
"Ahhhh ...., kenyang!" ucap dokter Frans sambil mengusap perutnya yang penuh.
"Abis kamu kayak kesetanan, masak kamu habisin semua sambalnya!" ucap Felic. Dokter Frans bahkan menghabiskan semua sambal itu, selama ini ia hanya memasaknya tanpa berkeinginan untuk memakannya.
"Ternyata enak banget, tau gini dari dulu aja aku makan petai!" ucap dokter Frans sambil meneguk air putih.
"Kalau nikah enak nggak?" tanya Felic seketika membuat dokter Frans menghentikan minumnya dan mengerutkan keningnya menatap istrinya itu.
"Enak nggak?" tanya Felic lagi.
"Ya enak lah ...., aku bisa main bola tiap hari, nggak main PS terus!" ucap dokter Frans dengan santainya.
"Kalau gitu kenapa nggak nikahnya dari dulu aja!" ucap Felic lalu berdiri dari duduknya dan menuju ke tempat cuci piring untuk mencuci tangannya.
Dokter Frans hanya bengong dan menatap ke arah Felic bergerak.
"Udah ahhhh ...., aku ngantuk mau tidur!" ucap Felic sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil yang ada di dapur dan meninggal kan suaminya yang masih terdiam di tempatnya.
"Bener juga kata Felic ...., kenapa aku nggak nikah dari dulu aja ya ....! Nyesel jadinya, waktuku kebuang sia-sia ....!" gumam dokter Frans sambil menatap punggung istrinya yang sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
"Ahhhh ....., tapi dulu mau nikah sama siapa ....? Kan belum ketemu jodohnya ....!" ucap dokter Frans lagi.
...****...
Pagi ini dokter Frans sengaja tidak pergi ke rumah sakit, ia ingin menemani Felic untuk senam ibu hamil lagi. Menurutnya menemani istrinya ke senam ibu hamil sangat menyenangkan.
Tapi dokter Frans memberi tugas tambahan pada Wilson. Dokter Frans sudah menunggunya di teras belakang sambil menikmati kopinya.
"Anda mencari saya tuan dokter?" tanya Wilson yang baru saja datang.
"Duduklah ....!" perintah dokter Frans.
"Saya berdiri saja tuan!" ucap wilson yang merasa sungkan.
"Duduklah ...!" ucap dokter Frans memaksa.
"Baik tuan!"
Akhirnya Wilson pun duduk di kursi kosong yang ada di samping dokter Frans.
"Saya ada pekerjaan untukmu!"
"Apa tuan?"
"Kamu cek rumah yang sudah saya beli kemarin dan minta renovasi dari perusahaan tempat kerja Tisya!" ucap dokter Frans.
"Maksud dokter?"
"Saya mau dia mendapatkan proyek agar ia mendapat promosi naik jabatan!"
Ahhhh kenapa harus saya sih tuan dokter ini ...., gadis itu benar-benar bisa membuat saya tua mendadak kalau begini ...., batin Wilson keberatan.
"Kenapa diam? Kamu keberatan ya?" tanya dokter Frans.
__ADS_1
"Tidak tuan dokter, tidak!" ucap Wilson.
"Bagus ...., dan ini surat rumah dan tanahnya!" ucap dokter Frans sambil menyerahkan sebuah dokumen rumah.
"Dan sebagai imbalannya, rumah itu untukmu!" ucap dokter Frans lagi.
"Untuk saya?" tanya Wilson yang tidak percaya, ia bisa melihat rumah itu dari surat tanah yang ada di tangannya, rumah itu besar.
"Iya ...., apartemen mu itu terlalu sempit, jadi akan lebih nyaman jika kamu tinggal di rumah baru itu, dan surat tanah itu kamu simpan baik-baik, untuk masalah renovasi tenang saja, saya yang akan menanggung semuanya!"
"Benarkah ini tuan dokter, saya nggak sedang mimpi kan?" ucap Wilson tidak percaya.
"Coba saja kamu cubit tangan kamu, sakit apa enggak!" ucap dokter Frans dan ternyata Wilson melakukan apa yang di perintahkan nya.
"Sakit tuan ...!"
