
"Sekarang kamu boleh pulang dulu dan meminta ijin pada ibu kamu untuk bekerja paruh waktu di rumahku!" ucap Wilson saat Tisya sudah bersiap-siap untuk pulang.
"Maksudnya?" tanya Tisya yang masih bingung.
"Ya maksudnya, jika kamu bekerja di sini itu artinya kamu juga tinggal di sini!" ucap Wilson masih dengan wajah tenangnya. Tisya begitu terkejut dengan wajah khawatirnya.
Isssstttt apa yang tikus kecil ini pikirkan ...., aku bukan pria mesum, memang aku akan tertarik apa pada tubuh kerempengnya ...., nggak akan ...., batin Wilson menertawakan ekspresi ketakutan Tisya.
"Tinggal berdua, hanya berdua saja di sini?" tanya Tisya lagi dengan memegangi kancing atas kemejanya.
"Iya ...., aku tahu kamu bukan orang yang suka datang tepat waktu, jadi kalau bekerja saja kamu masih suka terlambat bagaimana dengan pekerjaan paruh waktu kamu! Aku tidak mau membayar orang yang tidak bekerja! Dan lagi aku juga tidak akan tertarik dengan tubuh kerempeng mu itu!"
Astaga ...., dia mengatai ku kerempeng, tubuh seseksi ini dia bilang kerempeng ...., batin Tisya kesal.
"Aku tidak mungkin membiarkan mama ku tinggal sendiri!" ucap Tisya beralasan.
"Itu sih terserah kamu, kalau besok pagi kamu nggak datang dengan membawa baju ganti kamu, berarti kamu tidak bersedia dan perjanjian kita batal!"
"Baiklah ...., aku pulang dulu!"
Tisya pun segera meninggalkan rumah Wilson. Ia begitu bingung dengan hal itu, memang benar kalau dia mengambil pekerjaan itu ia tidak mungkin bisa pulang siang. Kalau malam-malam berkeliaran di jalan akan tidak baik buat gadis sepertinya.
Sesampai di rumah, nyonya Tania masih belum pulang. Ia hari ini begitu capek jadi tidak mampir dulu ke kedai bakso tempat ibunya bekerja.
Sudah jam tujuh malam, dua jam lagi mamanya akan pulang. Berbekal memasak mie instan di rumah Wilson, akhirnya Tisya pun berinisiatif untuk membuatkan mie instan untuk mamanya. Ia juga harus membicarakan keputusannya pada mamanya.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk, tapi masih jam delapan lebih tiga puluh menit. Tisya pun segera mematikan kompornya dan berjalan menuju ke pintu.
Tisya pun segera membuka pintunya dan ternyata di sana ada tuan Bactiar bersama asistennya.
"Papa! Masuk pa!" ucap Tisya.
"Tidak kita bicara di luar saja!" ucap tuan Bactiar.
"Baik, tapi biar Tisya buatkan minum untuk papa!"
"Tidak perlu, kita langsung bicara saja!"
Mereka pun duduk di teras rumah kecil itu dengan Tisya duduk berhadapan dengan tuan Bactiar.
"Bagaimana dengan keputusanmu?" tanya Tuan Bactiar.
"Tapi ini belum satu minggu kan yah!"
"Semakin cepat bukankah semakin baik, tadi siang kalian sudah bertemu kan?"
"Papa tahu?"
"Papa tahu apapun yang kamu dan mama kamu lakukan dan papa juga bisa melakukan apapun sama kamu ataupun mama kamu!"
"Maksudnya papa mengancam Tisya?"
"Jika kamu berpikir seperti itu, maka papa mengatakan iya ....!"
"Papa tega banget sama Tisya dan mama sih pa, apa sebegitu besar salah Tisya hingga papa mau mencelakai Tisya sama mama!"
"Semua tergantung kamu, mau mengikuti perintahku atau jangan salahkan papa jika papa melakukan sesuatu yang bisa membuatmu menyesal nantinya!"
"Pa ....!"
__ADS_1
"Ayo pergi!" ucap tuan Bactiar sambil meninggalkan tempat duduknya.
"Baik tuan!" ucap sekretaris pribadi tuan Bactiar.
"Selamat malam nona!" ucapnya sambil memberi hormat dan Tisya hanya bisa menatap mobil yang menghilang bersama gelapnya malam itu.
Di sisi lain jalan itu ada sebuah mobil yang juga terparkir di bahu jalan sambil terus mengawasi rumah Tisya.
"Ternyata itu alasan kenapa tuan dokter memintaku untuk mengawasi rumah mereka, untuk aku sudah pasang penyadap di rumah itu!"
Dia adalah Wilson, setelah Tisya pergi dari rumahnya. Ia selalu mengawasi apa yang di lakukan Tisya dan mamanya lalu melaporkannya pada dokter Frans.
Wilson pun segera menghubungi dokter Frans.
