
Semua sedang sibuk di taman bermain, Felic pun juga sudah di tempat itu semenjak
pagi.
Dokter Frans sibuk mengurus semua acara. Banyak tamu yang akan datang
sore ini.
Dan malamnya berganti dengan acara pesta para rekan bisnis finity Group.
Zea juga ada di tempat itu, tidak ada yang canggung di antara mereka, Felic juga
terlihat begitu dekat dengan Zea. Ia juga tidak mau menyinggung bagaimana
statusnya dengan suaminya. Zea pun juga tidak pernah menyinggung tentang perasaannya pada Felic.
“Fe …, bagus banget dekorasinya!” puji Zea saat melihat hasil karya Felic, Felic memang tidak cerdas dalam pelajaran tapi dia cukup kreatif, mungkin memang yang menonjol otak kirinya.
“Biasa aja Ze …!” ucap Felic dengan senyum cerianya, mereka saling bekerja sama.
Dokter Frans sedang sibuk sendiri dengan
urusannya. Ia bahkan melupakan sejenak tentang pernyataan cinta Felic dan Zea padanya.
Sepertinya dokter Frans lah yang paling sibuk kali ini.
“Apa anak-anak akan datang sekarang?’ tanya Felic karena ia tidak melihat anak-anak
panti bersama Zea.
“Karena acaranya sore, jadi mereka akan datang nanti setelah pulang sekolah …!"
"Lalu siapa yang jemput mereka?"
" Kami, maksudnya Frans dan aku yang akan menjemput mereka dengan mobil besar!”
“Ohhhh …!” Entah kenapa saat Zea mengatakan kami untuk suaminya dan Zea, rasanya begitu sakit.
Ia tidak bisa membayangkan jika mereka nanti akan berada dalam satu mobil berdua
saja untuk menjemput anak-anak.
Untung saja Ara dan anak-anak datang tepat waktu, sehingga menghilangkan kecanggungan di hati Felic, Ara dan anak-anak dan langsung menghampiri Felic dan Zea.
“Hai …, kalian …? Kok bisa bersama-sama?” tanya Ara heran karena setahunya Zea
adalah mantan dokter Frans, lalu bagaimana perasaan Felic, ia menatap Felic.
Felic pun mengusap punggung Ara dan berusaha mengatakan jika dia tidak pa pa.
dia cukup kuat untuk berada dalam satu tempat dengan orang yang di cintai
suaminya.
“Uanty Fe …, mana paman dokter?” tanya Sagara, seakan anak itu tahu jika Felic lah yang paling berhak di tanya tentang pria itu.
“Hehhh?”
Felic menatap wanita di depannya, tampak sekali jika Zea merasa kecewa,
“Apa kalian ingin membantunya?” tanya Felic pada sagara dan Sanaya.
“Iya!”
“Iya!”
Jawab sagara dan sanaya bersamaan,
“Tuh dia di sana!” ucap Felic sambil menunjuk pria yang sedang sibuk mengatur tempat duduk dengan rambut yang di kuncir sebagian.
“Makasih aunty Fe …!”
“Sama-sama sayang ....!”
__ADS_1
ucap Felic yang masih menunduk mendekat ke arah Sanaya dan sagara.
Sanaya segera berlari menghampiri paman dokternya sedangkan sagara masih sigap memandangi wajah Felic membuat Felic mengerutkan keningnya heran.
"Ada apa?"
Cup
Tiba-tiba Sagara mendaratkan kecupannya ke pipi Felic membuat Felic tercengang,
“Aunty cantik deh!” ucap Sagara sambil berlari menjauh dari Felic.
“Waw …, luar biasa! Sagara aja bisa jatuh cinta sama kamu loh Fe!”
Felic masih tercengang tidak percaya sambil memegangi pipinya yang di cium Sagara.
"Apa papinya juga segenit itu?!"
Ha ha ha .....
Mereka hanya bisa tertawa dekan sikap Felic.
***
Jam makan siang pun tiba. Ara sudah mengajak Sagara dan Sanaya untuk makan siang. Sedangkan Felic memilih ke kamar mandi dulu, ia berpamitan untuk mencuci mukanya dulu dan akan mengajak suaminya untuk makan siang.
Cukup lama di kamar mandi karena ia juga harus buang hajat dulu, stelah
,menyelesaikan urusannya di kamar mandi, felic segera mencari suaminya.
Langkahnya terhenti saat ia melihat suaminya sekarang tidak sendiri.