"Ya sudah ..., berarti bukan mimpi ...!" dokter Frans menggelengkan kepalanya melihat kepolosan Wilson, "Wil wil ...., ototnya aja di gedein ...!"
Wilson hanya tersenyum, Felic yang sudah siap segera menghampiri suaminya itu.
"Frans ....., kok belum siap-siap sih ...., jadi apa enggak?" tanya Felic kesal.
"Ya jadi lah Fe ....!" dokter Frans pun segera berdiri dan mengusap pipi istrinya, "Ya udah aku siap-siap dulu ya ....!"
Setelah dokter Frans meninggalkan Felic, Felic pun mendekati Wilson.
"Pagi nyonya!" sapa Wilson.
"Ada apa Wil, kenapa kelihatannya kalian membicarakan hal yang serius?"
"Tisya?"
"Iya nyonya, kalau begitu saya permisi!" ucap Wilson dan Felic pun mengangguk.
"Hahhhhh ...., ternyata Frans sudah luluh, aku tahu sebenarnya dia lembut hatinya! Mana tega dia sama mama dan adiknya!" gumam Felic sambil tersenyum.
......***......
Siang ini Wilson menuju ke rumah barunya, ia melihat-lihat rumah barunya itu.
"Rumah ya sebenarnya sudah bagus, juga luas ...., hehhhhh masih sayang sebenarnya kalau di renovasi!" gumam Wilson sambil melihat-lihat rumah itu.
Ting tong ting tong
Suara bel berbunyi membuat Wilson segera bergegas membukakan pintu.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Wilson saat melihat orang yang bertamu itu, terlihat di belakangnya membawa sebuah pick up dengan barang-barang yang penuh di dalamnya.
"Apa benar ini rumah pak Wilson?"
"Wilson ...., itu saya!" ucap Wilson bingung.
"Kami mengantarkan barang-barang milik anda!"
__ADS_1
"Barang-barang?" Wilson semakin di buat bingung saja.Wilson pun segera menghampiri pick up itu dan memeriksa barang-barang yang ada di dalam pick up.
"Benar ...., ini semua barang-barang aku!"
"Bagaimana pak, bisakah semua barang-barang nya kami turun kan sekarang?" tanya pria itu.
"Iya pak silahkan di turunkan di dalam ya ....!"
"Ini sebenarnya ada apa sih?" gumam Wilson bingung.
Brrrttttt brrrttttt brrrrtttttt
Tiba-tiba ponselnya berdering, Wilson pun segera merogoh ponselnya yang ada di dalam saku jasnya.
"Tuan dokter!"
Wilson pun dengan cepat menggeser tombol hijaunya.
"Hallo tuan!"
"Saya sudah meminta bibi Molly mengemas barang-barang kamu di apartemen, apa sekarang barangnya sudah datang?"
"Iya tuan, tapi ....!"
"Saya mau mulai hari ini kamu tinggal di sana dan proses renovasinya leboh cepat lebih baik!"
"Baik tuan!"
Sambungan telpon terputus, Wilson hanya bisa melihat barang-barang pribadi miliknya yang satu persatu turun dari atas mobil pick up.
"Ahhhhh benar-benar nggak ngerti sama jalan pikirannya tuan dokter!" ucap Wilson sambil menggelengkan kepalanya. Ia memberi instruksi pada orang-orang yang sedang menurunkan barang-barangnya ke dalam.
"Terimakasih ya pak!"
"Sama-sama, kalai begitu kami permisi pak!"
"Oh iya, sebentar!" Wilson merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang, "Ini untuk kalian!"
"Tidak perlu pak, nyonya yang ada di sana sudah memberi cukup uang untuk kami! Ya sudah kami permisi!"
"Iya terimakasih!"
Orang-orang itu pun segera meninggalkan rumah baru Wilson.
"Ahhhh tuan dokter benar-benar baik!"
Setelah melihat-lihat rumah barunya, ia segera menuju ke perusahaan tempat Tisya kerja, ia harus segera melakukan tugas berikutnya. Tanpa sepengetahuan Tisya, ia meminta rumahnya di tangani oleh Tisya. Untungnya keinginannya di setujui dan akan segera di kerjakan mulai besok dengan melakukan meeting bersama tim nya Tisya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