Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Kedewasaan


__ADS_3

Ibu dan anak itu sedang sibuk menyiapkan diri sebelum berangkat, mereka lebih dulu sarapan dengan makanan seadanya.


Tisya juga sudah menyiapkan jilbab panjangnya, kali ini ia juga memakai pakaian yang panjang. Biasanya ia hanya memakai dress atau tok pendek di atas lutut sekarang Tisya tampak memakai rok plisket warna hijau toska dan atasan kaos putih lengan panjang, sebuah jilbab panjang yang hanya ia kalung kan di lehernya, ia tampak begitu cantik dengan penampilan seperti itu.


Nyonya Tania juga sama, ia tidak lagi memakai pakaian lusuhnya yang biasa ia pakai di kedai bakso, kali ini ia memakai dress hitam di bawah lutut, masih sangat cantik walaupun sekarang nyonya Tania sudah tidak pernah lagi ke salon. Dia sebenarnya memang sudah cantik walaupun tanpa make up.


"Kita berangkat sekarang ma?" tanya Tisya, nyonya Tania yang sedang keluar dari kamarnya begitu terkejut dengan penampilan putri nya itu.


"Sayang ...., kamu begitu cantik, jika ayah kamu melihatnya dia pasti sangat bangga memiliki putri secantik kamu!" ucap nyonya Tania sambil menghampiri putrinya itu dan mengecup kening putrinya.


"Mama juga cantik ...., kecantikan Tisya pasti menurun dari mama!" ucap Tisya dengan senyum yang merekah nya.


"Mata itu milik ayah kamu sayang ....!" ucap nyonya Tania sambil menakup kedua pipi Tisya dengan kedua tangannya.


"Benarkan ma?"


"Iya ...., dan mata itu yang membuat mama jatuh cinta sama ayah kamu! Mata dan wajahnya sekarang melekat di wajah kakak kamu, Frans! Dia persis seperti ayah kamu!"


Saat membicarakan tentang kakak laki-laki yang baru ia ketahui itu setelah sekian lama terpisah itu, Tisya kembali teringat dengan berkas yang di berikan oleh tuan Bactiar, papanya.


Bagaimana nanti? Ia juga tidak mau berbuat jahat pada saudaranya itu walaupun ia belum benar-benar menerimanya sebagai saudaranya, tapi ia juga tidak punya uang sebanyak itu untuk mengembalikannya kepada tuan Bactiar.


"Tisya ....., Tisya ....., sayang! Kamu tidak pa pa?" tanya nyonya Tania sambil menggoyang tubuh putrinya itu saat melihat putrinya yang malah terdiam.


"Hehhh ....., nggak pa pa ma, ya udah ayo berangkat nanti keburu panas!" ucap Tisya.


"Iya sayang!"


Mereka pun segera meninggalkan rumah sederhana itu, berjalan menyusuri gang dan berhenti di ujung gang untuk menunggu angkutan umum.


"Kita naik taksi ya sayang!" ucap nyonya Tania.


"Jangan ma ...., enakan naik angkot saja ma!" ucap Tisya.


"Waw ...., ada apa dengan putri mama ini ya sekarang? Naik angkot mama nggak salah denger?!" tanya nyonya Tania tidak percaya.


"Iya ma ...., coba mama hitung deh, kalau kita naik taksi kita butuh uang seratus ribu ma, kalau kita naik angkot tika hanya keluar uang sepuluh ribu!"


"Sejak kapan anak mama ini jadi pinter perhitungan gini?" tanya nyonya Tania sambil tersenyum.


"Tisya sudah benar-benar dewasa sekarang ma ....!"


"Jadi putri mama ini jadi gadis yang dewasa sekarang!" ucap nyonya Tania begitu bangga dengan putrinya itu.


"Ma ...., itu angkotnya!" ucap Tisya saat melihat angkot yang kebetulan lewat di depannya, ia pun melambaikan tangannya hingga angkot itu berhenti.

__ADS_1


Mereka pun segera masuk ke dalam angkot, angkot mulai melaju, setelah setengah jam akhirnya mereka sampai juga di depan komplek pemakaman umum.


"Kiri pak!" ucap Tisya, setelah beberapa kali naik angkot akhirnya Tisya bisa tahu caranya menghentikan angkot saat mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Tisya pun segera memberikan uang sepuluh ribuan. Cukup terjangkau untuk orang-orang menengah ke bawah.


"Ayo ma ...!" ajak Tisya pada nyonya Tania.


