Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Season 2 (69. Berubah pikiran)


__ADS_3

"Mama sudah lihat sendiri kan bagaimana Miska, masak kita cuma mau ketemu sama Rangga saja susahnya minta ampun!" keluh papa beni, ia sedang berusaha menyadarkan istrinya bahwa Miska bukan wanita yang baik untuk anaknya.


"Mungkin Miska memang ingin membuktikan pada kita pa, bahwa dia sangat bisa menjaga Rangga!"


"Mau sampai kapan ma, kamu terus membela gadis itu? Memang kamu tidak merindukan Rangga?"


Mama rangga terdiam, ia bahkan tidak bisa membalas ucapan suaminya. Dalam hati kecilnya ia juga sangat merindukan putranya, tapi ia tidak ingin berprasangka buruk pada Miska.


Kini Rangga sudah satu Minggu di rumah tapi setiap kali orang tua Rangga hendak menjenguk putranya, Miska selalu saja melarangnya dengan berbagai alasan.


"Miska, apa papa sama Mama baik-baik aja?" Rangga merasa aneh karena semejak ia di rumah kedua orang tuanya bahkan tidak menjenguknya.


"Iya, mereka baik-baik aja. Baru aja mereka telpon katanya minta maaf nggak bisa jenguk soalnya sedang sibuk di toko!"


"Baiklah, aku besok akan mulai kerja!?"


Mendengar ucapan Rangga, Zea dengan kecap mengalihkan tatapannya dari ponsel yang sedari tadi ia mainkan.


"Kenapa buru-buru sih ga? kalau kamu kekurangan uang papa aku bisa bantu, seharusnya kita pikirin untuk nikah dulu Ga sebelum kamu kerja, nanti kalau kamu terlanjur kerja, sibuk jadinya pernikahan kita di undur lagi!"


"Justru aku kerja buat nyiapin pernikahan kita, aku tidak mungkin menikahimu tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, dimana harga diriku sebagai seorang laki-laki!?"


Miska yang mendengar itu akhirnya tersenyum, ia segera memeluk Rangga dari belakang,


"Sayang, aku merindukanmu. Kita dulu sudah biasa melakukannya, apa kau tidak merindukan tubuhku?"


Miska kembali melancarkan aksinya, tapi selama ini ia selalu saja gagal karena Rangga dengan berbagai alasannya.


Rangga berusaha melepaskan pelukan Miska,


"Maaf, tapi aku belum yakin melakukannya. Kita masih punya banyak waktu untuk melakukannya nanti setelah menikah!"


"Tapi itu kapan?"


"Satu bulan lagi sampai aku dapat uang untuk kita nikah!"


"Itu masih lama!"


Rangga menatap pada Miska, "Tapi kamu percaya kan padaku, kita akan jadikan moment malam pertama kita jadi moment paling indah!"


Tapi aku tidak yakin bisa bertahan sejauh itu, jika sampai kamu ingat semuanya dan aku belum berhasil menjeratmu bagaimana ....


"Enggak!"


Miska menghempaskan tangan Rangga, ia pura-pura marah,


"Lalu buat apa aku di sini, sayang! Aku bukan pajangan atau sekedar wanita yang menyiapkan makanan buat kamu, aku juga butuh sentuhan dari kamu!"


"Miska, maafkan aku tapi aku belum yakin dengan hubungan kita seharusnya kamu bisa mengerti keadaanku. Kalau kamu tidak mau, kamu boleh pergi dari sini aku juga tidak memintamu buat tinggal di sini!"

__ADS_1


Nggak, nggak boleh kayak gini ...., aku harus lebih sabar ....


Miska pun kembali memeluk Rangga,."Ga maafkan aku, aku tadi hanya sedang banyak pikiran!"


Rangga kembali melepas pelukannya,


"Tidurlah! Aku juga akan tidur!"


Selama Miska tinggal di apartemen, Rangga memilih tidur di ruang kerjanya. Ia merasa tidak nyaman tidur dalam satu kamar dengan Miska. Ia merasa sangat asing dengan wanita yang kini tengah mengaku sebagai tunangannya itu.


