mempedulikan Sari.
Pria itu memberi isyarat pada Sari untuk diam, pria itu mendekat ke meja Tisya dan menyentil puncak kepala Tisya beberapa kali
"Apaan sih Sari!" gerutu Tisya, "Jangan ganggu! Nggak tahu apa kalau aku lagi sibuk!"
Tapi Pria itu masih terus menyentil kepalanya membuat Tisya benar-benar kesal, Tisya pun menarik tangan itu.
"Sar_!" ucapannya menggantung saat tahu jika tangan itu bukan milik Sari.
"Wilson!"
"Kenapa? Kesal ya? Ayo!" ajak Wilson.
"Males ...., di tunggu dari tadi kemana aja?"
"Jangan malas, ingat satu M hari ini!"
Seketika mata Tisya berbinar. Hidupnya bersemangat lagi.
"Ayo!"
Tisya dengan cepat berdiri dan menyambar tasnya. Hal itu membuat Sari begitu penasaran sebenarnya apa yang sedang di bicarakan oleh pengantin yang masih sangat baru itu.
"Eehhhh kalian mau ke mana?" tanya Sari yang melihat Tisya pergi begitu bersama suaminya.
"Ada perlu sebentar, nanti ijin Sampek sore ya!" ucap Tisya sambil berlalu bersama Wilson.
Mereka sudah berada di dekat mobil. Wilson sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Ayo cepetan, kita sudah telat!"
"Dia yang telat kenapa dia juga yang sewot!" gerutu Tisya yang juga masuk ke dalam mobil.
Mobil Wilson sudah mulai melaju meninggalkan kantor tempat kerja Tisya. Mereka menuju ke sebuah rumah yang sudah di sulap menjadi kantor.
"Ini ya rumah pengacaranya?"
"Iya! Ayo masuk!"
Tapi saat kaki mereka hendak memasuki pintu, Wilson kembali menghentikan langkahnya.
"Tunggu!"
"Apa lagi?"
"Kita harus terlihat seperti suami istri sungguhan kan?"
"Suami istri sungguhan ya!" gumam Tisya tampak berpikir.
"Hemmmm, bagaimana kalau begini?"
Tisya melingkarkan tangannya ke lengan kekar Wilson.
Wilson pun tersenyum, "Begini jauh lebih bagus!"
Wilson pun mengajak Tisya masuk. Kedatangan mereka langsung di sambut seorang wanita dengan pakaian rapi.
"Selamat datang pak Wilson, pak Hartono sudah menunggu anda!"
__ADS_1
"Terimakasih!"
Wanita itu menggiring mereka ke ruangan selanjutnya. Seorang pria sedang duduk di kursinya.
Saat melihat kedatangan Wilson dan Tisya, pria itu pun segera berdiri dan menyambut kedatangan mereka.
"Pak Wilson, selamat datang! Silahkan duduk!"
Jadi ini pengacaranya ...., batin Tisya mengamati pria paruh baya berbadan tegap itu. terlihat meyakinkan dengan tag di depan mejanya beberapa gelar hukum yang melekat pada namanya.
Wilson dan Tisya pun duduk di kursi yang berada di depan meja kerja pria itu. Pria yang usianya sekitar empat puluh tahunan itu segera memberi selamat atas pernikahan mereka.
"Selamat atas pernikahan kalian, maaf pas acara saya tidak bisa datang!" ucap pria itu sambil tersenyum.
"Tidak pa pa pak, kami bisa maklum!"
"Baiklah, jadi ini dokumen yang harus kalian tanda tangani!" ucap pria bernama Hartono itu sambil menyodorkan sebuah map yang sudah terbuka berisi surat perjanjian yang sama.
Tisya terlihat membaca sekilas sebelum membubuhkan tandatangan di atas surat perjanjian itu, persis seperti yang pernah Wilson tunjukkan sebelumnya.
"Nona Tisya, anda benar istri pak Wilson?" tanya pak Hartono memastikan.
"Iya pak!"
Tisya pun kembali fokus pada kertas di depannya, Wilson menunggu hingga Tisya selesai. Setelah wanita itu membubuhkan tanda tangan, ia pun menggeser dokumen itu kepada Wilson dan gantian Wilson yang membubuhkan tandatangan.
"Karena kalian sudah setuju, jadi saya akan menyerahkan cek berisi satu milyar ini pada kalian dan untuk sisanya saya akan memberikan saat usia pernikahan kalian menginjak satu tahun!"
Pak Hartono menyerahkan cek itu kepada Wilson dan Tisya.
Setelah selesai dengan urusannya, mereka berdua segera meninggalkan kantor pengacara itu.
"Semoga pernikahan kalian langgeng ya!"
"Terimakasih pak, kami permisi!"
Mereka segera masuk ke dalam mobil dengan cek sebesar satu milyar di tangan.
Wilson menoleh pada Tisya, ia merogoh kembali saku jasnya dan mengambil selembar cek itu lalu mengacungkannya di depan Tisya, "Ini untukmu!"
"Aku?" Rasanya sangat aneh saja saat sesuatu yang bukan haknya tiba-tiba di berikan untuknya.
"Iya, ambilah dan segera berikan pada tuan Bactiar, setelah itu jangan berhubungan lagi dengannya!"
Tisya dengan ragu mengambilnya. Ia menatap cek itu, jumlah nol yang banyak di belakang angka satu.
"Kamu beneran nggak pa pa ini untukku?"
"Aku masih bisa kerja, jadi jangan khawatirkan aku!"
Wilson segera menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu, Tisya menyimpan kembali cek itu ke dalam tasnya.
"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Wilson sambil sibuk menyetir.
"Aku akan langsung ke kantor papa saja!"
"Baiklah aku akan mengantarmu!"
Bersambung
...Mudah dan sulit adalah dua hal yang jauh berbeda, mudah adalah keadaan yang saat kita mendapatkannya kita tidak punya kepuasan di dalamnya, sedangkan sulit, kita akan tahu rasanya bertahan dan berkorban untuk sampai di titik itu...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG @tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