Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Lumayan


__ADS_3

Wilson sudah menyiapkan piring untuk Tisya, ia juga menyendok kan nasi lengkap dengan sayurnya.


Habislah aku ...., dia pasti bakal mengatai masakan ku ....


"Ayo cepetan di makan, kenapa malah bengong?"


"Tidak pa pa, sebaiknya aku aja deh yang makan, kamu kan udah makan!"


"Bukankah katanya kamu juga udah makan?" Wilson hanya pura-pura tidak tahu, tapi sebenarnya batinnya pengen ketawa melihat wajah panik Tisya saat ketahuan bohongnya.


"Iya! Aku udah makan! Tapi aku kan baru saja tidur, lagian aku pulangnya lari jadi pasti udah lapar lagi, kalau kamu kan nggak ngapa-ngapain!"


"Alasan aja!"


Wilson pun tidak sabar untuk mencicipi masakan perdana Tisya. Ia segera menyuapkan masakan itu ke dalam mulutnya.


Satu kunyahan, dua kali kunyahan, tiga kali, empat kali.


Kenapa rasanya aneh gini .....? batin Wilson, tapi saat menatap Tisya yang sudah menutup matanya dengan wajah cemas. Rasanya tidak tega mengatakan kalau rasa masakannya aneh.


"Lumayan, mama memang paling jago ya masak!" ucap Wilson sambil menahan rasa aneh di mulutnya, ia dengan cepat menelannya agar aneh itu segera menghilang dari mulutnya.


Tisya yang mendengar komentar Wilson pun segera membuka mata.


Benarkah? Tadi aku dengar dia tidak mengatai ku ....


"Boleh aku mendengar sekali lagi?"


"Apa nya?"


"Ya itu tadi!"


"Lumayan_!" Wilson melanjutkan sendiri di dalam hati, aneh ....


"Benarkah? Kamu tahu itu tadi aku yang masak, mama bilang rasanya lumayan untuk pemula, aku juga belum mencicipi, nggak sabar tadi pengen nunjukinnya sama kamu!"


"Jadi maksudnya kamu belum makan?"


"Iya!" akhirnya Tisya terjebak dengan kata-kata nya sendiri,


"Ups!" dengan cepat Tisya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Wilson tersenyum melihat tingkah polos Tisya, "Aku udah tahu, nyonya Tania sudah mengatakan semuanya!"


"Mama? Kapan?"


"Tadi dia meneleponku dan mengatakan kalau kamu belum makan, lagian ngapain kalau belum makan pakek bilang udah makan segala?"


Ihhh mama, kan aku jadi ketahuan .....


"Kamu kan udah makan masakan kak Maira, kak Maira jago masak!"


"Jadi ceritanya minder nih ...!? Baru tahu aku jika kamu bisa minder, biasanya paling sombong!"


"Jangan mulai deh!"


"Ya sudah cepetan makan, sudah lapar kan?"


Tisya pun dengan cepat menyantap makanannya, kunyahan pertama, kedua masih aman.


Dan kunyahan berikutnya, tiba-tiba ia menghentikannya.


"Kenapa aku ngerasa ada yang aneh ya sama masakannya?"


"Benarkah?" tanya Wilson dan Tisya pun mengangguk.


"Tidak ada, buktinya aku udah habis, ini pasti gara-gara kamu yang telat makan!"


"Masak sih?"


"Iya! Sudah lanjutkan saja makannya!"


...**"""**...


Hari ini Wilson terlihat begitu sibuk, biasanya ia harus mengurus urusan bosnya dan kali ini bosnya memintanya untuk mengurus urusannya sendiri atas perintah bosnya.


Wilson sudah dari pengadilan agama untuk mendaftarkan pernikahan mereka, sebelumnya ia dan Tisya sudah lebih dulu berfoto untuk surat nikah mereka.


"Setelah ini mau ke mana lagi?" tanya Tisya.


"Aku harus menemui pengacara kakek dan mengatakan kalau kita akan menikah, jadi kamu aku antar pulang dulu!"


"Kenapa di antar pulang, kita kan bisa menemuinya bersama-sama, lagian itu lebih meyakinkan!"

__ADS_1


"Jangan!" ucap Wilson dengan begitu panik.


"Kenapa?"


"Ya jangan, kita kan tidak tahu kalau pengacara kakek akan suka atau tidak dengan kamu, akan lebih baik aku sendiri saja!"


"Baiklah terserah kamu!"


Akhirnya Wilson bisa meyakinkan Tisya juga, ia mengantar Tisya pulang lebih dulu lalu ke tempat lain.


Ia bukannya ke tempat pengacara kakeknya tapi kali ini ia ingin menemui dokter Frans, sebelumnya ia tidak pernah membahas mengenai pengacara kakeknya yang hanya fiktif itu. Jelas-jelas ia sudah tidak punya kakek, lalu ia harus mencari pengacara kakek dari mana.


Kedatangannya ke rumah dokter Frans langsung di sambut oleh Felic.


"Selamat siang nyonya!"


"Siang Wil, bagaimana persiapan pernikahan kalian?"


"Tadi kami baru saja dari pengadilan agama nyonya, mendaftarkan pernikahan kami!"


Felic meminta Wilson untuk duduk sebentar bersama nya. Ia ingin bicara serius dengannya.


"Duduklah!"


Wilson pun melakukan hal yang di minta oleh dokter Frans.


"Wil, kamu yakin mau menikah dengan Tisya? Maksudku pasti ada sesuatu kan yang membuat kamu menikah? Katakan padaku?"