Untuk mengusir kebosanannya, Papa Rangga hampir setiap hari mengunjungi Zea, membawakan berbagai makanan yang mungkin di inginkan oleh Zea, jika tidak datang ia selalu menanyakam perkembangan Zea dan cucu yang masih berada dalam kandungan dari bibi.


"Papa nggak perlu repot-repot begini, Zea jadi nggak enak!"


"Nggak pa pa, papa juga kesepian di rumah, lagi pula kalau masalah toko kan sudah ada karyawan yang handle jadi si tua ini memang sudah waktunya buat bersantai dan nunggu cucu lahir!"


Zea tersenyum, "Masih lama pa, Zea kan hamilnya masih empat bulan!"


"Kurang Liam bulan lagi ya? Kamu harus tetap sehat supaya anak dalam kandungan kamu juga sehat!"


"Iya pa!"


Mereka kembali terdiam sambil menikmati udara semilir dari kebun belakang,


"Pa, gimana keadaan Rangga?"


Papa Beni menghela nafas panjang, "Papa juga nggak tahu, Miska seperti sengaja menciptakan jarak antara kami dengan Rangga bahkan mamanya pun tidak bisa menjenguk Rangga dengan berbagai alasan yang Miska lontarkan!"


Sudah hampir dua Minggu dan Zea tidak menghasilkan apapun, bibi juga sudah mendapatkan pekerjaan sampingan, ia merasa tidak enak menumpang terus dengan papa Rangga, apalagi kini perutnya sudah lebih berisi.


"Ini salah, uangku sudah sangat menipis. Aku tidak mungkin terus meminta uang dari papa!"


Ia pun memikirkan cara untuk mendapatkan uang setidaknya sampai ia mendapatkan pekerjaan.


Kartu yang di berikan Rangga sudah habis untuk biaya dia selama di rumah sakit, tinggal beberapa saja dan itu tidak akan cukup sampai ia melahirkan, tidak hanya itu ia juga harus memikirkan bagaimana nasib anaknya setelah ini.


"Jika aku nanti melahirkan itu artinya aku tidak bisa bekerja lagi, dengan perut besar aku juga tidak bisa bekerja yang terlalu menguras tenaga, aku juga harus memikirkan kandunganku!"


"Apa aku harus menerima tawaran pria itu? Dua puluh juta mungkin akan cukup menghidupi kami untuk sementara waktu!"


"Tapi aku tidak punya kontak untuk menghubunginya!"


"Anha, iya Anha...!"


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Anha.


"Hallo Anha, ini aku Zea!"


"Iya Zea, beberapa waktu lalu aku ke tempat kamu tapi ternyata ada perempuan lain sama pak Rangga, dia siapa?"

__ADS_1


"Panjang ceritanya, nanti aku bakal cerita sama kamu. Oh iya kayaknya aku bakal berubah pikiran!"


"Maksudnya?"


"Aku minta nomor pria itu!"


"Maksudnya?"


"Si pria tajir!"


"Syukurlah, tapi aku cuma punya kontak ajudan pria itu. Nggak pa pa kan?"


"Nggak pa pa, yang penting bisa terhubung dengan pria itu!"


"Baiklah nanti aku kirim, kamu belum jelasan pertanyaan aku tadi!"


"Besok aja kita bertemu sekalian ada yang ingin aku omongin, nggak enak kalau bicara di telpon!"


"Baiklah, di mana?"


"Di taman Deket apartemen aja!"


"Ok aku tunggu ya!"


"Iya, makasih ya!"


Zea pun mematikan sambungan telponnya dan beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk. Itu kontak nomor seseorang.


Zea tersenyum, "Aku tidak boleh memikirkan diriku sendiri, apapun akan aku lakukan demi anak dan suamiku!"


Zea pun segera menghubungi nomor itu, cukup lama hingga akhirnya di terima,


"Hallo, ini saya Zea!"


"Nona Zea, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin bertemu, kebetulan besok saya akan datang ke sekitar apartemen!"


"Baiklah, kalau begitu kita bertemu di cafe tidak jauh dari tempat itu!"


"Iya!"


"Kami akan menghubungi nona lagi terkait jadwalnya!"


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya


Follow akun Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2