Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Pernikahan Wilosn & Tisya (2)


__ADS_3

Dengan cepat Wilson mengatupkan kedua tangannya dan mengusapkannya ke wajahnya dengan


penuh syukur. Semua yang hadir mengucapkan kata sah bersamaan.


Aku tahu kalian nanti pasti akan


jadi pasnagan yang bahagia …, batin dokter Frans yang


juga tak mampu menyembunyikan rasa harunya.


Tanpa sadar Tisya pun ikut terharu dengan acara pernikahannya, ia pikir di hari


pernikahan ini dia tidak akan menangis, tapi tidak terlihat titik air mata di sudut matanya.


Kenapa dengan hatiku …, kenapa aku terharu begini …? Batin Tisya.


“Alhamdulillahhirabil alamin, sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri!”


Pak penghulu pun mulai membacakan doa akad nikah.


“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”


Pak penghulu pun mengambil dua buku kecil dari dalan map, “Silahkan tanda tangan di


sini ya!”


Wilson dan Tisya pun mulai menandatangani dengan bergantian dua buku kecil itu dan


juga kertas yang berada di dalam map milik pak penghulu itu.


“Sekarang kalian boleh bertukar cincin!”


Wilson pun segera merogoh saku jasnya, mengeluarkan kotak bludru berwarna merah itu. Ia


dengan perlahan membuka kotak itu. Dua buah cincin dengan warna berbeda berada


di dalam kotak itu, silver untuk Wilson dan Emas untuk Tisya.


“Kapan kamu belinya?” tanya Tisya dnegan suara berbisik, pasalnya ia tidak tahu sejak


kapan Wilson memesan cincin itu, ia sama sekali tidak di ajak untuk memilih


atau mencoba cincin. Wilson juga tidak pernah menanyakan ukuran jarinya.


“Jangan banyak bertanya, mana jarimu!” ucap Wilson lirih sambil mengacungkan cincin untuk


Tisya. Tisya pun dengan cepat mengacungkan tangannya, tidak ada satu cincin pun


melekat di jari-jarinya. Ia sudah menjual semua miliknya termasuk perhiasan


untuk biaya hidup selama di usir dari rumah dulu.


Wilson pun dengan cepat meraih tangan Tisya, ia melingkarkan cincin itu di jari manis


Tisya, begitu pas.


Kok bisa pas sih …. dia punya kekuatan menerawan ya ..., batin


Tisya heran sabil menatap Wilson dengan mengerutkan keningnya hingga kedua


alisnya hampir menyatu.


“Ayo sayang, gantian pasangkan cincin itu ke jari suamimu!” ucap nyonya Tania mengingatkan


putrinya yang hanya bengong menatap suaminya.


“Iya ma!” Tisya pun segera mengambil cincin berwarna silver itu.


“Siniin tanganmu!” ucap Tisya lirih dan Wilson pun segera mengacungkan tangannya dan Tisya dengan cepat melingkarkan di cincin itu di jari manis Wilson.


“Sekarang silahkan cium kening istri!”


Wilson dan Tisya hanya saling bertatapan, ia malah terlihat salah tingkah sendiri dan


bingung harus memulai bagaimana. Semua tidak sabar menyaksikannya, begitupun


dengan fotografer yang sudah siap dengan kameranya.


“Ayo cium keningku!” ucap Tisya lirih. Wilson pun perlahan mendekatkan bibirnya yang


memeng tepat berada di kening Tisya. Karena begitu lama membuat Tisya tidak


sabra, ia pun segera meraih pipi Wilson dan menariknya hingga bibir Wilson tepat di keningnya. Membuat semua orang yang ada di sana tertawa.


“Gini aja lama banget!” gumam Tisya.


Wilson hanya bisa tersenyum dengan kelakuan Tisya.


“Sekarang gantian pengantin perempuan mencium punggung tangan suaminya!”