Ada Zea di samping suaminya, dokter Frans sedang asik menikmati es krim bersama
zea, mereka terlihat bahagia. Ia bertekad untuk mendekati mereka tapi ia segera
mundur saat tangan suaminya dengan sengaja menghapus es krim yang menempel di
bibir Zea.
Ia membawa makanannya ke bawah tangga, sebenarnya rasa laparnya sudah
menghilang tapi ini hanya alasan agar ia bisa menyendiri.
Felic bukan tipe orang yang akan menangis di depan umum karena perasaannya yang
terluka, ia lebih suka menyembunyikan kesedihannya dan menangis di tempat sepi.
Walaupun aku tahu bagaimana
perasaan Frans saat ini …, tapi kenapa masih sakit? Apa aku egois jika aku
tetap bertahan dengan hubungan ini? Apa Frans akan baik-baik saja jika terus
bersamaku?
“Aku ingin memilikinya hanya untukku …, aku ingin di miliki oleh nya dan hanya diriku …., tapi kenapa cinta tidak pernah berpihak padaku …..?”
"Sudah cukup dan aku tidak mau terluka lagi ....!"
Ia tidak ingin semuanya terulang kembali, di tinggalkan oleh orang sudah ia cinta
dengan sepenuh hati. Sudah cukup yang dulu.
Hehhhhhh ……
Felic menghela nafasnya begitu dalam seakan ia ingin melepaskan semuanya. Ia
meletakkan air minumnya yang sedari tadi hanya ia pengan bersama dnegan boks
makannya. Ia mulai membuka boks makannya dan memainkan sendok nya begitu saja
tanpa berniat untuk memakannya.
__ADS_1
“Kenapa menyendiri di sini?’ tanya seseorang, Felic segera menghapus air matanya yang
sempat merembes di pipinya sebelum menoleh ke sumber suara. Dia suaminya.
Dokter Frans tiba-tiba duduk di sampingnya membuat Felic menggeser duduknya memberi
jarak di antara mereka.
“Fe …, kamu kenapa?” tanya dokter Frans melihat wajah murung istrinya itu.
“Tidak pa pa!” jawa Felic dingin,
“Kenapa mencari ku?” tanya Felic tanpa menoleh pada pria itu.
“Ingin makan siang sama kamu!”
“Kenapa sama aku?”
”Karena kamu istriku!”
“Cuma itu?”
“Memang apa lagi!?” ucap dokter Frans dengan begitu entengnya tanpa rasa bersalah,
“Sini aku suapi!” dokter Frans pun mengambil sendok dari tangan Felic dan menyuapkan
makanan itu ke mulut Felic.
“Aaaaaa …, ayo buka mulutmu!” perintah dokter Frans.
‘Nggak mau! Aku bisa makan sendiri! Sini-in sendok nya ....!” ucap Felic sambil hendak meraih sendok itu.
“Mau aku suapi pakek sendok atau pakek mulut?” ucap dokter Frans sambil mendekatkan
bibirnya ke bibir Felic dan Felic pun segera menghadangnya dengan tangannya.
“Stop …, iya iya …, pakek sendok aja!” akhirnya Felic membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya, dokter Frans pun tersenyum penuh kemenangan, ia mengusap kepala Felic.
mau dong di suapi pak dokter!!!!!🥰🥰🥰
“Sekarang gantian suapi aku!” dokter Frans pun membuka mulutnya dan Felic pun bergantian
menyuapkan makanan ke mulut suaminya. Kemarahan Felic seketika menghilang
dengan kehangatan sikap dokter Frans.
Hatinya luluh begitu saja, memang cinta
bisa merubah semuanya, merubah perasaan seseorang.
Bahkan Felic tidak bisa
marah pada pria itu walaupun ia tahu bagaimana sakitnya saat suaminya
mengatakan belum mencintainya.
Dari sudut lain seseorang sedang memperhatikan kemesraan mereka, orang itu adalah Zea.
Apa yang di rasakan Zea sekarang mungkin sama besar sakitnya dengan apa yang di rasakan oleh Felic tadi, mencintai tanpa berani memiliki sedangkan Felic memiliki tanpa berani menuntut cinta. Lalu siapa yang salah dalam hal ini? Cinta yang salah ataukah waktu yang salah.
“Maafkan aku karena belum bisa melepaskan mu Frans!” gumam Zea sambil menghapus air
matanya yang tanpa sengaja menetes begitu saja.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5259
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰😘😘