
Dokter Frans pun segera menggeser tombol hijau dan menerima panggilan itu,
“Ada apa?”
“Tuan sepertinya nyonya dalam keadaan yang kurang baik!”
Mendengar hal itu, dokter Frans begitu panik. Ia sudah berpikir mungkin Felic
kenapa-kenapa lagi.
“Ada apa dengannya?”
“Nyonya terus menangis bersama sahabatnya!”
“Ya sudah, aku akan menyusul! Awasi dia terus!”
“Baik tuan!”
Dokter Frans segera berlari, dengan tidak sabar ia menunggu pintu lift terbuka hingga
ia beberapa kali menekan tombol yang sama.
Setelah melewati lift, ia segera meminta seseorang menyiapkan mobil untuknya. Dengan cepat ia pun masuk ke dalam mobil dan memacu mobilnya lebih cepat dari
biasanya.
Sesampai di tempat Felic dokter Frans segera turun dari mobil dan meninggalkan mobilnya
begitu saja di depan pintu masuk. Untung saja Wilson yang kebetulan melihatnya segera menghampiri mobil dokter Frans dan meminggirkannya.
Dokter Frans mengedarkan pandangannya dan benar saja saat ia bisa menemukan keberadaan
istrinya istrinya itu sedang berpelukan dengan sahabatnya sambil menangis.
Dia pun berlari menghampiri dua wanita yang sedang menangis itu,
“Kalian kenapa?” tanya dokter Frans dengan nafas yang tersengal-sengal karena terlalu
banyak berlari.
Dua wanita itu meregangkan pelukannya dan menoleh pada dokter Frans, Felic
mengerutkan keningnya karena melihat suaminya tiba-tiba ada di depannya dalam keadaan yang begitu berantakan.
“Frans …?”
Bukannya menjawab Felic, dokter Frans malah menarik tangan Felic hingga ia berdiri dari
duduknya dan memeriksa semua tubuh Felic, wajahnya memastikan jika tidak ada
luka.
“Ada apa?” Felic benar-benar bingung dengan tingkah suaminya itu.
Apa mungkin gara-gara gue diamkan, Frans jadi
setres ya …., waduh kayaknya gue nih yang paling bersalah di sini ….
“Kamu tidak pa pa kan?” tanya dokter Frans lagi memastikan jika semuanya baik-baik saja.
Felic kembali mengerutkan keningnya, seharusnya pertanyaan itu di tujukan untuk
suaminya bukan dirinya. Felic pun meletakkan punggung telapak tangannya ke kening dokter Frans untuk memastikan sesuatu.
“Tidak panas …! Hanya saja sedikit berkeringat! Apa kau demam atau kau merasakan
hal-hal yang aneh di luar kebiasaan mu?” Felic memberondongi dokter Frans dengan banyak pertanyaan seakan-akan memastikan jika suaminya itu memang sedang baik-baik saja.
“Memang aku kenapa?” dokter Frans malah jadi bingung sendiri dengan karena felic berhenti
menangis dan malah mencemaskan dirinya.
“Minumlah …!” Felic menyerahkan segelas air putih pada dokter Frans.
‘Memang ada apa denganku?” tanya dokter Frans bingung dengan gelas yang masih ia pegang tanpa berkeinginan untuk meminumnya.
“Minumlah dulu …!” perintah Felic lagi, Ersya juga memperhatikan wajah panik dokter Frans
itu yang kini malah berubah bingung.
__ADS_1
“Bang ganteng emang lari-larian kenapa?” tanya Ersya setelah dokter Frans meminum air
putih yang ada di tangannya.
“Kalian kenapa nangis? Apa Felic kenapa-napa gara-gara orang-orang tadi?” tanya dokter
Frans. Mendengar suaminya menanyakan hal itu membuat Felic segera menoleh kearah Wilson, ia tahu dialah dalang dari semua ini.
“Wilson …..!”
Dan pria yang menjadi tersangka utama itu hanya bisa nyengir dan tidak berani menatap nyonya-nya, takut di cakar sama istri tuannya itu.
***
Dokter Frans akhirnya mengajak Felic untuk pulang, mereka berada dalam mobil yang sama. Wilson dengan mobil yang lain mengantar Ersya pulang.
Felic masih saja enggan untuk bicara, ia sedang jual mahal aja sebenarnya. Atau memang sengaja pengen nguji suaminya.
“Tetep mau diem-dieman nih ceritanya?” tanya dokter Frans setelah sekian purnama
tetap saja saling diam.
Seakan tidak peduli dengan pertanyaan suaminya, Felic memilih untuk tetap diam dan
menoleh kearah luar.
Hehhhh ….
Dokter Frans menghela nafasnya kesal, ia pun segera meminggirkan mobilnya dan
mematikan mesin mobilnya. Ternyata cara itu berhasil untuk membuat Felic menoleh
padanya.
