Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (114. Dokter Frans)


__ADS_3

"Baiklah kita turun." Rangga tidak bisa memikirkan hal lain selain keselamatan Zea dan bayinya. Ia harus memikirkan mana yang paling penting untuk saat ini.


Pengawal itu pun segera turun dan membantu Rangga membuka pintu mobil, dan memanggil perawat untuk membawakan ranjang dorong untuk Zea.


Beberapa perawat datang dengan ranjang dorongnya, Rangga segera menurunkan Zea di sana. Ia bahkan tidak ingin melepaskan genggaman tangan Zea hingga sampai di depan ruang gawat darurat. Seorang dokter yang baru keluar dari ruangan itu segera menghampiri para perawat itu,


"Ada apa ini?"


"Ada pasien darurat, dok!"


Tapi tatapannya segera tertuju pada pasien yang tengah meringis kesakitan sambil memegangi perutnya yang sedikit berisi.


"Ze_a!" ia terpaku di tempatnya menatap wanita itu kemudian tatapannya tertuju pada pria yang terus menggengam tangannya sambil mengusap rambut berantakan wanita itu.


"Rangga!" gumamnya lagi.


"Maaf mas, anda di larang masuk!" seorang perawat meminta Rangga untuk tetap di luar,


"Tapi sus!"


"Kami akan menanganinya dengan sebaik mungkin."


"Selamatkan dia, dia istriku!"


Ranjang itu akhirnya benar-benar masuk ke dalam ruangan dan pintu segera tertutup menyisakan dua orang pria yang sudah saling kenal itu.


"Bagaimana bisa?" dokter itu adalah dokter Frans, pria humoris yang telah menikahi cinta pertama Rangga.


Belum sampai Rangga menjawabnya, seorang perawat kembali keluar,


"Dok, semua sudah siap!"


"Ah, iya." dokter Frans pun akhirnya meninggalkan Rangga sendiri tapi sebelum itu ia menepuk bahu Rangga dan tersenyum, "jangan khawatir."


Kini di luar ruangan itu tinggal Rangga sendiri, ia memilih duduk di bangku berbahan besi itu . Tapi matanya terus menatap ke arah pintu berharap pintu itu akan segera terbuka dan dokter akan memberikan kabar baik. Tangannya terus saling bertaut, wajahnya begitu cemas, bibirnya terus saja tergerak sepertinya ia tengah berdoa.


Suara langkah kaki dengan sepatu fantofel nya berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit, langkahnya menunjukan betapa ia sangat khawatir.


"Rangga!?"


Rangga segera mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang datang,


"Tuan Seno!?"


Rangga segara berdiri. tapi pria itu segara menahannya, "duduklah!"


Rangga pun mengurungkan niatnya untuk berdiri, dan pria paruh baya itu ikut duduk dengannya,


"Maafkan saya!"


"Apa yang terjadi?"


Rangga pun menceritakan semua yang terjadi pada tuan Seno. Tuan Seno pun kembali mengusap bahu Rangga,

__ADS_1


"Tidak pa p, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk zea."


Mereka pun akhirnya kembali diam, perhatian mereka berdua tengah tertuju pad pintu itu hingga suara pintu yang di buka dari dalam berhasil membuat dia pria itu berlari ke arah pintu.


Seorang dokter keluar dari ruangan itu,


"Bagaimana keadaan Zea dan bayinya?" tanya tuan Seno.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya, sepertinya ini sebuah trauma benturan yang sama membuat hal ini terulang kembali."


"Lalu dok?"


"Syukurlah, kandung pasien cukup kuat sehingga hanya sebuah trauma saja yang terjadi. Kami sudah memberikan suntikan penenang, satu jam lagi ia akan sadar dan kami akan memindahkannya ruang perawatan!"


"Syukurlah."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi!" dokter itu pun berpamitan. Dia adalah dokter yang sama, dokter Frans pemilik rumah sakit besar ini.


Akhirnya Zea di pindahkan ke ruang perawatan. Trauma benturan yang pernah di alami Zea karena kecelakaan waktu itu masih membuatnya trauma.


Rangga masih belum bisa mengingat bagaimana kejadian kecelakaan waktu itu, tapi kini ia tahu jika kecelakaan itu membekas dalam hidup Zea.


"Ga, saya masih ada pekerjaan. Tidak pa pa kan kalau aku titipkan Zea sama kamu!?" ucap tuan Seno saat sudah memastikan bahwa Zea baik-baik saja. Saat ini ia sengaja ingin memberi waktu pada Rangga untuk merawat Zea. Bahkan ia melarang bibi untuk menyusul ke rumah sakit, ia ingin dengan ini Rangga bisa mengingat semuanya.


