
Sepertinya Felic benar-benar kelelahan, ia tidak juga bangun sampai langit berubah menjadi
gelap. Dokter Frans pun memilih memesan makanan yang di bawa ke kamarnya,
mungkin nanti felic akan bangun dan merasa lapar.
Sambil menunggu Felic bangun dokter Frans memilih untuk menikmati deburan ombak di
depan kamarnya dengan secangkir coklat panasnya, walaupun sebenarnya perutnya
sedang lapar ia tidak mungkin meninggalkan felic dan makan lebih dulu.
Sesekali pikirannya melayang, mengingat pertemuannya kembali dengan masa lalunya. Tapi ada masa lalu yang pahit juga di situ, ia bahkan belum bisa mengatakan kepahitannya
itu pada istrinya.
“kenapa selalu ada kerumitan?” gumam dokter Frans dengan mata yang menerawang jauh ke
lautan yang luas itu.
“bahkan jika aku berlari, masa lalu itu mungkin akan tetap mengejar ku! Emang apa
salahnya jika aku menghindar, kenapa semua meninggalkanku dan satu persatu
kembali saat aku mulai melupakan?”
Itulah kenapa kita ini mungkin tidak hidup di masa lalu, tapi masa lalu hidup didalam
diri kita, seburuk apapun itu. Kita harus tetap menerimanya karena sekeras apapun kita ingin memperbaiki masa lalu tetap tidak akan bisa memperbaiki semuanya.
Kadang berdamai dengan masa lalu akan membuat kita lebih tegar menghadapi hidup. Itulah kata-kata yang selalu ia gunakan untuk menguatkan hidupnya yang memang hanya
sebatang kara.
Ia begitu beruntung karena sudah di pertemukan dengan sahabat-sahabat dan keluarga baru yang lebih baik.
Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhnya dari belakang membuat semua renungan nya buyar,
tangan lembut itu melingkar sempurna di pinggangnya, ia tahu siapa pemilik tangan itu.
“Fe …, kamu sudah bangun?”
“kenapa tidak membangunkan ku?”
Dokter Frans membalik tubuhnya, kini mereka saling berhadapan, Felic sudah memakai
bajunya, walaupun yang di pilih bukan baju yang di peruntukkan untuknya karena
ia memilih memakai kaos oblong milik dokter Frans dan celana boxer pendeknya. Tapi
Felic malah terlihat seksi.
“Kamu terlihat capek sekali tadi!”
“Siapa juga yang buat aku kecapekan, aku lapar …, makan yuk …!”
“iiiihhh …, baru juga bangun sudah minta makan!” ucap dokter Frans sambil mencubit dan menarik hidung Felic begitu gemas.
‘Lapaaar …!”
“Ya udah …, ayok …!” dokter frans segera merangkul tubuh mungil Felic dan
mengajaknya duduk di sofa dengan makanan yang sudah siap di depan meja.
“kamu juga belum makan?’ tanya Felic karena terlihat sekali makanannya masih utuh.
__ADS_1
“Nungguin kamu!”
“Nggak perlu di tunggu juga Frans, nggak takut apa jika aku habisin sendiri, makan ku
banyak loh …!”
“Stok uangku masih banyak hanya untuk membeli semua makanan ini sepuluh kali lipat
aja!”
“Ihhhh …, sombongnya muncul lagi!”
Ha ha ha …
Dokter Frans malah tertawa melihat wajah kesal felic, “Ayo makan, aku juga lapar!”
Mereka menyelesaikan makannya sambil saling melontarkan candaan. Sejenak melupakan kepenatan dan masalah yang muncul di antara mereka.
“kamu sering ya ke tempat ini?’ tanya felic, ia begitu penasaran dan ingin menanyakan
hal itu dari tadi tapi belum mendapatkan kesempatan.
“Sering, hampir tiap bulan!” jawab dokter Frans sambil menikmati udara malam di pantai,
setelah menyelesaikan makan malamnya mereka memilih duduk di teras kamar sambil
menikmati udara malam di pantai.
‘sama siapa?” kali ini Felic terdengar lebih menyelidik. Jika dokter Frans sering ke
tempat itu, lalu menginap dnegan siapa? Itu yang menjadi pertanyaan sesungguhnya
dari Felic.
“Ada sama temen!”
“Iya!”
“berdua?”
“Iya!”
“Di kamar ini?”
“Iya!”
“Bisa nggak jawabnya jangan iya …, iya aja!” ucap Felic kesal, entah kenapa ia merasa
kesal membayangkan suaminya itu datang ke tempat itu dengan seorang cewek dan
bermalam berdua di kamar yang mereka tinggali.
“Aku nggak suka bohong Fe …!”
“jadi sama cewek?”
“Aku nggak bilang sama cewek ya …, biasanya aku datang berdua bahkan bertiga, bisa gantian, sama Agra atau sama rendi!”
“Hahhhh …, aku kira!” ucap Felic sambil memegangi dadanya lega.
“Kenapa? Cemburu?”
“Nggak …, Cuma nggak percaya aja kamu datang ke sini sama cewek!” felic mencari
alasan.
__ADS_1
“Memang aku pernah bohong sama kamu?”
“Tapi kamu nggak cerita tentang dirimu sebenarnya padaku!”
“Aku sudah berkali-kali bilang ya, jika aku pemilik rumah sakit itu, salah sendiri
nggak percaya!”
“Ya mana aku tahu kalau penampilan kamu aja nggak meyakinkan gini, siapa yang
nyangka kalau kamu ini pemilik rumah sakit!”
“hehhh …, ini nih kebiasaan orang Indonesia, nilai orang di liat dari penampilannya. Saat
ternyata nggak sesuai dengan persepsinya, malah jadi benci! Emang salah yang di
liat?!”
“bijak banget!”
“dari dulu aku juga bijak, Fe. Kamu nya aja yang nggak tahu!”
Felic pun tidak lagi menimpali ucapan dokter Frans ia memilih berdiri dan
menyandarkan tubuhnya pada pagar , merentangkan tangannya sambil meresapi udara yang menyapu tubuhnya.
“jangan gitu Fe, udaranya dingin!” dokter Frans ikut berdiri dan menyambar selimut yang ada
di sebelahnya dan menutupkan ke tubuh Felic dan memeluknya dari belakang.
“Mau jujur sama aku nggak Frans?”
“Apa?”
“bagaimana perasaanmu pada Zea?”
“mau yang jujur apa yang bohong?”
“Kamu bilang kamu nggak suka bohong!”
“Aku masih mencintainya!”
Felic memejamkan matanya, rasanya begitu sakit mendengarkan suaminya mengatakan hal
itu. Walaupun ia tahu jika suaminya akan mengatakan hal itu tapi ia masih tetap
merasakan begitu sakit.
“Bisa nggak sih Frans …, nggak usah jujur-jujur banget …, sakit tahu jika terlalu jujur gitu!” ucap felic sambil memukul dada dokter Frans.
“tapi kamu tidak menanyakan Fe, seberapa besar kadar cinta itu!”
“Itu nggak perlu Frans, yang namanya cinta ya tetap cinta!”
Felic merasa kesal, ia melepaskan selimut yang di pegang dokter Frans dan berlalu
begitu saja meninggalkan dokter Frans.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