
“Nyonya …!” ucap bi Molly saat ia menoleh dan mendapati Felic malah tertidur di sana.
“Nyonya…, bagaimana ini?” bi Molly segera mendekati Felic yang sudah terlelap dalam
tidurnya, mau membangunkan tapi tidak berani tapi jika tidak di bangunkan
takutya nyonya barunya tidak tahu cara bersikap.
“bagaimana ini?!” bi Molly terlihat khawatir, ia akhirnya duduk dia bawah menunggui Felic
hingga bangun.
“Nyonya …, sudah sore!” ucap pelayan junior bi Molly pada bi Molly. Bi Molly malah
terlihat kacau sendiri sedangkan Felic malah menikmati tidur siangnya.
“Nyonya …, nyonya ….!” Pelayan lainnya berlari menghampiri bi Molly, ia seprtinya dari
luar.
“husttttt….!” Bi Molly segera mendekatakan jari telunjuknya ke depan bibirnya memberi
isyarat pada pelayan itu untuk tidak berisik.
“pelankan suaramu!”
“Maaf ….!” Ucap pelayan itu dengan lebih pelan, ia pun segera mendekati bi Molly dan
duduk di sampingnya.
“Ada apa?”
“Gawat nyonya!”
“Gawat kenapa?”
“Pak dokter sudah kembali!”
“Secepat ini?!” bi Molly begitu terkejut mendapat laporan jika dokter Frans sudah
kembali sedangkan ia belum bisa menuntaskan tugasnya.
Plok plok plok
Suara sepatu yang membentur lantai menandakan jika tuannya sudah memasuki rumah. Bi
Molly segera berdiri dan menyambut kedatanagn dokter frans begitupun dnegan
pelayan yang lainnya, mereka sudah ebrdiri berjejer.
“Selamat datang tuan!” sapa bi Molly di ikuti pelayan yang lainnya, sebernarnya dokter
Frans tidak terlalu suka dengan penyambutan yang terlalu kaku itu, tapi karena
bi Molly termasuk senior di rumah nyonya Ratih yang di kirim langsung oleh
nyonya Ratih untuk mengurusi semua urusan rumah dokter Frans, membuatnya
memberlakukan aturan yang sama persis seperti di rumah utama. Bi Molly satu
angkatan dengan bi Anna yang ada di rumah utama, rumah nyonya Ratih.
“Dimana felic?’ tanya dokter Frans, lalu ia tahu jawabannya saat mengikuti arah tatapan
bi Molly.
“Maafkan saya tuan!” bi Molly benar-benar merasa bersalah, ia telah gagal menuntaskan
tugasnya.
“Hustttt …!” dokter Frans memilih memelankan suaranya dan mendekati Felic dengan
perlahan. Memberi isyarat pada semuanya untuk meninggalkan mereka. Bi Molly
segera memberi aba-aba pada semua pelayan untuk meninggalkan dokter Frans dan
juga Felic.
Sekarang tinggal mereka berdua di tempat itu, tidak ada yang berani masuk ke rumah utama
jika tuannya sudah mengintruksikan hal seperti itu. Dokter Frans ikut duduk di
__ADS_1
samping Felic yang tertidur pulas.
Dokter Frans mengamati wajah lelap Felic, mengusapnya dnegan tangannya, perlahan ia
dekatkan wajahnya ke wajah felic hingga menyisakan sedikit jarakl di antara
mereka. Dokter Frans bisa merasakan hembusana nafas felic yang begitu teratur.
Eughhh …..
Sepertinya Felic menyadari keberadaannya hingga membuatnya sedikit bergumam dan
meregangkan tubuhnya. Entah sejak kapan kakinya sudah berada di atas sofa juga,
“Frans!” gumam Felic saat membuka matanya dan mendapati dokter Frans tepat berada di
atas wajahnya.
“Capek banget ya?” tanya dokter Frans, tapi sebelum smepat menjawab seprtinya Felic
menyadari sedang berada di mana dia saat ini.
Felic terlonjak kaget dan segera mendorong tubuh dokter Frans agar menjauh, “Frans …,
apa yang kamu lakukan di sini?”
“Fe …, ini rumahku, ya aku pulanglah kalau di sini, seprti aku pulang ke pusaran
hidupku, yeah ……!”