Cium punggung tangan suami …? Batin Tisya, ia tidak pernah melakukan hal itu bahkan pada mama atau papanya. Bagaimana ya ….


Wilson pun mengacungkan tangannya tepat di depan wajah Tisya, ia memang pernah melihat


adegan ini tapi belum pernah mempraktekannya.


Tisya dengan ragu meraih tangan Wilson, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, ia takut salah dan menjadi bahan tertawaan.

__ADS_1


Tapi Wilson membalas kelakuan Tisya, ia memegang kepala Tisya dan menekan pada tangannya agar Tisya mencium punggung tangannya itu. Tisya berusaha untuk meronta tapi tetap saja kalah dengan tangan Wilson.


Dia benar-benar ingin membunuhku apa …, aku


nggak bisa bernafas …..


Setelah cukup lama, akhirnya Wilson melepaskan kepala Tisya. Tisya menatap Wilson dengan


tatapan kesal.


Karena tugas penghulu selesai, ia pun berpamitan untuk pergi Karena harus menikahkan


pengantin lain di tempat lain.


“Sekarang kita tinggal foto-foto!” ucap nyonya Tania. Setelah meminta para tamu


untuk menikmati hidangan yang di sediakan mereka pun melakukan sesi foto


keluarga.


Mereka berfoto dengan berbagai fose, mulai dari Wilson memeluk Tisya dari belakang dan


mencium Tisya. Terlihat sekali jika Wilson begitu kaku.


Saat sebagian tamu sudah mulai meninggalkan rumah mereka, di depan ada sebuah mobil


yang berhenti di depan rumah itu. Ia terlihat begitu heran karena banyak tamu di rumah itu.


Seorang perempuan keluar dari dalam mobil itu, ia menghentikan salah satu tamu yang keluar dari rumah itu, sepertinya tetangga.


“Maaf pak, di dalam ada acara apa ya?”


“Ada acara nikahan mbak!”


Mendengar kata nikahan, gadis itu begitu terkejut. Ia mengenal dua penghuni rumah itu,


dan tidak mungkin jika ada pernikahan sedangkan dia tidak mengetahuinya.


“Nikahan?” gadis itu mengerutkan keningnya, “Nikahan siapa pak?”


“Nikahan nona Tisya dan mas Wilson!”


Deg


Tanpa terasa kakinya menjadi begitu lemas, gadis itu sampai menyandarkan tubuhnya kembali


ke mobilnya, ia seperti kehilangan tenaganya.


“Tisya dan Wilson!?” gumamnya.


“Tidak_!” ucapnya, “saya tida pa pa!”


“Ya sudah kalau begitu saya permisi mbak!”


“Silahkan!”


Bapak itu meninggalkan rumah itu bersama beberapa orang lainnya. Memang ada beberapa


mobil di depan bukan cuma satu mobil milik Wilson.


Hehhhhhh


Gadis itu menghela nafasnya begitu dalam, “Ini pasti tidak benar, aku harus


memastikannya sendiri!”


Gadis itu pun memilih untuk masuk ke dalam rumah itu, langkahnya kembali terhenti


saat melihat tulisan yang terpajang di dinding itu.


“Happy wedding Wilson and Tisya!” ucapnya membuat sepasang suami istri yang barus resmi itu menoleh ke sumber suara.


Tisya yang berada dalam pelukan Wilson segera mendorong tubuh Wilson hingga Wilson hampir


terjatuh gara-gara ulahnya.


“Kak Maira!” pekik Tisya. Wilson pun menoleh ke arah tatapan Tisya dan benar saja


Maira berdiri di depan pintu dengan mata nanar.


“Kalian, bagaimana bisa!?”


Nyonya Tania yang juga melihat kedatangan Maira hanya bisa terdiam. Ia tahu jika putri


mantan suaminya itu juga menaruh hati pada Wilson. Walaupun begitu, ia ingin


egois, ia tetap mau Tisya lah yang menjadi pasangan Wilson bukan Maira


“Biar mama yang bicara sama Maira!” ucap nyonya Tania tapi Tisya segera menahan


tangan mamanya.


