
...Seorang ibu, bagaimana pun dia akan selalu di rindukan. Walaupun raga tidak pernah bersua tapi hati tetap menyatu dalam ikatan cinta yang murni antara ibu dan anak yang tidak akan pernah tergantikan oleh apapun....
...🌺🌺🌺...
Kini mobil sudah terhenti di bahu jalan, pak Seno masih melihat Zea yang terlelap di bahunya,
"Bagaimana tuan?" tanya sang ajudan saat melihat di bangku belakang tidak melakukan pergerakan sama sekali.
"Tunggu sebentar sampai dia bangun!" pak Seno bahkan tidak berani bicara terlalu keras karena takut jika Zea sampai terbangun.
Ajudan pun tidak berani berisik, ia hanya melakukan gerakan-gerakan kecil.
Hingga lima belas menit kemudian barulah Zea mulai membuka matanya,
"Sudah sampai ya?" tanyanya sambil mengangkat kepalanya, ia merasa begitu tidak enak saat menyadari ternyata dirinya tengah tidur di bahu sang papa.
"Bagaimana, apa tidurmu nyenyak?" tanya pak Seno kemudian,
"Iya, tapi maaf karena telah membuat papa duduknya tidak nyaman!"
"Ini duduk ternyaman seumur hidup papa, menjadi sandaran putri papa!" pak Seno bicara sambil tersenyum membuat hati Zea semakin trenyuh di buatnya, ia tidak menyangka pria yang baru di temuinya beberapa kali ini ternyata begitu menyayanginya.
"Di sini makam mama?" tanya Zea kemudian untuk mengalihkan rasa canggungnya.
"Iya! Mau turun sekarang?"
"Hmm!"
Saat Zea bersiap untuk membuka pintu, pintu mobil itu sudah di buka dari luar, ternyata ajudan pak Seno yang membukakannya.
"Terimakasih!"
Pak Seno segera menghampiri Zea saat sudah turun dari mobil,
"Papa akan beli bunga dulu, kamu tunggu di sana ya!"
Zea mengangukkan kepalanya saat pak Seno menunju pada gapura masuk makam, pak Seno segera berlari ke toko penjual bunga dan membeli dua keranjang bunga.
Ia sengaja tidak meminta ajudannya karena memang sengaja membeli bunga dan memilihnya sendiri untuk sang istri.
__ADS_1
Akhirnya setelah sepuluh menit pak Seno kembali dengan dua keranjang bunga lengkap dengan satu rangkaian bunga yang indah.
"Bunganya indah sekali, pa!" Zea mengagumi rangkaian bunga itu dan pak Seno pun menyerahkannya pada Zea.
"Itu bunga kesukaan mama kamu, mama kamu sangat suka bunga lili!"
"Mama dulu pasti sangat beruntung!" Zea terus menciumi bunga yang begitu harum itu.
"Papa yang sangat beruntung karena di waktu yang singkat itu papa bisa bersama mama kamu!" karena memang cinta mereka begitu singkat dan berubah dengan cepat.
Papa tidak akan membiarkan cinta kamu juga berakhir seperti cinta mama sama papa, papa akan ikut berjuang untuk mengembalikan semua yang kamu punya meskipun papa harus melawan Miska dan Widya,
Pak Seno benar-benar menyesalkan apa yang terjadi dengan putri kandungnya itu, semua karena ia terlambat menyadari.
"Papa kenapa?" Zea menyadari papanya saat ini sedang bersedih.
"Tidak pa pa, ayo nak kita temui mama kamu, dia pasti sangat senang!" pak Seno segera tersenyum dan mengajak Zea menuju ke makan ibunya, di bawah pohon yang rindang itu tampak makam ibunya begitu terawat.
Zea segera berjongkok di samping pusaran ibunya di susul yang papa.
"Hai ma, ini Zea! Zea putri mama, Zea nggak tahu sebenarnya siapa yang ngasih nama ini tapi nanti mama bisa panggil putri mama Zea. Zea datang sama papa, pria yang sangat mama cintai. Mama seneng kan dan lagi ini!" Zea mengelus perutnya yang tak lagi rata.
Terlihat pak Seno mulai menitikkan air matanya, walaupun tidak terlihat dengan jelas karena ia memakai kaca mata. Ia tahu apa yang tengah menimpa putrinya, ia memang menyayangi, sangat menyayangi putri tirinya itu tapi ia juga lebih menyayangi putrinya. Ia tidak mau sampai hal yang tidak adil terjadi pada putrinya.
Papa pasti akan bantu kamu sayang ...., pasti!
Setelah puas berbicara dengan mamanya kini giliran pak Seno yang mendekat ke pusaran wanita yang seumur hidupnya selalu dia cintai itu,
"Sintya, terimakasih sudah menghadiahkan putri cantik untukku! Sejak pertama melihatnya, aku langsung yakin kalau dia putri kita, dia begitu mirip denganmu, matanya, hidupnya, senyumnya dan semuanya begitu mirip! kamu seakan kembali lagi di sisiku saat ini, senang rasanya, terimakasih I love you!"
Zea dan pak Seno pun menabur bunga di atas pusaran mama Zea, tidak lupa ia juga meletakkan rangkaian bunga lili di sana,
"Kita pergi nak, masih banyak yang harus kamu lakukan hari ini!"
"Iya!" walaupun berat tapi Zea akhirnya menurut pada papanya.
Jam sudah menunjuk ke angka lima sore dan mereka masih harus melakukan banyak hal setelahnya.
Cukup lama mereka berada di makan, apalagi perjalanannya untuk kembali pulang.
__ADS_1
Hingga tepat jam tujuh malam mereka sampai di sebuah kantor yang sepertinya kantor milik pengacara pak Seno karena di sana sudah ada orang yang menyambut mereka.
"Kenalkan dia pak Genta, pak Genta ini yang akan menjadi puasa hukum kamu!"
"Salam kenal nona Zea!"
"Salam kenal pak!"
Kemudian pak Genta pun mengajak Zea dan pak Seno ke sebuah ruangan seperti ruang rapat untuk melakukan proses tanda tangan.
Cukup banyak yang harus ia tanda tangani hingga membutuhkan waktu yang lama.
Hingga beberapa kali bibi menelponnya karena begitu cemas dengan keadaan Zea,
"Jangan khawatir bi, Zea baik-baik saja!"
"Syukurlah, jaga diri ibuk baik-baik ya!"
"Pasti!"
Setelah setelah menutup telponnya, Zea pun kembali melanjutkan apa yang sudah ia kerjakan. Ini sudah pukul sembilan malam dan proses tanda tangan baru saja selesai.
"Setelah ini anda harus segera mengumumkan status nona Zea di depan publik tuan Seno!" ucap pengacara Genta saat mereka akan berpamitan.
"Pasti, untuk itu saya tetap butuh bantuan anda!"
"Pasti tuan, kapanpun anda butuh!"
"Terimakasih, kalau begitu kami permisi!"
Pak Seno pun segara mengajak Zea untuk meninggalkan tempat itu, sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin pak Seno tunjukkan pada Zea tapi ini sudah terlalu malam, ia merasa kasihan pada Zea karena kurang istirahat.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...