"Iya tuan tidak pa pa!"


"Baiklah, kalau ada sesuatu segera hubungi saya."


Akhirnya tuan Seno meninggalkan Zea, walaupun berat tapi ia juga tidak mau egois. Hanya dengan ini ia bisa mendekatkan hubungan Zea dan rangga kembali.


Tapi ternyata rasa cintanya benar-benar tidak mampu ia bendung, ia mendekatkan bibirnya pada Zea dan meninggalkan kecupan di bibir Zea. Cukup lama, ia hanya menempelkan bibir mereka. Seperti sengatan listrik bertegangan tinggi yang tengah menjalar di tubuhnya.


Rangga menjauhkan kembali bibirnya dan berbisik, "Aku mencintaimu!"


Di tempat lain, Miska tengah kebakaran jenggot. Ia tahu kalau kali ini Rangga tengah menemani Zea di rumah sakit. Semua itu ia tahu dari perbincangan sang papa dengan seseorang di dalam telpon.


"Jadi papa sengaja melakukan ini, papa benar-benar ingin berperang sama aku, okey aku akan lakukan yang lebih dari ini pa. Papa yang yang mau Miska melakukan ini!"


Miska melempar asal lap yang ada di tangannya. Ia segera menghubungi seseorang untuk bertemu.


"Ada apa lagi?" kini mereka sudah berada di kafe dekat perusahaan tuan Seno.


"Aku butuh bantuanmu lagi."


"Apa?"


"Aku mau kamu mengubah ini, cari pengacara terbaik yang bisa di ajak kerja sama." Miska menyerahkan sebuah berkas tebal kepada pria di depannya.


"Ini apa?"


"Itu semua aset yang akan dialihkan ke wanita itu, aku ingin kamu mengubah semua nya menjadi namaku!"


"Kalau aku melakukan ini, apa imbalan buat aku?"

__ADS_1


"Aku akan memberi bagiannya lima belas persen!"


"Lima belas persen?" pria itu kembali menggeserkan berkas itu hingga berada di depan Miska lagi, "tidak, itu terlalu kecil untuk pekerjaaan yang beresiko tinggi. Jika sampai ketahuan bisa masuk penjara."


"Jangan sampai ketahuan. Baiklah bagaimana kalau dua puluh persen?"


"Tiga puluh lima persen."


"Itu terlalu besar!"


"Sesuatu yang seimbang untuk pekerjaaan yang besar."


Walaupun terlihat keberatan, akhirnya Miska menyetujuinya, "Baiklah, tapi aku mau pekerjaannya rapi, jangan sampai ada yang mencurigainya!"


"Siap, percayakan semua ini padaku!"


Ternyata Miska telah mencuri berkas itu dari ruangan tuan Seno, berkas itu sengaja tuan Seno simpan karena harus segera di serahkan pada pengacaranya untuk di setujui.


...***...


Tepat setelah satu jam, akhirnya zea sadarkan diri. Ia mulai membuka matanya dan langsung melihat Rangga di sampingnya.


"Ga!?"


Rangga tersenyum, "Apa yang sakit?"


Zea menggelengkan kepalanya, "Ga, aku mimpi indah tadi."


"Mimpi Indah apa?"


Aku bermimpi, kamu menciumku ...., Zea bukannya menjawab ia malah tersenyum menatap Rangga.


"Tidak pa pa, nanti suatu saat aku akan mengatakannya padamu!" Zea pun kemudian mengedarkan pandangannya, tidak ada siapapun selain mereka berdua.


"Oh iya, papa kamu tadi ke sini. Tapi ia harus segera pergi karena ada pekerjaan."


"Benarkah?" tampak wajah Zea kecewa. Ia berharap papanya juga memperhatikannya saat ini.


"Hmmm!"


Aku kira papa akan perhatian sama aku ...


Hingga pintu kamar itu di ketuk dari luar,


"Permisi, boleh saya masuk?" terlihat seorang dokter tengah berdiri di antara pintu. Dia adalah dokter Frans, tentu hal itu berhasil membuat Zea terkejut. Ia untuk pertama kalinya mereka bertemu setelah sekian lama.


"Silahkan masuk dok!" Rangga masih belum mengingat apa hubungan dokter Frans dengan Zea di masa lalu, itulah kenapa ia masih bisa bersikap biasa. Yang ia tahu, pria itu adalah pria yang telah menikahi cinta pertamanya tapi ia tidak tahu kalau pria itu juga cinta pertama istrinya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2