
Setelah olah raga sore nya, dokter Frans segera mengajak Felic untuk pulang.
"Maaf ya ayah, ibu! Kami harus segera pulang!" ucap dokter Frans.
"Iya ...., kalian hati-hati ya!"
Dokter Frans menggandeng tangan istrinya itu, mengajaknya masuk ke dalam mobil, bi Molly juga ikut naik, ia duduk di depan.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan rumah orang tuanya. Dokter Frans terus saja menggenggam tangan Felic, tangannya juga sibuk bermain di rambut Felic.
"Frans .....! Malu di lihat bi Molly!" ucap Felic sambil berkali-kali menyingkirkan tangan suaminya dari rambutnya.
"Kenapa emangnya, bi Molly aja nggak keberatan!" ucap dokter Frans, sekarang bibirnya juga ikut beraksi, ia mengecupi lengan Felic dan semakin lama semakin ke atas.
"Itttssss .....!" Felic mendorong wajah suaminya agar tidak keterusan.
"Aku masih kangen Fe ...., ini pasti gara-gara ngidam deh Fe, pengen nya dekat-dekat sama kamu dan anak kita terus!" ucap dokter Frans sambil memeluk tubuh istrinya itu dan menyandarkan dagunya di pundak Felic.
"Itu sih mau mu .....!" ucap Felic sambil mencubit hidup suaminya yang sangat manja itu.
"Oh iya Frans, tadi aku pinjam uang bi Molly seratus ribu, kamu punya uang nggak?" tanya Felic lagi saat ingat jika ia sudah meminjam uang sama bi Molly.
"Hahhhh ....., buat apa? Kamu memang tidak punya uang?" tanya dokter Frans heran karena ia selalu memberi jatah bulanan pada istrinya itu dengan jumlah yang tidak sedikit.
"Tadi aku beli jajan di warung mang Kosim, lagian kamu sih ngasih uang bukan mentahnya, aku nggak suka ribet ambil-ambil uang di ATM!"
Dokter Frans malah menggaruk kepalanya bingung, memang kalau di pikir-pikir jarang sekali mendapat laporan penarikan dari rekening pribadi milik Felic.
"Lain kali aku juga akan memberikan uang tunai biar kamu bisa beli apa-apa kalau ingin!" ucap dokter Frans sambil merogoh dompetnya, ia mengambilkan dua lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya pada Felic.
"Kok dua sih, aku kan mintanya satu?"
"Yang satu buat kamu, kasihan tuh dompet di bawa ke mana-mana tapi nggak ada isinya!" ucap dokter Frans sambil menunjuk dompet kecil milik Felic yang memang selalu di bawa ke mana-mana.
"Baiklah ....!" ucap Felic sambil mengambil uang itu dan memasukkan yang satu lembar ke dalam dompetnya.
"Padahal tadi aku cuma habis tiga puluh ribu, sisanya juga masih ada!" gumamnya lagi.
"Dasar nggak mau rugi ....!" ucap dokter Frans sambil mengusap kepala istrinya itu.
"Bi ...., ini uang bibi!" ucap Felic sambil menyerahkan satu lembar seratus ribuannya.
"Nggak perlu nyonya ...., bibi masih punya!" tolak bi Molly.
"Jangan menolak bi, ini haknya bibi, lain kali kalau bibi nggak mau nerimanya, Felic nggak pinjam bibi lagi, Felic mau pinjam orang lain aja!"
Bi Molly bingung, bi Molly pun menatap dokter Frans, dan dokter Frans mengangguk, dengan terpaksa bi Molly mengambil uang itu.
__ADS_1
"Terimakasih nyonya!"
Akhirnya mereka sampai juga di rumah, bi Molly turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk dokter Frans dan Felic.
"Silahkan tuan ...., nyonya ....!"
"Terimakasih bi ....!"
Dokter Frans membantu Felic keluar dari mobil, ia pun segera mengendong istrinya itu.
"Frans berat ....!" ucap Felic saat tubuhnya sudah melayang di udara.
"Jangan khawatir, ada yang lebih berat dari ini!"
"Apa?"
"Jauh dari kamu!"
