Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Cemburu salah sasaran


__ADS_3

Felic kembali masuk ke dalam ruangannya, ia memilih menutup seluruh tubuhnya dengan


selimut dan menangis di sana. Entah kenapa ia merasa sangat ingin menangis saat


ini. Hatinya begitu sakit tapi ia tidak atau apa yang telah membuatnya sakit,


ia begitu hancur tapi tidak tahu apa yang telah membuatnya hancur.


Menangis adalah pilihan terakhir yang ingin dia lakukan saat ini, rasanya ini lebih


sakit dari pada saat itu, lebih sakit dari saat ia tahu jika Rangga adalah pria


yang akan di jodohkan dengannya. Lebih sakit dari pada saat Rangga memilih


meninggalkannya dulu …


“Apa coba yang dia lakukan, bisa-bisanya bermesraan dengan wanita lain di rumah


sakit ini, dia tidak tahu apa kalau aku juga sakit. Aku sakit tahu!” ucap Felic


dengan sesenggukan.


Felic segera bangun dari duduknya, menyeka air matanya. Ia merasakan dadanya begitu


sesak. Ingin berteriak tapi tidak bisa, ia memukul dadanya.


“kenapa kemarin nyium gue kalau sekarang bergandengan dengan wanita lain!” Felic


kembali membayangkan ciuman panas itu, ia kembali menenggelamkan wajahnya


kedalam sela lututnya, memukul asal benda di sekitarnya.


“Kenapa gue cemburu? Memang Frans cinta sama gue? Tapi gue kan pantas jika cemburu, gue istrinya!”


Felic bingung harus melakukan apa, hatinya tidka bisa di ajak kompromi. Ingin tidak


sakit, ingin tidak sedih tapi entah kenapa sepertinya hatinya menolak. Felic


bahkan harus turun dari tempat tidur dan melompat-lompat di sana agar rasa


sakitnya hilang, tapi sepertinya percuma. Bayangan Frans menggandeng wanita


itu dengan mesra melekat sempurna di pelupuk matanya.


“hehhhhhhh ….!” Felic menjambak rambutnya sendiri, ‘Bodoh …, bodoh …, bodoh ….!”


‘Kenapa panas sekali sih?”


Felic bertambah bingung, ia pun memutuskan untuk masuk ke kamar mandi, menenggelamkan


kepalanya di washtafel hingga rambut panjangnya basah.


“Permisi …!” sayup-sayup felic mendengar seseorang memanggil, Felic memilih tidak


menghiraukannya. Felic berfikir itu pasti suster yang sedang piket


memeriksanya.


“Kak. …., apa yang kamu lakukan?” teriak seseorang begitu dekat dan dia menarik


tangan felic, hingga kepala felic keluar dari washtafel.


“kak …, kamu tidak pa pa?” wanita itu melambai-lambaian tangannya di depan wajah


felic. Felic hanya bisa tercengang dnegan rambut basahnya.


Wanita yang tadi …, masih sangat


muda …., Frans berani membawanya ke sini, apa yang dia mau …..


“Kak …, kakak tidak pa pa kan?’ tanya wanita itu lagi, “Dokter Sifa, tolong ambilkan


handuk untuknya!”


Ternyata wanita itu tidak sendiri, ia bersama dokter Sifa. Dokter sifa pun segera

__ADS_1


mengambilkan handuk dan menyerahkan pada wanita itu, wanita itu adalah Nadin.


Sepertinya terjadi kesalahpahaman di pikiran felic. Nadin dengan sigap mengeringkan rambut Felic dan menyelimutkan handuk itu di kedua bahu felic yang juga basah.


“kak …, ganti baju dulu ya!”


Dia perhatian sekali, seperti madu


yang mencari hati istri tuanya …, menyedihkan ….


“Ya udah kak, kita ke dalam yuk, di sini dingin!” Nadin menarik tangan Felic, felic


tak kuasa menolaknya. Mereka menuju ke kamar dan duduk di sofa.


“Apa kakak mau teh hangat!”


“Nggak perlu!”


“Ya sudah, kalau begitu kita ngobrol saja ya!”


Apa yang mau di obrolkan …, apa dia mau


mengatakan jika dia yang paling berhak atas Frans karena dia sudah hamil …,


jahat sekali ….


“Dokter Sifa! Terimakasih karena sudah mengantarku, sekarang dokter boleh kembali!”


“Baik nona! Kalau begitu saya permisi!”