“Frans …, aku nggak becanda ya …., maksudku kenapa kamu di sini dan di mana bi Mo?”
“Mereka aku suruh pergi!” jawab dokter Frans dengan sangat entengnya.
“kenapa di suruh pergi?”
“Karena mereka tahu, kita harus melanjurtkan kegiatan kita tadi malam!”
Aughhhh ….
Pekik dokter Frans saat tangan Felic berhasil emncubit pinggang dokter Frans.
“Aku nggak becanda Frans …., jangan macam-macam ya, harusnya sekarang aku sednag
“Sudah belajarnya!”
“Tapi aku belum selesai!”
“Sudah nggak keburu, lebih baik kita lakukan olah raga sekali lagi lalu siap-siap!”
“Olah raga?’
“Iya!”
Dokter Frans segera mendekati Felic kembali, mendekatkan bibirnya pada Felic, tapi
segera di tahan oleh tangan Felic.
“Frans …, jangan di sini, malu …!”
“Nggak akan ada yang liat!”
Lagi-lagi dokter Frans segera menyambar tubuh Felic, ia melanjutkan kegiatannya yang di
lakukan tadi malam di tempat itu. Memang ebnar tidak aka nada yang melihatnya
melakukan hal itu di mananapun di rumah besar itu setelah dokter Frans memberi
isyarat pada semuanya untuk mengosongkan rumah besar.
“Frans kamu keterlaluan, bagaimana kalau ada yang lihat!” gerutu Felic saat sudah
menyelesaikan semuanya, kini tubuhnya sudah tidak memakai apapun kecuali kemeja
besar milik dokter Frans.
“Kamu lihat …,semua tirainya sudah tertutup!”
“Siapa yang menutupnya?”
“Ini!” Dokter Frans menunjukkan sebuah benda kecil mirip remote yang ada di di sebelah
sofa, dokter Frans pun kembali memencet satu tombol dan semua tirai kembali
terbuka.
__ADS_1
“Kok bisa!” felic benar-benar di buat heran dengan benda kecil itu, ia mengambilnya
dari dokter Frans dan hamper saja menekan tombol asal tapi dokter Frans segera
mencegahnya.
“Kenapa?”
“Jangan pencet sembarang, dari pada nanti kamu jantungan! Besok mintalah petunjuk pada
bi Molly!”
“Baiklah …!”
“Sekarang berikan remotenya!”
“Untuk apa?"
“Aku harus memanggil seseorang untuk ke sini!”
“Jadi ini bisa untuk memanggil orang juga?”
“Iya!” dokter frans pun mengambil remote itu dari tangan Felic dan kembali menekan
beberapa tombol, tak perlu menunggu lama tiba-tiba seseorang datang dari luar
dengan membawa orang dari butik lengkap dengan pakaian dan sepatunya.
“Frans …, sejak kapan mereka di sini?” bisik Felic penasaran, karena sebelumnya ia
tidak melihat rombongan dengan banyak pakaian itu.
“Yang laki-laki, balik badan!” sebelum menjawab pertanyaan Felic, dokter Frans lebih
dulu mengintruksi pada pelayan laki-laki untuk membalik badannya saat menyadari
betapa seksinya felic hanya mengenakan kemejanya yang tampak kebersaran tanpa
menggunakan daleman. Felic menyadari ada laki-laki lain selain suaminya, ia
segera mengambili bajunya yang berserakan di lantai dan menyembunyikan di balik
punggungnya.
“Frans …, jaeab pertanyaanku!” Felic mkembali berbisik pada dokter frans.
“ya …, sejak aku masuk rumah!”
“Berarti mereka tahu dong apa yang baru saja kita lakukan?”
“Iya …, semua orang di sini tahu!” jawab dokter Frans dengan entengnya membuat felic
begitu malu.
Astaga …., aku pengen tenggelam saja kalau
kayak gini ….., aku mau semua tidak bisa melihat wajahku, pengen lari ke kamar
saat ini juga …
Felic segera menyembunyikan wajahnya di balik punggung dokter Frans yang telanjang
dada itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan like dan komentarnya ya kasih vote juga yang banyak, kasih hadiah juga boleh.
Follow ig aku juga ya
tri.ani.5249
Happy Reading
__ADS_1