
Dokter Frans pun mengajak felic untuk kembali ke ruang makan sebelum masuk ke kamar. Bi
Molly tetap setia mengikuti mereka, bi Molly juga sudah mengintruksikan pada
juru masak untuk ikut berdiri di dekat meja makan supaya jika ada yang kurang,
mereka dengan cepat bisa menyediakan nya.
“Silahkan nyonya, tuan!” bi Molly menyiapkan piring untuk mereka berdua, segala sesuatu
yang berhubungan dengan dokter Frans menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari bi
Molly.
“ayo bi, ikutlah duduk!” perintah dokter Frans pada bi Molly untuk ikut duduk
bersama mereka di meja makan seperti biasanya dulu sebelum dokter Frans
menikah.
“Tidak tuan, sekarang anda sudah punya teman untuk makan, jadi biarkan saya seperti
ini saja!”
“Tidak pa pa bi, kenalkan saya felic!” ucap Felic sambil mengulurkan tangannya membuat
bi Molly tercengang.
“Ayo bi, sambut tangannya, keburu kabur tuh orang!” ucap dokter Frans membuat bi
Molly yakin untuk menyambut tangan Felic.
Nggak pa pa ya kalau kayak gini,
nona ini sebenarnya dari mana? Kenapa sikapnya seperti ini? Dia tidak canggung
bersalaman denganku!
“Saya Molly! Nyonya bisa memanggil saya bi_!”
“Bi Mo …!” Felic segera menyambar ucapan bi Molly.
“Bi Mo?”
‘Iya …, bi Mo lebih keren, iya kan Frans?”
“Iya …, keren bi …!”
Bi Molly jadi tersipu malu, namanya di katakan keren. Ia begitu senang nyonya nya
tidak sombong seperti yang di pikirkan, ia pikir nyonya nya yang akan menguasai
rumah itu setelah ini dan semua yang dia lakukan akan salah di mata nyonya nya
makanya ia membuat semuanya sangat perfect.
Bi Molly pun akhirnya ikut duduk di meja makan walaupun ia tidak ikut makan, ia
mengamati cara makan nyonya barunya itu, tapi terlihat begitu aneh. Saat makan
daging ia lebih suka mengambil daging itu dengan tangannya ketimbang
memotongnya dengan pisau.
“Nyonya …, tangan anda jadi kotor!”
“Ah…, ini!” Felic menunjukkan tangannya,
“Tidak pa pa bi, aku tidak bisa makan
pakek pisau!” ucap Felic yang merasa malu karena ternyata bi Molly
memperhatikan cara makannya.
“Kenapa tidak bilang dari tadi, sini aku potongin!” dokter Frans pun segera menarik
__ADS_1
piring felic dan menggantinya dengan piringnya yang semua dagingnya sudah
terpotong tinggal makan.
Apa nyonya Felic tidak biasa
mengikuti jamuan makan malam ….?
Bi Molly menjadi sangat penasaran dengan siapa sebenarnya nyonya barunya itu, ia
seperti bukan wanita kelas atas lainnya. Penampilannya juga sederhana tanpa
polesan make up sedikit pun.
Setelah makan malam selesai, bi Molly mengantar mereka ke kamar dan menyiapkan air hangat untuk Felic.
“Selamat beristirahat nyonya, jika ada sesuatu segera panggil saya. Saya juga sudah
menyiapkan air hangat untuk anda mandi!”
“Terimakasih bi!”
“Semoga malam anda menyenangkan!”
Bi Molly segera meninggalkan kamar itu, ia tersenyum senang membayangkan apa yang
akan mereka lakukan di kamar itu.
“Nyonya …, lagi-lagi nyonya tersenyum sendiri!”
“Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya, lucunya tuan Frans saat di hebohkan dengan banyaknya bayi di rumahnya, ia tidak akan sempat main game lagi!”
“Nyonya…..!” juniornya segera memeluk tubuh Bi Molly, ia ikut merasakan kebahagiaan
yang di rasakan bi Molly, sebagian besar penghuni di rumah itu tahu bagaimana
dokter Frans memperlakukan bi Molly layaknya keluarga sendiri. Bagaimana sayangnya
bi Molly pada dokter Frans melebihi sayangnya pada putranya sendiri.
juniornya dan berlari menuju ke depan, di mana tempat sopir yang sudah
menjemput dokter Frans dan istrinya.