“Tidak ma, Tisya yang harus bicara!”


“Tapi_!”


“Ma, mama percaya kan sama Tisya?” dan nyonya Tania pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Tisya pun segera mengangkat kebayanya yang menjulang ke lantai agar tidak menghalangi


langkahnya. Ia menghampiri kakak perempuannya yang masih berdiri di tempatnya


dan terlihat begitu syok.


Tisya dengan cepat menarik tangan Maira tanpa perlawanan, hingga mereka berhenti di


halaman depan jauh dari semua orang.


“Kalian jahat banget tahu nggak sih sama aku!” ucap maira saat mereka sudah saling


berhadapan, air matanya tidak mampu ia tahan lagi.


“Maaf kak, tapi ini tidak seperti yang kakak pikirkan!”


“Mau beralasan apa lagi, kalian udah nikah, aku melihat semuanya, kalian berpelukan!


Kamu tahu Tisya bagaimana perasaanku sama Wilson, aku kira kamu adikku yang baik, manis, tapi ternyata …, semuanya tidak seperti yang aku pikir!”


Maira begitu marah hingga ia tidak mau mendengarkan penjelasan dari Tisya, “Aku


pergi!”


Tapi Tisya kembali menahan tangan kakak perempuannya dan memeluknya, “Tidak kak, kamu harus mendengar semuanya dulu!”


“Lepaskan!” Maira meronta dari pelukan adiknya.


“Nggak_!” Tisya tidak kalah keras, “Tidak sampai kakak mau mendengarkan penjelasan Tisya!”


“Apa?”


“Tisya dan Wilson menikah karena uang lima milyar!”


“Maksudnya?”


“Iya kak, aku butuh uang itu untuk membayar hutangku sama papa, Wilson butuh aku untuk mendapatkan uangnya kak, ia bisa dapat uang lima milyar asalkan ia menikah! Kami hanya butuh waktu satu tahun kan hingga semua uang itu menjadi


milik Wilson dan aku, aku janji setelah itu aku akan bercerai dengan Wilson!”


“Benarkah?”


Kali ini Tisya melepaskan pelukan kakak nya, ia menatap kakak perempuannya itu


dengan penuh keyakinan.


“Iya kak, jadi percayalah! Kalau kakak suka sama Wilson aku tidak akan pernah


menghalanginya!”


“Entahlah!”


Maira memilih masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah itu, ia masih terlalu syok


dengan pernikahan mereka. Mau bagaimana pun alasannya tetaplah itu sebuah


pernikahan.


Maira begitu kesal, ia mengendarai mobil nya dnegan begitu cepat dan melakukan


manufer dengan mengerem mendadak di tempat sepi hingga menimbulkan decitan


begitu keras di jalanan.


Ciiiiiiiiitttttttttt


Mobil pun berhenti dan membuat tubuh pengemudinya terdorong ke depan. Air matanya tak


mampu tertahan lagi. Ia menangis dengan begitu keras.


“Aaaaaaaa ….!” Maira memukul stang stirnya beberapa kali.


“Kalian benar-benar tega sama aku …!”


“Sakit banget rasanya …!”


“Kenapa?”


“Kenapa saat aku jatuh cinta, hati ini berlabuh di tempat yang salah?”


“Apa salahku Tuhan …, apa? Kenapa kau hukum aku seperti ini?”


Maira terus meratapi rasa sakitnya, hatinya begitu sakit. Ia mencintai tapi cintanya


tidak berbalas. Ia terlalu banyak di hianati oleh kehidupan, keluarganya, papanya, mamanya dan sekarang cintanya.


Bersambung


...Dunia ini bukan tempat untuk bisa membuat kita mendapatkan apapun yang kita mau, tapi di sini kita bisa mengusahakannya dan Dia yang menentukan...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


IG @tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2