"Ihhh gombal!"
Dokter Frans tidak langsung membawa Felic ke kamarnya, ia menurunkan Felic di dekat meja makan.
"Kenapa turunnya di sini?" tanya Felic.
"Aku tahu kamu dan anak kita pasti lapar, jadi aku akan membuatkan makanan dan juga susu hangat untukmu!"
"Tapi aku kan baru makan di rumah ayah!"
"Olah raga apa?"
"Sepak bola ...., memasukkan junior ke dalam gawang!"
"Frans ...., tadi sudah ....!"
"Fe ...., dengarkan suami dokter mu yang paling tampan ini baik-baik!" ucap dokter Frans sambil mengusap pipi Felic.
"Apa suami dokterku?"
"Kalau usia kandungan seperti saat ini, menurut dokter harus sering-sering di tengok sama ayahnya, biar nanti jalan lahirnya jadi lebaran dikit dan lancar pas melahirkan!"
"Gitu ya ....?"
"Iya ..., ya udah kamu mau di masakin apa sama suami gantengnya ini?" tanya dokter Frans sambil berdiri meninggalkan Felic dan menuju ke balik meja dapur, mulai memakai afronnya.
"Apa ya ...., aku mau sambel petai, pakek sayur kangkung trus ikannya pindang, ada nggak?"
"Bentar ya aku lihat dulu di lemari pendingin!"
__ADS_1
Dokter Frans membuka lemari pendingin itu,
"Petai ...., ada, kangkung ada ...., ikan pindang ada ....!" ucap dokter Frans sambil mengeluarkan semua yang di butuhkan untuk memasak.
"ummmmmm ....., udah nggak sabar nungguin matang!" perut Felic sudah mulai bergemuruh minta di isi lagi.
"Sabar ya ....!"
Dokter Frans begitu cekatan memasak, sedangkan Felic hanya duduk dan melihat suaminya memasak.
Ternyata selera makan tidak mudah di rubah, walaupun ia sudah tinggal di rumah besar dan menjelma menjadi istri sultan tapi tetap saja seleranya makanan tradisional.
Setelah menunggu setengah jam akhirnya masakan dokter Frans matang juga, aroma sambal terasi dengan taburan petai begitu menggoda di tambah sayur kangkung yang hanya di rebus dan lauknya ikan pindang begitu menggoda.
"Ahhhhh ...., aku jadi lapar banget! Aku nggak mau pakek sendok, aku mau makan pakek tangan aja!" ucap Felic, dokter Frans pun segera mengambilkan air untuk cuci tangan istrinya di dalam baskom.
"Makan yang banyak ya!" ucap dokter Frans dan Felic pun mengangguk.
Setelah mencuci tangannya, Felic segera memasukkan seluruh makanan itu di atas piringannya. Dengan begitu lahap Felic memakannya dan dokter Frans hanya melihatnya.
Felic kemudian menghentikan makannya saat ia menyadari jika suaminya itu tidak makan.
"Frans ...., kenapa nggak makan?" tanya Felic.
"Aku nggak suka petai! Sudah kamu makan saja, melihat kamu makan seperti itu membuat aku begitu senang!"
"Ya udah kamu coba deh, biar bisa ngerasain petai nya yang super enak ini!"
"Nggak usah Fe, aku nggak suka!"
"Dikit aja Frans, nanti kalau nggak suka kamu muntahin aja deh!" ucap Felic memaksa, akhirnya dokter Frans pun menganggukkan kepalanya.
Felic pun segera menyuapkan sambal petai plus nasi ke mulut suaminya itu.
"Gimana? Enak kan?" tanya Felic saat melihat suaminya itu sibuk mengunyah makanannya.
"Iya Fe ...., ini enak banget .....!" ucap dokter Frans sambil terus mengunyah makanannya. Dokter Frans malah menarik piring Felic dan memakannya membuat Felic terbengong di buatnya.
"Gini nih orang kaya yang nggak pernah makan petai, sekali makan langsung habis-habisin jatah orang!" gumam Felic.
"Baru tahu aku kalau petai enak, abis baunya nyengat banget ...!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