
Mereka menuju ke gedung yang begitu di sukai oleh anak muda untuk berkencan, selain karena bisa menyaksikan berbagai film kesukaan mereka juga bisa bermesraan di tempat yang minim pencahayaan.
"Apa sebelumnya kamu pernah nonton?" tanya Felic sambil mendongakkan kepalanya mencoba menatap suaminya itu.
"Emmmmm ......, gimana ya?!" Dokter Frans terlihat berfikir.
"Mikirnya gitu banget, pernah nonton apa enggak?" tanya Felic dengan sedikit kesal.
"Pernah ....!" ucap dokter Frans tapi terlihat dari ucapannya jika ia tidak begitu yakin.
"Kok nggak yakin gitu sih?"
"Sebenarnya ini bisa di katakan nonton apa enggak ya! Kami punya studio film sendiri yang khusus di perkenankan untuk keluarga besar finityGroup. Semacam bioskop untuk nonton bersama keluarga!"
"Waahhhhhhh ....., keren!"
Dokter Frans menghentikan langkahnya dan menatap istrinya itu, "Kalau aku nggak tahu, itu keren atau tidak tapi nggak ada yang istimewa seperti yang aku lihat di film-film romantis yang mengajak pacarnya nonton!"
"Beneran belum pernah nonton sama pacarnya? Bukannya kamu biasa jalan-jalan!"
"Beneran ....! Nggak percayaan banget!"
Akhirnya mereka sampai juga di depan gedung bioskop itu. Dokter Frans kembali menghentikan kursi rodanya dan menguncinya. Ia berjongkok di depan Felic dengan memegang tangan Felic.
"Pacar ....., mau nonton film romantis apa?" tanya dokter Frans sambil tangan kanannya mengusap lembut pelipis Felic dan menyingkirkan anak rambut yang menutupinya, menyisipkan nya di belakang daun telinga istrinya.
"Harus yang romantis ya?"
"Ya kalau menurut film yang aku tonton, memang kalau kencan enaknya nonton film yang romantis. Yang ada peluk-pelukannya, cium-ciumnya!"
"Tapi aku ngantuk kalau nonton film romantis, aku nggak suka!"
"Lalu?"
"Bagaimana kalau kita nonton film horor?" Felic memang bukan pecinta film romantis, ia lebih menyukai film-film yang menegangkan dan memacu adrenalin.
"Horor ya?" tanya dokter Frans yang terlihat sekali kalau dia tidak menyukai usulan Felic.
"Nggak suka ya?" tanya Felic dengan wajah kecewanya.
Apa boleh buat ...., demi istri rasa pacar, apa aja deh aku lakuin termasuk ini .....
"Baik pacar ...., mau film horor yang judulnya apa?"
"Apa aja deh yang di putar hari ini yang penting horor!"
"Baiklah ...., kalau gitu aku pesen tiketnya kamu tunggu di sini ya!" Dokter Frans berdiri dan mengusap kepala Felic begitu lembut.
Dokter Frans berjalan menuju ke meja kasir penjualan tiket.
"Mau pesan yang mana mas?" tanya penjual tiket.
"Film horor yang di putar saat ini apa aja ya mbak?" tanya dokter Frans.
"Ada kuntilanak beranak dalam kubur, pocong pancoran, hantu jeruk purut, si manis jembatan gantung, pocong ngesot, suster loncat, nenek mandi, gendruwo gondrong, sundel bolong beranak!"
Kenapa judulnya aneh-aneh ya ...., jadi bingung mana nggak ada yang ngerti filmnya lagi ....! nyesel gue nggak cari tahu sinopsisnya ....
"Gimana nas ganteng, mau yang mana?" tanya penjual tiket.
"Kalau menurut mbak, yang mana film yang paling bagus?"
"Kalau menurut saya ya mas ganteng, yang kuntilanak beranak dalam kubur itu paling serem, trus yang paling erotis yang si manis jembatan gantung, yang paling ngakak pocong ngesot, trus yang paling gila suster loncat, paling ngeri gendruwo gondrong, yang nggak bisa di nalar nenek mandi trus yang paling kasihan itu yang sundel bolong beranak!"
