Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Persiapan makan malam 2


__ADS_3

 


 


    “Nyonya …!” ucap bi Molly saat ia menoleh dan mendapati Felic malah tertidur di sana.


    “Nyonya…, bagaimana ini?” bi Molly segera mendekati Felic yang sudah terlelap dalam


tidurnya, mau membangunkan tapi tidak berani tapi jika tidak di bangunkan


takutya nyonya barunya tidak tahu cara bersikap.


    “bagaimana ini?!” bi Molly terlihat khawatir, ia akhirnya duduk dia bawah menunggui Felic


hingga bangun.


    “Nyonya …, sudah sore!” ucap pelayan junior bi Molly pada bi Molly. Bi Molly malah


terlihat kacau sendiri sedangkan Felic malah menikmati tidur siangnya.


    “Nyonya …, nyonya ….!” Pelayan lainnya berlari menghampiri bi Molly, ia seprtinya dari


luar.


    “husttttt….!” Bi Molly segera mendekatakan jari telunjuknya ke depan bibirnya memberi


isyarat pada pelayan itu untuk tidak berisik.


    “pelankan suaramu!”


    “Maaf ….!” Ucap pelayan itu dengan lebih pelan, ia pun segera mendekati bi Molly dan


duduk di sampingnya.


    “Ada apa?”


    “Gawat nyonya!”


    “Gawat kenapa?”


    “Pak dokter sudah kembali!”


    “Secepat ini?!” bi Molly begitu terkejut mendapat laporan jika dokter Frans sudah


kembali sedangkan ia belum bisa menuntaskan tugasnya.


Plok plok plok


    Suara sepatu yang membentur lantai menandakan jika tuannya sudah memasuki rumah. Bi


Molly segera berdiri dan menyambut kedatanagn dokter frans begitupun dnegan


pelayan yang lainnya, mereka sudah ebrdiri berjejer.


    “Selamat datang tuan!” sapa bi Molly di ikuti pelayan yang lainnya, sebernarnya dokter


Frans tidak terlalu suka dengan penyambutan yang terlalu kaku itu, tapi karena


bi Molly termasuk senior di rumah nyonya Ratih yang di kirim langsung oleh


nyonya Ratih untuk mengurusi semua urusan rumah dokter Frans, membuatnya


memberlakukan aturan yang sama persis seperti di rumah utama. Bi Molly satu


angkatan dengan bi Anna yang ada di rumah utama, rumah nyonya Ratih.


    “Dimana felic?’ tanya dokter Frans, lalu ia tahu jawabannya saat mengikuti arah tatapan


bi Molly.


    “Maafkan saya tuan!” bi Molly benar-benar merasa bersalah, ia telah gagal menuntaskan


tugasnya.


    “Hustttt …!” dokter Frans memilih memelankan suaranya dan mendekati Felic dengan


perlahan. Memberi isyarat pada semuanya untuk meninggalkan mereka. Bi Molly


segera memberi aba-aba pada semua pelayan untuk meninggalkan dokter Frans dan


juga Felic.


    Sekarang tinggal mereka berdua di tempat itu, tidak ada yang berani masuk ke rumah utama


jika tuannya sudah mengintruksikan hal seperti itu. Dokter Frans ikut duduk di

__ADS_1


samping Felic yang tertidur pulas.


    Dokter Frans mengamati wajah lelap Felic, mengusapnya dnegan tangannya, perlahan ia


dekatkan wajahnya ke wajah felic hingga menyisakan sedikit jarakl di antara


mereka. Dokter Frans bisa merasakan hembusana nafas felic yang begitu teratur.


Eughhh …..


    Sepertinya Felic menyadari keberadaannya hingga membuatnya sedikit bergumam dan


meregangkan tubuhnya. Entah sejak kapan kakinya sudah berada di atas sofa juga,


    “Frans!” gumam Felic saat membuka matanya dan mendapati dokter Frans tepat berada di


atas wajahnya.


    “Capek banget ya?” tanya dokter Frans, tapi sebelum smepat menjawab seprtinya Felic


menyadari sedang berada di mana dia saat ini.


    Felic terlonjak kaget dan segera mendorong tubuh dokter Frans agar menjauh, “Frans …,


apa yang kamu lakukan di sini?”


    “Fe …, ini rumahku, ya aku pulanglah kalau di sini, seprti aku pulang ke pusaran


hidupku, yeah  ……!”


