
Miska merasa begitu sakit hati, ia benar-benar tidak terima dengan apa yang sudah di lakukan oleh Zea. Ia merasa apa yang terjadi padanya karena ulah Zea seorang.
"Kamu benar-benar menghancurkan hidupku Zea, aku akan membalas semuanya."
"Kamu sudah mengambil semua yang aku punya, Rangga, papa dan bahkan kamu sudah berani memisahkan aku sama mama aku, aku bersumpah aku tidak akan membiarkanmu bahagia. Jika aku tidak bahagia, maka kamu pun tidak. Tidak akan!"
Miska terus saja menggerutu di dalam taksi, ia tidak menyangka bahkan papanya sudah tidak peduli lagi padanya. Padahal jika di ingat dulu sebelum Zea datang, apapun yang di minta. Papanya akan selalu berusaha untuk memberikannya. Apapun itu, dan sekarang semuanya sudah berbeda. Yang ada dalam pikiran papanya hanya Zea dan Zea. "Bahkan papa rela memberikan nyawanya pada Zea. Apa sebenarnya istimewanya perempuan ****** itu?"
Tapi ia tidak tahu jika semua itu berubah saat dirinya sudah tidak lagi mempertimbangkan tentang kebaikan untuk semua hal yang telah ia lakukan. Berkali-kali tuan Seno memperingatkan dirinya agar lebih peduli dengan orang lain tapi nyatanya semua nasehat yang di berikan tuan Seno tidak pernah di dengar. Ia lebih memilih mendengarkan ucapan mamanya.
Ia hanya terus menyalahkan orang lain untuk mendapatkan pembenaran. Ia tidak pernah merasa bahwa semua berasal dari dirinya sendiri. Semua karena kesombongannya, keegoisannya.
"Kita ke mana, nona?" tanya supir taksi yang sedari tadi Miska hanya terus saja marah-marah tanpa mendengarkan pertanyaannya.
"Berisik sekali sih jadi orang!?" keluh Miska lagi, bukannya memberitahu tujuannya, ia malah memarahi sopir taksi itu.
Kiikkkkkkkkkk
Tiba-tiba rem berbunyi dan mobil taksi berhenti mendadak membuat Miska benar-benar terkejut di buatnya, "Ini apa-apaan sih, kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa!?"
"Saya tidak peduli, silahkan turun dan cari taksi lain. Bayar sesuai dengan yang ada di sini!"
Miska tidak mungkin turun di tepi jalan, apalagi terlihat jalanan sudah sangat sepi. Ia berpikir harus bersikap manis supaya sopir taksi tidak menurunkannya di tepi jalan.
"Maafkan saya pak, sungguh saya sedang banyak masalah. Saya tidak bermaksud membuat masalah dengan bapak, saya janji saya akan bersikap baik sekarang!"
Melihat Miska yang memelas akhirnya supir taksi itu merasa tidak tega, "Baiklah, sekarang tunjukan alamatnya!" perintah supir taksi itu, ia sudah tidak sesopan tadi saat Miska mulai naik taksi itu.
"Kita ke apartemen xxxx!" itu adalah alamat apartemen Rizal. Ia pikir saat ini yang bisa ia mintai bantuan hanyalah Rizal.
Apalagi berita penangkapan mamanya sudah di muat di semua berita, baik media online maupun media cetak. Bahkan saat ini rumahnya juga sudah di penuhi oleh wartawan.
"Pasti sekarang semua temanku tidak ada yang ingin dekat denganku!" gumamnya sambil menatap ke arah luar, ia tahu teman seperti apa temannya selama ini karena ia juga kerap melakukan hal yang sama pada temannya yang tiba-tiba bangkrut atau terkena masalah. Ia akan pura-pura tidak kenal dan bahkan menjauh, untuk membantu pun enggan. Tapi sekarang kini sepertinya ia tengah terkena karmanya.
Kini taksi yang ia tumpangi akhirnya sampai juga di depan apartemen Rizal.
"Silahkan keluar, karena sudah sampai. dan Nona harus membayar lebih karena telah membuat saya mengulang beberapa pertanyaan!" ucap sopir taksi mencoba memanfaatkan keadaan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa seperti itu! Ini namanya pemerasan!"
"Baiklah, kalau nona tidak mau, saya akan menelpon wartawan kenalan saya dan memberitahukan kalau nona ada di sini!"
"Jangan seperti itu dong!"
"Jadi_!"
"Baiklah, saya setuju. Tapi awas jika sampai kamu berbohong, saya akan melaporkan ini sebagai pemerasan pelanggan!"
"Jangan khawatir!"