"Kenapa di sebutin semua? Sama aja nggak ngasih solusi itu mah .....!" protes dokter Frans.
"Ya kan saya promoin semuanya mas, siapa tahu mas ganteng mau beli semua tiketnya!"
"Nah itu kayaknya ide bagus! Ya udah aku beli semua tiketnya satu film dua tiket ya!" ucap dokter Frans dengan begitu enteng sedangkan penjual tiket malah di buat bengong dengan ketidak masuk akalnya dokter Frans.
"Mas ganteng serius ini .....?"
"Ya serius lah ...., masak bo'ongan!"
"Ya udah mas ...., bentar ya saya stempel dulu tiketnya dan total pembayarannya!"
Karena terlalu lama membeli tiket, Felic jadi merasa sangat bosan. Sudah hampir lima belas menit tapi pria yang menjadi suaminya itu tidak juga kembali, ia masih terlihat sibuk di depan loket.
Felic pun mencari hiburan dengan beberapa kegiatan yang bisa ia lakukan di atas kursi rodanya. Sambil sesekali memainkan ponselnya dan mendengarkan musik, Felic sibuk sibuk mengedarkan pandangannya, mencoba mencari sesuatu yang berbeda atau hanya sekedar mengabadikan beberapa moment untuk bahannya menulis.
Saat ia mengedarkan kamera ponselnya mencoba mencari objek yang menarik, Ia dikejutkan dengan sepasang muda mudi yang sedang berciuman tidak jauh dari kursi rodanya.
__ADS_1
Berani-beraninya mereka melakukan itu di depan umum ...., benar-benar tidak tahu malu, gue harus bikin perhitungan sama dia......
Tanpa pikir panjang, Felic pun segera beranjak dari kursi rodanya.Felic segera berdiri dan mendekati pasangan itu.
prokkk prokkk prokkk
Felic menepuk tangannya beberapa kali untuk mencari perhatian mereka dan akhirnya berhasil. Mereka pun menoleh pada Felic dan tentunya begitu terkejut.
“Felic!” ucap pria itu dengan wajah terkejutnya, ia segera melepaskan tangannya yang sebelumnya melingkar di pinggang wanita itu.
"Kenapa mas ....., terkejut banget ya lihat aku di sini? Sama dong! Aku juga terkejut...., aku benar-benar nggak nyangka ya pria seperti mas Rizal ini ternyata lebih busuk dari seekor serigala! Lebih buas dari seekor rubah, menakutkan!" ucap Felic sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jaga ucapan mu ya!" teriak wanita yang bernama Tisya itu dengan menajamkan matanya, terlihat sekali kalau dia sedang marah.
"Isssstt isssstttt isssttt ....., si rubah betina menakutkan juga ya kalau sedang marah! Hiiiiii ...., aku taku!" ucap Felic dengan nada mengejek.
"Kau ini ya ...., benar-benar ya ....!" ucap Tisya yang sudah hampir melayangkan tangannya hendak memukul Felic tapi masih bisa di tahan oleh Rizal.
"Uwauuuu ...., takut! Jangan asal pukul nona, bisa kena pasal loh ....!"
"Fe ...., sudah cukup! Jangan di perpanjang lagi masalahnya, aku sama Ersya sudah berakhir jadi mengertilah ....!"
"Mudah sekali ya mas ngomong gitu! Sebenarnya hati mas Rizal ini terbuat dari apa? Malu banget rasanya pernah mengenal mas Rizal! Oh iya aku dan Ersya udah terima loh undangannya, kami pasti datang buat melihat bagaimana pertunangan kalian, selamat ya!”
“Mas …, kamu undang dia juga? Mantan istri kamu juga?” tanya Tisya yang ternyata tidak tahu menahu tentang undangan itu.
“Iya! Maaf ya aku nggak ngasih tahu kamu lebih dulu!” Ucap Rizal sambil memegang tangan Tisya berusaha meyakinkan Tisya kalau memang tidak ada maksud apa-apa.
Tapi ternyata ia salah, Tisya malah tersenyum bahagia mendengarnya.
"Kamu tidak marah?" tanya Rizal.