    “Frans …, aku nggak becanda ya …., maksudku kenapa kamu di sini dan di mana bi Mo?”


    “Mereka aku suruh pergi!” jawab dokter Frans dengan sangat entengnya.


    “kenapa di suruh pergi?”


    “Karena mereka tahu, kita harus melanjurtkan kegiatan kita tadi malam!”


Aughhhh ….


    Pekik dokter Frans saat tangan Felic berhasil emncubit pinggang dokter Frans.


    “Aku nggak becanda Frans …., jangan macam-macam ya, harusnya sekarang aku sednag


    “Sudah belajarnya!”


    “Tapi aku belum selesai!”


    “Sudah nggak keburu, lebih baik kita lakukan olah raga sekali lagi lalu siap-siap!”


    “Olah raga?’


    “Iya!”


    Dokter Frans segera mendekati Felic kembali, mendekatkan bibirnya pada Felic, tapi


segera di tahan oleh tangan Felic.


    “Frans …, jangan di sini, malu …!”


    “Nggak akan ada yang liat!”


    Lagi-lagi dokter Frans segera menyambar tubuh Felic, ia melanjutkan kegiatannya yang di


lakukan tadi malam di tempat itu. Memang ebnar tidak aka nada yang melihatnya


melakukan hal itu di mananapun di rumah besar itu setelah dokter Frans memberi


isyarat pada semuanya untuk mengosongkan rumah besar.


    “Frans kamu keterlaluan, bagaimana kalau ada yang lihat!” gerutu Felic saat sudah


menyelesaikan semuanya, kini tubuhnya sudah tidak memakai apapun kecuali kemeja


besar milik dokter Frans.


    “Kamu lihat …,semua tirainya sudah tertutup!”


    “Siapa yang menutupnya?”


    “Ini!” Dokter Frans menunjukkan sebuah benda kecil mirip remote yang ada di di sebelah


sofa, dokter Frans pun kembali memencet satu tombol dan semua tirai kembali


terbuka.

__ADS_1


    “Kok bisa!” felic benar-benar di buat heran dengan benda kecil itu, ia mengambilnya


dari dokter Frans dan hamper saja menekan tombol asal tapi dokter Frans segera


mencegahnya.


    “Kenapa?”


    “Jangan pencet sembarang, dari pada nanti kamu jantungan! Besok mintalah petunjuk pada


bi Molly!”


    “Baiklah …!”


    “Sekarang berikan remotenya!”


    “Untuk apa?"


    “Aku harus memanggil seseorang untuk ke sini!”


    “Jadi ini bisa untuk memanggil orang juga?”


    “Iya!” dokter frans pun mengambil remote itu dari tangan Felic dan kembali menekan


beberapa tombol, tak perlu menunggu lama tiba-tiba seseorang datang dari luar


dengan membawa orang dari butik lengkap dengan pakaian dan sepatunya.


    “Frans …, sejak kapan mereka di sini?” bisik Felic penasaran, karena sebelumnya ia


tidak melihat rombongan dengan banyak pakaian itu.


    “Yang laki-laki, balik badan!” sebelum menjawab pertanyaan Felic, dokter Frans lebih


dulu mengintruksi pada pelayan laki-laki untuk membalik badannya saat menyadari


betapa seksinya felic hanya mengenakan kemejanya yang tampak kebersaran tanpa


menggunakan daleman. Felic menyadari ada laki-laki lain selain suaminya, ia


segera mengambili bajunya yang berserakan di lantai dan menyembunyikan di balik


punggungnya.


    “Frans …, jaeab pertanyaanku!” Felic mkembali berbisik pada dokter frans.


    “ya …, sejak aku masuk rumah!”


    “Berarti mereka tahu dong apa yang baru saja kita lakukan?”


    “Iya …, semua orang di sini tahu!” jawab dokter Frans dengan entengnya membuat felic


begitu malu.


    Astaga …., aku pengen tenggelam saja kalau


kayak gini ….., aku mau semua tidak bisa melihat wajahku, pengen lari ke kamar


saat ini juga …


    Felic segera menyembunyikan wajahnya di balik punggung dokter Frans yang telanjang


dada itu.


 


 


 


Bersambung


 


Jangan lupa untuk memberikan like dan komentarnya ya kasih vote juga yang banyak, kasih hadiah juga boleh.


 


 


Follow ig aku juga ya


tri.ani.5249


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2