Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 ( 135. Acara peresmian)


__ADS_3

Suasana malam ini tampak begitu berbeda dari biasanya, tempat yang menjadi proyek Rangga dan Zea kini sudah di sulap dengan dekorasi yang begitu indah.


Tempat itu di hiasi dengan lampu-lampu taman dan juga bunga-bunga yang di tata begitu rapi, gemerlap pesta sengat terasa.


Dan hal yang paling menarik perhatian adalah Zea, wanita hamil itu datang dengan penampilan cantiknya, ia datang dengan sang papa. Menggandeng lengan pria paruh baya yang masih terlihat tampan meskipun usianya sudah kepala lima.


"Sayang, tersenyumlah!" tuan Seno memperingatkan putrinya saat beberapa kamera mengarah padanya.


Sejak kembali dari food court itu, Zea terlihat begitu khawatir. Bahkan senyum yang biasanya selalu menghiasi bibirnya seakan sirna, hanya sesekali tersenyum saat ada tamu yang mendatanginya. Ia sepertinya tengah memikirkan sesuatu.


Terlihat Divta pun datang, tapi kali ini Divta datang seorang diri. Zea bisa maklum karena kandungan Ersya sudah tinggal menunggu hari jadwal melahirkannya.


"Apa tuan Divta tidak datang dengan Rangga?" jika Ersya jelas tidak datang, tapi pastinya Rangga akan datang. Tapi ia tidak menemukan Rangga di manapun, itu tandanya pria itu belum datang.


"Rangga?" Divta malah beralih bertanya, "Apa dia belum datang?"


"Jadi tidak datang dengan tuan Div ya, sepertinya Rangga belum datang, karena aku tidak menemukannya di manapun!"


"Tenanglah, Rangga pasti datang!"


"Semoga!"


Zea tidak tahu harus cerita dengan siapa saat ini, ia tidak mau membebani papanya dengan menceritakan apa yang ia dengar tadi.


Zea terus meninggal Rangga di pintu masuk, ia mondar mandi di sana. Hanya sesekali ia akan duduk jika Sudan merasakan kakinya kebas.


"Itu dia!" gumamnya saat melihat seseorang yang tengah mengendarai motor bebeknya.


Hingga acara hampir mulai, Rangga baru datang. Pria itu tampak luar biasa dengan setelan jasnya hingga membuat Zea tidak mampu beralih menatapnya. Perasaan cemasnya juga seketika lega begitu melihat kedatangan Rangga.


"Aku sudah menunggumu dari tadi." ucap Zea yang tidak mampu menyembunyikan rasa cemasnya.


"Maaf sudah membuatmu menunggu, apa acaranya sudah mulai..?" Rangga mengintip ke.arah dalam dan ternyata masih acara pembukaan


"Belum, tapi kenapa terlambat?"


"Tadi motorku mogok! Maaf ya!"


"Yang penting kamu datang!"

__ADS_1


Setelah semuanya berkumpul, akhirnya tuan Seno selaku penanggung jawab proyek pun memberi sambutan, lalu di lanjut Rangga sebagai perwakilan pelaksana.


Naiknya Rangga ke atas panggung segera mendapat sambutan yang meriah dari para tamu, mereka benar-benar mengacungi jempol atas keberhasilan proyek yang ia kerjakan dengan target waktu yang cukup singkat sedangkan seharusnya proyek ini baru akan selesai dalam waktu dua bulan tapi Rangga dan Zea bahkan bisa menyelesaikan dalam waktu satu bulan saja.


"Semua kesuksesan saya ini tidak lain karena ada dukungan dari orang yang luar biasa, dia punya semangat yang mampu membangkitkan semangat orang lain. Dia adalah wanita yang luar biasa dengan kegigihannya. Beri tepuk tangan juga untuk partner terbaik saya, Zea!"


Akhirnya semua memberi tepuk tangan untu Zea, lampu menyorot ke arahnya, membuat wanita itu tersenyum dengan wajah tersipunya.


Kamu yang luar biasa Ga, kamu yang memberi semangat itu ...., Zea pun akhirnya di persilahkan untuk naik ke atas panggung dan menerima penghargaan. Penghargaan yang di tujukan untuk Zea dan Rangga.