"Selamat malam tuan, maaf menggangu waktu anda!"
"Tidak apa-apa, ada apa Wil?" tanya dokter Frans.
"Saya akan mengirimkan rekaman percakapan antara nona Tisya dan tuan Bactiar, tuan!"
"Maksudmu, Bactiar menemui Tisya lagi?"
"Iya tuan dan seperti nya tuan Bactiar mengancam nona Tisya!"
"Segera kirimkan rekamannya!"
"Baik tuan!"
Dokter Frans pun memutuskan Sabungan telponnya. Wilson pun mengirimkan rekaman percakapan antara Tisya dan tuan Bactiar.
Setelah lima menit akhirnya dokter Frans kembali menghubungi Wilson.
"Bagaimana tuan?" tanya Wilson.
Baik tuan!"
Dokter Frans kembali mematikan sambungan telponnya. Wilson kembali mengawasi Tisya, sebelum Tisya masuk nyonya Tania yang sudah pulang lebih dulu menghampiri Tisya.
"Sayang ...., kenapa di luar?" tanya Nyonya Tania.
"Ma ...., sudah pulang? Tidak tadi cuma cari angin saja!"
"Dingin sayang di luar, kita masuk ya!"
"Iya ma ...!"
Mereka pun segera masuk ke dalam rumah.
"Ma ...., Tisya sudah membuatkan mie instan buat mama, cobain ma!" ucap Tisya sambil menuangkan mie instan itu ke dalam piring.
"Sejak kapan putri mama bisa baut mie instan?"
"Si kucing hitam itu yang mengajari Tisya ma!"
"Kucing hitam? Siapa?"
"Mama ingat dengan pria yang bersama Felic beberapa kali waktu itu?" tanya Tisya dan nyonya Tania pun mulai mengingat-ingatnya.
"Iya mama ingat!"
"Dia namanya Wilson, orang kepercayaan kak Frans! Selama beberapa hari ini Tisya bekerja di rumahnya!"
__ADS_1
"Bagus dong sayang!"
"Bagus apanya, orangnya resek banget ma!"
"Yang sabar sayang, orang kerja nggak ada yang enak!"
"Oh iya ...., tadi dia juga menawari Tisya bekerja di sama paruh waktu, kalau Tisya tinggal di sana, mama ngijinin nggak?"
"Mama sendiri dong sayang ....!"
"Tapi katanya cuma tiga hari dalam seminggu ma! Dan Tisya bisa pulang kalau pas nggak kerja! gajinya juga lumayan ma!"
"Kalau mama sih nggak takut kamu tinggal di sana karena Wilson kan orang kepercayaan kakak kamu, dia tidak mungkin macam-macam sama kamu! Jadi sekarang keputusan ada di tangan kamu!"
"Tisya terima aja ya ma!"
"Iya ...., tapi tetap hati-hati ya sayang!"
"Mama kalau Tisya nggak ada juga harus hati-hati!"
"Iya sayang! ngomong-ngomong mie nya enak!"
"Bumbunya sudah di ukur dari pabrik nya ma!"
"Tapi kalau kamu yang buat jadi tambah enak karena ada cinta putri mama di sini!"
...**"**...
Di tempat lain, Felic dan dokter Frans sudah selesai mandi dan makan malam.
Setelah mengakhiri telponnya, dokter Frans segera menghampiri Felic yang sudah lebih dulu berada di atas tempat tidur.
Melihat wajah cemas suaminya, Felic pun jadi sangat penasaran. Siapa yang sudah menelpon suaminya dan membuatnya begitu cemas.
"Frans ...., ada apa?" tanya Felic saat suaminya itu sudah naik di atas tempat tidur.
Dokter Frans meletakkan ponselnya di atas meja kecil yang ada di samping tempat tidur.
"Bactiar!"
"Ada apa lagi sama di bangkotan itu?" tanya Felic ikut kesal mendengar nama tuan Bactiar.
"Sayang ...., Felicia Daryl jangan ikut-ikutan benci ya, aku nggak mau anak kita nanti jadi sepeti si Bactiar itu!"
"Astagfirullah ...., maaf aku lupa! Ya udah sekarang ada apa lagi, ceritakan padaku!"
Dokter Frans pun menceritakan semua kepada Felic tentang ancaman yang di tujukan tian Bactiar pada Tisya.
"Dia benar-benar mau bikin masalah ya, kalau deket pasti udah aku jambak rambutnya!"
"Jangan Fe ...., kamu tidur aja! Jangan marah-marah besok kita jalan-jalan!"
Felic pun akhirnya menuruti perintah suaminya itu. Ia tidur dengan di peluk suaminya.
Bersambung
...Kalah atau menang dalam sebuah kompetisi adalah hal yang biasa tapi yang membuat seseorang buruk itu bukan karena kekalahannya tapi karena ia tidak bisa menerima kekalahannya dan menyalahkan orang lain atas kekalahannya...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