Felic mengerutkan keningnya, “Ada apa berhenti?”
“Supaya.kamu mau bicara lagi sama aku!”
“Isstttt…..!”
“Sekarang katakan apa salahku!”
“Nggak ada!”
Felic menatap ke depan, mengulum ujung kaosnya.
“Aku saja yang salah, aku yang berharap terlalu banyak dengan hubungan kita!”
“Maksud kamu?”
“Frans …., tinggal bersama dan hidup bersama itu dua hal yang beda!”
“Apa beda nya? Sama-sama bersama!”
“Beda …, kita ini hanya tinggal bersama, tapi hidup kita berbeda! Kamu dengan dirimu
sendiri dan aku yang sibuk mengejar kehidupanmu!”
“Kenapa bisa berpikir seperti itu sih?”
“karena kamu yang sudah membuatku bersikap seperti itu, sekeras apapun aku mengejar
cintamu tapi jika kamu tetap memilih berlari menjauh tetap saja tidak akan bertemu!”
Suasana di dalam mobil itu menjadi hening, Felic menatap suaminya dengan penuh
kepastian, ia ingin tahu bagaimana sebenarnya yang di rasakan oleh suaminya itu.
“Baiklah …, sekarang aku harus apa?”
“Kepastian!”
“Tidak cukupkah status kita? Tidak cukupkah semua perhatianku? Tidak cukupkah
semuanya?”
“kalau masalah hati, maaf jika aku menjadi serakah! Karena aku hanya ingin menjadi satu-satunya di kehidupanmu selanjutnya! Tidak peduli seberapa cintanya kamu sama masa lalu mu itu dengannya, tapi aku mau aku satu-satunya untuk sekarang dan selamanya!”
“Beri aku waktu untuk memastikan hati ku, tapi kamu belum tahu satu hal Fe!”
__ADS_1
“Apa?”
“Kamu adalah bagian terpenting dalam hidupku yang tidak akan pernah aku lepas sampai
kapanpun, dulu aku sudah berkali-kali melepas apa yang menjadi milikku, tapi sekarang tidak lagi!”
‘jangan egois, Frans! Kamu nggak bisa menyatukan keduanya!” Felic tidak tahu harus berkata apa lagi, ia hanya bisa menangis
dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya itu.
Dokter Frans memeluk begitu erat istrinya itu, sudah berhari-hari ini ia begitu merindukan bau tubuh istrinya yang suka nyablak itu. Tapi gara-gara dirinya istrinya itu akhir-akhirnya jadi sedikit mellow.
Tok tok tok
Tiba-tiba kaca mobilnya di ketuk dari luar membuat mereka segera melepaskan pelukannya.
“Siapa?”
bisik Felic yang tidak mau menoleh ke belakang karena kebetulan yang di ketuk
kaca belakangnya. Mereka berhenti di jalan yang cukup sepi, Felic hanya berjaga-jaga
saja kalau-kalau ada orang jahat.
“Jangan noleh ke belakang!” ucapan dokter Frans malah membuat Felic semakin takut saja.
‘kenapa? Jangan membuatku takut!” felic memeluk erat lengan suami tampannya itu.
“Sini bergeser lagi, mendekat lagi …!”
Felic pun menuruti permintaan suaminya itu, ia semakin memeluk erat suaminya. Dokter Frans
segera menurunkan kaca mobilnya sambil tangan kirinya ia gunakan untuk mendekap tubuh Felic.
“Selamat siap pak!” sapa seseorang berseragam di luar.
‘Selamat siang!”
“Bisa tunjukkan surat-surat berkendaranya!”
Sekarang barulah nggeh siapa orang yang sudah mengetuk kaca mobilnya, Felic pun hendak melepaskan pelukannya tapi dokter Frans malah semakin mengeratkan hingga Felic tidak bisa melepaskan diri.
“Ini pak!” ucap dokter Frans saat menyerahkan surat-surat berkendaranya yang ia
ambil dari dasbor mobilnya. Pak polisi memeriksanya dan tidak ada masalah. Tapi
kemudian pak polisi melihat bagaimana dokter Frans memeluk Felic.
“Apa kalian pasangan suami istri?”
“Ya seperti yang anda lihat pak, tadi istri saya sedang ngambek makanya saya
menghentikan mobil saya di tepi jalan agar tidak terjadi kecelakaan saat kami
bertengkar sambil berkendara!”
“Baiklah, lain kali selesaikan di rumah jika ada maslah, jangan sampai meresahkan
pengendara lain!”
“Baik pak terimakasih!”
Pak polisi pun meninggalkan mobil mereka, ternyata tidak jauh dari tempat mobil
mereka berhenti sedang ada razia polisi.
“Frans …, suka banget ngerjain aku!” keluh Felic.
“Kalau nggak gini kamu nggak mau aku peluk!” senyum mengembang di bibir pria tampan
itu,
"Aku rindu tahu pelukan hangat kamu!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