Setelah menerima penghargaan, Zea pun turun begitu juga dengan Rangga.


"Kamu duduk dulu ya, aku bicara dengan mereka dulu!" tunjuk Rangga pada beberapa orang yang tengah mengobrol.


"Iya!" Akhirnya Zea memilih duduk sendiri di sudut ruang pesta sambil terus menatapi Rangga. Ia benar-benar mencemaskan pria itu.


Setelah beberapa sambutan, acara di lanjut dengan hiburan dan ramah tamah.


Beberapa artis ibu kota sengaja di datangnya untuk menghibur para tamu.


"Makanlah, ini baik buat kamu!" Rangga tiba-tiba menyodorkan sebuah piring yang sudah berisi makanan untuk Zea. Ia tidak sadar sejak kapan Rangga beralih dari tempatnya.


"Rangga, kamu mengejutkanku!" Zea sampai memegangi dadanya karena terkejut. Rangga pun ikut duduk di samping Zea dan menyuapkan sesendok makanan ke mulut Zea.


Akhirnya Zea pun mulai membuka mulutnya, ia benar-benar merasa di istimewakan oleh Rangga.


"Gimana? Enak?"


"Hmmm!" Zea menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dengan mulut yang masih penuh makanan.


"Sedari tadi aku lihat kamu melamun, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Rangga, karena sedari tadi ia melihat Zea yang tidak seperti biasanya. Zea terlihat lebih pendiam dari pada biasanya.


Akhirnya Zea menatap Rangga dengan tatapan yang serius,


"Ga!?"


"Hmmm."


"Apa hari ini kamu tidak mendapat masalah?"

__ADS_1


"Dapat."


"Apa?"


"Tadi aku kan sudah bilang, motorku mogok. Tapi tenang, masih bisa di atasi dengan baik."


"Benarkah? Apa kamu merasakan ada hal aneh lainnya? Misalnya Miska?"


Rangga tampak mengerutkan keningnya. "Miska? Memang dia dia membuat masalah apa? Apa dia mengganggumu lagi?" Rangga malah berbalik mencemaskan Zea. Ia tahu Miska itu wanita seperti apa, dia begitu nekat.


"Enggak, aku baik-baik saja. Syukurlah kalau tidak terjadi sesuatu!"


"Jangan terlalu mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi. Jadi sekarang makanlah biar dia juga sehat!"


Rangga kembali melanjutkan menyuapi Zea. Ia tidak mau melihat Zea yang terlalu mencemaskan dirinya.


Hingga acara pun selesai tepat tengah malam. Beberapa tamu mulai meninggalkan tempat itu begitu juga dengan Rangga dan Zea.


"Ga, aku pulang dulu ya. Kamu hati-hati!"


"Iya, kamu yang hati-hati. Hubungi aku jika sudah sampai rumah!"


"Pasti! Papa sudah menunggu, aku duluan ya!" Zea pun melambaikan tangannya dan meninggalkan Rangga yang sendiri.


Rangga masih berdiri di tempatnya menunggu hingga mobil yang di tumpangi Zea benar-benar tidak terlihat lagi.


Setelah memastikan mobil itu menghilang di ujung jalan, Rangga pun segera mencari motornya. Tapi langkahnya terhenti saat ponselnya tiba-tiba berdering. Rangga segera melihat siapa yang melakukan panggilan malam-malam seperti ini, ia khawatir itu Zea. Tapi ternyata bukan, wajahnya berubah enggan untuk menjawabnya tapi apa boleh buat ponselnya terus saja berdering membuatnya terpaksa menerima telpon itu.


"Hallo, ada apa?" tanyanya ketus tapi sebegitu mendengarkan seseorang di seberang sana yang tengah bicara wajah Rangga berubah cemas.


"Baiklah, aku akan segera ke sana!" Rangga pun bergegas mematikan ponselnya. Ia juga memakai helmnya dan memacu motornya dengan kecepatan sedang.


Ada yang tidak beres yang tengah terjadi. Ia harus segera sampai ke tempat tujuannya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2