
Udara di kamar itu terasa lebih dingin dari biasanya, wanita yang sedang hamil tua itu tidak pernah merasa kedinginan walaupun ia sudah menurunkan suhu air conditioner di kamarnya.
"Yakin nggak akan masuk angin kalau kayak gini?"
Suaminya terlihat begitu khawatir, beberapa kali ia mengatur suhu kamarnya tapi istrinya itu tetap mau menurunkan suhunya.
"Gerah sayang ....! Panas banget!"
"Tapi Fe_!"
"Nggak ada tapi-tapi pokoknya!"
Felic lebih keras kepala dari pada suaminya, perutnya sudah semakin besar saja. Suaminya sudah melarang ya pergi ke manapun kecuali jalan-jalan pagi.
Dokter Frans bahkan membawa semua peralatannya ke rumah dan lebih memilih mendatangkan dokter sifa ke rumahnya dari pada mengajak istrinya ke rumah sakit.
"Aku bosan di kamar terus! Seharusnya kita sudah belanja peralatan bayi sayang!"
Felic terus merengek pada suaminya itu, ia sudah seperti tahanan dalam kamar saja.
"Iya kamu benar, bagaimana ini ya?" Dokter Frans memang belum menyiapkan semua keperluan bayinya, beberapa minggu ini ia terlalu sibuk mengurusi urusannya Tisya dan Wilson hingga ia lupa jika harus menyambut kelahiran anaknya.
Dokter Frans menatap istrinya yang sedang duduk di depannya dengan perut besar itu,
"Aku ikut, pokoknya aku ikut!"
Felic sudah ngotot, tapi suaminya itu membayangkan istrinya akan kesusahan membawa perutnya sudah cukup membuatnya khawatir.
"Nggak!"
"Ayolah ...., aku juga ingin memilih sendiri barang-barang kebutuhan bayi kita!"
Setelah melalui. pemikiran yang cukup panjang akhirnya dokter Frans menyetujui keinginan istrinya itu.
Ia menyiapkan keperluan ke tuku perlengkapan bayi saja sudah seperti mau pindahan, banyak sekali yang di bawa. Mulai dari camilan buah, susu ibu hamil dan pastinya para pelayan yang akan membawakan barang belanjaan mereka.
Dokter Frans memilih sebuah toko khusus yang menyediakan segala peralatan bayi.
"Sudah sampai!" ucap dokter Frans saat mobil mereka sudah sampai di depan sebuah toko dengan tulisan besar di depannya 'Rania Babyshop'.
Dokter Frans lebih dulu turun dan membukakan pintu mobil untuk istrinya itu. Dari sini masih tidak ada yang aneh, sebuah keajaiban menurutnya suaminya akan begitu cepat menyetujui keinginannya.
"Hati-hati Fe!"
Dokter Frans terus menggandeng tangan Felic sambil berjalan menuju ke pintu masuk toko, di sinilah keanehan mulai terjadi.
"Selamat datang nyonya!"
__ADS_1
Dua karyawati toko langsung menyambut mereka, Wilson sudah berdiri tidak jauh dari mereka dengan memegang sebuah kursi roda di tangannya.
"Terimakasih!"
Tapi mata Felic kini langsung tertuju pada Wilson.
"Kursi roda buat apa sayang?" tanya Felic pada dokter Frans.
"Buat kamu!"
"Buat aku?" Felic menunjuk dirinya sendiri dan menoleh pada suaminya, memastikan jika yang di dengar itu benar.
"Iya Fe, boleh belanja tapi dengan kursi roda, kamu tinggal tunjuk dan aku yang akan mengambilkannya untukmu!"
Sudah kuduga ....., tidak semudah itu Ferguson ......, Felic hanya bisa pasrah dengan tingkah ekstrim suaminya itu.
Felic pun duduk di kursi roda di bantu dokter Frans dan Wilson. Wilson juga sudah menyiapkan keranjang belanjaan di dekat mereka.
"Sudah siap belanjanya sayang?" tanya dokter Frans.
"Iya!"
Dokter Frans pun mulai mendorong kursi roda Felic sedangkan Wilson berjalan di belakang mereka dengan mendorong troli belanjaan.
