Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
kencari rumah


__ADS_3

Felic segera memesan taksi kembali. Ia tidak mau sampai Wilson tahu tentang apa yang sedang ia lakukan.


Setelah setengah jam, akhirnya Felic sampai juga di depan kantor itu.


“Fe …, dari mana aja, kenapa terlambat, rapatnya sudah mau mulai loh!” tanya mbak Mia, ia cukup heran karena biasanya yang menyapanya lebih dulu Langit tapi kali ini tidak.


“Maaf mbak Mia…, tadi ada urusan sebentar!”


"Nggak pa pa, aku kan cuma nanya! Ya udah ayo ....!"


"Iya mbak!"


Mereka pun akhirnya memasuki ruang rapat, mulai mengatur proses promosi dan sebagainya. Hingga jadwal lounching buku terbarunya.


Mas Langit kok nggak kelihatan, dia kemana? batin Felic dan sepertinya mbak Mia menyadarinya.


"Cari siapa Fe?" tanya mbak Mia setelah meeting selesai.


"Mas Langit kenapa nggak kelihatan mbak?"


"Kemarin mas Langit sudah ijin untuk menyelesaikan pekerjaannya di rumah saja!"


"Kenapa? Apa dia sakit?" tanya Felic.


"Iya ...!"


"Sakit apa mbak?"


"Sakit hati ....!"


"Ahhh mbak Mia ini becanda saja!"


"Bukan becanda, memang benar! Mas Langit sudah menaruh hati sama kamu, makanya dia patah hati saat kamu datang sama suami kamu!"


"Hahhhh ...., jadi ngerasa bersalah ...!"


"Bukan salah kamu, Fe! Tidak ada yang salah, hanya saja cintanya datang di tempat yang salah!"


Tapi tetap saja, Ia merasa tidak enak dengan Langit. Seandainya saja ia mengatakan dari awal jika ia sudah menikah pasti Langit tidak akan patah hati.


“Setelah ini mau ke mana?” tanya mbak Mia lagi samb tersu berjalan beriringan dengan Felic hingga keluar kantor.


“Saya ada urusan mbak! Ada apa?”


"Tidak pa pa, cuma mau ngajak makan siang aja sekalian rayain selesainya pengeditan!"


"Maaf banget ya mbak, nggak bisa! Mungkin lain waktu pasti bisa!”


"Iya nggak pa pa, nggak usah sungkan kayak gitu!"


"Ya udah aku duluan ya mbak!"


"Ya hati-hati ....!"


Felic memilih memesan ojek karena ia harus mencari dulu alamat itu. Dengan menggunakan ojek online ia bisa lebih bebas berkeliling. Karena pulangnya siang jadi tidak khawatir jika Wilson akan mencarinya.


"Dengan mbak Felicia?" tanya pengemudi ojek online.


"Iya mas!"


"Pakai dulu helm nya mbak!" ucap ojol dengan menyerahkan sebuah helm berwarna hijau itu.


Setelah memakai helmnya ia segera naik ke atas motor.


Mereka pun segera menuju ke alamat yang di tunjuk oleh Felic.


Hingga akhirnya ia sampai di depan rumah yang tidak terlalu besar.


"Tunggu bentar ya mas!" ucapnya pada ojek online itu.


"Iya mbak!"


Felic pun segera melepas helmnya dan berjalan menuju ke rumah itu, mencocokkan alamat dalam kertas itu dengan nomor rumah yang tertera di samping pagar.


Setelah masuk ke halaman, Felic mengetuk pintu itu, tapi tidak ada sahutan dari dalam.


Ia mengintip rumah itu dari jendela kecil di samping pintu, seperti nya tidak ada seorangpun di dalamnya.


Hingga ada orang yang tiba-tiba menghampiri Felic, seperti nya ia tetangga rumah itu karena muncul dari balik rumah yang ada di sampingnya.


“Cari siapa neng?” tanyanya.

__ADS_1


"Apa benar ini rumahnya bu Narti?" tanya Felic pada ibu-ibu itu.


"Iya benar!"


“Bu Narti kemana ya? kok kayaknya sepi banget rumahnya bu!”


“Anda kerabatnya?”


“Bukan sih bu, tapi saya orang baik kok bu, saya ada perlu sedikit sama bu Narti!”


“Bu Narti sudah satu minggu ini di rawat di rumah sakit, anak-anaknya kalau jam segini kerja, kalau malam nungguin di rumah sakit!”


“Rumah sakit?"


"Iya neng!"


"rumah sakit mana ya buk?”


“kalau nggak salah rumah sakit FrAd Medika, soalnya kalau rumah sakit dekat sini katanya alatnya tidak memadai gitu neng katanya!”


“terimakasih ya buk atas informasinya, kalau begitu saya permisi!”


“sama-sama mbak!”


Felic pun kembali naik ojek dan memakai kembali helmnya.


"Kita ke mana lagi mbak?" tanya mas ojol.


“rumah sakit FrAd ya mas!"


"Siap mbak!”


Motor pun mulai melaju meninggalkan tempat itu, memecah keramaian jalanan kota, untung sepeda motor, jadi bisa nyelip-nyelip kiri kanan.


Setelah saru jam perjalanan yang cukup melelahkan itu akhirnya Felic sampai juga di depan rumah sakit milik suaminya itu.