Aku rasa dugaan ku benar, dia mau bicara pribadi denganku …., ini idak bisa di biarkan ….


Kini tinggal mereka berdua di ruangan itu, Felic memperhatikan wajah wanita yang ada


di depannya kemudian beralih pada perut buncitnya.


“Sudah berapa bulan?” tanya Felic.


“Alhamdulillah sudah menginjak empat bulan, sudah sedikit kelihatan!”


menikah denganku? Aku akan membuat perhitungan dengannya.


“Apa kalian sudah menikah?” tanya Felic lagi, ia benar-benar penasaran dengan


hubungan mereka.


“Ya iya lah kak, kami sudah menikah lebih dari tiga tahun, bahkan ini anak kedua


kami!”


“Lebih dari tiga tahu? Anak ke dua?” Felic benar-benar terkejut.


Jadi disini aku yang jadi orang ke tiga …, menyedihkan sekali hidupku ….


“Kakak tidak pa pa kan?”


“Iya …, aku tidak pa pa? Apa dia bersikap baik padamu?”


“Dia siapa kak? Maksud kakak suamiku?”


Iya suami kita …, bukan Cuma suamimu …


“Awalnya memang tidak berjalan mulus sih kak, tapi semakin ke sini, dia benar-benar


suami yang luar biasa, dia begitu memanjakan ku!”


Felic mengepalkan tangannya, rasa cemburunya begitu memuncak. Ia mengeluh bahkan Frans tidak pernah memanjakannya, ia lebih sering menghindar apa lagi sejak


kemarin.


Hiks hiks hiks


Felic yang tiba-tiba menangis membuat Nadin terkejut, “Kak …, kakak kenapa? Apa aku


salah bicara tadi? Maafkan aku kak kalau aku salah bicara!” nadin mengusap punggung Felic yang bergetar.

__ADS_1


“berani sekali dia mempermainkan perasaan orang …., dia jahat banget sih!” ucap felic


di sela tangisnya.


“Dia siapa kak?’


“Apa kata orang nanti jika mereka tahu aku hanya istri ke dua, aku hanya jadi madu


dari seorang wanita, mereka pasti akan semakin meremehkan ku!”


“Istri ke dua?!” Nadin tidak begitu mengerti dengan yang di ucapkan oleh felic.


Di saat yang sama, dokter Frans dan Rendi datang, dokter Frans bertanya dengan


menggerakkan mulutnya pada Nadin tanpa mengeluarkan suara, “Ada apa?”


Nadin hanya mengangkat kedua bahunya, ia juga tidak tahu apa yang di katakana oleh


wanita di sampingnya itu. Dokter Frans pun meminta Nadin untuk bergeser, Nadin


pun berdiri dan kini berganti dokter Frans yang duduk di samping Felic. Dokter


Frans mengusap punggung felic.


“Ada apa ini?” pertanyaan dokter Frans membuat Felic mendongakkan kepalanya dan


menatap tajam pada dokter Frans.


“Ada apa?” dokter Frans mengulang pertanyaannya.


“tega banget lo Frans!” ucap felic sambil mendorong dada bidang dokter Frans.


Dokter Frans mengerutkan keningnya tidak mengerti, “Gue kenapa?”


“teganya lo nikah sama gue saat istri lo sedang hamil anak ke dua, jadi selama ini gue


hanya lo jadikan madu doing. Lo hindari gue terus ternyata semua gara-gara


ini!”


Hahhhhh


Semua mata yang ada di sana terfokus pada Felic, dengan wajah bingungnya. Felic pun


tak kalah bingung.


Ha ha ha


Semua tertawa setelah selesai terkejut, Rendi yang mahal ketawanya jadi ikut tertawa


bahkan paling keras membuat semuanya beralih menatap padanya


Ha ha ha, ha ha ha , ha ha ha


Menyadari semua menatap padanya, Rendi segera menormalkan wajahnya, Hggrremmm …., “Maaf!” ucapnya setelah berhasil masuk ke mode diam.


Ha ha ha


Sekarang gantian dokter Frans dan Nadin yang menertawakan ekspresi Rendi yang luar biasa


itu.


“Sudah-sudah, perutku jadi sakit kebanyakan tertawa!” ucap dokter Frans sambil memegangi


perutnya, sedangkan felic hanya menampakkan ekspresi bingungnya, ia sampai lupa


jika beberapa saat lalu menangis tersedu-sedu karena ulah mereka.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰😘😘


__ADS_2