Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Di pertemukan kembali


__ADS_3

Nyonya Tania dan Felic pun mendekati mereka.


"Apa sih yang kalian rahasiakan kenapa bicaranya sambil bisik-bisik?" tanya Felic dengan mata yang menyelidik.


"Bukan apa-apa, iya kan kak Frans?" ucap Tisya ternyata ia cukup takut dengan Felic.


"Kalian benar-benar membuatku khawatir, jangan-jangan ada sesuatu yang aku tidak tahu ya?" tanya Felic lagi yang masih tidak percaya.


"Kamu tahu tikus kecil ini ternyata sekarang sudah lebih pintar!" ucap dokter Frans membuat semuanya menatap dokter Frans dengan tatapan penuh tanda tanya terutama Tisya.


Dari mana kak Frans tahu panggilan itu .... Atau jangan-jangan si kucing hitam itu ngadu lagi, dia kan bawahannya kak Frans ..., batinnya


"Dari mana kak Frans tahu panggilan itu?" tanya Tisya.


"Iya Frans ...., tapi itu cocok sih untuk Tisya, iya kan ma?" ucap Felic yang tidak mau kalah.


"Iya benar ....!" ucap nyonya Tania sambil menertawakan Tisya yang kadang memang kelakuannya lebih mirip seperti tikus yang tidak mau diam apa lagi di tambah dua gigi depannya yang besar terlihat seperti gigi tikus, tapi jika di lihat-lihat itu malah membuat Tisya semakin cantik dengan gigi depannya itu.


"Kalian benar-benar ya!" keluh Tisya dengan mengerucutkan bibirnya. Dokter Frans pun segera mengusap kepala Tisya dengan penuh kasih sayang, ia tidak menyangka ternyata ia punya saudara. Dulu ia selalu mengira jika dirinya hanya sebatang kara di dunia yang keras ini.


"Astaga ....!" pekik Tisya kemudian membuat semuanya menoleh padanya.


"Ada apa Tisya?" tanya dokter Frans.


"Sekarang jam berapa?" tanya Tisya sambil menarik lengan dokter Frans dan melihat jam tangan yang melingkar di sama, jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh lebih lima belas menit.


"Aku telat ma, nggak pa pa ya kalau mama pulang sendiri, kucing hitam itu pasti sudah mengeluarkan taringnya!" ucap Tisya terlihat terburu-buru.


"Iya nggak pa pa sayang, mama bisa pulang sendiri!" ucap nyonya Tania.


"Tisya berangkat ya ma!" Tisya pun segera berlari meninggalkan mereka bertiga. Saat di jalan masuk makan ia berpapasan dengan bi Molly yang baru saja meninggalkan toko bunga dan hendak menyusul dokter Frans dan Felic, Tisya tanpa sengaja menabraknya.


Brukkkkk


Tubuh Tisya yang kalah besar sedikit terpental ke belakang dan hampir terjatuh tapi dengan sigap bi Molly berhasil menarik tangannya hingga ia tidak jadi terjatuh.


Sepertinya anak ini ....., wajahnya mengingatkanku pada seseorang ....., tapi siapa ....., batin Bi Molly sambil terus menatap wajah Tisya.

__ADS_1


"Terimakasih tante ...!" ucap Tisya setelah berhasil kembali berdiri,


Sepertinya aku pernah melihat tante ini, tapi di mana ya? Ah entah lah aku buru-buru ...., batin Tisya.


"Sama-sama!" ucap bi Molly setelah Tisya melepaskan tangannya.


"Tapi saya sangat buru-buru, tante tidak pa pa kan?" tanya Tisya memastikan jika orang yang telah ia tabrak tidak cidera sama sekali.


"Tidak pa pa!"


Tisya pun kembali berlari begitu saja meninggalkan bi Molly tapi bi Molly terus menatap kepergian Tisya.


"Dia begitu mirip dengan seseorang, tapi tidak mungkin sih ....!" gumamnya lagi kemudian memilih berbalik dan memasuki komplek makam.


"Siapa yang bersama tuan dan nyonya itu ya ....?" gumam bi Molly sambil terus berjalan, seingatnya tadi mereka cuma berdua tapi dokter Frans dan Felic terlihat begitu dekat dengan orang itu membuat bu Molly semakin penasaran.


Felic yang sedang menunggu pun menyadari kedatangan bi Molly, Felic menoleh pada bi Molly sedangkan dua orang itu masih membelakangi arah jalan masuk.


"Bi ...., kenapa lama sekali?" tanya Felic saat bi Molly sudah dekat.


"Maaf nyonya, tadi ada sedikit masalah, bunganya habis jadi penjualnya harus mencarikan dulu!" ucap bi Molly. Ternyata suara bi Molly memancing nyonya Tania untuk menoleh padanya.


"Tan ....! Tania ....!" gumam bi Molly membuat dokter Frans dan Felic mengantikan menatap mereka.


"Kalian saling kenal?" tanya dokter Frans tapi sepertinya dua wanita itu masih saling melepaskan rindunya dan mengabaikan dokter Frans.


"Mo ....., bagaimana kabarmu?" tanya nyonya Tania sambil memeluk bi Molly.


"Tan ...., bagaimana bisa kamu di sini?" tanya bi Molly.


"Aku ke makam mas Bima!" ucap nyonya Tania.


"Jadi kamu tahu?" tanya bi Molly.


"Iya ....!"


"Lebih baik kita cari tempat yang nyaman untuk bicara!" ucap dokter Frans dan kedua wanita yang kelihatannya memang mereka seumuran itu pun setuju.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun memilih tempat yang nyaman untuk mengobrol, mereka menuju ke kafe terdekat. tidak terlalu jauh dari sama ada kafe yang cukup ramai pengunjung.


"Ceritakan sama Frans, ma ...., bi ...!" ucap dokter Frans. Dua orang itu memang memiliki posisi yang sama dalam hidup dokter Frans. Saat ia membutuhkan kasih sayang seorang ibu, bi Molly menjelma menjadi sosok ibu di dalam hidupnya walaupun kadang begitu lebay dalam menjaga dokter Frans. Dan nyonya Tania, dia adalah ibu kandungnya yang telah mengandung dan melahirkannya.


Bi Molly pun mulai bercerita, nyonya Tania pun juga ikut menambahkan jika ada sesuatu yang kurang.


Flashback on by bi Molly


Dulu saya, Tania dan Bima berasal dari sekolah yang sama, kami satu SMA. Hubungan saya dengan Tania adalah hubungan dua sahabat, tapi bedanya Tania adalah putri pengusaha kaya sedangkan saya hanya putri seorang pelayan dari keluarga Wijaya.


Awalnya kami baik-baik saja hingga ayah Tania mengetahui jika saya hanya putri seorang pelayan, semenjak saat itu kami di larang untuk bertemu. Walaupun kamu satu kelas tapi kami tidak pernah saling sapa.


Walaupun kami dan Bima satu sekolah di SMA kami tidak pernah dekat.


Hingga saat lulus, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah, saya memilih menggantikan ibu saya bekerja di keluarga Wijaya, saat itu adalah hari di mana tuan Wijaya baru menikah dengan nyonya Aruni.


Kemudian nyonya Aruni di karuniai seorang putra bernama Divta. Saya masih berusia delapan belas tahun dan saya di pilih untuk menjadi pengasuh tuan Divta karena saya juga belum berpengalaman dalam pekerjaan lain, kalau mengasuh bayi di rumah saya sering melakukannya karena adik-adik ku masih kecil-kecil.


Saat itu aku juga tidak terlalu memperhatikan perkembangan hubungan Tania dan Bima karena di rumah besar sedang terjadi masalah, pernikahan tuan Wijaya dan nyonya Tania bermasalah, setiap hari mereka bertengkar hingga akhirnya tuan Wijaya memilih untuk menceraikan nyonya Aruni karena suatu kesalahan yang begitu fatal. Terjadi perselisihan antara mereka dan hak asuh anak jatuh pada nyonya Aruni.


Tuan Wijaya menduda selama satu tahun kemudian ia menikah lagi dengan nyonya Ratih seorang putri ningrat, mereka di jodohkan oleh nenek tuan Wijaya yang sudah sekarat, tapi dari pernikahan mereka yang akhirnya tumbuh cinta lahir tuan Agra.


Saya baru tahu jika di bangku kuliah Tania dan Bima ternyata menjadi dekat. Tania hanya menghubungiku via telpon untuk curhat tentang Bima dan hubungan mereka, tentang ayahnya yang tidak setuju dengan hubungan mereka. Dan Tania memilih mundur.


Hingga akhirnya lima tahun kemudian, saya tahu jika Tania dan Bima benar-benar menikah tanpa sepengetahuan ayahnya.


Saya kira kehidupan Tania dan Bima akan selalu bahagia ternyata salah, setelah tiga tahun menikah dan di karuniai seorang anak, permasalahan pun muncul, saat itu Bima tahu jika saya bekerja pada tuan Wijaya.


Saya kira ia hanya bercanda jika ia ingin ikut bekerja di rumah besar itu karena ia sudah punya pekerjaan yang sangat bagus di kantor, tapi ternyata tidak ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.


Bersambung


...Memilih berhenti bukan berarti kita harus kehilangan harapan, berhenti hanya untuk menyiapkan tenaga yang besar untuk menggapainya agar kita tidak kecewa di akhir...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2