Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (81. Rumah baru)


__ADS_3

Sebenarnya Zea tidak tega melihat hal itu, hampir saja ia menghampiri mama rangga tapi seseorang sudah lebih dulu menahan tangannya,


"Nona, jangan lakukan macam-macam!"


Ajudan pak Seno ternyata Sudah berdiri di belakangnya dan menahan tangannya.


"Kamu!?" Zea menatap pria sekitar sepuluh tahun lebih muda dari papanya.


"Iya nona, saya di minta tuan untuk menjemput nona Zea!"


"Papa sekarang di mana?"


"Beliau harus menyelesaikan urusannya sebentar dan akan segera menemui nona!"


"Baiklah, aku akan ikut denganmu!"


Zea pun berjalan ke mobil yang sudah di siapkan oleh ajudan pak Seno.


"Silahkan nona!" Seperti biasa, ajudan pak Seno akan membukakan pintu mobil untuk Zea.


Dalam beberapa menit, mobil pun mulai melaju dan akhirnya berhenti di depan sebuah ramah, seorang satpam sudah siap membukakan pintu gerbang yang tinggi itu. Pintu gerbang itu bahkan bisa menghalangi pandangan Zea untuk melihat rumah yang ada di belakangnya.


"Maaf, ini rumah siapa?" tanya Zea setelah mobil memasuki halaman luas rumah itu.


"Tuan sudah menunggu anda di dalam, nona!" ajudan pak Seno bukannya memberi jawaban malah mengatakan hal lain.


Mobil pun berhenti tepat di depan sebuah pintu utama rumah itu, rumah yang tampak elegan dan tentunya mewah dengan dominasi warna putih pada dinding dan pilarnya, di halaman depan terlihat sebuah kol air mancur berbentuk lingkaran memberi nuansa kesejukan dengan gemericik airnya dan di kelilingi oleh taman bunga dengan berbagai warna benar-benar memanjakan mata siapapun yang memandangnya.


"Silahkan nona!" karena terlalu terkesima hingga ia tidak sadar pintu mobil di sampingnya sudah terbuka.


"Ahhh, iya!" Zea dengan perlahan turun dari mobil, matanya masih saja terkesima dengan semua yang ia lihat saat ini. Rumah dengan tiga lantai, bisa di bilang lebih mirip seperti hotel berbintang lima.


"Mari!?" lagi-lagi ucapan ajudan pak Seno menyadarkannya, Zea pun mulai berjalan dan diikuti ajudan pak Seno di belakangnya.

__ADS_1


Saat Zea berada tepat di depan pintu, pintu utama itu langsung terbuka dari dalam dan beberapa pelayan tampak berjejer menyambut kedatangannya dengan menunduk memberi hormat,


"Selamat datang nona Zea!" salah satu dari mereka tampak memberi sambutan, jika di lihat dari seragam yang di pakai, wanita paruh baya itu tampak menonjol.


Ehhh tunggu ..., tapi dia sangat familiar ....


"Bibi!?" Zea sampai menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan, dan bibi dengan penampilan baru itu tersenyum dengan anggunnya,


"Ya ampun bibi luar biasa, seragamnya juga keren! Sejak kapan bibi kerja di sini?" Zea benar-benar penasaran dengan wanita paruh baya yang cukup dekat dengannya akhir-akhir ini. Zea menggengam kedua tangan bibi dengan antusias.


"Sejak ada nyonya baru di rumah ini, nyonya!"


"Waw ...., bibi panggil aku nyonya! Nggak pantes bi!"


"Maaf nona, tuan sudah menunggu anda di dalam!" beruntung ajudan pak Seno kembali memperingatkan Zea hingga ia tidak larut dengan pertemuannya dengan bibi.


Padahal tadi pagi mereka masih mengobrol dengan begitu santai tanpa seragam yang di kenakan saat ini.


"Baiklah!" Zea kembali menatap bibi, "Zea ke dalam dulu ya bi!"


Zea segera berjalan mengikuti ajudan pak Seno menuju ke sebuah ruangan,


"Nona Zea sudah datang tuan!" ucapnya saat sampai di depan dua orang yang tengah mengobrol dan Zea langsung tahu siapa pria itu, dia papa dan kuasa hukumnya.


Pak Seno segera berdiri menyambut kedatangan putrinya,


"Selamat datang, nak!"


"Ini rumah siapa pa?" jelas ini bukan rumah sang kuasa hukum karena kemarin mereka sudah ke sana.


"Duduklah dulu, nanti papa akan memberikan jawabannya!"


Akhirnya atas perintah sang papa, Zea pun duduk di samping papanya berhadapan dengan kuasa hukum itu.

__ADS_1


"Jadi ini rumah kamu, mulai sekarang kamu boleh tinggal di sini!"


Zea terpaku di buatnya, "Yang benar pa?" ini benar-benar lebih dari cukup, bahkan rumah ini di rasa lebih besar dari panti asuhan yang sudah ia tinggali bertahun-tahun.


"Iya, bahkan bibi yang menjagamu juga akan di sini, dia akan menjadi kepala pelayan di sini, mengurusi semua keperluanku dan memerintah pelayan-pelayan lainnya, bagaimana apa kamu suka?"


"Tapi apa ini tidak berlebihan pa?"


"Tidak nak, papa tidak bisa memberikan apa-apa selain semua ini! Apa kamu tidak suka?" pak Seno menjadi khawatir jika ternyata Zea tidak menyukai apa yang di berikan padanya.


"Zea suka, sangat suka pa! tapi_!"


"Tapi apa?"


"Maaf, Zea harus berpamitan dulu pada papa mertua Zea!" ia benar-benar akan merasa bersalah kalau sampai ia membuat cemas papa mertuanya. Dia benar-benar papa mertua yang baik.


"Jangan khawatirkan soal itu, kalian bisa janji bertemu dengan papa mertuamu atau kamu bisa mengundang papa mertuamu untuk makan malam di sini!"


"Jangan deh pa, akan lebih baik jika semua tahu setelah acara resmi itu!"


"Baiklah, nanti atau besok kamu bisa menemui papa mertuamu dimana sana, papa sudah siapkan sopir pribadi buat kamu!"


"Terimakasih pa!"


"Sama-sama!"


Akhirnya Zea bisa bernafas lega sekarang, setidaknya meskipun ia Sudja bertemu dengan papanya, tapi ia masih bisa melakukan apapun yang ia mau.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tti.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...


__ADS_2