“Sudah ya mas, kali ini nggak usah di tunggu! Ini upahnya ya mas!" ucap Felic sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan.


“Ini kelebihan mbak!” ucap mas ojol.


“Nggak pa pa, lagian tadi saya ajak keliling-keliling, anggap aja ini sebagai tips nya!”


"Iya!"


"Saya permisi mbak, jangan lupa kasih bintang lima ya!"


"Siap!"


mas Ojol pun meninggalkan halaman rumah sakit, Felic pun segera berbalik. Saat Felic hendak masuk ke dalam rumah sakit langkahnya terhenti karena suaminya


sudah ada di depannya saat ini.


Dokter Frans pura-pura tidak tahu kemana saja seharian istrinya itu. Ia segera menghampiri istrinya itu. Ia sudah melihat kedatangan istrinya dari GPS milik istrinya makanya ia segera keluar dan menyambutnya.


Ketangkap kamu sayang ...., baiklah kalau mau main kucing-kucingan sama aku ...., aku akan mengikutinya ...., dokter Frans tersenyum pura-pura masa bodo.


“Fe ..!” sapa dokter Frans sambil menghampiri istrinya itu.


“Frans!” pekik Felic, ia ingin berbalik tapi sudah nggak bisa.


Mati aku ...., ketangkap basah nih .....


“Ngapain ke sini?” tanya dokter Frans sambil mencium kening Felic.


Ngomong apa nih gue ....., cari alasan Felic, ayo cari alasan ....


“E …, aku aku mau ketemu kamu!” ucap Felic sambil tersenyum, kelihatan sekali jika di paksakan.


“ketemu aku? Ada apa?” tanya Frans sambil melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu.


“mau ngajak jalan-jalan! Kalau kamu nggak repot sih!”


Alasan yang paling tepat ....


“Ya sudah ayo …!” ucap dokter Frans dengan entengnya dan menarik tangan Felic.


“kamu nggak ada pekerjaan?”


Padahal aku berharap kamu kerja biar aku bebas berkeliaran di rumah sakit ini nyariin bu Narti ....


“Ada …!"

__ADS_1


"Nah itu ada kan, ya udah aku duduk di ruangan kamu aja, kamu kerja dulu!"


"Tapi Felicia Daryl sayangku, pekerjaanku hari ini nganterin kamu jalan-jalan!”


"Oohhh ....!"


"Kenapa wajahmu keliatan nggak seneng?"


"Enggak ...., siapa, maksudku aku seneng Frans ...., ya udah ayo berangkat!"


Ahhhh ...., lain kali tidak apa lah ....


Akhirnya Felic mengurungkan niatnya untuk menemui bu Narti. Ia tidak mau membuat dokter Frans curiga.


Mereka segera menuju ke mobil mereka yang terparkir di tempat parkir.


Seperti biasa, dokter Frans membukakan pintu lebih dulu untuk istrinya baru lah dia masuk setelah memastikan Felic masuk ke dalam mobil.


Mobil mulai melaju meninggalkan rumah sakit, Felic memilih menatap ke luar mobil, mengamati jalanan tanpa berniat untuk mengatakan apapun pada suaminya. Ia hanya sedang bingung mau melakukan apa setelah ini.


“Ada yang ingin kamu ceritakan padaku?" tanya dokter Frans sambil tetap fokus pada jalanan.


“nggak!" jawab Felic singkat juga tanpa menatap suaminya itu.


“benarkah? Tidak ada yang sedang kamu sembunyikan?” tanya dokter Frans lagi.


“Nggak Frans! Kenapa tanya terus sih ....?!” ucap Felic kesal karena merasa di curigai.


"Ya udah kalau nggak ada, mau jalan-jalan kemana?" tanya dokter Frans lagi.


"Aku mau belanja!" ucap Felic asal, menurutnya belanja cukup tepat untuk menghilangkan penat.


Akhirnya mereka sampai juga di depan pusat perbelanjaan. Setelah dokter Frans memarkirkan mobilnya mereka pun segera masuk ke dalam pusat perbelanjaan.


"Mau beli apa?"


"Apa hari ini aku boleh beli apa saja yang aku mau?"


"Boleh ...!"


"Baiklah ...., aku akan belanja sepuasnya!"


Felic pun segera mengunjungi beberapa toko dan membeli beberapa baju serta sepatu, bukan baju dan sepatu mahal, ia hanya sedang mencari diskonan saja.


"Banyak banget belanjanya!?" gumam dokter Frans.


"Mumpung bonus Frans ....!"


"Nggak takut kalau uangku habis?" tanya dokter Frans bercanda.


"Ini pasti nggak akan mengurangi gaji kamu sebulan!"


"Kalau kamu punya uang seratus juta mau buat apa?" tanya dokter Frans. Berhasil membuat langkah Felic terhenti.


Apa dia tahu tentang uang itu ....


"Kenapa tanya kayak gitu?" tanya Felic.


"Ya aku kan cuma tanya seandainya, kalau nggak punya ya udah ....!"


"Punya!" ucap Felic dengan pasti.


"Dimana?"


"Di kartu ATM yang kamu kasih dong, pasti sekarang sudah menumpuk berjubel-jubel uangnya!"


"Aku kira ....!" gumam dokter Frans.


"Kamu kira apa?"


"Bukan apa-apa ...., ayo cari makan sekarang!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2