"Mama nggak nyangka sayang kamu bisa belajar secepat ini!" ucap nyonya Tania begitu bangga pada putrinya itu. Ia tidak menyangka hal-hal yang belum pernah ia lakukan putrinya dengan cepat mempelajarinya.


"Tisya dulu sudah terlalu banyak membuang waktu Tisya buat hal-hal yang tidak penting ma ...., jadi sekarang mungkin saat nya Tisya buat mengambil semua waktu Tisya yang terbuang ma!"


"Amin ...., semoga kamu jadi putri mama yang lebih kuat! Ya udah mama beli bunga dulu ya ...!" ucap nyonya Tania.


"Iya ma ...., Tisya tunggu di sana ya!" ucap Tisya sambil menunjuk gerbang masuk ke komplek pemakaman, ia tidak mungkin masuk sendiri karena belum tahu makan ayahnya di mana.


Setelah selesai membeli bunga, nyonya Tania pun kembali menghampiri putrinya.


"Ayo sayang ...., kita masuk!"


"Iya ma ....!"


Tisya pun mengikuti langkah mamanya menyusuri kompleks pemakaman itu, mereka berjalan hingga hampir sampai di ujung.


"Itu makam ayah kamu!" ucap nyonya Tania sambil menunjuk ke dua buah makan yang berada terpisah dengan makan lainnya dengan warna nisan yang sama.


"Yang satunya makam tuan Wijaya!"


"Maksudnya kakaknya ayah? Yang juga meninggal bersama ayah?"


"Iya Tisya!"


Mereka pun duduk di antara dua makam itu, mereka menghadap pada makam dengan nama 'Bima Putra'.


"Mas Bima ...., aku ke sini bawa putri kita, mas! Dia sangat cantik kan mas, mas Bima dulu sangat mendambakan kehadiran seorang putri, namanya Tisya!" ucap nyonya Tania.


"Hai ayah ...., ini Tisya! Tisya pasti sangat jahat ya buat ayah karena nggak bisa ngenali ayah!" ucap Tisya dengan mata yang mulai mengembeng dengan air mata. Nyonya Tania pun menepuk punggung putrinya itu.


Tisya pun segera memeluk mamanya sambil menyembunyikan air matanya.


"Maaf ya mas Bima kalau Tania datangnya sangat terlambat, maafkan Tania juga mas karena nggak bisa jagain anak-anak! Karena kesalahan Tania, putra putri kita terpisah, hidup kamu kadi semakin sulit!"


...***...


Di tempat lain tampak dokter Frans dan Felic sudah bersiap-siap hendak masuk ke dalam mobil, bi Molly juga ikut bersama mereka.

__ADS_1


Karena ulah bi Molly, barang bawaan mereka begitu memenuhi mobil hingga bagasinya penuh, mereka juga membawa sopir bersama mereka, buat jaga-jaga kalau ia kelelahan nanti.


"Silahkan masuk tuan dan nyonya!" ucap sopir.


"Terimakasih!" ucap dokter Frans sambil memegangi Felic agar ia naik lebih dulu.


Seperti biasa bi Molly duduk di depan bersama sopir.


"Kita ke makan dulu ya!" ucap dokter Frans saat mobil mulai melaju.


"Baik tuan!"


Mobil pun mulai melaju meninggalkan rumah besarnya, menyusuri jalan yang cukup lenggang karena sudah jam sembilan. Jarak rumah dokter Frans dengan makam tidak terlaku jauh hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di sana.


Setelah lima belas menit akhirnya mereka sampai juga di makam. Dokter Frans mengajak Felic untuk turun dari mobil.


"Biar saya saja tuan yang beli bunganya!" ucap bi Molly.


"Terimakasih ya bi!" ucap dokter Frans.


"Iya tuan!"


Setelah bi Molly meninggalkan mereka dan menuju ke toko bunga. Dokter Frans mengajak Felic untuk berjalan lebih dulu menuju ke makam ayahnya, di sana juga ada makan anak mereka.


Langkah dokter Frans terhenti saat melihat siapa yang ada di atas makam ayahnya itu.


"Nyonya Tania!"


"Ibu Tania!"


Pekik Felic dan dokter Frans bersamaan membuat dua orang yang berada di makam itu menoleh pada mereka.


"Frans ....!"


"Kak Frans ....!"


Bersambung


...Kedewasaan tidak di tentukan dari seberapa banyak umur kita tapi seberapa banyak kita telah mengalami masalah dan menyelesaikannya dengan baik...


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2