“Nyonya …, kenapa nyonya ke sini?” tanya sopir itu.
“Katakan padaku, bagaimana nyonya Felic?”
Sopir dokter Frans menceritakan semuanya tanpa terlewat sedikitpun, bi Molly juga
sangat antusias untuk mendengarkannya.
“Sekarang aku tahu kenapa nyonya felic begitu!” gumam bi Molly.
Hemmmmmm ……
Beberapa kali bi Molly menganggukkan kepalanya, ia berfikir mungkin ini yang menyebabkan Felic bersikap tidak selayaknya wanita berkelas lainnya.
“Tenang tuan Frans, aku akan menjadikannya sangat istimewa!”
Sepanjang malam bi Molly tidak bisa tidur dengan tenang karena ia sedang sibuk memikirkan apa yang akan ia lakukan besok pagi. Ia mau semuanya berjalan seperti seharusnya.
***
Pagi ini bi Molly sudah meminta koki untuk menyiapkan sarapan untuk dokter Frans dan
istrinya, ia mau semua yang bersangkutan dengan mereka berjalan dengan baik.
Ia menunggu hingga pukul tujuh, tapi dua orang yang sedang di tunggunya tak juga turun
untuk sarapan, tidak biasanya dokter frans bangun terlambat, biasanya ia bahkan
bangun sangat pagi, beribadah, olah raga pagi dan sedikit mengobrol dengannya
di meja makan.
__ADS_1
“kenapa belum turun juga ya?” sudah satu jam ia menunggu, bi molly pun memutuskan untuk
mendatangi kamar itu, kamar itu masih tertutup, walaupun ia tahu jika kamar itu
tidak di kunci karena sudah menjadi kebiasaan dokter Frans yang tidak pernah
mengunci kamarnya, tapi kali ini ia tidak bisa sembarangan masuk karena sudah
ada seorang istri di dalam.
Tok tok tok
“Tuan …., nyonya ….! Sudah siang, sarapannya juga sudah siap!” ucap bi Molly untuk
sekian kalinya, ini sudah sepuluh kali ia melakukannya dan sudah tiga jam ia
berdiri di depan kamar itu.
“Aaaaaa ….!” Terdengar teriakan dari dalam membuat bi molly dan pasukannya panik, bi
Molly segera membuka pintu.
“Tuan …, nyonya …., anda tidak pa pa …!”dan berlari masuk tapi langkahnya segera
terhenti saat ia melihat apa yang terjadi dengan dua manusia itu, mereka sedang
tanpa pakaian dan berebut selimut.
Bi Molly segera memberi isyarat pada pasukannya untuk kembali keluar, bi Molly
juga segera membalik badannya, “Maaf tuan saya akan keluar!”
Dengan perlahan bi Molly keluar kembali dari dalam kamar.
Setelah beberapa waktu akhirnya dokter Frans memanggilnya kembali ke dalam kamar.
“Bi …!”
“Iya tuan?”
“Tolong gantiin seprei di kamar ya, pumpung Felic masih mandi, aku bingung nggak tau
cara masangnya!”
Bi Molly pun ikut masuk ke dalam kamar, ia melihat seprei lama sudah di lepas dari
atas tempat tidur, di sana juga sudah ada gantinya dan tampak sekali dokter
Frans berusaha keras untuk memasangnya, tapi tetap nggak bisa.
Bi Molly pun akhirnya memasang seprei baru itu dan begitu rapi, menuntaskan
pekerjaan dokter Frans.
“Sini tuan, biar sepreinya biar saya yang bawa!”
“beneran nggak pa pa nih kalau bibi yang nyuci!”
“Iya tuan!”
Bi Molly pun membawa seprei kotor itu ke tempat cuci baju, karena tidak ada yang
di sana, bi Molly terpaksa memasukkan sendiri sepreinya kedalam mesin cuci. Bi Molly
begitu terkejut saat melihat noda darah di seprei itu.
“Darah? Setelah sekian bulan dan baru sekarang? Ahhhhh …., nggak percaya aku!” bi Molly memegangi kepalanya yang terasa pening gara-gara mikirin tuannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘😘