
Dokter Frans terpaksa mengikuti kemauan felic walaupun sebenarnya ia tidak mau. Ia
terpaksa memberi pesan panjang lebar pada mertuanya mulai dari kegiatan Felic
bangun sampai tidur lagi. Ini dan itu, sekaligus ia berencana akan mengirimkan
pelayan yang akan membantu ibu mertuanya untuk menjaga Felic, tapi ibu
mertuanya menolak.
“Maaf ya bu jika nanti Felic akan sangat menyusahkan ibu!” ucap dokter Frans yang
merasa tidak enak dengan ibu mertuanya itu.
“Tidak pa pa nak, tapi kalian tidak sedang dalam masalah kan?” pertanyaan itulah yang
paling di takuti oleh dokter frans.
“Tidak bu, hanya saja saat ini mood Felic sedang tidak baik saja!”
“Baguslah kalau gitu, kenapa nak Frans tidak menginap di sini saja bersama Felic?”
‘nanti kalau Felic mood nya sudah membaik, Frans pasti ikut menginap. Ya sudah Frans
pergi dulu ya bu!”
Kini mobil dokter Frans sudah meninggalkan halaman rumah felic, Felic ternyata
menatap kepergian dokter Frans dari balik jendela kamarnya, ia duduk di kursi
rodanya.
“Aku pasti sangat merindukanmu Frans …..!”
Dokter Frans tidak kembali ke rumah sakit, ia ingin pulang karena sudah berhari-hari
tidak pulang, bi Molly pasti sangat mengkhawatirkan mereka.
Dan benar saja kedatangannya langsung di sambut bi Molly, bi Molly sudah
menunggunya di depan pintu saat mendapat berita dari Wilson jika Felic sudah di
ijinkan untuk pulang.
“Tuan …!” seperti biasa, bi Molly akan melihat ke belakang tapi tidak ada yang keluar
lagi kecuali Wilson.
“Nyonya?”
“Felic menginap di rumah ayahnya, bi!”
“selamat ya tuan atas kehamilan nyonya Felic, bibi ikut senang!”
“terimakasih! Ya udah Frans ke kamar ya bi!”
Dokter Frans seperti biasa akan langsung ke kamarnya, melihat wajah murung dari tuannya
membuat bi Molly begitu heran.
“Kenapa dengan tuan? Apa ada masalah lagi?”
Kemudian bi Molly menoleh pada Wilson yang menenteng tas milik Felic yang ia bawa pulang dari rumah sakit dan bibi pun langsung menghadang langkah Wilson.
“Ada apa?” tanya bi Molly.
“Nyonya sedang marahan sama tuan!” jawab Wilson dengan ekspresi yang tidak menentu.
“Kenapa? Karena apa?”
“Karena gadis di masa lalu tuan Frans!”
“Astaga …, kenapa selalu seperti ini …, kasihan sekali nyonya Felic, dia pasti terluka
sekali. Apa nyonya Felic menangis?”
“Ya …, tapi dia seperti wonder women hanya saja aku yang kena masalah gara-gara sikap
__ADS_1
nyonya, tuan sampai memukulku!”
‘Kok bisa?”
“Ada deh!” Ucap Wilson lalu meninggalkan bi Molly yang begitu penasaran itu.
“Aku jadi ngefans sama nyonya …! Bagus nyonya sekali-kali memberi pelajaran pada
tuan!” ucapnya sambil tersenyum dan berlalu menuju ke dapur.
Di kamar yang sangat luas itu dokter Frans hanya bisa mengedipkan matanya
berkali-kali Karena ia seperti melihat Felic di manapun ia melihat, kenangan
Felic terlalu menyatu di kamar itu, ia sudah terlanjur terbiasa dengan
keberadaan Felic setiap bangun hingga ia tidur lagi.
“aahhhh …, gila …, aku benar-benar bisa gila kalau gini terus …!” ucapnya sambil
mengusap wajahnya kasar.
“Masak sih udah kangen aja, baru juga tadi ketemu! Ahhhhh …, bisa mati berdiri nih
kalau ngambeknya Felic kelamaan!”
***
Felic juga merasakan hal yang sama sebenarnya, ia juga bingung harus melakukan apa. Waktunya habis dengan hanya rebahan di kamar tanpa melakukan apapun, hal itu
membuat rasa rindu pada dokter Frans semakin besar saja.
“Wahhhhh wahhhh wahhhh …, jangan sampek aku yang nggak tahan duluan trus minta Frans
jemput aku ya …!” Felic terus saja menatap gambar dokter Frans di ponselnya.
‘Dia tampan banget, bagaimana kalau ada yang ganjen sama dia? Kenapa hidungnya mancung
banget sih ….? Bikin greget deh …!”
Sudah dua hari ini mereka tidak bertemu, sebenarnya dokter Frans selalu memenuhinya di rumah. Tapi ia tidak pernah mengijinkan dokter Frans untuk bertemu walaupun
“Ayo lah Fe …, bukan pintunya!” ucap dokter
Frans yang berada di depan kamar felic, tapi tetap saja Felic tidak mau membuka
pintu kamarnya apalagi menemuinya.
“Aku udah nggak kuat Fe, jauh-jauhan sama kamu! Malu kali Fe kalau di dengar sama ayah
sama ibu, buka dong!”
“Nggak …, kamu pulang aja!” ucap Felic sambil menenggelamkan tubuhnya di balik selimut
itu, sebenarnya kakinya sudah gatal pengen banget berlari dan membuka pintu itu
lalu memeluk tubuh pria yang membuatnya jatuh cinta beberapa kali dan
melukainya beberapa kali juga.
Tahan Fe …., tahan ….., aku cuma
pengen tahu bagaimana aku di matamu Frans …
***
Dokter Frans terus berusaha untuk menemuinya, tapi Felic terus berkeras hati untuk menghindar. Sehari bisa puluhan pesan WhatsApp yang dokter Frans kirim, DM yang
ia kirim, tapi tidak satupun yang felic balas.
“Berantakan banget wajah lo, Frans?” tanya seseorang membuat dokter Frans mendongakkan kepalanya, sepanjang haru dokter Frans hanya sibuk menatap ponselnya berharap Felic akan membalas pesannya, dia sudah seperti orang gila, berkali-kali juga
mengirim voice note berharap Felic akan membalasnya, ia begitu merindukan suara
Felic, pelukan Felic, kelakuan Felic yang kadang bikin panik, bikin bingung, bikin marah, bikin tertawa, semuanya tentang Felic hingga ia lupa untuk memikirkan yang lainnya.
“Gra …!” dokter Frans menatap sahabatnya itu begitu lemas tanpa semangat.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Agra dan langsung duduk di depannya.
“Kalau lo bilang cinta sama kakak ipar, caranya gimana?”
“hhhemmmm?”
Agra bingung dengan yang di tanyakan sahabatnya itu. “Maksudnya gimana nih?”
“Biar orang yang kita cinta itu tahu kalau kita cinta sama dia, gimana caranya?”
tanya dokter Frans gemas.
“Ini maksudnya apa nih? Siapa nih yang kamu maksud, Zea atau Felic? Jangan main-main
ya kamu, jangan suka main api!”
“kenapa sih bahasnya zea?!” ucap dokter Frans kesal, ia pun berdiri dari duduknya dan
beralih duduk di sofa.
Agra yang penasaran ikut mendekatinya, mereka duduk di sofa yang sama.
“Felic!”
ucap dokter Frans saat Agra sudah duduk dengannya.
“Untuk sebagian pria memang mengungkapkan kata cinta itu tidak penting, mereka lebih
memilih untuk menyampaikan dengan perbuatan saja, tapi wanita suka dengan
kepastian, dia lebih suka pasangannya bisa mengatakan cinta!”
“Dan aku paling tidak bisa mengatakan cinta!”
‘Sudah terlihat dari wajah hancurmu itu!”
“jangan meledekku, sekarang kasih tahu aku bagaimana caranya, karena diantara kita
bertiga kamu yang dulu paling banyak pacarnya!”
“Nggak gitu juga!”
“Gimana enggak, mantanmu bertebaran dimana-mana, untung dulu Viona berhasil buat kamu cinta setengah mati kalau enggap jadi playboy lo …!”
“Yahhh emang gini sih resiko jadi orang ganteng!”
“Gue juga ganteng, tapi nggak gue umbar!”
“Lo sebenarnya mau ngajak berantem atau minta saran sih?!” ucap Agra kesal.
“Ya dua-duanya …, udah lama gue nggak ngajak berantem lo! Karena berantemnya udah,
sekarang kasih tips ke gue buat ngungkapin kata cinta sama Felic!”
“Lo yakin sudah beneran cinta sama Felic, bukan ke Zea?”
“Ampun deh …, yakin Gra …, seyakin-yakinnya malah! Lo nggak liat hancurnya gue gara-gara di tinggal Felic pulang ke rumah orang tuanya!"
"Nggak cuma gara-gara lo nggak tahan puasa kan?"
"Ya nggak lah Gra ...., gila aja lo! Ya emang gue akui setelah ketemu Zea gue ngerasa seperti kembali ke masa lalu kehidupan ini bukan milik gue, gue seperti terjebak dalam hubungan yang salah, cinta itu seperti tumbuh tapi setelah gue
bener-bener rasain ternyata itu bukan lagi cinta Gra…, Zea istimewa di hati gue, dulu …,
Ingat …, dulu ya …! Tapi semakin ke sini, gue jadi merasa jika Zea bukan prioritas di
hati gue lagi! Semuanya sudah berubah, bukan Zea yang gue inginin, hati gue nggak bergetar lagi saat mendengar namanya! Tapi saat melihat air mata Felic, gue ngerasa ikut hancur
bersama air mata itu, yang ingin gue lakukan itu menjaganya agar tidak menangis, agar tidak terluka!”
Bersambung
Siapa nih yang di part ini jadi ngefans lagi sama si dokter Ganteng, kalau aku iya! Dia cinta tapi cuma bingung ngungkapinnya gimana!
Ada nggak yang punya pasangan kayak si dokter ganteng ini?
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰🥰