Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Pencemburu


__ADS_3

Dasar pencemburu ....


Felic mencebirkan bibirnya saat suaminya mengatakan hal itu.


"Tapi sayangnya baby kita akan menyewanya sampai dua tahun ke depan!"


"Jadi maksudnya dua tahun ke depan aku tidak punya hak atas dua squisy itu?"


"Nggak! Dan jika baby punya adik lagi bisa jadi setelahnya juga nggak bisa lagi!"


"Hahhhh lama ya ....!"


Jlekkk


Tiba-tiba saja kaki mungil itu mendarat di dada dokter Frans membuat dokter Frans terdiam.


Ha ha ha ....


Felic tertawa melihat ekspresi dokter Frans yang begitu lucu.


Hehhhh


"Dia sepetinya tidak suka aku dekat-dekat sama kamu takut muncul adik bayi lagi!"


"Iya ...!"


Mereka saling tertawa, baby sudah menyelesaikan minum ASI nya dan dokter Frans membantu Felic meletakkannya kembali di samping Felic.


Mereka saling diam, dokter Frans mengamati wajah mungil itu. Begitu mirip dengannya hanya bibirnya saja yang seperti bibir Felic dan selebihnya lebih condong pada dirinya.


"Sayang!"


Panggilan Felic berhasil membuat dokter Frans menoleh padanya.


"Hmmm?"


"Apa terjadi sesuatu?"


"Maksudnya?"


Dokter Frans pura-pura tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan oleh Felic.


"Sayang ...., aku tahu pasti telah terjadi sesuatu, kalau tidak kemana Wilson, Tisya, mama? Iya kan?"


Hehhhh


Akhirnya dokter Frans setelah menghela nafas panjang, ia menceritakan semua yang terjadi semalam.


"Lalu? Bagaimana Wilson dan Tisya sekarang?"


"Mereka sudah baik-baik saja, Wilson ada luka tusuk di perutnya tapi sudah mendapatkan penanganan tinggal menunggu dia sadar!"


"Kalau Tisya?"


"Dia hanya ada beberapa luka kecil, tapi dia sedikit syok!"


Sepanjang suaminya bercerita, ia belum mengatakan tentang siapa Gerry itu.

__ADS_1


"Lalu Gerry? Siapa dia?"


"Kata mama Tania, dia adalah anak angkat kakek! Dari kecil kakek yang merawatnya bersama mama Tania, tapi ternyata Gerry tidak suka kalau harta kakek jatuh ke tangan ku dan Tisya!"


"Harta? Kamu tahu soal itu?"


"Mama tidak pernah mengatakan hal itu, tapi setelah aku tanya memang kakek sempat mengatakan hal itu sama mama tapi mama nggak berani memberitahu aku!"


"Jadi kamu masih punya kakek ya?"


"Aku juga baru tahu!"


Hingga tanpa terasa satu jam berlalu, dokter Frans sudah terlanjur janji pada Tisya untuk mengantarnya menemui Wilson.


Tisya ternyata ingat dengan janji dokter Frans, ia sudah siap di kursi roda dan menunggu dokter Frans.


"Maaf ya kakak lama!"


"Nggak pa pa kok kak, bukan kakak yang lama tapi Tisya yang terlalu bersemangat!"


Dokter Frans pun mendorong kursi roda itu menuju ke ruangan Wilson. Tampak pria itu belum sadarkan diri, dokter Frans menghentikan kursi roda Tisya tepat di samping ranjang Wilson.


"Sudah kak, sekarang kakak boleh tinggalin Tisya!"


"Ya sudah, nanti kalau ada apa-apa, panggil kakak, kakak diluar!"


"Hmmm!"


Dokter Frans pun meninggalkan Tisya dan Wilson berdua saja. Ia tahu pasti banyak privasi yang hanya mereka berdua ketahui sebagai suami istri.


Saat melihat darah yang mengucur dari perut Wilson, ia juga ikut merasakan sakitnya.


"Wil ...., aku pernah jatuh cinta, aku juga pernah patah hati. Tapi apa kamu tahu semua itu tidak akan lebih buruk saat tiba-tiba isi kepalaku mengatakan jika Tuhan akan mengambil mu dariku!"


Air mata Tisya benar-benar luluh sekarang, ia sudah menahannya begitu lama agar tidak jatuh tapi tetap saja tidak bisa.


Ia mencium tangan yang berada dalam genggaman nya, meletakan kepalanya di atas tangan itu.


"Kamu jangan membuatku takut, aku tidak akan bisa bertahan tanpa kamu, jika kamu mau pergi kenapa tidak dari kemarin saja? Saat aku masih membencimu! Kalau kamu pergi sekarang berarti kamu jahat banget sama aku!"


"Memang siapa yang mau pergi jika punya istri secantik kamu!" suara serak sekaligus berat itu berhasil membuat Tisya kembali bangun, ia memastikan jika yang ia dengar itu benar.


"Wilson!"


"Kenapa? Nggak suka aku bangun lagi, pengen cepet-cepet jadi janda kembang ya?"


Bug


Tisya dengan reflek memukul perut Wilson memang tidak keras tapi cukup sakit mengenai perutnya yang terluka


"Aughhhh ...., sakit Tisya!"


Tisya begitu panik, "Maaf aku tidak bermaksud ...!" ucapnya sambil mengusap perut Wilson.


"Sadis banget, sudah tahu perut suaminya terluka masih juga di pukul!"


"Siapa suruh bicara ngelantur!" ucap Tisya dengan bibir cemberutnya.

__ADS_1


"Bantu aku bangun dong!"


"Nggak mau!"


"Baiklah, aku tidur lagi aja!" ucap Wilson sambil kembali memejamkan matanya.


"Ehhh jangan dong!"


Tisya pun segera berdiri dan menopang punggung Wilson dengan tangannya, meletakkan bantal di belakang punggung Wilson. Lalu ia memeluk tubuh Wilson sedikit menariknya agar bisa duduk.


Cup


Tiba-tiba bibir Wilson mendarat di pipi Tisya membuat wanita itu menoleh pada Wilson tapi malah bibirnya tepat mengenai bibir Wilson. Mereka saling terdiam, Tisya juga tidak berniat untuk menjauhkan bibirnya dari atas bibir Wilson.


Tangan Wilson tiba-tiba menahan tengkuk Tisya dan ******* bibir nya membuat Tisya membalas ciuman itu. Ciuman itu semakin panas saja, Wilson sampai melupakan rasa sakitnya.


Saat tubuhnya semakin memanas dan hendak menarik tubuh Tisya semakin dekat lagi, tiba-tiba Wilson menjauhkan bibirnya.


"Aughhh .....!"


Tisya pun segera menjauh dari tubuh Wilson, dari kain putih yang membalut perut Wilson merembes darah segar.


"Wil ...., berdarah!"


Dengan cepat Tisya menekan tombol yang ada di samping tempat tidur Wilson untuk memanggil dokter.


Dan tidak berapa lama dokter pun datang begitu juga dengan dokter Frans, mereka harus mengganti kain kasa yang membalut perut Wilson dan memastikan jahitannya tidak ada yang terbuka.


"Makanya Wil, jangan banyak gerak dulu! Di tahan lah sampai satu atau dua minggu lagi!" ucap dokter Frans sambil melirik adik perempuannya itu.


"Iya!"


"Ya sudah lanjutkan, tapi nggak usah banyak gerak!"


Dokter Frans dan beberapa dokter yang lain pun meninggalkan Wilson dan Tisya kembali.


"Satu atau dua Minggu, itu bukankah terlalu lama?" tanya Wilson.


Ha ha ha ....


Tisya tertawa melihat ekspresi wajah Wilson yang seperti itu, sepertinya Tisya sudah menjadi candu baginya.


"Istirahat lah, aku akan mengurangi kadar pertemuan kita sampai satu atau dua Minggu lagi!"


"Kau sengaja ya ingin membunuhku!?" ucap Wilson kesal, jangankan untuk satu hari satu jam saja tampa Tisya sudah membuatnya rindu.


Tisya harus kembali lagi ke ruangannya karena Wilson akan segera di periksa dokter, dokter Frans pun membawa Tisya kembali ke kamarnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2