Dokter Tampan Itu Suamiku

Dokter Tampan Itu Suamiku
Di kepung


__ADS_3

"Tisya awas!" teriak dokter Frans.


Bukkkkk


Sebuah pukulan mendarat di tubuh Tisya hingga membuatnya tumbang.


Melihat adik perempuannya tumbang, sepertinya dokter Frans begitu emosi. Dengan rahang yang mengeras dan mata yang menatap dengan penuh kemarahan, tangannya juga mengepal sempurna.


"Apa yang kau lakukan dengan adikku? Apa?"


Dokter Frans benar-benar mengamuk, ia memukuli orang-orang itu dengan membabi buta, bahkan pukulan yang mendarat di tubuhnya sama sekali tidak terasa sakit.


Ia bahkan mampu mengalahkan lima orang sekaligus.


"Panggil bos mu, cepat ....! Panggil dia ....!"


Ternyata teriakan dokter Frans mampu di dengar oleh Garry, pria itu segera keluar dengan beberapa anak buahnya yang lain.


"Siapa kau?" tanya Garry.


"Saya yang kamu cari!"


"Maksudnya?"


"Saya Frans Aditya!"


"Bagus sekali akhirnya yang aku tunggu datang juga, mudah sekali memancing mu datang ke sini!"


Gerry terlihat tersenyum senang akhirnya pemilik tujuh lima persen itu datang juga.


"Ya kau benar!" seseorang muncul dari balik pintu masuk, dia adalah Rendi.


"Kamu siapa lagi?" tanya Gerry heran.


"Saya yang akan menjebloskan mu ke penjara!"


"Begitu kah?"


Salah seorang anak buahnya tiba-tiba ada mendekat dan berbisik padanya.


"Bos ...., kita di kepung!" bisiknya.


Wajah bringasnya berubah panik, "Di kepung?"


Rendi tersenyum, ia memang sudah mensetting anak buahnya sehalus mungkin hingga tidak anak buah Gerry tidak menyadari kedatangan mereka.


"Sekarang lawan saya!" ucap dokter Frans, ia sudah menyingsingkan lengan kemejanya hingga sebatas siku. Tangannya mengepal sempurna siap menghajar siapapun yang telah berani menyakiti adiknya.


Tisya kembali sadar saat tubuhnya sudah berada di pojok ruangan, ia bisa melihat dokter Frans dan pasukannya menyerang Gerry dan anak buahnya. Tisya menggunakan kesempatan itu untuk berjalan masuk dengan sisa kekuatannya.


"Wilson ....!"


Ia melihat suaminya itu sudah terkulai lemah menahan sakit dengan darah yang mengucur di perutnya. Sepertinya karena begitu marah, Gerry menusuk Wilson.

__ADS_1


Tisya dengan cepat menghampiri dan memeluknya.


"Wil ...., kenapa?"


"Jangan menangis, ini tidak pa pa! Kamu tidak pa pa kan?"


"Bagaimana kamu masih mengkhawatirkan aku, sedangkan lihat tubuhmu!"


Tisya memegang perut Wilson yang berdarah itu sambil menangis tersedu-sedu.


"Sudah ku bilang jangan menangis!" Wilson mengusap air mata Tisya dengan tangannya yang tidak terkena darah,


"Ini lebih sakit dari rasa sakit di perutku!"


Mendengar ucapan Wilson membuat Tisya dengan cepat berhambur memeluk Wilson membuat pria itu sedikit meringis menahan sakit.


"Mereka di sini!" teriak seseorang dan beberapa orang menghampiri mereka.


Dokter Frans pun dengan cepat menghampiri adik perempuan dan asistennya itu.


"Berdarah...!" matanya tercengang saat melihat darah di tubuh Tisya dan Wilson, "Panggil ambulans sekarang juga!"


Dokter Frans begitu panik, ia melepas kemejanya dan meminta Tisya untuk menyingkir dari Wilson membalut kemeja putihnya ke perut Wilson agar darah tidak terus mengucur.


Sedangkan Rendi sedang sibuk meringkus Gerry dan anak buahnya membawanya ke kantor polisi terdekat.


Tidak berapa lama ambulans pun datang, dokter Frans ikut bersama Tisya dan Wilson di dalam ambulans.


Dokter Frans sengaja membawa mereka ke rumah sakit FrAd Medika agar memudahkannya untuk mengurus mereka secara bersamaan.