Nyonya tahu aja sih ...., gimana dong aku jawabnya, pasti nyonya tahu kalau aku bohong ....


"Wil, kenapa malah diam?"


"Tidak pa pa nyonya, Wilson memang ingin menikah!"


Felic mengerutkan keningnya, "Benarkah?" dan pria itu hanya terdiam.


"Kamu bukan tipe orang yang mudah berubah pikiran kan Wil, jujur aja mungkin nanti aku bisa bantu!"


"Saya yakin nyonya, mungkin hari ini aku menikah karena ada sesuatu yang lainnya, tapi hati kecilku mengatakan jika memang saya harus menikah dengan nya, iya atau tanpa syarat apapun!"


"Seyakin itu ya kamu! Kalau gitu aku cuma bisa mendoakan yang terbaik buat kamu, kamu sudah seperti adik laki-laki bagiku, aku tidak mau jika nanti kamu mengalami masalah karena pernikahan ini!"


"Insyaallah tidak nyonya! Apa tuan dokter ada?"


"Jadi tuan dokter di rumah sakit?" tanya Wilson lagi dan Felic pun mengangguk,


"Katanya cuma hari ini karena besok ada pernikahan kalian!"


Tepat saat itu, dokter Frans datang.


"Aku pulang!"


Wilson dan Fe menoleh padanya, senyum pria gondrong itu langsung mengembang saat melihat istrinya.


Langkahnya begitu pasti menghampiri istrinya, ia segera memeluk dan mencium bibir istrinya membuat pria lajang di depannya segera menundukkan kepalanya.


Dokter Frans segera menoleh pada pria yang sudah berdiri saat melihat kedatangannya.


"Wil, sudah lama?"


"Baru datang tuan!"


"Ya sudah tunggu aku di ruang kerja ya!"


"Baik tuan!"


Wilson pun segera menundukkan kepalanya memberi hormat, mundur dua langkah dan berjalan meninggalkan mereka.


"Sayang ..., ada apa lagi?" tanya Felic.


"Tidak pa pa Fe, hanya ada sedikit pekerjaan saja!"


"Jangan terus menekan Wilson, sayang! Kasihan dia!"


"Nggak! Siapa juga yang nekan!"


"Aku tahu pasti pernikahan ini rencana kamu kan, iya kan sayang!"


Dokter Frans menatap istrinya itu lalu tangannya mulai terulur dan mengusap lembut rambut istrinya.


"Jangan banyak berpikir, kasihan calon anak kita! Dia nanti ikut pusing kalau dengan kamu terus bertanya!"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Dia ikut nyari jawabannya dong Fe!"


"Ihhhh ada-ada aja!"


"Ya sudah kamu di temenin sama bibi dulu ya, aku bicara sama calon adik ipar dulu!"


Dokter Frans pun segera memanggil bi Molly.


"Ingat jangan menekannya!"


"Iya ....! Yang aku tekan kan cuma kamu biar gol!" ucap dokter Frans sambil tersenyum dan meninggalkan istrinya yang wajahnya memerah karena malu ada bi Molly juga di sana.


Dasar tukang mesum ....


Wilson sudah duduk dengan jari-jari tangan yang terus ia mainkan di atas meja sambil menunggu pemilik ruangan yang dinding-dinding nya penuh dengan rak buku, bahkan ada tangga yang bisa ia gunakan untuk mengambil buku yang ada di rak paling atas.


Ceklek


Mendengar pintu di buka, Wilson pun segera berdiri dan menundukkan kepalanya.


Pemilik ruangan itu pun berjalan hingga sepatu pantofelnya yang membentur lantai menciptakan suara.


Dokter Frans segera duduk di tempatnya.


"Duduklah!" perintahnya pada Wilson.


Wilson pun segera duduk di tempatnya tadi.


"Ada masalah apa lagi Wil?"


"Tuan, bagaimana kalau tiba-tiba Tisya ingin bertemu dengan pengacara yang mengurusi tentang surat perjanjian itu?"


"Itu bukan masalah besar, saya bisa menyewa pengacara untuk itu, yang paling penting kamu tinggal jalan biar saya yang mengurus semuanya!"


"Baik tuan, tapi bolehkan saya bertanya lagi?"


"Bertanyalah!"


"Kenapa tuan begitu yakin untuk menikahkan adik perempuan tuan dengan saya?"


"Ya karena saya yakin, kamu yang bisa menjaga Tisya!"


Kenapa aku jadi takut akan mengecewakan kepercayaan tuan dokter ....


"Jangan mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu! Bagaimana persiapannya?"


"Sudah semua tuan!"


"Baguslah! Untuk baju pengantin yang akan kalian kenakan saya sudah menyiapkannya mungkin sekarang sudah sampai di rumah!"


"Terimakasih tuan!"


"Aku tahu, nanti kamu akan mengatakan hal itu setiap waktu!"


"Maksud tuan?"


"Nanti kamu juga tahu!" ucap dokter Frans sambil tersenyum, saat sudah benar-benar jatuh cinta ....


Spesial visual dokter Frans



spesial visual Felic



Spesial visual Wilson



Spesial visual Tisya



Bersambung


...Kamu adalah alasan seseorang untuk tersenyum, tapi aku adalah orang yang akan membuatnya tersenyum walaupun senyummu itu mungkin bukan untukku. Kamu tahu jika ada seseorang yang tak peduli apa yang terjadi, baik ataupun buruk nya kamu, dia selalu mampu membuatmu tersenyum itu adalah aku...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰


__ADS_2