"Bagaimana aku marah mas ....?Ya baguslah mas…, itu berarti kita bisa tunjukin ke mantan istri kamu yang nggak tahu diri itu jika ia tidak pantas mendapatkan mas Rizal!”
“Wah bener banget itu ....!” ucap Felic sambil tersenyum kecut, "Anda benar sekali nona ...., pria ini ....!" Felic menunjuk dada Rizal hingga pria itu sedikit condong ke belakang.
"Pria ini ...., pria yang begitu kamu puja memang tidak pantas bersanding dengan sahabatku Ersya! Ersya pantas mendapatkan yang lebih baik dari dirinya!"
"Jangan keterlaluan!" teriak Tisya lagi.
"Saya tidak keterlaluan tapi saya mengatakan yang sebenarnya!"
“Saya nggak perlu tampil cantik hanya untuk menarik perhatian orang banyak, nggak penting! Cantik fisik murah di buat tapi cantik hati nggak banyak orang punya!
Dan kamu mas Rizal, kamu akan menyesal karena telah menyia-nyiakan sahabat aku yang hatinya lebih cantik dari wanita yang kau anggap cantik ini!
Dan anda cewek jadi-jadian, nggak usah sok cantik! Cantik nggak ngejamin anda mendapat cinta banyak orang, siapa tahu kalau nggak pakek bedak kamu itu lebih dekil dari saya!”
Mendengar ejekan Felic, membuat emosi wanita dengan tas branded nya itu tersulut,
Tisya kembali mengarahkan tangannya hendak menampar Felic, tapi tangan itu menggantung di udara setelah seseorang dengan sigap menangkap tangan itu.
Tisya menoleh pada orang yang telah berani menahan tangannya dan itu bukan calon tunangannya.
srekkkkk
Pria itu menghempaskan tangan Tisya ke udara dengan begitu kasarnya.
"Sakit tahu ....!" keluh Tisya sambil memegangi tangannya yang terasa sakit.
“Saya peringatkan pada anda! Jangan berani coba-coba sakiti istri saya!” ucap pria dengan gigi gingsul dan rambut gondrongnya itu.
"Oh jadi dia istri anda?" tanya Tisya sambil menunjuk Felic.
"Iya!"
“Tolong ajari istri anda untuk bicara sopan, dan berhenti untuk mengganggu kami!" ucap Tisya sambil meraih tasnya yang ada di atas tempat duduk di belakangnya.
"Ayo mas kita cari tempat nonton lainnya, di sini nggak asik!" Tisya menarik tangan kekasihnya. Tapi saat lewat di depan dokter Frans ia pun kembali menghentikan langkahnya. "Kalau nggak mau di sakiti, suruh jaga mulut istri anda!”
Ucap gadis itu kemudian berlalu meninggalkan Felic dan dokter Frans.
Setelah Tisya dan Rizal menjauh, dokter Frans kembali menoleh pada istrinya itu, ia menatap dengan penuh kemarahan.
“Apa yang kamu lakukan di sini!” ucap dokter Frans dengan nada tinggi. Karena istrinya itu berada cukup jauh dari kursi rodanya.
Felic hanya bisa diam melihat kemarahan suaminya. Dokter Frans meninggalkan Felic dan mengambil kursi roda milik Felic. Ia mendekatkannya pada Felic kembali.
"Duduk!" perintah dokter Frans dengan wajah marahnya membuat
Felic tidak bisa menolak. Felic pun duduk tanpa berdebat.
__ADS_1
“Maaf…!” ucap Felic dengan penuh penyesalan.
Hehhhh …., dokter Frans menghela nafas panjang. Ia seperti sedang mengumpulkan sesuatu dan sesuatu itu adalah kesabaran.
Dokter Frans kemudian berjalan ke depan Felic, ia jongkok di depan nya, menatap wanita yang sudah setengah tahun ini menemaninya dalam bahtera rumah tangga. Kembali memegang tangan Felic dengan lembut.
"Maaf ya tadi aku hanya emosi! Maaf karena aku membentak mu, aku tidak bermaksud seperti itu!" ucap dokter Frans yang tampak menyesal karena telah memarahi istrinya itu.
"Aku yang minta maaf Frans karena tidak mendengarkan ucapan mu!"
“Fe …, lain kali jangan melakukan sesuatu yang bisa membahayakan kamu dan bayi dalam kandungan kamu ya, mengerti kan?”
Felic pun mengangguk mengerti, “Iya …!”
“Itulah kenapa aku nggak mau kamu datang ke acara pertunangan itu, pasti kejadiannya bakal kayak gini! Jadi aku mohon nggak usah datang ya!” bujuk dokter Frans mencoba memanfaatkan keadaan agar Felic tidak datang ke acara itu.
“Tapi Frans …!”
“enggak Fe!”
“Iya Frans …, aku nggak mungkin ngebiarin Ersya melalui ini semua sendiri, ini hari-hari terberatnya! Dia yang selama ini selalu ada buat bantu aku dan keluarga aku, Frans dan nggak mungkin saat dia sedang butuh aku, aku nggak temenin dia! Jadi aku mohon Frans, sekali ini aja …, ijinin aku buat nemenin Ersya!”
Mendengarkan alasan Felic, dokter Frans menjadi luluh. Ia memang baru mengenal persahabatan mereka, ia tidak tahu persahabatan seperti apa itu. Tapi mungkin jika ini terjadi di posisinya dan menyangkut Rendi atau Agra. Ia pasti juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Felic.
“Baiklah …, tapi harus konsultasi sama dokter dulu sebelum ke acara! Tapi maaf ya aku nggak bisa datang!”
"Kenapa?"
"Aku banyak kerjaan!"
"Tapi itu tahu minggu, Kerjaan apa di hari minggu?"
"Kamu datangnya sama Wilson aja, tapi nggak boleh kontak fisik sama Wilson!"
“Siap!” ucap Felic dengan senyum lebarnya. Mau bagaimanapun berarti suaminya itu memang tidak memecat pria malang itu.
"Oh iya ....., mana tiketnya?" tanya Felic pada dokter Frans karena suaminya itu tidak terlihat membawa tiket.
"Oh iya bentar! Gara-gara lihat kamu berantem aku jadi tinggalkan tiketnya begitu saja, tunggu sebentar jangan kemana-mana!" Dokter Frans segera berlari menuju ke meja kasir pembelian tiket dan kembali lagi dengan setumpuk tiket di tangannya.
"Ini tiket nontonnya!" ucap dokter Frans sambil meletakkan semua tiket itu di atas pangkuan Felic.
"Frans!?" Felic malah terlihat bingung.
"Iya?"
"Ini apa?"
"Itu tiket nonton!"
"Banyak banget?"
"Ya biar kamu bisa milih nonton apa aja, itu semua judul film horor yang akan di putar hari ini sampai bioskop tutup!"
"Kamu ini ya ....! Benar-benar keterlaluan, memang kita mau tidur di sini apa!!!"
“Ya udah kamu pilih-pilih aja tiketnya mana yang mau di tonton …, sekarang aku mau beli pop corn dulu ya, jangan berdiri-berdiri lagi, okey ....!” ucap dokter Frans yang hendak berdiri meninggalkan Felic.
"Tapi aku nggak minta pop corn!" protes Felic.
"Tapi katanya kalau nonton bioskop nggak lengkap kalau nggak sambil makan pop korn!"
"Baiklah ...., silahkan! Aku akan menunggu di sini tapi ingat jangan lama-lama, nanti aku cuma jenuh nungguin kamu aja!"
"Siap pacar!"
Dokter Frans berdiri dan menuju ke kedai yang menyediakan pop corn dan minuman ringan.
...**Yang luar biasa itu adalah orang yang tetap bersamamu saat kamu bukan orang yang baik-baik saja, pertahankan apa yang kamu miliki walaupun kecil jangan mengejar sesuatu yang besar yang belum pasti menjadi milikmu~DTIS...
Hari ini sengaja aku panjangin ya, harusnya ini bisa buat jadi dua bab, aku jadikan satu bab untuk mengobati penantian kalian yang panjang hari ini
Semoga menghibur .....🥰🥰🥰**
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1