"Kak Frans ...., tolongin Wilson!" rengek Tisya saat Wilson akan di masukkan ke ruang operasi untuk penanganan lebih lanjut. Sobekan di perut Wilson terlihat dalam, para dokter harus melakukan pemeriksaan dan beberapa penanganan sebelum menjahitnya.


"Iya ...., kakak akan berusaha yang terbaik buat Wilson, kami tenang ya di sini!"


Dokter Frans segera meninggalkan ruang perawatan Tisya dan beralih ke tempat Wilson.


Nyonya Tania berusaha keras menenangkan putrinya agar yang terguncang. Tidak ada yang memberitahu kejadian itu pada Felic, mereka tidak mau hal itu membuat Felic syok dan membuat keadaannya buruk. Nyonya Tania meminta bi Molly untuk menemani Felic selama dia menemani Tisya.


Setelah satu jam akhirnya operasi Wilson selesai dan berjalan lancar, Tisya memaksa untuk menemui Wilson di ruangannya.


"Ma ...., Tisya mohon!" Tisya berusaha untuk bangkit dari tempat tidur.


"Baiklah, tapi mama tanya dokter dulu ya!"


Tisya pun mengangguk, nyonya Tania belum benar-benar meninggalkan ruangannya dokter Frans sudah lebih dulu masuk, dokter Frans terlihat sudah lebih rapi dan bersih. Dia sudah mandi dan mengganti bajunya.


"Ma ...., mau ke mana?"


"Tisya ingin menemui Wilson, apa dia sudah bisa di temui?"


"Tapi Wilson belum sadarkan diri, Tisya bisa menemuinya nanti dua jam lagi, lagi pula ini sudah pagi, Tisya belum tidur, biarkan dia tidur dulu ma!" ucap dokter Frans sambil melihat wajah pucat adiknya itu. Terlihat sekali kalau dia sedang lelah dan butuh istirahat.


"Kalau mama yang ngomong, Tisya pasti tidak percaya!"

__ADS_1


"Biar Frans yang ngomong!"


Dokter Frans pun berjalan mendekati tempat tidur Tisya, ia duduk di ranjang Tisya yang kosong. Mengusap rambut Tisya dengan penuh cinta.


"Kak ...!" mata Tisya sudah mengembeng, air matanya sudah mau turun saja.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Tisya sudah nggak pa pa kak, Tisya baik-baik saja!"


Walaupun wanita itu mengatakan kalau dirinya baik-baik saja, tapi tetap saja wajahnya tidak bisa bohong kalau dia sedang sangat terguncang. Untuk pertama kalinya ia mengalami hal yang seperti itu.


"Tisya percaya kan sama kakak?" tanya dokter Frans lalu Tisya menganggukkan kepalanya.


"Biarkan Wilson istirahat, temui dia dua jam lagi, kakak janji kakak yang akan mengantarkan mu langsung pada Wilson!"


"Tapi Wilson baik-baik saja kan kak?"


"Iya sayang, jangan khawatir! Kamu istirahat lah, Wilson pasti tidak akan suka kalau melihatmu seperti ini! Tidurlah!"


Atas perintah dokter Frans, akhirnya Tisya mau kembali merebahkan tubuhnya. Dokter Frans terus mengusap kepala Tisya hingga adik perempuannya itu tertidur pulas.


"Ma ...., jaga Tisya ya, aku akan menemui Felic dulu! Satu jam lagi aku akan kembali!"


"Iya ...!"


Dokter Frans segera keluar dari ruangan itu dan beralih menuju ke ruangan Felic. Sebelum masuk ia mengatur nafasnya dan melengkungkan senyumnya agar tidak terlihat sedih di depan istrinya itu.


Ceklek


Bibirnya tersenyum saat pintu itu terbuka, ia bisa melihat istrinya sedang memberi ASI untuk bayi laki-laki nya yang belum sempat ia beri nama.


"Itu ayah datang sayang ....!" ucap Felic dengan senyum lebarnya.


Dokter Frans pun mempercepat langkahnya, bi Molly segera menjauh dari ranjang Felic kini berganti dengan dokter Frans yang ada di sana.


"Hai sayang ....!"


Dokter Frans segera mencium kening Felic dan bayinya secara bergantian.


"Lagi sarapan ya sayang ....?" tanyanya pada bayi mungil itu.


"Iya ayah ....!"


"Seharusnya itu punya ayah, kau merebutnya dari ayah!" ucap dokter Frans pada bayi kecil itu saat melihat bayinya itu begitu menikmati sarapannya.


Dasar pencemburu .....


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


IG @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2