Felic mulai menunjuk beberapa barang dan dokter Frans yang berperan untuk mengambilnya dan menunjukkan nya pada Felic, jika Felic setuju maka dokter Frans akan memasukkannya ke dalam troli belanja.
Sampai di sini, Felic mulai merasakan ada hal yang aneh.
Kok sepi ya? Kemana pengunjung lainnya?"
Felic mulai penasaran, ia menoleh ke sana ke mari, memang tidak ada siapapun kecuali orang-orang nya dan beberapa karyawan.
Serius ini aneh ...., Felic segera memutar tubuh atasnya hingga menghadap suaminya yang berada di belakang dengan tangan yang masih memegang kursi rodanya.
"Sayang?"
"Iya, ada apa?"
"Kamu lakuin apa?"
Dokter Frans tampak mengerutkan keningnya, ia tidak begitu faham dengan maksud pertanyaan suaminya itu.
"Apa? Memang aku lakuin apa?"
"Kenapa tidak ada pengunjung lain selain kita?" tanyanya dengan menyelidik.
Dokter Frans tergelak hingga menampilkan gigi gingsulnya.
__ADS_1
"Kok malah ketawa sih?"
"Ckkk!" dokter Frans berdecak. "Jadi sedari tadi baru sadar sekarang?"
"Maksudnya? Ini ulah kamu?" tanya Felic dengan mata melotot sempurna.
"Bukan aku, tapi Wilson!"
"Sama aja, Wilson juga nggak akan nglakuin kalau nggak kamu yang nyuruh! Memang apa yang kalian lakuin sama pelanggan lainnya?"
"Aku cuma nyuruh Wilson buat nyewa tempat ini sampai setengah hari saja, emang ada yang salah?"
"Astaga!" Felic menepuk keningnya.
"Kamu tahu, itu namanya buang-buang uang!"
"Dasar perhitungan!"
"Aku bukannya perhitungan tapi aku berpikir hemat, coba bayangin aja, biaya sewa tempat ini setengah hari itu sama dengan biaya yang kita keluarkan untuk membeli semua barang-barang tadi!"
"Ckkk!" lagi-lagi dokter Frans berdecak, "Sebenarnya kamu ini seorang akuntansi atau penulis sih?"
"Penulis yang merangkap jadi akuntansi! Kamu lama-lama kalau pengeluarannya nggak di kontrol bisa-bisa beli pulau lagi!"
Wilson yang sedari tadi mendengarkan perdebatan dua orang di depannya itu hanya menggelengkan kepalanya.
Dulu sebelum bertemu dengan Tisya, menurutnya perdebatan seperti itu tidak akan ada dalam kamus hidupnya, tapi setelah di pertemukan dengan makluk yang namanya Tisya, hidupnya yang lempeng berubah seratus delapan puluh derajat. Hidupnya jadi penuh dengan perdebatan dan keributan persis seperti dua orang di depannya.
Setelah terus berdebat, akhirnya mereka menyelesaikan belanja mereka.
Lima troli besar sudah berjajar di depan meja kasir, petugas parkir terlihat begitu sibuk menotal belanjaan mereka, bahkan truk belanjaan begitu panjang masih belum selesai.
Beberapa pelayan membawa satu persatu barang-barang dalam kantong belanjaan itu ke mobil. Empat mobil terparkir di depan toko itu, mobil yang di tumpangi Wilson, dokter Frans dan Felic, lalu dua mobil yang khusus untuk membawa barang belanjaan, dan satu lagi mobil untuk para pelayan rumah mereka yang membantu membawakan barang belanjaannya tadi.
Mobil pun kembali ke rumah besar dan kembali di depan rumah para pelayan sibuk menurunkan barang belanjaan sedangkan dokter Frans kembali menggandeng istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah. Wilson membantu pelayan lain untuk membawa barang-barang itu ke kamar bayi yang belum benar-benar jadi, Wilson sibuk memberi aba-aba.
Setelah memastikan jika barang-barang belanjaan itu semuanya masuk, Wilson pun kembali menghadap dokter Frans. Ia harus pamit karena ia harus melakukan tugas selanjutnya dari dokter Frans.
Bersambung
...Kebahagiaan itu seperti hujan yang turun untuk tanah yang kekeringan, menjadi sumber kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaan yang sebenarnya, saat kita melihat orang lain tersenyum karena kita adalah kebahagiaan...
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
IG tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