Akhirnya Miska harus membayar taksi lebih dari tarif yang seharusnya.
Miska menutup pintu taksi dengan keras hingga menimbulkan suara, tapi sepertinya kemarahan Miska tidak berpengaruh pada supir taksi, baginya sudah cukup kekesalannya di bayar dengan harga yang setimpal hari ini.
Sopir taksi pun meninggalkan Miska, ia terlihat mengedarkan pandangannya mencari sosok yang seharusnya sudah menunggunya di lantai bawah. Ia sudah menghubungi pria itu agar segera menjemputnya ke bawah jadi seharusnya pria itu sudah berada di bawah saat ini.
Dan benar saja,
"Ada apa nona, kenapa manja sekali?" keluh Rizal yang sudah menunggunya sejak lima menit yang lalu, "Ups, aku lupa. Sekarang bukan jadi nona lagi ya!"
"Becanda, sensi banget!"
"Ayo ke tempatmu!" Miska benar-benar tidak nyaman berada di luar terlalu lama, apa lagi ia merasa saat ada mata yang menatapnya seolah-olah mata itu tengah mengintimidasinya.
"Bentar, aku sedang pesan makanan, kalau kamu mau kamu bisa naik sendiri."
"Pengantar paket kan bisa naik, kenapa harus di tunggu? Ayo!"
"Hei nona, kamu lupa ya. Ini apartemenku, tidak semua fasilitas yang di dapat di apartemen nona bisaa juga di dapat di sini."
"Tapi kan semua apartemen Sana!"
"Ya, tapi sayangnya aku tidak mau membayar lebih. Sudah jangan bawel, tinggal tunggu beberapa menit saja."
Dan benar saja, akhirnya makanan yang mereka tunggu datang juga. Miska benar-benar tidak sabar ingin segera masuk ke dalam apartemen Rizal.
__ADS_1
"Sudah jangan mengeluh terus, nih makan." ucap Rizal sambil menyerahkan satu bungkus makanan itu pada Miska,
"Kamu yakin, suruh aku makan yang kayak gini?" makanan khas pedagang kaki lima, tentu tidak akan selevel dengan lidahnya yang terbiasa makan makanan restauran.
"Beruntung aku sudah Carikan makanan, kalau nggak mau ya sudah. Nanti buat aku makan lagi." ucap Rizal dengan begitu cueknya, ia bahkan tidak ingin membuang-buang uang banyak hanya untuk Miska. Lagi pula usahanya juga baru saja berjalan, modal yang ia keluarkan bahkan belum kembali sepenuhnya.
Melihat Rizal yang begitu menikmati makanannya, rasa lapar Miska seperti tengah meronta. Perutnya benar-benar minta di isi, akhirnya tidak ada pilihan lain selain mengambil makanan itu dan memakannya. Ia tidak pungkin pergi sendiri ke luar untuk membeli makanan, pasti semua orang akan mengenalnya. Bahkan wajahnya sekarang sudah tersebar di tv.
"Aku terpaksa ya!" ucap Miska lagi tapi Rizal hanya tersenyum melihatnya.
Setelah mereka menyelesaikan makan malamnya, akhirnya Miska mulai membicarakan hal yang serius.
"Aku harus bagaimana sekarang?" tanya Miska setelah menceritakan semuanya pada Rizal.
"Kalau begitu hanya ada satu cara. Kamu harus bisa memisahkan Rangga dan Zea sebelum ingatan Rangga kembali."
"Aku sudah melakukannya dari dulu, tapi kamu tahu kan, Rangga sudah memutuskan pertunangan kita, bahkan seharusnya kemarin adalah hari pernikahan kami, tapi semuanya gagal."
"Jika dengan cara halus tidak bisa, bagaimana kalau kita gunakan cara yang lain!"
"Maksudnya?"
Rizal pun membisikkan sesuatu ke telinga Miska, sepertinya Miska juga setuju dengan cara yang di usulkan oleh Rizal.
"Baiklah, aku mengerti sekarang!"
"Bagus. Untuk itu, bukankah sebaiknya malam ini kita bersenang-senang!?" tanya Rizal sambil mendekati duduk Miska, ia memainkan rambut Miska di sana dan Miska langsung faham dengan maksud Rizal.
"Dasar mesum!" walaupun begitu Miska sambil tersenyum dan dengan cepat Rizal mengangkat tubuh Miska, membawanya masuk ke kamar.
Dua manusia itu kini sedang menikmati malam yang cukup panas. mereka seakan tidak peduli dengan segala masalah yang tengah menimpa mereka.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
__ADS_1
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...