
Akhirnya mereka berdua pun keluar dari ruangan dokter itu.
"Ze, maksudku nona Ze, biar aku saja yang menebus obatnya!" ucap Rangga, ia memang sudah memegang kertas yang berisi tulisan dari dokter tadi.
"Hmm!"
Zea pun memilih duduk untuk menunggu Rangga mengambil obatnya.
Hanya beberapa menit saja dan rangga sudah kembali dengan membawa sekantong plastik kecil berisi beberapa vitamin untuk Zea,
"Ini!" ucap Rangga sambil menyerahkan kantong plastik itu.
"Terimakasih!"
"Boleh aku mengantarmu juga?" pertanyaan Rangga tentu hal yang sangat di tunggu oleh Zea, Zea segera menatap Rangga dengan tatapan yang berbinar,
Melihat tatapan Zea, Rangga merasa gugup. Ia benar-benar menyukai tatapan mata sendu itu, tiba-tiba rasanya begitu gugup berada di dekat Zea,
"Maksud saya, kan tadi Ersya Sudah membawa supirmu pergi, jadi rasanya tidak adil jika saya membiarkan kamu pulang sendiri!"
Zea kembali mengalihkan tatapannya, ia memilih menatap ke depan,
"Jika kamu sibuk, tidak pa pa aku bisa pulang sendiri, lagi pula aku juga harus ke tempat lain!"
"Tidak_, maksudnya aku tidak sibuk. Atasanku sudah memintaku untuk mengantar kemanapun kamu pergi!"
"Baiklah, kalau kamu tidak keberatan!"
Mereka pun akhirnya keluar dari klinik, berada di dalam mobil yang sama.
"Kita makan siang dulu tidak pa pa kan?"
__ADS_1
Pertanyaan Rangga tentu membuat Zea semakin merasa senang, ia tidak menyangka walaupun suaminya itu hilang ingatan tapi tetap saja dia suaminya yang perhatian.
"Iya!"
Rangga pun segera melajukan mobilnya, memecah keramaian jalanan di tengah hari. Di jam-jam orang keluar dari tempat kerjanya untuk mencari makan.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di sebuah restauran sederhana,
"Di sini?" Zea benar-benar tercengang melihat restauran itu, sudah hampir tiga bulan ia tidak datang ke tempat itu. Biasanya Rangga setiap malam Minggu selalu mengajaknya makan di tempat ini.
"Iya, apa kamu tidak suka? Kalau tidak suka, kita bisa pilih tempat lain yang kamu suka!"
"Tidak, jangan!" Zea segara menarik tangan Rangga yang sudah hampir menghidupkan lagi mesin mobilnya.
Deg deg deg
Seakan detak jantung Rangga bisa di dengar oleh Zea saat tangan wanita itu memegang tangannya.
Ini sebenarnya perasaan macam apa, kenapa setiap kali dia menyentuhku, rasanya jantungku berdetak hebat ....
Rangga menoleh pada Zea dan tersenyum, ia masih bisa merasakan detak jantungnya yang begitu cepat itu, "Kita turun!" ucapnya kemudian.
Rangga pun segera turun dan berlari memutari mobil, membukakan pintu mobil untuk Zea,
"Biar aku bantu!"
Rangga pun kembali menggenggam tangan Zea dan membantunya turun.
Bahkan jika bersama Miska tidak seperti ini ...., Ia merasa perasaannya dengan Miska bahkan sangat hambar malah terkesan seperti orang asing. Sedangkan yang menurutnya orang asing di depannya, rasanya begitu dekat, bahkan detak jantung dari anak yang di kandung wanita yang tengah ia pegang tangannya saat ini masih begitu membekas di telinganya. Seolah detak itu seirama dengan detak jantungnya saat ini, saat ia menggenggam tangan wanita asing ini.
"Aku sudah bisa jalan sendiri!" ucapan Zea berhasil membuat Rangga sadar kalau ia masih terus menggandeng tangan Zea meskipun mereka sudah akan memasuki restauran.
__ADS_1
"Ahhh, iya maaf!" Rangga pun segera melepaskan tangannya, "Kita duduk di sana!" tunjuk Rangga pada salah satu bangku yang kosong.
Bahkan dia masih begitu ingat dengan meja favorit kita ...., batin Zea saat melihat bangku yang di pilih oleh Rangga.
"Hmm!" Zea pun segera mengangukkan kepalanya dan mereka menuju ke bangku itu.
Seorang pelayan segera menghampiri mereka dengan buku menunya,
"Mbaknya sudah lama tidak ke sini, ternyata hamil, selamat ya mbak!" ucap pelayan itu sambil menunggu Rangga dan Zea menentukan makanan yang akan di pesan.
Zea pun mengalihkan. tatapannya dari buku menu dan tersenyum, "Terimakasih!"
"Jadi kamu sering datang ke sini juga?" tanya Rangga yang baru tahu dan hampir saja pelayan mengatakan semuanya tapi Zea segera memberi kode agar tidak mengatakan apapun.
"Iya!" ucap Zea tapi ia segera beralih pada pelayan, "Saya pesan ini aja mbak!" ucap Zea sambil menunjuk beberapa makanan favoritnya.
"Iya mbak! Mas nya?"
"Saya seperti biasa saja!"
"Baik, tunggu sebentar ya!"
Pelayan itu pun segera meninggalkan mereka berdua, Rangga yang masih penasaran kembali menatap Zea,
"Jadi kamu juga sering ke sini?"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...